Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.8KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#12
Nampaknya aku jatuh tertidur di ruangan itu. Saat aku bangun ruangan itu gelap gulita. Leherku pegal sekali. Aku mencoba berdiri tegak dan meregangkan tubuhku yang kaku. Ternyata aku, Dina Raina, masih hidup sehat walafiat tak kurang suatu apapun. Tapi keganjilan seakan masih belum hendak berhenti menyerangku. Ruangan gelap itu tiba-tiba penuh dengan gemerlap ratusan mungkin ribuan kunang-kunang yang datang entah darimana asalnya. Mereka seakan menuntunku mengikuti mereka. Aku berjalan melewati lukisan demi lukisan hingga akhirnya kunang-kunang itu berhenti di sebuah lukisan dan menerangi lukisan tersebut.


(DIARY NA RAINA 11-10-2006 )
Setengah sebelas malem

Dear Diary,
Seneng banget deh, hari ini Na bisa jalan bareng Digo. Kita jalan-jalan sampe capek, having fun, mabuk, pokoknya Na ngerasa sexy abis deh kalo lagi bareng Digo. Tapi ya, ada satu hal yang bener-bener bikin Na bingung.
…
Kyan.

Iya Kyan bodoh itu. Kenapa sih diary? Kenapa Kyan mesti nungguin Na pulang? Sejak mama ama papa meninggal, kenapa sih Kyan mesti ngurusin Na? Lagian dia kan bukan siapa-siapanya Na.. Tapi dia slalu baek buat Na, slalu ada buat Na..

Malam ini, Kyan bilang ‘sayang’ ke Na… Diary, jangan ceritain ke Kyan ya .. Kalo Na sebenarnya ga mungkin ada hati buat Kyan. Na, sayang banget ama Digo.. Aduh … kalo Na sampe bikin Kyan sedih malem ini … aku ga tau deh…


Lukisan itu hanya berupa gambar hati biasa saja. Sekilas tidak ada yang istimewa. Tapi kunang-kunang yang sekarang sudah seolah menjadi lampu halogen tak beranjak dari sana. Aku menunggu, sambil mencoba mengingat-ingat, tapi lukisan hati ini rasanya tak pernah ada dalam kenanganku. Waw! Lukisan hati tersebut perlahan-lahan bersinar putih terang. Aku menatapnya dengan rasa tidak percaya. Dan jika keajaiban memang harus terjadi hari ini, sekaranglah saatnya, pikirku. Seluruh tubuhku seperti terangkat ke atas oleh tenaga tak terlihat. Perlahan kakiku melayang dan tak lagi menginjak lantai marmar. Lalu kepalaku tersedot masuk ke dalam sinar putih hati tersebut diikuti seluruh tubuhku dan aku pun menghilang.

Aku melayang. Aku berada di kamarku. Aku menatap diriku sedang menulis diary. Aku ingat betul ini adalah malam saat Kyan mengucap ‘sayang’ padaku. Saat itu, untuk pertama dan terakhir aku menulis aku sayang Digo dalam diary. Aaargh! … Dina yang naif. Mau sampai kapan kamu percaya kalau Digo itu lelaki yang tepat buat kamu? Dia itu manfaatin kamu. Aku sibuk mengutuki betapa naifnya ‘diriku’ saat itu. Sulit dipercaya rasanya, cahaya hati di Galeri Matahari itu melemparkanku ke titik ini. Apa yang bisa kulakukan atau tepatnya apa yang harus kulakukan sekarang? Kyan! Aku harus melihat Kyan!

Kyan ternyata tak pernah pergi jauh dariku malam itu. Ia ada di sana. Di luar pintu. Ia terduduk dan menangis di depan pintu kamarku. Kyan yang selama ini aku kenal sebagai figur ‘pria yang bisa diandalkan’ ternyata tak pernah kuasa melawan beban hatinya. Aku tau aku bodoh karena telah menghancurkan hati seorang pria. Tapi aku senang, aku tahu dengan demikian aku selalu hidup di hatinya. Dan aku bahagia karena aku tau jawabannya.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 11:21
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.