Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#5
28 September 2006
Baan dan Seville baru saja kembali dari perjalanan jauh. “Aku tak habis pikir, sudah beberapa kali kau ikut denganku, kau telah melihat banyak kesedihan terbebas oleh kebahagiaan, kau telah melihat semuanya, tapi kau masih tetap belum bisa merasakan bahagia?” Baan menyatakan keresahannya.

Seville hanya diam.

“Kesedihanmu atas kepergian Putri Arakan terlalu besar. Aku paham kau menyayanginya, tapi kau tak bisa terus seperti ini, kau layak menikmati hidupmu,” ucap sang Penjemput.

Seville tetap diam.

“Mengapa kau malah diam saja sekarang? Kereta besok akan pergi lebih jauh lagi, bagaimana menurutmu?” ucap Baan.

“Tidak perlu,” Seville terisak menahan airmatanya.

“Kau menangis,” Baan menjadi heran atas perubahan sikap Seville.

“Ini kereta terakhir ke kamar kita,…”

“Maksudmu, Putri Arakan …?” Baan tak mengerti.

“Baan, Seville sayang kamu..”

Sejenak Baan terdiam. Apa? Ternyata kebahagiaan Seville adalah dirinya. Tempat-tempat yang mereka kunjungi selama ini bukanlah apa yang Seville cari dalam hidupnya. Kebahagiaan Seville adalah kehadiran dirinya, sang Penjemput. Dan ia pun mengerti beban yang ditanggung Seville. Baan terdiam kaku. Ia tak bisa menghibur Seville, lidahnya terasa kelu.
Perlahan-lahan tubuh Seville mengeluarkan cahaya terang. Gadis kecil yang bernama Putri Arakan melangkah keluar dari tubuh Seville dan berdiri di sisi Baan sekarang. Gadis kecil itu berbalik arah dan berhadap-hadapan dengan Seville. Ia menatap Seville yang masih beruraikan air mata. “Terima kasih, Kakak.”

“Seville, kau …, aku …” Baan masih belum bisa berkata jelas.

“Aku tidak apa-apa Baan, aku bahagia sekarang,” ucap Seville terbata.

Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap.

“Boleh aku minta sesuatu padamu, sang Penjemput?”

“Apapun Seville.”

“Bila nanti, aku terjebak menjadi kesedihan dalam kehidupan seseorang, dapatkah engkau yang menjemputku?” pinta Seville.

“Aku akan menjemputmu. Tapi aku juga berharap engkau tidak akan menjadi kesedihan dalam kehidupan seseorang.”

Hening lagi.

“Aku akan sangat kehilanganmu, Baan.”

“Tetap bahagia ya.”

“Akan kucoba.”

“Aku pergi, Sev”

Baan menggandeng tangan kecil Putri Arakan ke kereta. Dalam sekejap mereka berdua menghilang meninggalkan kamar Seville. Seville masih menitikkan air mata dan melambaikan tangannya. Ia merasakan kebahagiaan tersebut menguasai dirinya. Ketenangan. Ketenangan yang abadi.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 10:14
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.