Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.8KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#22
…dua tahun yang lalu
Widya yang malang sebenarnya sudah mencoba menerima nasibnya. Ia memilih mempertahankan pernikahan itu dengan tak pernah menggugat semua perbuatan suaminya. Ia tahu hal itu hanya akan membuat suaminya jadi naik pitam dan mungkin menceraikannya. Ia berbuat demikian hanya karena ia memikirkan nasib anaknya. Ia tak merasa dirinya terlalu lemah untuk berdiri sendiri. Tapi dengan seorang anak yang kecil, itu berarti dua perut yang harus ditanggungnya. Widya hanya menangis setiap hari sambil memeluk atau kadang saat menyuapi bayi itu. Bayi itu mungkin merasa heran dengan tingkah ibunya, sebaliknya, jadi sangat jarang menangis.

…satu tahun yang lalu
Tepat sehari setelah ulang tahun anaknya, Widya mengambil keputusan. Sudah cukup penghinaan yang ia terima oleh Bapak Direktur. Tidak ada kebaikan atau saling menghargai dalam rumah tangga itu. Selama ini ia bertahan itu hanya karena anaknya masih terlalu kecil. Widya tak sudi lagi melihat Bapak Direktur bercumbu rayu di depan dirinya, di rumah dimana dia menjabat ibu rumah tangga. Widya tak sudi lagi menjadi tempat suaminya melayangkan kepalan tangan, atau gamparan ringan yang tidak mematikan. Siksaan itu sudah tak bisa lagi ditolerir, dan Widya membuat keputusan yang semestinya ia lakukan bertahun-tahun lalu. Kini Widya jadi lebih gampang terkena sakit. Setelah bercerai, dan hidup berdua dengan anaknya kondisi psikologis Widya memang menjadi lebih tegar, tetapi kondisi fisiknya jadi kian rapuh. Namun Widya tetap melangkah meskipun kini sedikit kerut dan keriput mulai menghiasi wajahnya.

…sepuluh hari yang lalu
Widya sekarang jadi sangat aktif dalam mencari sosok ayah yang baru untuk anaknya. Ia berdandan begitu menor, tata rias kerjanya bahkan kadang-kadang menyaingi tata rias artis. Tapi kadang-kadang ia lupa memperhatikan bahwa hak sepatunya sudah beberapa kali ditempel aica-aibon. Ia lupa bahwa ada yang mengatakan bahwa melihat nilai keanggunan seorang wanita adalah dari sepatunya. Komunikasinya begitu intens, dan terkadang terlalu tak berjarak. Dan itu jelas membuat semua pria mundur teratur. Apalagi dengan munculnya kerut dan keriput itu. Semestinya Widya lebih bisa menonjolkan sosok keibuannya. Tapi ia kini malah hadir sebagai sosok yang haus kasih sayang. Sehingga terus mencari hal itu dari pria manapun yang ia temui di tempat kerja barunya. Malangnya engkau Widya.

Aku melihat Widya dengan sudut mataku. Ia memang baru dua minggu kerja di tempat ini. Tapi dia selalu berbicara panjang lebar dengan para pria, dan hampir tak pernah berbicara dengan wanita. Ia memang cantik, meski harus diakui ia sudah mulai tua. Aneh sekali, seminggu ini sudah tiga kali aku memimpikannya. Tadi malam aku bermimpi ia menangis begitu memilukan. Itu yang ketiga kalinya. ..ups dia mendekat

"“Hei Ton, eh gimana ntar malam jadi ada acara nggak? Kita ke tempatku ya, aku udah siapin bahan-bahan buat makan malam”. Jangan bilang kamu gak mau cobain loh,"” dengan derasnya Widya memborong kata.

"Duh maaf Wid, malam ini dan malam besok aku mau pergi ke Sukabumi ama teman-teman jadi kayanya aku ga bisa deh, sorry ya,”" aku berbohong.



---14 Juni 2005---
Diubah oleh rahan 02-12-2014 11:43
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.