Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.5KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#36
Kubur saja kisahku
Andai engkau mampu
Letakkan aku dalam jambangan
Lalu lempar ke laut

Namun dalam hati
Kita kan tetap terus berharap


tetes air kedua

79 hari kemudian

Gila! Hujan masih juga belum ingin berhenti. Entah banjir sudah setinggi apa di tempat-tempat yang sering kebanjiran. Bayangkan saja, dari jam sembilan pagi sampai jam sembilan malam begini, air ngocor dari langit kaya’nya di atas sana ada yang lagi nguras kolam renang. Harus ada penjelasan atas semua ini. Bukan cuma petir-petir yang bunyinya bikin orang sakit jantung berguguran satu demi satu. Entah apa kerjanya pawang-pawang hujan, atau mereka semua terlanjur sibuk mencegah rumah mereka kebanjiran. Atau karena mereka tak punya bawang dan sapu lidi kering yang sangat mereka butuhkan pada saat darurat seperti ini.

Tapi tiba-tiba, tok tok tok, ada suara ketukan di pintu depan. Waduh! Siapa ya nekat-nekatnya datang saat hujan deras begini dan ketok pintu keras-keras. Yang pasti bukan anggota keluargaku, mereka semua lagi pada minggat ke negeri Kangguru. Ketika pintu kubuka, najis!, Furan Leida! … dan seorang gadis … cantik … bangeeeeeeeet. Tiba-tiba aku teringatkan kembali akan banyaknya ketidak adilan di dunia ini.

Mereka berdiri gemetar menahan dingin, seluruh pakaian mereka kuyup oleh hujan. Segera kusuruh mereka masuk dan kututup pintu.

“Rahan, kenalin ini Lia.” Itu kalimat pertama yang tercetus dari bibir Furan.

“Hai,” ucapku pelan saja.

“Maaf nih kita ganggu kaya’ begini …”

Belum habis ucapannya, aku tinggal mereka ke kamar untuk mengambil dua handuk bersih dan pakaian ganti. “Udah nanti-nanti aja ngeboongnya, sekarang lu berdua mandi dulu aja sana. Lia, itu kamar mandinya.” Ucapku seraya menunjuk pintu kamar mandi keluarga. “Bro Ran, lu mandi di kamar gw”

Mereka berdua saling berpandangan dan tanpa sepatah kata pun berlalu dari pandanganku. Aku ke dapur, membuatkan teh hangat untuk mereka, lalu menunggu di sofa tengah dengan sejuta rasa gelisah campur bingung. Dalam pikiranku, Furan pasti kembali membuat ulah, entah apapun itu. Tapi, sekarang ini aku tidak terlalu peduli dengan Furan, entah mengapa. Lia itu benar-benar anggun dan menarik perhatian. Kehujanan malah membuat dia tampak sexy. Apakah Furan dan Lia sudah …? Aku memaksa pikiranku terhenti, seakan tercekat oleh suatu rasa sakit di leherku. Bodoh.. ketidakrelaan apa ini? Aduuuuuh, sakiiiiiiit, bodoh bodoh bodoh, kenapa sakit? Ini benar-benar tidak masuk akal.

Setelah beberapa menit berlalu, yang pertama datang menemaniku adalah Lia. Ia sekarang mengenakan t-shirt biru muda yang biasa dibagikan pada fans The Mirips, celana jeans yang dikenakannya adalah kepunyaan adikku. Heran, bisa-bisanya ia nampak sangat pas dengan pakaian tersebut. Cantik sekali, anggun sekali.

“Boleh saya duduk di sini?” tanya Lia dengan nada suara yang sangat indah.

“Oh iya, iya, silakan, silakan,” aku tak bisa menyimpan kegugupanku.

Hening kembali. Lia mengikat rambut panjangnya sedemikian rupa hingga lehernya yang jenjang tidak tertutup apapun. Dan aku panas dingin. Mengapa Furan bodoh itu lama sekali?

Furan keluar dengan setelan baju koko yang jarang kupakai. Gila, ternyata anak misteri satu ini ganteng juga kalau pakaiannya benar. Furan Leida yang misterius duduk di sebelahku.

“Silakan diminum tehnya, mumpung masih hangat.”

Yaiks. Basa-basi seperti ini takkan berlaku jika di ruangan ini hanya ada aku dan Furan. Kuharap Furan tidak melihat kecanggunganku ini, ah, ia pasti tahu semua ini karena ada Lia, Lianya Furan yang begitu mempesona. Dan aku tahu Furan bukan orang bodoh.

“Begini Bro Han, ini Lia yang waktu itu kuceritakan. Masih ingat kan?”

Tentu saja aku ingat bodoh, engkau mengatakan CINTA dan dunia berhenti sesaat, nenek-nenek menjadi gadis, dan kau menghilang tanpa penjelasan, umpatku dalam hati.

“Lia, perkenalkan dirimu,” ucap Furan.

“Lia Nakamura,” ucapnya seraya mengulurkan tangan kanannya, “atau panggil saja Lia N.”

Aku menyambut uluran tangan Lia N dengan takut seperti hendak menyentuh kabel listrik tegangan tinggi. Shit! Tangannya begitu halus!
Dan aku bersalaman dengan Lia N, untuk pertama dan mungkin terakhir kali menyentuh dirinya.

“Bro Han, sebenarnya kami sedang ada dalam masalah yang cukup pelik.” Furan membuka cerita dengan gayanya yang khas. Matanya berkedip-kedip seperti kelilipan.

Ya aku sudah menduga hal itu, tuan penabur masalah. Lagi-lagi aku mengumpat dalam hati. Yang tambah membuatku kesal adalah, pilihan kata kami, pasti dipilih untuk menyingkirkan diriku.

“Lia N adalah gadis yang selalu ada dalam mimpiku,” ucapnya penuh arti. “Ia tidak bisa disamakan dengan gadis manapun. Aku mencintai dia dan dia mencintai aku.”

BAAAAAAAAGGG!! Aku bagai terkena hook petinju kelas berat yang akan segera membuatku tersungkur mencium lantai. Monyong! Untuk apa dia menceritakan hal ini? Apakah ia membaca gelagatku? Lia N juga tersenyum kagum ke arah Furan. Somebody just kill me now, please?

“Sayangnya, ia ada dalam dunia mimpi, sulit bagiku untuk memilikinya dalam kenyataan.” Ocehan Furan terus berkumandang. “ayahanda Lia N, yang terhormat tuan Genzo Nakamura, yang juga guru biolaku, tidak menghendaki aku berhubungan dengan putrinya.”

“Oh ya, kenapa bisa begitu?” tanyaku pelan sembari berusaha agar tidak terdengar sinis. Dalam hati aku melihat ada kesempatan. Jika tuan Genzo melihat diriku pastilah aku akan diterima menjadi menantunya, karena aku tidak urakan dan liar seperti Furan dalam kesehariannya. Ini juga menjawab, mengapa Furan tidak bisa main drum. Ya, karena ia adalah seorang pemain biola, tapi kurasa Furan juga bukan pemain biola yang handal.

“Yang kami dengar, Ayah telah memerintahkan polisi untuk menyelidiki keberadaan kami,” tambah Lia N.
Hmm. Jadi ini ulah si Furan, membawa kabur anak orang. Sekarang aku harus mengatur cara bagaimana meraih hati Lia N dan menjerat Furan ke genggaman polisi. Aku sendiri tak tahu, setan apa yang telah merasukiku. Aku begitu ingin mendapatkan Lia N. Dengan cara apapun!

“Bro Han”, tegur Furan, “Loe baek aja kan? Koq bengong gitu kaya ayam sakit?”

“Eh? Ga koq ga pa pa, Cuma agak ga enak badan aja dikit” aku pun berkelit. “Loe bilang apa tadi, polisi? Wah bro, kalo yang aneh-aneh gw ga ikut dah, takut ada apa-apa. Cuma kalo loe pada kepepet atau ada apa-apa yang sekiranya bisa gw bantu, kontak-kontak aja, mudah-mudahan gw bisa bantu.”

“Oh ya udah pada makan belon nih?” basa-basiku.

“Kita ga laper koq, loe nyantai aja, kita ga lama, ntar juga kalo hujan udah reda kita langsung cabut.” jawab Furan panjang.

(Kita. Kita. Kita. Beteee!)

“Eh gw tinggal ke kamar dulu ya, anggep aja rumah lo sendiri, gw ngantuk bgt abis nonton bola semalem.” Dan kuseret kakiku yang tak mau jauh - jauh dari Lia N ke kamar.

Pintu kamar kurapatkan, tapi masih kusisakan celah untuk mengintip pasangan jomplang itu. Beauty and The Freak. Mereka masih asik bersenda gurau di sofa. Perlahan kurebahkan badanku di kasur, berhenti mengawasi mereka. Sebel, sekalinya ada cewe yang maen ke rumah, cewe orang. Heran juga, padahal aku kan ga jelek, tajir, anak band pula, koq selama ini ga ada cewe yang bisa deket ama aku ya? Selama ini aku punya prinsip, cewe orang jangan direbut, karena bisa kualat. Tapi sekarang, yang terjadi malah aku mau ngerebut cewe si Furan. Kira-kira nanti kualatnya apa ya, kalo Lia jadi pacarku?

Dan bukannya mikirin kemungkinan kualat yang bisa terjadi, aku malah sibuk ngebayangin apa yang Lia N bisa lakukan pada diriku setelah menjadi sepasang kekasih, dan dengan pikiran-pikiran yang kotor itulah aku jatuh terlelap.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 11:51
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.