- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#4
7 September & 18 Sept 2006
7 September 2006
Malam sudah larut. Seville sedang berdiri menatap bintang-bintang. Jendela kamar ia buka lebar-lebar. Kamarnya gelap hanya cahaya dari lampu tidur yang bersinar. Ia mendengar pintu dibuka.
“Kau masih belum bisa menjemputnya?” ucap Seville.
“Apa kau sudah bahagia?” Baan balik bertanya.
Hening sesaat di antara mereka.
“Aku tidak tahu,” lirih Seville menjawab.
“Aku ingin menunjukkan suatu rahasia padamu. Kau mau ikut denganku?” tanya Baan lagi.
Seville membalikkan tubuhnya. Kini mereka berhadap-hadapan.
“Aku ikut.”
“Pejamkan matamu,” pinta Baan.
Seville menurut ia memejamkan matanya. Ia pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Apapun bisa terjadi sekarang ini.
“Bukalah, kau lihat apa yang ada di luar?”
“Apa itu Baan?” Seville melihat satu gerbong kereta yang sangat indah melayang di udara. “Kereta?” tanya Seville tak percaya.
Baan mengangguk seraya tersenyum. “Itu kereta yang kugunakan. Kami, para penjemput, menggunakan kereta ini untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh, menjemput mereka yang hidupnya berakhir dengan kesedihan. Jiwa-jiwa itu masih ingin bersembunyi di dunia, karena mereka mengira bahwa langit juga penuh dengan kesedihan. Mereka tidak tahu bahwa langit hanya berisi kebahagiaan.”
“Benarkah itu?” Seville nampak ragu.
“Begini sajalah, bagaimana bila kau ikut dan melihatku bekerja?”
“Untuk apa?”
Aku bermimpi lagi. Aku bersama Baan, sang penjemput, menaiki keretanya ke tempat-tempat yang jauh. Sudah satu minggu lebih aku mengamati sang penjemput bekerja. Keretanya melaju dengan kencang, kami melintasi awan. Orang-orang di seluruh dunia menghilangkan kesedihan dengan kebahagiaan yang tulus. Menolong orang, memberikan harapan, bayi-bayi lahir, orang tua bergembira, janji terpenuhi, kebencian terhapuskan, perpisahan dengan tulus, perjumpaan yang penuh makna, pemberian maaf, dan terlalu banyak kebahagiaan yang menghapuskan kesedihan. Terlalu banyak.
Aku mendapat banyak pelajaran. Baan berkata padaku suatu ketika, Kebahagiaan kita menghilangkan kesedihan orang lain yang tanpa kita sadari masuk dalam diri kita. Tapi, bagaimana cara menemukan kebahagiaan? Baan tidak bisa memberiku jawaban akan hal itu. Arakan masih berada dalam diriku. Aku sudah tidak melukis lagi. Tapi aku belum bahagia.
Maria mendapati Seville tengah melamun. “Sepertinya ada yang memberatkan pikiranmu Nak? Kau nampak resah” tanya Maria.
“Tidak Ibu, hanya saja ada satu pertanyaan yang sedang kupikirkan.”
Maria menunggu lanjutan kalimat putrinya.
“Mengapa Baan baru datang setelah Arakan tiga tahun berada dalam diriku?” ucap Seville.
Maria tak tahu harus menjawab apa. Ia selama ini percaya seutuhnya bahwa anaknya ‘terganggu’. Seville berada dalam dunianya sendiri, dan ia selalu berdoa agar Seville bahkan di dalam ‘kegilaannya’ pun tidak bersedih hatinya. Baan dan Arakan di mata Maria hanyalah sebuah rekaan. Rekaan dari anaknya yang sudah melewati batas tipis antara apa yang waras dan yang tidak. Tapi tak urung juga ia harus memberi sebuah jawaban. Sebagai orang tua ia memiliki tanggung jawab itu. Ia sudah lama tak pernah berbicara serius dengan putri semata wayangnya itu. Maria menghela nafas dan ia pun memulai.
“Seville sayangku, engkau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan di atas dunia ini. Semuanya bisa engkau raih dan pahami. Kecuali satu hal. Maksud sang waktu.”
“Aku tak betul-betul mengerti, apa yang ibu maksud,” Seville menggeleng.
“Engkau bisa terbang di atas langit, mendaki gunung, menyelami lautan, melintasi padang pasir, tetapi engkau tidak bisa memutar sang waktu. Waktu bekerja dengan sendirinya. Tidak masalah satu, dua, sepuluh hari, minggu, bulan ataupun sepuluh tahun. Itu adalah rahasia waktu. Engkau hanya cukup menjalaninya dan tidak perlu mengkhawatirkan cara bekerjanya. Semua di dunia ini, berjalan tepat pada waktunya.” Maria menjelaskan jawabannya.
Dan Seville pun mulai menangis, Maria mendekapnya perlahan. Ia tak mengerti mengapa Seville menangis.
Malam sudah larut. Seville sedang berdiri menatap bintang-bintang. Jendela kamar ia buka lebar-lebar. Kamarnya gelap hanya cahaya dari lampu tidur yang bersinar. Ia mendengar pintu dibuka.
“Kau masih belum bisa menjemputnya?” ucap Seville.
“Apa kau sudah bahagia?” Baan balik bertanya.
Hening sesaat di antara mereka.
“Aku tidak tahu,” lirih Seville menjawab.
“Aku ingin menunjukkan suatu rahasia padamu. Kau mau ikut denganku?” tanya Baan lagi.
Seville membalikkan tubuhnya. Kini mereka berhadap-hadapan.
“Aku ikut.”
“Pejamkan matamu,” pinta Baan.
Seville menurut ia memejamkan matanya. Ia pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Apapun bisa terjadi sekarang ini.
“Bukalah, kau lihat apa yang ada di luar?”
“Apa itu Baan?” Seville melihat satu gerbong kereta yang sangat indah melayang di udara. “Kereta?” tanya Seville tak percaya.
Baan mengangguk seraya tersenyum. “Itu kereta yang kugunakan. Kami, para penjemput, menggunakan kereta ini untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh, menjemput mereka yang hidupnya berakhir dengan kesedihan. Jiwa-jiwa itu masih ingin bersembunyi di dunia, karena mereka mengira bahwa langit juga penuh dengan kesedihan. Mereka tidak tahu bahwa langit hanya berisi kebahagiaan.”
“Benarkah itu?” Seville nampak ragu.
“Begini sajalah, bagaimana bila kau ikut dan melihatku bekerja?”
“Untuk apa?”
Catatan Harian Sev, 18 Sept 2006
SANG PENJEMPUT
SANG PENJEMPUT
Aku bermimpi lagi. Aku bersama Baan, sang penjemput, menaiki keretanya ke tempat-tempat yang jauh. Sudah satu minggu lebih aku mengamati sang penjemput bekerja. Keretanya melaju dengan kencang, kami melintasi awan. Orang-orang di seluruh dunia menghilangkan kesedihan dengan kebahagiaan yang tulus. Menolong orang, memberikan harapan, bayi-bayi lahir, orang tua bergembira, janji terpenuhi, kebencian terhapuskan, perpisahan dengan tulus, perjumpaan yang penuh makna, pemberian maaf, dan terlalu banyak kebahagiaan yang menghapuskan kesedihan. Terlalu banyak.
Aku mendapat banyak pelajaran. Baan berkata padaku suatu ketika, Kebahagiaan kita menghilangkan kesedihan orang lain yang tanpa kita sadari masuk dalam diri kita. Tapi, bagaimana cara menemukan kebahagiaan? Baan tidak bisa memberiku jawaban akan hal itu. Arakan masih berada dalam diriku. Aku sudah tidak melukis lagi. Tapi aku belum bahagia.
Maria mendapati Seville tengah melamun. “Sepertinya ada yang memberatkan pikiranmu Nak? Kau nampak resah” tanya Maria.
“Tidak Ibu, hanya saja ada satu pertanyaan yang sedang kupikirkan.”
Maria menunggu lanjutan kalimat putrinya.
“Mengapa Baan baru datang setelah Arakan tiga tahun berada dalam diriku?” ucap Seville.
Maria tak tahu harus menjawab apa. Ia selama ini percaya seutuhnya bahwa anaknya ‘terganggu’. Seville berada dalam dunianya sendiri, dan ia selalu berdoa agar Seville bahkan di dalam ‘kegilaannya’ pun tidak bersedih hatinya. Baan dan Arakan di mata Maria hanyalah sebuah rekaan. Rekaan dari anaknya yang sudah melewati batas tipis antara apa yang waras dan yang tidak. Tapi tak urung juga ia harus memberi sebuah jawaban. Sebagai orang tua ia memiliki tanggung jawab itu. Ia sudah lama tak pernah berbicara serius dengan putri semata wayangnya itu. Maria menghela nafas dan ia pun memulai.
“Seville sayangku, engkau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan di atas dunia ini. Semuanya bisa engkau raih dan pahami. Kecuali satu hal. Maksud sang waktu.”
“Aku tak betul-betul mengerti, apa yang ibu maksud,” Seville menggeleng.
“Engkau bisa terbang di atas langit, mendaki gunung, menyelami lautan, melintasi padang pasir, tetapi engkau tidak bisa memutar sang waktu. Waktu bekerja dengan sendirinya. Tidak masalah satu, dua, sepuluh hari, minggu, bulan ataupun sepuluh tahun. Itu adalah rahasia waktu. Engkau hanya cukup menjalaninya dan tidak perlu mengkhawatirkan cara bekerjanya. Semua di dunia ini, berjalan tepat pada waktunya.” Maria menjelaskan jawabannya.
Dan Seville pun mulai menangis, Maria mendekapnya perlahan. Ia tak mengerti mengapa Seville menangis.
Diubah oleh rahan 02-12-2014 15:34
0