TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7.1K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#15
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 5.1
[Yogyakarta, 14 Maret 2010]
Persiapan yang dimaksud Yudha membutuhkan banyak sekali kerja fisik. Setidaknya, Indra yang harus melakukan pekerjaan itu.
Yudha dengan seenaknya membuat Indra menggeser semua perabot yang ada di ruangan itu, termasuk lemari-lemari berat penuh buku yang ada di sisi ruangan. Semuanya harus dipindahkan ke ruangan sebelah. Selama melakukan pekerjaan itu Indra tidak henti-hentinya mengeluh. Tapi memang sudah sifatnya yang tekun dalam mengerjakan sesuatu, dia tidak terus saja memenuhi semua perintah Yudha.
Ketika Indra bertanya untuk apa dia arus memindahkan semua perabot yang ada di dalam ruangan itu, Yudha menjawab dengan santai.
Ini bagian dari ritual untuk membebaskan Maya dari Dewa Keberuntungan, jawabnya dengan santai.
Setelah itu, Indra berhenti bertanya. Yudha memang seringkali membuatnya penasaran dan kadang sama sekali tidak memberi petunjuk mengapa dia harus melakukan ini dan itu.
Setelah berkutat memindahkan barang-barang selama setengah jam, akhirnya Indra selesai melakukan pekerjaannya. Dia langsung berbaring di tengah ruangan tanpa peduli kalau ruangan itu hanya beralaskan semen, dan akan mengotori baju seragam SMA-nya yang berwarna putih. Tapi dia tidak peduli. Dia kelelahan.
Di dalam rumah Yudha, ada semacam segel gaib yang membuat kekuatan fisik vampir yang dimiliki Indra berkurang setengahnya. Sehingga pekerjaan memindahkan barang-barang itu membuatnya lelah. Padahal dalam kondisi normal, dia mampu melakukan pekerjaan itu dalam waktu lebih singkat, dan tanpa merasa kelelahan.
Saat Indra baru saja bebaring, pintu ruangan terbuka dan Maya masuk dalam ruangan. Rambutnya masih basah. Artinya dia baru saja selesai mandi. Dengan heran, dia memandang ke arah Indra yang berbaring di tengah ruangan.
Sedang apa kau? tanyanya dengan heran.
Tiduran. Memangnya sedang apa? balas Indra agak ketus. Yudha baru saja mempekerjakanku seperti budak. Dia menyuruhku memindahkan semua perabot yang ada di dalam ruangan ini....
Maya memandang ke arah sekelilingnya. Dia baru menyadari kalau ruangan yang tadinya memiliki beberapa perabotan, kini sudah kosong melompong. Gadis itu memandangi Indra yang masih berbaring di lantai. Entah apa yang membuatnya tertarik dengan Indra, karena tiba-tiba saja dia merasa kalau Indra itu adalah orang yang menarik.
Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu? tanya Indra sambil duduk dan menggaruk belakang lehernya yang terasa gatal.
Maya langsung memalingkan wajahnya, dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
Tidak. Tidak ada apa-apa, balas gadis itu. Kau seperti orang bodoh saja.
Indra baru saja bermaksud untuk membalas ucapan Maya. Tapi Yudha masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah kereta dorong yang tampak dipenuhi oleh berbagai macam benda. Pria itu lalu memandang ke arah Maya.
Oh. Kau sudah selesai mandi, nona. Kalau begitu kau tunggu sebentar di luar bersama Indra. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan ritualnya.
Indra langsung berdiri dan mengajak Maya keluar dari ruangan. Gadis itu sama sekali tidak mempertanyakan mengapa dia dan Indra harus menunggu diluar. Sejauh ini dia bisa mempercayai kalau Yudha benar-benar bisa menolongnya.
Keduanya akhirnya berdiri di lorong yang ada di luar ruangan. Suasananya sunyi karena keduanya masing-masing masih saling terdiam. Tapi gara-gara itu, suasananya jadi tidak nyaman.
Indra. Sebenarnya siapa Yudha itu? tanya Maya pada akhirnya. Suaranya yang sebenarnya merdu, memecah keheningan lorong itu.
Yah. Bisa dibilang dia itu seperti Dewa, balas Indra sambil memandang ke arah langit-langit.
Tentu saja ucapan Indra memicu reaksi dari Maya. Gadis itu langsung menoleh dan membalas perkataannya.
Hah? Yang benar saja! ujarnya dengan nada tidak percaya.
Itu benar kok. Sebelumnya aku juga tidak percaya. Tapi lama-lama aku tahu siapa dia sebenarnya, ujar Indra dengan nada datar.Tapi apa kau tahu apa yang disebut dengan Dewa itu?
Indra malah balik bertanya pada Maya. Gadis itu jelas merasa bingung dengan sikap pemuda itu. Tapi dia tetap menjawab pertanyaan Indra.
Ehm. Aku tidak begitu mengerti sih. Tapi sepertinya Dewa itu semacam individu yang mengatur sesuatu di dunia ini. Seperti Dewa Keberuntungan yang mengatur keberuntungan dalam diriku.... ujar Maya. Ketika mengucapkan kalimat itu, nada bicara Maya terdengar getir.
Indra mendesah lalu memandang ke arah Maya.
Yah. Pandangan itu tidak salah juga sih. Tapi sebenarnya Dewa itu tidak lain adalah sesosok makhluk gaib yang memiliki kekuatan yang besar. Terkadang sangat besar, sehingga manusia menjadi takjub dan memujanya. Namun pada dasarnya, semua Dewa itu selalu ingin melindungi manusia. Terkadang dengan cara-cara yang tidak kita pahami, ujar Indra sambil memandang ke arah Maya. Gadis itu mengangguk begitu mendengar penjelasannya. Sepertinya mereka berdua memiliki pendapat yang sama. Oleh karena itu, Indra melanjutkan penjelasannya.
Yudha itu....bagaimana ya menjelaskannya... Dia Dewa, tapi dia bukan Dewa. Yang kutahu, yang namanya Dewa itu selalu berusaha tidak melakukan kontak fisik dengan manusia. Mereka melindungi manusia dari balik layar. Tapi berbeda dengan Dewa yang satu ini. Dia melindungi manusia secara langsung, dengan caranya sendiri, ujar Indra sambil nyengir. Jangan menilai orang dari penampilannya. Walaupun dia tampak seperti pria nyentrik yang bertampang agak mesum, dia itu memiliki kekuatan yang besar. Dia menyelamatkanku yang sudah berubah jadi vampir.
Begitu mendengar kata vampir, Maya langsung berseru terkejut.
Va...vampir?! serunya sambil berjalan mundur tanpa sadar.
Indra menghela nafas. Reaksi semacam itu biasa dia dapatkan. Jadi dia sudah terbiasa, hanya saja dia memang merasa tidak nyaman ketika harus menceritakan keadaannya pada orang lain.
Ya. Vampir. Makhluk penghisap darah seperti yang biasa kau lihat di film dan novel, balas Indra dengan nada datar. Tapi jangan takut. Aku tidak akan menggigit. Ini semua berkat Yudha yang sudah membunuh nafsu vampirku yang buas. Termasuk keinginan dan kebutuhan untuk minum darah....
Maya masih memandang Indra dengan pandangan ngeri bercampur tidak percaya. Indra menghela nafasnya lagi. Tanpa mengucapkan apapun, dia memperlihatkan taringnya yang lebih panjang dari manusia biasa. Lalu menunjuk ke arah matanya yang berwarna merah dan memiliki pupil sempit seperti kucing. Terakhir, dia memiringkan kepalanya dan menunjukkan telinganya yang lancip.
Sudah lihat? tanya Indra. Maya mengangguk. Gadis itu sudah melihat bukti nyata kalau Indra bukan manusia. Itu efek samping dari transformasiku menjadi makhluk penghisap darah. Bukan hanya itu. Aku juga masih memiliki kekuatan fisik sebagai vampir.
Indra berhenti sejenak, lalu melanjutkan ceritanya lagi.
Sampai saat ini, Yudha masih berusaha mencari cara untuk mengembalikanku menjadi manusia seutuhnya, ujar Indra. Karena ada kemungkinan nafsu vampirku kembali. Dan kali ini kalau aku berubah lagi jadi vampir seutuhnya, dia tidak bisa mengubahku lagi, dan terpaksa memusnahkanku....
Ucapan Indra membuat Maya terbelalak. Dia tidak menyangka kalau orang yang tadi bersedia bersusah payah untuk menolongnya itu, rupanya juga punya masalah besar.
Kalau kau punya masalah seperti itu, kenapa masih mau membantuku? tanya Maya. Padahal kalau kau tidak membantuku, kau bisa fokus mencari cara untuk kembali jadi manusia. Apa yang membuatmu mau berbuat sejauh ini?
Mendengar ucapan Maya, Indra tersenyum.
Rupanya sudah sifatnya ya? Dia masih saja mengkhawatirkan orang lain padahal dirinya sendiri masih punya masalah yang belum selesai, gumam Indra dalam hati.
Aku tidak perlu alasan untuk membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan, ujar Indra dengan mantap. Bukankah begitu?
Mendengar ucapan Indra, Maya langsung memalingkan wajahnya sambil berkata.
Huh! Sok keren! ujarnya.
Tapi Indra berani sumpah kalau tadi dia melihat wajah Maya memerah, entah karena alasan apa. Dia baru saja ingin bertanya pada Maya. Tapi tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Yudha melongok keluar dari balik pintu itu.
Indra, nona Maya. Ayo masuk! ujar Yudha sambil melambaikan tangannya. Persiapanku sudah selesai.
Indra memandang ke arah Maya. Gadis itu juga mengangguk, lalu berjalan mengikuti Indra memasuki ruangan.
Spoiler for "Part 5.1":
[Yogyakarta, 14 Maret 2010]
Persiapan yang dimaksud Yudha membutuhkan banyak sekali kerja fisik. Setidaknya, Indra yang harus melakukan pekerjaan itu.
Yudha dengan seenaknya membuat Indra menggeser semua perabot yang ada di ruangan itu, termasuk lemari-lemari berat penuh buku yang ada di sisi ruangan. Semuanya harus dipindahkan ke ruangan sebelah. Selama melakukan pekerjaan itu Indra tidak henti-hentinya mengeluh. Tapi memang sudah sifatnya yang tekun dalam mengerjakan sesuatu, dia tidak terus saja memenuhi semua perintah Yudha.
Ketika Indra bertanya untuk apa dia arus memindahkan semua perabot yang ada di dalam ruangan itu, Yudha menjawab dengan santai.
Ini bagian dari ritual untuk membebaskan Maya dari Dewa Keberuntungan, jawabnya dengan santai.
Setelah itu, Indra berhenti bertanya. Yudha memang seringkali membuatnya penasaran dan kadang sama sekali tidak memberi petunjuk mengapa dia harus melakukan ini dan itu.
Setelah berkutat memindahkan barang-barang selama setengah jam, akhirnya Indra selesai melakukan pekerjaannya. Dia langsung berbaring di tengah ruangan tanpa peduli kalau ruangan itu hanya beralaskan semen, dan akan mengotori baju seragam SMA-nya yang berwarna putih. Tapi dia tidak peduli. Dia kelelahan.
Di dalam rumah Yudha, ada semacam segel gaib yang membuat kekuatan fisik vampir yang dimiliki Indra berkurang setengahnya. Sehingga pekerjaan memindahkan barang-barang itu membuatnya lelah. Padahal dalam kondisi normal, dia mampu melakukan pekerjaan itu dalam waktu lebih singkat, dan tanpa merasa kelelahan.
Saat Indra baru saja bebaring, pintu ruangan terbuka dan Maya masuk dalam ruangan. Rambutnya masih basah. Artinya dia baru saja selesai mandi. Dengan heran, dia memandang ke arah Indra yang berbaring di tengah ruangan.
Sedang apa kau? tanyanya dengan heran.
Tiduran. Memangnya sedang apa? balas Indra agak ketus. Yudha baru saja mempekerjakanku seperti budak. Dia menyuruhku memindahkan semua perabot yang ada di dalam ruangan ini....
Maya memandang ke arah sekelilingnya. Dia baru menyadari kalau ruangan yang tadinya memiliki beberapa perabotan, kini sudah kosong melompong. Gadis itu memandangi Indra yang masih berbaring di lantai. Entah apa yang membuatnya tertarik dengan Indra, karena tiba-tiba saja dia merasa kalau Indra itu adalah orang yang menarik.
Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu? tanya Indra sambil duduk dan menggaruk belakang lehernya yang terasa gatal.
Maya langsung memalingkan wajahnya, dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
Tidak. Tidak ada apa-apa, balas gadis itu. Kau seperti orang bodoh saja.
Indra baru saja bermaksud untuk membalas ucapan Maya. Tapi Yudha masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah kereta dorong yang tampak dipenuhi oleh berbagai macam benda. Pria itu lalu memandang ke arah Maya.
Oh. Kau sudah selesai mandi, nona. Kalau begitu kau tunggu sebentar di luar bersama Indra. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan ritualnya.
Indra langsung berdiri dan mengajak Maya keluar dari ruangan. Gadis itu sama sekali tidak mempertanyakan mengapa dia dan Indra harus menunggu diluar. Sejauh ini dia bisa mempercayai kalau Yudha benar-benar bisa menolongnya.
Keduanya akhirnya berdiri di lorong yang ada di luar ruangan. Suasananya sunyi karena keduanya masing-masing masih saling terdiam. Tapi gara-gara itu, suasananya jadi tidak nyaman.
Indra. Sebenarnya siapa Yudha itu? tanya Maya pada akhirnya. Suaranya yang sebenarnya merdu, memecah keheningan lorong itu.
Yah. Bisa dibilang dia itu seperti Dewa, balas Indra sambil memandang ke arah langit-langit.
Tentu saja ucapan Indra memicu reaksi dari Maya. Gadis itu langsung menoleh dan membalas perkataannya.
Hah? Yang benar saja! ujarnya dengan nada tidak percaya.
Itu benar kok. Sebelumnya aku juga tidak percaya. Tapi lama-lama aku tahu siapa dia sebenarnya, ujar Indra dengan nada datar.Tapi apa kau tahu apa yang disebut dengan Dewa itu?
Indra malah balik bertanya pada Maya. Gadis itu jelas merasa bingung dengan sikap pemuda itu. Tapi dia tetap menjawab pertanyaan Indra.
Ehm. Aku tidak begitu mengerti sih. Tapi sepertinya Dewa itu semacam individu yang mengatur sesuatu di dunia ini. Seperti Dewa Keberuntungan yang mengatur keberuntungan dalam diriku.... ujar Maya. Ketika mengucapkan kalimat itu, nada bicara Maya terdengar getir.
Indra mendesah lalu memandang ke arah Maya.
Yah. Pandangan itu tidak salah juga sih. Tapi sebenarnya Dewa itu tidak lain adalah sesosok makhluk gaib yang memiliki kekuatan yang besar. Terkadang sangat besar, sehingga manusia menjadi takjub dan memujanya. Namun pada dasarnya, semua Dewa itu selalu ingin melindungi manusia. Terkadang dengan cara-cara yang tidak kita pahami, ujar Indra sambil memandang ke arah Maya. Gadis itu mengangguk begitu mendengar penjelasannya. Sepertinya mereka berdua memiliki pendapat yang sama. Oleh karena itu, Indra melanjutkan penjelasannya.
Yudha itu....bagaimana ya menjelaskannya... Dia Dewa, tapi dia bukan Dewa. Yang kutahu, yang namanya Dewa itu selalu berusaha tidak melakukan kontak fisik dengan manusia. Mereka melindungi manusia dari balik layar. Tapi berbeda dengan Dewa yang satu ini. Dia melindungi manusia secara langsung, dengan caranya sendiri, ujar Indra sambil nyengir. Jangan menilai orang dari penampilannya. Walaupun dia tampak seperti pria nyentrik yang bertampang agak mesum, dia itu memiliki kekuatan yang besar. Dia menyelamatkanku yang sudah berubah jadi vampir.
Begitu mendengar kata vampir, Maya langsung berseru terkejut.
Va...vampir?! serunya sambil berjalan mundur tanpa sadar.
Indra menghela nafas. Reaksi semacam itu biasa dia dapatkan. Jadi dia sudah terbiasa, hanya saja dia memang merasa tidak nyaman ketika harus menceritakan keadaannya pada orang lain.
Ya. Vampir. Makhluk penghisap darah seperti yang biasa kau lihat di film dan novel, balas Indra dengan nada datar. Tapi jangan takut. Aku tidak akan menggigit. Ini semua berkat Yudha yang sudah membunuh nafsu vampirku yang buas. Termasuk keinginan dan kebutuhan untuk minum darah....
Maya masih memandang Indra dengan pandangan ngeri bercampur tidak percaya. Indra menghela nafasnya lagi. Tanpa mengucapkan apapun, dia memperlihatkan taringnya yang lebih panjang dari manusia biasa. Lalu menunjuk ke arah matanya yang berwarna merah dan memiliki pupil sempit seperti kucing. Terakhir, dia memiringkan kepalanya dan menunjukkan telinganya yang lancip.
Sudah lihat? tanya Indra. Maya mengangguk. Gadis itu sudah melihat bukti nyata kalau Indra bukan manusia. Itu efek samping dari transformasiku menjadi makhluk penghisap darah. Bukan hanya itu. Aku juga masih memiliki kekuatan fisik sebagai vampir.
Indra berhenti sejenak, lalu melanjutkan ceritanya lagi.
Sampai saat ini, Yudha masih berusaha mencari cara untuk mengembalikanku menjadi manusia seutuhnya, ujar Indra. Karena ada kemungkinan nafsu vampirku kembali. Dan kali ini kalau aku berubah lagi jadi vampir seutuhnya, dia tidak bisa mengubahku lagi, dan terpaksa memusnahkanku....
Ucapan Indra membuat Maya terbelalak. Dia tidak menyangka kalau orang yang tadi bersedia bersusah payah untuk menolongnya itu, rupanya juga punya masalah besar.
Kalau kau punya masalah seperti itu, kenapa masih mau membantuku? tanya Maya. Padahal kalau kau tidak membantuku, kau bisa fokus mencari cara untuk kembali jadi manusia. Apa yang membuatmu mau berbuat sejauh ini?
Mendengar ucapan Maya, Indra tersenyum.
Rupanya sudah sifatnya ya? Dia masih saja mengkhawatirkan orang lain padahal dirinya sendiri masih punya masalah yang belum selesai, gumam Indra dalam hati.
Aku tidak perlu alasan untuk membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan, ujar Indra dengan mantap. Bukankah begitu?
Mendengar ucapan Indra, Maya langsung memalingkan wajahnya sambil berkata.
Huh! Sok keren! ujarnya.
Tapi Indra berani sumpah kalau tadi dia melihat wajah Maya memerah, entah karena alasan apa. Dia baru saja ingin bertanya pada Maya. Tapi tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Yudha melongok keluar dari balik pintu itu.
Indra, nona Maya. Ayo masuk! ujar Yudha sambil melambaikan tangannya. Persiapanku sudah selesai.
Indra memandang ke arah Maya. Gadis itu juga mengangguk, lalu berjalan mengikuti Indra memasuki ruangan.
0
Kutip
Balas