Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.2KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#35
MIMPI-MIMPI HUJAN
Jangan berhenti menggemakan
Suara hati dalam hujan
Tak usah menikam rasa
Dan sembunyikan nafasmu

Hanya dalam udara
Kita bisa bersuara


tetes air pertama

Pintu itu masih terbuka, di dalamnya terdapat ranjang berteman kasur kapuk tipis yang lusuh. Kipas angin plastik yang digantung di langit-langit berwarna hijau, mengeluarkan bunyi derik-derik aneh yang menjengkelkan. Dinding kamar yang dicat juga dengan warna hijau, sudah tak keruan bentuknya. Catnya sudah mengelupas. Dinding terlihat lembab. Poster antah berantah menumpang tempel bagai parasit yang memang merusak pandangan. Bahkan jika dipandang sebagai suatu hal yang berdiri sendiri, poster-poster itu memang kacangan, baik dari segi bahan, maupun gambar di dalamnya. Tim sepakbola kebanggaan dari piala dunia 2002 masih mejeng dengan gaya andalan sebelum bertanding, ada juga gambar grup musik yang memakai topeng-topeng seram, ditambah dengan kalender dari sebuah majalah pria, dengan model yang pastinya wanita, giginya sudah di spidol hitam, kepala sudah diberi tanduk, dan diberi titik hitam serupa puting. Kamar itu masih berbau pengap, asap rokok yang meninggalkan bau di dinding kamar bercampur dengan asap obat nyamuk. Abu obat nyamuk nya masih terlihat di bawah meja tulis. Di seantero kamar seluas tiga kali tiga meter itu, terdapat benda-benda penting seperti mini compo jadul pol yang sudah ompong, tapi nampaknya masih berfungsi, lalu seonggok laptop yang dari ujudnya bisa diperkirakan dari zaman batu, plus kulkas mini yang ditempeli huruf SCRABBLE membentuk kata-kata KALO DIBUKA JADI AC. Heh, idiot.

Pertanyaannya adalah: “Siapa yang tinggal di kamar ini?”

Kamar ini adalah kamar Furan. Who the fuck isFuran??

Furan Leida. Mahasiswa jorok yang entah kuliah di fakultas apa. Yang jelas dia pernah mengaku sebagai mahasiswa. Furan Leida selalu menjadi misteri dalam kehidupanku belakangan ini, karena semua keanehan yang ada pada dirinya. Kemunculannya yang misterius akhir-akhir ini sungguh di luar dugaan. Sebelumnya, kami memang pernah bertemu beberapa kali di acara musik yang diselenggarakan di lingkungan kampus. Pertemuan pertama, orang-orang bilang, memang memberikan kesan lebih. Waktu itu, aku dan bandku baru saja selesai manggung. Dia tiba-tiba mendekat dan langsung bicara dengan bangga,

“Woy, siape name? Gw Furan Leida, pencetus aliran ART metal! Tadi gw liat lu maen, kayanya lu bisa nih jadi murid gw!”

Pikirku dalam hati, wah sial juga nih monyong satu. Belagu banget jadi orang. Mimpi apa ya kemarin, ketemu mahluk kaya gini?

“Name gw Rahan.. asli datang dari dalam sungai Musi. Tujuan gw maen musik biar bisa slam dunk kaya’ Michael Jordan.” Mampus, pusing-pusing deh lu.

“wah Bro, memang lu soulmate gw banget. Password lu cocok. Lu sama gilanya kaya gw.”

Dan gw cuma bisa mangap lebar. Setelah pertemuan itu, di perjumpaan lain kita sering konyol-konyolan bareng, berbagi hal terindah yang juga kesamaan kita berdua, berbagi kebodohan. Sama-sama sok tahu, sok bisa, sok kritis, tapi ya intinya tetap saja bodoh. Tidak begitu lama kemudian, Furan curhat soal seorang gadis yang baru dikenalnya. Karena aku merasa mengenal Furan, aku kira ia akan bercerita tentang payudara, pantat, atau obrolan fisik wanita, seperti yang dibicarakan pria pada umumnya. Tapi Furan ternyata berbeda.

“Bro Han, gila, kemarin aku ketemu sama seorang gadis. Edan, man!”

“Siapa yang edan Bro Ran? Lu atau gadis itu?” aku masih tenang.

“Burung jantan burung tekukur. Bro Han, gw sama gadis itu akur. We’re just like snow that flows in the river. Ngalir aja gitu.”

Pantun kurapan sama bahasa Inggris nasi uduk kaya gini memang salah satu ciri Furan kalau dia lagi serius. Ciri lainnya adalah ngedipin mata berulang kali, persis kaya orang kelilipan.

“Gw sering membayangkan Bro Ran, adakah gadis di dunia ini yang akur dengan dirimu. Keagungan Tuhan memang nyata kiranya. Jika kaum atheis menginginkan bukti keberadaan-Nya, kasusmu ini bisa menjadi salah satu jawaban untuk mereka yang ingkar.” Masih tenang.

“Namanya Lia, Lia apa ya.. aduh kok gw bisa lupa sih?” Furan tampak menyesal.

“Bro Ran, kamu baru ketemu cewek edan, atau baru ke tempat kursus, hehe Lia Lia, banyak Lia bro, Li ayam, Li baso, Lianshi, sama satu lagi Liakulasi Dini.” Heheh, gemas aku jadinya.

“Mehek, enak saja, nama gadis itu bagus tauk. Kita bicara soal kedamaian kalbu, keluarga, kearifan alam, sampai ke ihwal para nabi.” Furan mulai tambah nggak jelas.

“Habislah sudah engkau Bro Ran, sekalian aja lu obrolin sambungan pipa septic tank istana presiden, sama kemungkinan naro webcam di wc presiden, kan lu jelmaan mario bros, mahasiswa jurusan teknik ledeng. Kacau teman, engkau kacau,” hasutku.

“Ini bukan kekacauan, wahai. Ini adalah misteri yang dialami semua anak manusia. Bro Han, tahukah engkau judul lagu Padi? Sesuatu yang tertunda … inilah Bro Han sesuatu yang tertunda pada diriku, the missing link in my life, the x-files, the crazy things called love. Ini cinta. CINTA.”

Furan menuntaskan koar-koarnya dengan tatap mata sendu yang tak kuketahui maknanya. Untuk beberapa detik, bumi berhenti berputar. Oh my goodness, detik jam pun terhenti! Semua percakapan lain yang ada di kantin kampus itu, jadi hilang suara. Senyap. Semua orang seolah jadi patung. Daun yang jatuh dari pohon, berhenti di udara. Kucing di atas meja sebelah, mendelik menatap Furan. Tulang ikan di mulutnya terjatuh, kucing itu ternganga. Sementara itu ribuan semut-semut yang berbaris acak-acakan di dinding kantin, dalam kecepatan Flash Gordon menyusun barisan kata-kata yang terlihat seperti: I CAN’T BELIEVE IT!

Aku sendiri tak percaya, baik dengan apa yang kudengar, maupun dengan apa yang kulihat. Tapi, mau bilang apa lagi. Seorang nenek, ibu dari yang punya kantin, atau setidaknya aku biasa mengiranya begitu, yang hanya berjarak 4 meter dari meja kami saat Furan mengucapkan kata sakral itu, tiba-tiba menjelma menjadi seorang gadis berusia dua puluhan. Ia kembali ke masa mudanya, keriput di seluruh tubuhnya menghilang. Nenek itu menjadi gadis kembali. What the fuck! Khawatir akan terjadi lebih banyak keanehan, aku segera menyeret Furan pergi dari meja itu.

Malam hari. Aku berpikir. Aku pernah mendengar legenda di tanah asalku yang mengisahkan tokoh bernama Si Pait Lidah. Konon, apa yang diucapkannya dapat menjadi kenyataan dalam waktu singkat. Terbersit kejadian tadi sore, mungkinkah Furan memiliki kemampuan seperti itu. Furan Leida. Pait Lidah. Namanya agak mirip, coincidence?

Itulah kisah tentang Furan Leida pada perjumpaan awal. Semua gerak-gerik dan keanehannya terasa begitu hangat, seperti seorang sahabat. Hanya saja, dia tidak ingin menjadi lazim seperti sahabat-sahabat lainnya. Lalu, hanya dua hari setelah peristiwa menggemparkan yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai kasus “NENEK KEMBALI GADIS TANPA SUSUK”, Furan menghilang tak berbekas. Saat itu, aku memang belum begitu kenal dengan Furan, tempat tinggal atau teman-temannya aku tidak tahu. Adapun nenek itu, setelah kembali menjadi sosok gadis, diwawancarai hampir oleh semua media massa. Karirnya melesat, iklan produk kecantikan, fashion show, dan jadi model video klip band indie. Kabar tersiar yang aku dengar, profesi tetapnya kini adalah model iklan rokok yang bisa mengembalikan usia muda.

Aku sebenarnya jengkel pada Furan Leida. Kejengkelan ini timbul dari rasa penasaran yang tak jua kunjung hilang untuk mengetahui hal-ihwal dirinya. Apa yang ia maksudkan waktu dia bilang, “ … kayanya lu bisa nih jadi murid gw”? Padahal, yang aku tahu dia tidak bisa maen drum. Waktu Furan lihat aku pertama, aku sedang di panggung gebuk-gebuk drum bawain lagu The Mirips, band bentukan anak sastra Jepang UNPADS dimana aku berstatus sebagai drummer tetap. Mestinya kalau dia anggap aku bisa jadi murid, ada kemungkinan bahwa dia juga master dalam main drum. Tapi, apa mau dikata, pernah sekali dia main ke studio The Mirips, bah, gebukan drumnya seperti orang sedang pukul beduk.

Belum lagi, semua keajaiban-keajaiban itu, seakan sudah menjadi suatu bawaan lahir. Misteri menyimpan suatu kebenaran, tetapi apakah aku benar-benar menginginkan mengetahui semua kenyataannya? Tak lama sejak saat itu, aku belajar melupakannya. Apakah aku akan bisa? Biar waktu yang menjawabnya.

Quote:
Diubah oleh rahan 02-12-2014 11:49
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.