TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7.1K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#16
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 5.2
Sampai di dalam, Indra terpaku di tempat.
Ruangan tempatnya duduk dan mengobrol tadi, kini sudah berubah menjadi sebuah altar. Di dekat perapian, tampak sebuah meja dengan taplak kuning berornamen tulisan cina dalam warna merah. Di atas meja tersebut terdapat sebuah bejana kuningan berisi pasir, yang ditancapkan dengan 3 buah dupa yang menyala. Di samping bejana itu, ada beberapa macam sesajen, kertas mantra, bejana kecil berisi air, lilin, dan pedang yang terbuat dari koin logam cina. Sementara itu, Yudha tampak memegang sebuah benda persegi delapan dengan simbol-simbol aneh terlihat di sekeliling benda itu, dan di tengah benda itu ada sebuah cermin bulat.
Indra sudah beberapa kali melihat altar semacam itu, sehingga dia langsung tahu fungsinya. Altar itu adalah altar yang biasa dipersiapkan oleh paranormal cina untuk menghadapi makhluk gaib.
Pemuda itu memandang ke arah sekeliling ruangan. Di sudut-sudut ruangan sudah disiapkan sebuah tonggak yang diatasnya diletakkan sebuah mangkuk berisi lilin menyala. Tonggak-tonggak itu didirikan di 4 sudut ruangan dan dihubungkan dengan tali tambang yang dipasangi kertas mantra. Indra juga tahu fungsi benda-benda itu, tapi dia masih tidak mengerti kenapa Yudha berbuat sampai sejauh ini.
Oi Yudha. Apa maksud semua benda-benda ini? tanya Indra sambil berjalan mendekati sebuah tonggak. Kau mau perang dengan makhluk gaib?
Indra heran. Tadinya dia pikir ritual untuk membebaskan Maya akan lebih sederhana dan mudah. Tapi dari peralatan yang disiapkan oleh Yudha, tampaknya ini akan jadi ritual yang sulit.
Kenapa terkejut? Yudha justru balik bertanya pada Indra. Kau tahu ini adalah altar dan pagar pembatas. Aku membuat seluruh ruangan ini jadi sebuah kuil kecil. Kita sekarang akan berhubungan dengan Dewa. Aku hanya berjaga-jaga dari kemungkinan yang terburuk saja.
Indra mengangguk paham. Tapi dia diam saja. Sementara itu, tentu saja Maya tidak paham. Dia langsung bertanya pada Yudha.
Uhm...untuk apa semua peralatan ini? tanyanya heran. Ini seperti upacara pengusiran roh jahat yang sering kulihat di film-film cina....
Ya....ini memang upacara pengusiran roh, balas Yudha dengan nada santai seperti biasanya. Hanya saja, kali ini kita berhadapan dengan Dewa. Masalahnya...kalau Dewa itu tidak bisa diusir. Hanya ada satu jalan....
Indra merasa mulutnya kering. Dia sudah berkali-kali melakukannya. Hanya saja kali ini entah kenapa dia tidak ingin Maya menyaksikannya.
Pembunuhan.
Ucapan Yudha membuat Maya terkejut dan hampir melarikan diri kalau dia tidak ditahan oleh Indra. Gadis itu sepertinya mengira kalau dirinya akan dibunuh kalau Yudha sampai gagal mengusir Dewa Keberuntungan yang merasuki dirinya. Indra memandangi Yudha dengan pandangan marah.
Oi ! Lagi-lagi kau memperburuk situasi! Jaga ucapanmu sedikit kenapa? seru Indra dalam hati.
Pemuda itu memandang ke arah Maya yang berusaha melepaskan genggamannya. Tapi genggaman tangan Indra seperti cengkraman besi, tidak bisa dilepas. Tapi perlahan-lahan, genggaman itu mengendur dan Maya menepis tangan Indra.
Jangan mendekat! Rupanya kalian memang tidak bermaksud untuk membantuku! seru gadis itu sambil berjalan mundur ke arah pintu. Dia berusaha membuka pintu itu tapi sepertinya pintu ruangan itu sudah dikunci. Gadis itu langsung panik.
Tidak usah panik. Maksud Yudha tidak seperti itu, ujar Indra berusaha menenangkan Maya.Yang dibunuh itu bukan dirimu, tapi Dewanya.
Mendengar ucapan Indra, ketegangan di tubuh Maya mengendur sedikit. Tapi dia masih belum bisa mempercayai ucapan pemuda itu.
Begini. Kalau berhubungan dengan makhluk gaib yang mengganggu manusia, ada 2 cara mengatasinya, ujar Yudha sambil menggaruk kepalanya. Yang pertama sering disebut sebagai exorcism, atau pengusiran. Yaitu meminta, atau memaksa, makhluk gaib itu untuk pergi dari manusia yang diganggu, atau tempat yang dia tinggali. Kemudian yang kedua disebut extermination, atau pemusnahan. Kau sudah paham maksudku bukan?
Maya perlahan-lahan bisa menangkap maksud ucapan Yudha. Tapi dia masih ragu-ragu dan sekarang dia merasa ketakutan. Indra perlahan-lahan mendekati Maya dan mengajaknya kembali ke tengah ruangan. Gadis itu akhirnya menurut dan berdiri di tengah ruangan.
Jangan khawatir. Ini tidak akan menyakitkan, ujar Yudha sambil tersenyum. Senyuman pria itu entah kenapa membuat Maya menjadi lebih rileks.
Baiklah. Indra, silahkan mundur ke salah satu sudut ruangan, ujar Yudha sambil berjalan ke arah altar. Maya, silahkan berdiri tepat di tengah ruangan. Dimana bayang dirimu terbagi 4 sama tinggi.
Maya bergeser dan mencari-cari posisi yang menurutnya adalah tepat di tengah ruangan. Kemudian dia berhenti dan berdiri dengan tegang. Mulutnya terasa kering dan dia merasa haus sekali. Sementara itu, Indra berdiri di salah satu sisi ruangan. Pemuda itu sama sekali tidak berani menyentuh tali yang dihiasi dengan kertas mantra, karena dia tahu itu akan melukai dirinya. Bagaimanapun, dia setengah makhluk gaib, dan dinding pembatas yang didirikan Yudha tidak pilih-pilih dalam menghalangi makhluk gaib manapun untuk keluar-masuk. Melihat Maya yang berdiri kaku di tengah ruangan, entah mengapa Indra membiarkan kekuatan vampirnya bekerja. Firasatnya mengatakan kalau akan terjadi sesuatu yang buruk.
Tutup matamu, nona Maya, ujar Yudha sambil berjalan ke arah Maya, dia membawa sebuah bejana berisi air, yang diatasnya telah diletakkan cermin bulat dengan frame segi delapan.
Jawablah pertanyaanku dengan jujur. Jangan berbohong karena ini adalah bagian dari ritual, ujar Yudha dengan nada serius. Sekali saja kau berbohong, maka ritual ini akan gagal.
Maya mengangguk dan menutup matanya. Begitu dia melakukan itu, dia merasa seluruh tubuhnya menjadi lebih rileks. Entah apa alasannya. Bau dupa yang menyengat juga tidak menganggunya lagi, bahkan dia mulai merasa kalau bau itu sebenarnya cukup wangi.
Siapa namamu? tanya Yudha sambil memandang ke arah cermin di dalam bejananya.
Maya Fitria, jawab Maya.
Tempat dan tanggal lahirmu? tanya Yudha lagi.
Surabaya, 15 September 1994, jawab Maya lagi
Zodiak dan Shio-mu?
Virgo. Tapi aku tidak tahu Shio-ku,
Tidak apa-apa, ujar Yudha. Baiklah. Sekarang ini, hal apa yang paling kau inginkan ?
Aku ingin membebaskan diri dari kutukan Dewa Keberuntungan yang menimpaku, jawab Maya dengan tegas.
Apa kau yakin dengan keputusanmu? Kalau aku mengusir Dewa Keberuntungan itu, kau akan mendapatkan kesialan terus. Setidaknya sampai timbanganmu seimbang lagi, ujar Yudha dengan nada dingin. Sekali lagi, apa kau yakin dengan keputusanmu?
Maya terdiam sejenak. Dia lalu menjawab sekali lagi dengan suara mantap.
Ya. Aku yakin!
Yudha langsung tersenyum mendengar keteguhan hati gadis yang berdiri di depannya.
Baiklah. Sudah cukup, ujar Yudha sambil mengambil cermin persegi delapannya dari bejana, dia lalu meletakkan cermin itu di sabuknya Bukalah matamu.
Perlahan-lahan Maya membuka matanya. Dia lalu melihat ke arah Yudha yang berdiri di depannya sambil memegang bejana berisi air. Pria itu lalu menyodorkan bejana itu pada Maya.
Pegang ini dengan kedua tanganmu. Lalu tataplah ke dalam air yang ada di dalam bejana itu. Kemudian, katakan padaku apa yang kau lihat di air, ujar Yudha sambil menyerahkan bejana kuningannya kepada Maya.
Gadis itu menerima bejana itu dengan hati-hati. Lalu sambil menelan ludahnya, dia menundukkan kepalanya. Lalu dia berhenti dan kedua matanya terbelalak lebar. Dia begitu terkejut sehingga dia menjatuhkan bejana itu. Bejana kuningan itu menimbulkan suara berdentang yang sangat nyaring ketika membentur lantai batu yang keras.
Indra langsung melangkah maju, tapi pemuda itu segera berhenti ketika Yudha mengangkat sebelah tangannya. Dia memperingatkan Indra agar tidak mendekat dan ikut campur dalam ritual yang dia lakukan. Walaupun enggan, Indra akhirnya kembali mundur ke tempatnya semula.
Kenapa nona? tanya Yudha dengan nada datar dan dingin. Apa yang kau lihat?
Pria itu memandang Maya dan bejana yang tergeletak di lantai bergantian. Dia lalu terdiam menunggu jawaban dari Maya. Gadis itu masih berusaha mengatasi rasa terkejutnya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya tenang dan menjawab pertanyaan Yudha.
Aku...aku melihat wajah seekor kucing besar di bejana itu. Seharusnya wajahku yang terlihat, tapi yang tampak di air justru seekor kucing. Apa itu wujud Dewa Keberuntungan? ujar Maya dengan suara yang masih bergetar.
Seperti apa wajah kucing itu?
Yudha mengabaikan pertanyaan Maya dan malah balik bertanya kepada gadis itu.
Bulat dan putih. Di wajahnya ada garis-garis berwana merah, emas dan hitam. Matanya bulat dan berwarna emas, ujar Maya. Wajah kucing itu tampak begitu nyata seakan-akan dia yang memandang ke arah air di bejana, bukan aku.
Yudha mengangguk, lalu mengambil cermin persegi delapan yang dia selipkan di sabuknya. Dia lalu mengarahkan cermin aneh itu ke arah Maya. Lalu bertanya dengan nada bicara yang terdengar datar dan dingin.
Apa dia terlihat seperti kucing yang berdiri tegak di belakangmu itu? tanya Yudha sambil menunjuk ke arah belakang Maya.
Spoiler for "Part 5.2":
Sampai di dalam, Indra terpaku di tempat.
Ruangan tempatnya duduk dan mengobrol tadi, kini sudah berubah menjadi sebuah altar. Di dekat perapian, tampak sebuah meja dengan taplak kuning berornamen tulisan cina dalam warna merah. Di atas meja tersebut terdapat sebuah bejana kuningan berisi pasir, yang ditancapkan dengan 3 buah dupa yang menyala. Di samping bejana itu, ada beberapa macam sesajen, kertas mantra, bejana kecil berisi air, lilin, dan pedang yang terbuat dari koin logam cina. Sementara itu, Yudha tampak memegang sebuah benda persegi delapan dengan simbol-simbol aneh terlihat di sekeliling benda itu, dan di tengah benda itu ada sebuah cermin bulat.
Indra sudah beberapa kali melihat altar semacam itu, sehingga dia langsung tahu fungsinya. Altar itu adalah altar yang biasa dipersiapkan oleh paranormal cina untuk menghadapi makhluk gaib.
Pemuda itu memandang ke arah sekeliling ruangan. Di sudut-sudut ruangan sudah disiapkan sebuah tonggak yang diatasnya diletakkan sebuah mangkuk berisi lilin menyala. Tonggak-tonggak itu didirikan di 4 sudut ruangan dan dihubungkan dengan tali tambang yang dipasangi kertas mantra. Indra juga tahu fungsi benda-benda itu, tapi dia masih tidak mengerti kenapa Yudha berbuat sampai sejauh ini.
Oi Yudha. Apa maksud semua benda-benda ini? tanya Indra sambil berjalan mendekati sebuah tonggak. Kau mau perang dengan makhluk gaib?
Indra heran. Tadinya dia pikir ritual untuk membebaskan Maya akan lebih sederhana dan mudah. Tapi dari peralatan yang disiapkan oleh Yudha, tampaknya ini akan jadi ritual yang sulit.
Kenapa terkejut? Yudha justru balik bertanya pada Indra. Kau tahu ini adalah altar dan pagar pembatas. Aku membuat seluruh ruangan ini jadi sebuah kuil kecil. Kita sekarang akan berhubungan dengan Dewa. Aku hanya berjaga-jaga dari kemungkinan yang terburuk saja.
Indra mengangguk paham. Tapi dia diam saja. Sementara itu, tentu saja Maya tidak paham. Dia langsung bertanya pada Yudha.
Uhm...untuk apa semua peralatan ini? tanyanya heran. Ini seperti upacara pengusiran roh jahat yang sering kulihat di film-film cina....
Ya....ini memang upacara pengusiran roh, balas Yudha dengan nada santai seperti biasanya. Hanya saja, kali ini kita berhadapan dengan Dewa. Masalahnya...kalau Dewa itu tidak bisa diusir. Hanya ada satu jalan....
Indra merasa mulutnya kering. Dia sudah berkali-kali melakukannya. Hanya saja kali ini entah kenapa dia tidak ingin Maya menyaksikannya.
Pembunuhan.
Ucapan Yudha membuat Maya terkejut dan hampir melarikan diri kalau dia tidak ditahan oleh Indra. Gadis itu sepertinya mengira kalau dirinya akan dibunuh kalau Yudha sampai gagal mengusir Dewa Keberuntungan yang merasuki dirinya. Indra memandangi Yudha dengan pandangan marah.
Oi ! Lagi-lagi kau memperburuk situasi! Jaga ucapanmu sedikit kenapa? seru Indra dalam hati.
Pemuda itu memandang ke arah Maya yang berusaha melepaskan genggamannya. Tapi genggaman tangan Indra seperti cengkraman besi, tidak bisa dilepas. Tapi perlahan-lahan, genggaman itu mengendur dan Maya menepis tangan Indra.
Jangan mendekat! Rupanya kalian memang tidak bermaksud untuk membantuku! seru gadis itu sambil berjalan mundur ke arah pintu. Dia berusaha membuka pintu itu tapi sepertinya pintu ruangan itu sudah dikunci. Gadis itu langsung panik.
Tidak usah panik. Maksud Yudha tidak seperti itu, ujar Indra berusaha menenangkan Maya.Yang dibunuh itu bukan dirimu, tapi Dewanya.
Mendengar ucapan Indra, ketegangan di tubuh Maya mengendur sedikit. Tapi dia masih belum bisa mempercayai ucapan pemuda itu.
Begini. Kalau berhubungan dengan makhluk gaib yang mengganggu manusia, ada 2 cara mengatasinya, ujar Yudha sambil menggaruk kepalanya. Yang pertama sering disebut sebagai exorcism, atau pengusiran. Yaitu meminta, atau memaksa, makhluk gaib itu untuk pergi dari manusia yang diganggu, atau tempat yang dia tinggali. Kemudian yang kedua disebut extermination, atau pemusnahan. Kau sudah paham maksudku bukan?
Maya perlahan-lahan bisa menangkap maksud ucapan Yudha. Tapi dia masih ragu-ragu dan sekarang dia merasa ketakutan. Indra perlahan-lahan mendekati Maya dan mengajaknya kembali ke tengah ruangan. Gadis itu akhirnya menurut dan berdiri di tengah ruangan.
Jangan khawatir. Ini tidak akan menyakitkan, ujar Yudha sambil tersenyum. Senyuman pria itu entah kenapa membuat Maya menjadi lebih rileks.
Baiklah. Indra, silahkan mundur ke salah satu sudut ruangan, ujar Yudha sambil berjalan ke arah altar. Maya, silahkan berdiri tepat di tengah ruangan. Dimana bayang dirimu terbagi 4 sama tinggi.
Maya bergeser dan mencari-cari posisi yang menurutnya adalah tepat di tengah ruangan. Kemudian dia berhenti dan berdiri dengan tegang. Mulutnya terasa kering dan dia merasa haus sekali. Sementara itu, Indra berdiri di salah satu sisi ruangan. Pemuda itu sama sekali tidak berani menyentuh tali yang dihiasi dengan kertas mantra, karena dia tahu itu akan melukai dirinya. Bagaimanapun, dia setengah makhluk gaib, dan dinding pembatas yang didirikan Yudha tidak pilih-pilih dalam menghalangi makhluk gaib manapun untuk keluar-masuk. Melihat Maya yang berdiri kaku di tengah ruangan, entah mengapa Indra membiarkan kekuatan vampirnya bekerja. Firasatnya mengatakan kalau akan terjadi sesuatu yang buruk.
Tutup matamu, nona Maya, ujar Yudha sambil berjalan ke arah Maya, dia membawa sebuah bejana berisi air, yang diatasnya telah diletakkan cermin bulat dengan frame segi delapan.
Jawablah pertanyaanku dengan jujur. Jangan berbohong karena ini adalah bagian dari ritual, ujar Yudha dengan nada serius. Sekali saja kau berbohong, maka ritual ini akan gagal.
Maya mengangguk dan menutup matanya. Begitu dia melakukan itu, dia merasa seluruh tubuhnya menjadi lebih rileks. Entah apa alasannya. Bau dupa yang menyengat juga tidak menganggunya lagi, bahkan dia mulai merasa kalau bau itu sebenarnya cukup wangi.
Siapa namamu? tanya Yudha sambil memandang ke arah cermin di dalam bejananya.
Maya Fitria, jawab Maya.
Tempat dan tanggal lahirmu? tanya Yudha lagi.
Surabaya, 15 September 1994, jawab Maya lagi
Zodiak dan Shio-mu?
Virgo. Tapi aku tidak tahu Shio-ku,
Tidak apa-apa, ujar Yudha. Baiklah. Sekarang ini, hal apa yang paling kau inginkan ?
Aku ingin membebaskan diri dari kutukan Dewa Keberuntungan yang menimpaku, jawab Maya dengan tegas.
Apa kau yakin dengan keputusanmu? Kalau aku mengusir Dewa Keberuntungan itu, kau akan mendapatkan kesialan terus. Setidaknya sampai timbanganmu seimbang lagi, ujar Yudha dengan nada dingin. Sekali lagi, apa kau yakin dengan keputusanmu?
Maya terdiam sejenak. Dia lalu menjawab sekali lagi dengan suara mantap.
Ya. Aku yakin!
Yudha langsung tersenyum mendengar keteguhan hati gadis yang berdiri di depannya.
Baiklah. Sudah cukup, ujar Yudha sambil mengambil cermin persegi delapannya dari bejana, dia lalu meletakkan cermin itu di sabuknya Bukalah matamu.
Perlahan-lahan Maya membuka matanya. Dia lalu melihat ke arah Yudha yang berdiri di depannya sambil memegang bejana berisi air. Pria itu lalu menyodorkan bejana itu pada Maya.
Pegang ini dengan kedua tanganmu. Lalu tataplah ke dalam air yang ada di dalam bejana itu. Kemudian, katakan padaku apa yang kau lihat di air, ujar Yudha sambil menyerahkan bejana kuningannya kepada Maya.
Gadis itu menerima bejana itu dengan hati-hati. Lalu sambil menelan ludahnya, dia menundukkan kepalanya. Lalu dia berhenti dan kedua matanya terbelalak lebar. Dia begitu terkejut sehingga dia menjatuhkan bejana itu. Bejana kuningan itu menimbulkan suara berdentang yang sangat nyaring ketika membentur lantai batu yang keras.
Indra langsung melangkah maju, tapi pemuda itu segera berhenti ketika Yudha mengangkat sebelah tangannya. Dia memperingatkan Indra agar tidak mendekat dan ikut campur dalam ritual yang dia lakukan. Walaupun enggan, Indra akhirnya kembali mundur ke tempatnya semula.
Kenapa nona? tanya Yudha dengan nada datar dan dingin. Apa yang kau lihat?
Pria itu memandang Maya dan bejana yang tergeletak di lantai bergantian. Dia lalu terdiam menunggu jawaban dari Maya. Gadis itu masih berusaha mengatasi rasa terkejutnya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya tenang dan menjawab pertanyaan Yudha.
Aku...aku melihat wajah seekor kucing besar di bejana itu. Seharusnya wajahku yang terlihat, tapi yang tampak di air justru seekor kucing. Apa itu wujud Dewa Keberuntungan? ujar Maya dengan suara yang masih bergetar.
Seperti apa wajah kucing itu?
Yudha mengabaikan pertanyaan Maya dan malah balik bertanya kepada gadis itu.
Bulat dan putih. Di wajahnya ada garis-garis berwana merah, emas dan hitam. Matanya bulat dan berwarna emas, ujar Maya. Wajah kucing itu tampak begitu nyata seakan-akan dia yang memandang ke arah air di bejana, bukan aku.
Yudha mengangguk, lalu mengambil cermin persegi delapan yang dia selipkan di sabuknya. Dia lalu mengarahkan cermin aneh itu ke arah Maya. Lalu bertanya dengan nada bicara yang terdengar datar dan dingin.
Apa dia terlihat seperti kucing yang berdiri tegak di belakangmu itu? tanya Yudha sambil menunjuk ke arah belakang Maya.
0
Kutip
Balas