- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#9
Langkahku kupercepat. Aku sudah tak tahan lagi. Panas ini tak lagi dapat ditolerir. Ingin rasanya aku melepas semua busanaku dan mencebur ke kolam renang. Uuh … disaat seperti ini pasti akan terasa nikmat sekali. Tiba – tiba saja kakiku berhenti dan menghentikan juga angan-angan aneh tentang berenang tanpa busana.
Aku menengok ke sebelah kiri. Lima buah anak tangga kecil akan mengarahkanku persis di hadapan sebuah pintu besar berwarna cokelat dengan tulisan berukir di atas pintu tersebut. GALERI MATAHARI. Papan penjelas di kaki anak tangga bertuliskan “Pameran GALERI MATAHARI hari ini menampilkan karya dengan tema APAKAH HATI HARUS PUTIH?. Buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 14.00.” Hmm … sudah lama sekali aku ingin masuk ke tempat konyol seperti ini. Dan jika mungkin dilanjutkan dengan melecehkan penjaga lukisan saat ia sibuk sok menjelaskan arti sebuah lukisan. Kupikir sebuah rabaan halus di selangkangannya akan membuyarkan penjelasannya. Dan ia akan sulit berkata-kata, menatapku dengan pandangan setengah tak percaya. Mungkin ia akan mengira aku seorang maniak, atau mungkin juga ia akan menatap pengunjung lain di belakangnya (yang bisa kita pahami sebagai ketakutan pada istrinya). Bikin bingung saja. Mengapa kita harus patuh pada aturan-aturan tertentu? Suami harus setia pada istri misalnya. Bodoh sekali. Lagipula jika memang ada istri yang selalu mengawasi di balik punggungnya, semestinya aku yang takut kena gampar, bukan dia yang semestinya menikmati saja posisinya sebagai korban. Ah, aku segera masuk ke dalam Galeri Matahari. Tak sabar ingin melihat tampang korban khayalanku.
Begitu masuk dalam ruangan pertama, aku terhenyak. Ruangan dalam Galeri Matahari ternyata sangat luas dan langit-langitnya tinggi sekali. Pilar-pilar putih menjulang menopang kokoh bangunan tersebut. Udara sejuk serta wangi aneh terpancar di seluruh ruangan. Cahaya remang-remang minimalis menyinari dari atas tiap lukisan yang disajikan. Nikmat sekali rasanya berada di ruangan itu. Tiba-tiba saja korban khayalan tersebut tersingkir dari harapanku yang begitu kuat dari detik sebelumnya. Aku tak ingin ada figur sebodoh itu di tempat seindah ini. Aku tak percaya manusia itu lemah. Yang aku tahu manusia bisa memilih untuk menjadi manusia. Atau sekedar untuk menjadi bodoh. Manusia yang mendesain bangunan ini pasti tidak memilih pilihan yang kedua.
Wah … lihat di ruangan ini juga ada kupu-kupu dan kunang-kunang. Mereka nampak mondar-mandir kebingungan. Jumlahnya ratusan dan ada juga yang terduduk lesu di pojokan. Terdiam hampa di lantai marmar, di bingkai lukisan. Indah memang jika dilihat sekilas. Tapi ini terlalu berlebihan, setidaknya perasaanku mengatakan demikian. Seperti melihat keindahan artifisial dan keindahan natural saling berbenturan dan akhirnya justru membunuh semuanya. Segala sesuatu yang berlebihan memang sukar untuk dinikmati.
Aku menengok ke sebelah kiri. Lima buah anak tangga kecil akan mengarahkanku persis di hadapan sebuah pintu besar berwarna cokelat dengan tulisan berukir di atas pintu tersebut. GALERI MATAHARI. Papan penjelas di kaki anak tangga bertuliskan “Pameran GALERI MATAHARI hari ini menampilkan karya dengan tema APAKAH HATI HARUS PUTIH?. Buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 14.00.” Hmm … sudah lama sekali aku ingin masuk ke tempat konyol seperti ini. Dan jika mungkin dilanjutkan dengan melecehkan penjaga lukisan saat ia sibuk sok menjelaskan arti sebuah lukisan. Kupikir sebuah rabaan halus di selangkangannya akan membuyarkan penjelasannya. Dan ia akan sulit berkata-kata, menatapku dengan pandangan setengah tak percaya. Mungkin ia akan mengira aku seorang maniak, atau mungkin juga ia akan menatap pengunjung lain di belakangnya (yang bisa kita pahami sebagai ketakutan pada istrinya). Bikin bingung saja. Mengapa kita harus patuh pada aturan-aturan tertentu? Suami harus setia pada istri misalnya. Bodoh sekali. Lagipula jika memang ada istri yang selalu mengawasi di balik punggungnya, semestinya aku yang takut kena gampar, bukan dia yang semestinya menikmati saja posisinya sebagai korban. Ah, aku segera masuk ke dalam Galeri Matahari. Tak sabar ingin melihat tampang korban khayalanku.
Begitu masuk dalam ruangan pertama, aku terhenyak. Ruangan dalam Galeri Matahari ternyata sangat luas dan langit-langitnya tinggi sekali. Pilar-pilar putih menjulang menopang kokoh bangunan tersebut. Udara sejuk serta wangi aneh terpancar di seluruh ruangan. Cahaya remang-remang minimalis menyinari dari atas tiap lukisan yang disajikan. Nikmat sekali rasanya berada di ruangan itu. Tiba-tiba saja korban khayalan tersebut tersingkir dari harapanku yang begitu kuat dari detik sebelumnya. Aku tak ingin ada figur sebodoh itu di tempat seindah ini. Aku tak percaya manusia itu lemah. Yang aku tahu manusia bisa memilih untuk menjadi manusia. Atau sekedar untuk menjadi bodoh. Manusia yang mendesain bangunan ini pasti tidak memilih pilihan yang kedua.
Wah … lihat di ruangan ini juga ada kupu-kupu dan kunang-kunang. Mereka nampak mondar-mandir kebingungan. Jumlahnya ratusan dan ada juga yang terduduk lesu di pojokan. Terdiam hampa di lantai marmar, di bingkai lukisan. Indah memang jika dilihat sekilas. Tapi ini terlalu berlebihan, setidaknya perasaanku mengatakan demikian. Seperti melihat keindahan artifisial dan keindahan natural saling berbenturan dan akhirnya justru membunuh semuanya. Segala sesuatu yang berlebihan memang sukar untuk dinikmati.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 11:14
0