Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.1KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#8
DI LUAR PINTU
Panggil aku Dina. Saat ini aku dalam perjalanan menuju kantor pos untuk mengirimkan paket yang ditunggu Kyan tapi tiba-tiba saja aku merasa agak pusing. Matahari sedang terik-teriknya di atas sana, mungkin ia sedang bermain-main dengan kita penghuni bumi ini. Atau bisa saja ternyata pernah ada seorang anak bodoh yang mencoba menyiksa seekor semut dengan kaca pembesar.

Mengumpulkan titik panas di kepala semut itu. Mencoba melihat apakah semut itu akan meregang nyawa, dan dengan sembunyi-sembunyi menikmatinya. Dan mungkin ada sebagian dari anak itu yang merasuk pada kita semua. Lalu sang semut yang telah tewas itu mempunyai permintaan terakhir yang nampaknya dikabulkan Yang Kuasa. Panas matahari itu kini menyengat kepala kita semua.

Kyan bodoh. Dia pernah datang ke rumahku untuk menawarkan kue buatannya. Hatinya memang baik. Tapi sayang dia bodoh. Aku tak pernah menyukainya hanya karena ia pandai memasak kue. Meskipun hampir seluruh peralatan dan genteng yang rusak sudah menerima sentuhan ajaibnya, Kyan tetap Kyan. Ia bodoh karena entah mengapa aku tak pernah bisa mencintainya.

Kue itu misalnya. Entah apa yang telah diperbuat Kyan pada kue itu. Ia yang membikinnya jadi separuh jalan mungkin bisa juga kalau disebut ia Ayah dari kue itu.

“Dimakan dong Na,” pintanya

“Ngga mau, kuenya kebagusan … Mendingan Na jadiin pajangan aja,” jawabku serius.

Kue ulang tahunku itu berakhir di tong sampah setelah menjamur dan bentuknya pun tak indah lagi.

Zap! Entah mengapa peristiwa itu terlintas kembali di benakku. Aku juga heran mengapa begini. Persis di saat aku harus mengirimkan paket penting ini. Uuh … kepalaku semakin pusing. Aku merasa gugup saat tanganku mengeluarkan sesuatu dari kantong blazerku. Oh, ternyata sebuah telpon genggam. Lalu tanpa menunggu lebih lama jemariku memencet nomor telpon Kyan dan menempelkan telpon tersebut erat-erat di telinga kananku. Dari dalam kantong kertas yang kupegang dengan tangan kiriku terdengar dering telpon. Bahu kananku refleks bekerja sama dengan leher yang merapat. Menjaga agar telpon di telinga tak jatuh. Tangan kananku merogoh kantong kertas dengan gerak terbatas, benar-benar bukan suatu pemandangan yang anggun. Tapi pemandangan aneh itu tidak bertahan lama. Aku sekarang dihinggapi keheranan. Mengapa telpon genggam milik Kyan ada di kantong kertas ku? Matahari semakin terik dan aku semakin merasa pusing.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 11:12
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.