- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#20
enam tahun yang lalu
Kini Widya sudah tidak kerja lagi di kantor itu. Ia sudah menerima jabatan baru sebagai istri Bapak Direktur. Ia menjadi ibu tiri yang baik bagi anak-anak yang telah ditinggalkan oleh Ibu Direktur sebelumnya. Widya mencoba sepenuhnya berperan sebagai ibu rumah tangga. Alih profesi tentunya bukan suatu hal yang dapat dilakukan dengan mudah. Dengan hati-hati di setiap pagi ia mengoleskan selai nanas atau selai kacang ke atas roti dan membuat roti-roti itu melipat dan menutup sempurna. Sesekali ia belajar untuk memanggang roti dengan toaster. Itu semua dilakukan Widya demi prestasi yang baik dalam jenjang karirnya yang baru Istri Bapak Direktur. Di sela-sela waktu ia ikut arisan di kompleks perumahan itu. Tentunya bersama dengan ibu-ibu bergelang emas dan berpakaian ekstra glamor. Jumlah hadiah kocokan mereka pun tak tanggung-tanggung. 50 juta rupiah akan dibawa pulang jika mendapat giliran tarik arisan. Dan itu memang benar-benar suatu jumlah yang sangat besar di saat kurs satu dollar masih setara 2200 rupiah. Widya toh dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya. Sebagai konsekuensi dari memperistri Widya, Bapak Direktur terpaksa mencari sekretaris baru.
lima tahun yang lalu
Widya melahirkan seorang bayi. Aha, andai saja Widya tahu apa yang dilakukan Bapak Direktur di saat persalinannya. Tentu semangat hidupnya tidak akan sebegitu besar dalam konteks untuk melahirkan bayi itu. Bapak Direktur telah melakukan suatu pengkhianatan. Hal yang tak aneh lagi sebenarnya. Sudah sangat dapat diperkirakan mengingat sebelumnya sudah pernah terjadi. Bapak Direktur yang semestinya menunggu dengan gelisah di sekitar ruang bersalin malah melakukan hal yang sangat bertentangan. Ia melampiaskan hasrat birahinya kepada sekretaris barunya di kamar mandi rumah sakit bersalin tersebut. Barulah setelah ia selesai bercinta, mereka berdua (Bapak Direktur dan sekretaris barunya) dengan tampang tak bersalah masuk dan menjenguk Widya dan bayinya. Sungguh malang bayi itu. Kelahirannya di dunia disambut dengan pengkhianatan yang begitu nista. Akan halnya Widya tentu tak terlalu menderita. Ada ajaran yang menyebut itu sebagai karma.
empat tahun yang lalu
Kelahiran bayi itu membuat Widya tidak terlalu memperhatikan suaminya. Mungkin memang bukan maksudnya mengabaikan kebutuhan suaminya. Widya sering terlalu lelah mengurusi bayi malang nan mungil itu. Widya tidak curiga jika suaminya pulang agak malam dengan alasan sekretarisnya yang baru tidak handal mengerjakan tugasnya, sehingga itu membuat ia terpaksa lembur di kantor. Jika Widya sebelumnya sering menunggui suaminya pulang, maka kini ia sering tidur agak cepat. Sebagai wanita yang tergolong cerdas, Widya bisa dikatakan kurang tanggap. Apa boleh buat, ada pendapat yang mengatakan di atas segala-galanya, anak harus tetap di nomor satukan. Seandainya saja waktu itu Widya tahu. Ada bahaya dalam rumah tangganya. Api yang siap membakar hingga semua luluh jadi debu. Sudah ada asap, tapi Widya tak menciumnya, dan tak melihatnya.
tiga tahun yang lalu
Anda yang pernah melihat sebuah lift yang tidak rusak pasti tahu, bahwa lift itu bergerak naik lalu turun, dan begitulah berulang-ulang. Begitu pula halnya kehidupan. Selalu naik dan turun berulang-ulang. Widya sudah sering naik lift, tetapi dia tidak tahu analogi barusan. Mungkin ia berasumsi bahwa ia adalah Yudhistira dari keluarga Pandawa yang sedang berusaha menaiki gunung yang sangat tinggi. Tak ada kata turun saat perjalanan sudah dimulai. Tapi sebaliknya, lift yang ia naiki sedang turun, dan takdir memang tak berpihak padanya. Ia mulai mencium aroma yang tidak enak. Aroma parfum wanita di baju suaminya. Yang jelas Widya tidak merasa memiliki bau parfum seperti itu. Widya mulai kalap dan menuduh suaminya. Bapak Direktur tidak berusaha mengelak. Ia katakan dengan jelas kepada Widya, kenyataan dari apa yang dituduhkannya. "Ya saya memang berselingkuh jadi kamu mau apa?!" bentak Bapak Direktur. Tangisan bayi mereka memecah pertengkaran Widya dan Bapak Direktur. Bapak Direktur keluar sambil membanting pintu. Dan di kamar itu, tidak hanya satu orang yang menangis.
Kini Widya sudah tidak kerja lagi di kantor itu. Ia sudah menerima jabatan baru sebagai istri Bapak Direktur. Ia menjadi ibu tiri yang baik bagi anak-anak yang telah ditinggalkan oleh Ibu Direktur sebelumnya. Widya mencoba sepenuhnya berperan sebagai ibu rumah tangga. Alih profesi tentunya bukan suatu hal yang dapat dilakukan dengan mudah. Dengan hati-hati di setiap pagi ia mengoleskan selai nanas atau selai kacang ke atas roti dan membuat roti-roti itu melipat dan menutup sempurna. Sesekali ia belajar untuk memanggang roti dengan toaster. Itu semua dilakukan Widya demi prestasi yang baik dalam jenjang karirnya yang baru Istri Bapak Direktur. Di sela-sela waktu ia ikut arisan di kompleks perumahan itu. Tentunya bersama dengan ibu-ibu bergelang emas dan berpakaian ekstra glamor. Jumlah hadiah kocokan mereka pun tak tanggung-tanggung. 50 juta rupiah akan dibawa pulang jika mendapat giliran tarik arisan. Dan itu memang benar-benar suatu jumlah yang sangat besar di saat kurs satu dollar masih setara 2200 rupiah. Widya toh dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya. Sebagai konsekuensi dari memperistri Widya, Bapak Direktur terpaksa mencari sekretaris baru.
lima tahun yang lalu
Widya melahirkan seorang bayi. Aha, andai saja Widya tahu apa yang dilakukan Bapak Direktur di saat persalinannya. Tentu semangat hidupnya tidak akan sebegitu besar dalam konteks untuk melahirkan bayi itu. Bapak Direktur telah melakukan suatu pengkhianatan. Hal yang tak aneh lagi sebenarnya. Sudah sangat dapat diperkirakan mengingat sebelumnya sudah pernah terjadi. Bapak Direktur yang semestinya menunggu dengan gelisah di sekitar ruang bersalin malah melakukan hal yang sangat bertentangan. Ia melampiaskan hasrat birahinya kepada sekretaris barunya di kamar mandi rumah sakit bersalin tersebut. Barulah setelah ia selesai bercinta, mereka berdua (Bapak Direktur dan sekretaris barunya) dengan tampang tak bersalah masuk dan menjenguk Widya dan bayinya. Sungguh malang bayi itu. Kelahirannya di dunia disambut dengan pengkhianatan yang begitu nista. Akan halnya Widya tentu tak terlalu menderita. Ada ajaran yang menyebut itu sebagai karma.
empat tahun yang lalu
Kelahiran bayi itu membuat Widya tidak terlalu memperhatikan suaminya. Mungkin memang bukan maksudnya mengabaikan kebutuhan suaminya. Widya sering terlalu lelah mengurusi bayi malang nan mungil itu. Widya tidak curiga jika suaminya pulang agak malam dengan alasan sekretarisnya yang baru tidak handal mengerjakan tugasnya, sehingga itu membuat ia terpaksa lembur di kantor. Jika Widya sebelumnya sering menunggui suaminya pulang, maka kini ia sering tidur agak cepat. Sebagai wanita yang tergolong cerdas, Widya bisa dikatakan kurang tanggap. Apa boleh buat, ada pendapat yang mengatakan di atas segala-galanya, anak harus tetap di nomor satukan. Seandainya saja waktu itu Widya tahu. Ada bahaya dalam rumah tangganya. Api yang siap membakar hingga semua luluh jadi debu. Sudah ada asap, tapi Widya tak menciumnya, dan tak melihatnya.
tiga tahun yang lalu
Anda yang pernah melihat sebuah lift yang tidak rusak pasti tahu, bahwa lift itu bergerak naik lalu turun, dan begitulah berulang-ulang. Begitu pula halnya kehidupan. Selalu naik dan turun berulang-ulang. Widya sudah sering naik lift, tetapi dia tidak tahu analogi barusan. Mungkin ia berasumsi bahwa ia adalah Yudhistira dari keluarga Pandawa yang sedang berusaha menaiki gunung yang sangat tinggi. Tak ada kata turun saat perjalanan sudah dimulai. Tapi sebaliknya, lift yang ia naiki sedang turun, dan takdir memang tak berpihak padanya. Ia mulai mencium aroma yang tidak enak. Aroma parfum wanita di baju suaminya. Yang jelas Widya tidak merasa memiliki bau parfum seperti itu. Widya mulai kalap dan menuduh suaminya. Bapak Direktur tidak berusaha mengelak. Ia katakan dengan jelas kepada Widya, kenyataan dari apa yang dituduhkannya. "Ya saya memang berselingkuh jadi kamu mau apa?!" bentak Bapak Direktur. Tangisan bayi mereka memecah pertengkaran Widya dan Bapak Direktur. Bapak Direktur keluar sambil membanting pintu. Dan di kamar itu, tidak hanya satu orang yang menangis.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 11:40
0