TS
redrackham
[OriFic] Mystic Circle
Oke....setelah berpikir2 lagi. Saia akhirnya memutuskan untuk posting novel completed saia di forum ini juga.
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
Silahkan dikomentari, dikasih cendol, dikasih bata, dikasih cabe, dikasih keju, terserahlah. Saia ingin liat respon pembaca kalau melihat cerita saia ini.
MYSTIC CIRCLE
Spoiler for "Sinopsis":
Percaya dengan hal-hal gaib dan makhluk-makhluk gaib seperti: Kuntilanak, Genderuwo, Buto Ijo, Sundel Bolong, Siluman Kucing, dan lain-lain? Kalau tidak percaya, sebaiknya kau percaya karena mereka nyata.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Indra Pratama, seorang siswa SMA setengah vampir. Yudha Prabowo, mantan Dewa berwajah mesum. Maya Fitria, gadis SMA yang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan. Ketiganya adalah orang-orang yang bertugas menangani masalah-masalah yang diakibatkan oleh makhluk gaib di kota Yogyakarta.
Ikuti kisah bagaimana Indra menyelamatkan Maya yang sempat mau bunuh diri karena menjadi pembawa sial. Bagaimana Indra, Maya, dan Yudha menangani kasus pembobolan bank oleh Buto Ijo. Bagaimana Indra berkelahi dengan Raden Setyo Pamungkas, seorang Pangeran Kerajaan Siluman Macan dari Lereng Merapi, yang jatuh cinta pada Maya. Serta ikuti bagaimana Indra, Maya, dan Raden Setyo menggagalkan rencana kembalinya para Ashura jahat ke tanah Jawa.
Spoiler for "Chapters Index":
-Under construction-
Volume 1:
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6
2nd Arc: Manusia, Uang, dan Makhluk Gaib
Part 1
Part 2.1
Part 2.2
Part 2.3
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 6
3rd Arc: Siluman Macan Turun Gunung
Part 1
Part 2
Part 3.1
Part 3.2
Part 4
Part 5.1
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 6.1
Part 6.2
Part 7
4th Arc: Manusia Abadi
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 5.1
Part 5.2
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
Volume 2:
4.5th Arc: Manusia Abadi
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6.1
Part 6.2
Part 6.3
5th Arc: Kembali ke Awal
Part 1.1
Part 1.2
Part 2
Part 3
Part 4.1
Part 4.2
Part 4.3
Part 4.4
6th Arc: Pengkhianatan
7th Arc: Komite Para Pemburu
Final Arc: Lingkaran Mistis
Epilog: Akhir Dari Sebuah Awal
Selamat menikmati (^____^)b
0
7K
Kutip
113
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
redrackham
#11
1st Arc: Gadis Yang Dirasuki Dewa
Part 4.1
[Yogyakarta, 14 Maret 2010]
Rumah Yudha memang tidak seperti rumah-rumah biasanya. Rumah itu didesain sedemikian rupa sehingga lebih mirip seperti sebuah kastil eropa di abad pertengahan. Dinding-dinding rumahnya terbuat dari balok-balok bata besar berwarna gelap, sementara pintu-pintu dan jendela-jendelanya terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Kesan angker dan menakutkan langsung terasa begitu melihat rumah besar itu. Ditambah lagi adanya beberapa tanaman rambat yang menutupi dinding-dinding rumah itu, serta kenyataan bahwa rumah itu terletak di tengah sebuah hutan kecil. Sekilas, rumah Yudha lebih mirip seperti kastil para iblis, atau kastil milik count drakula.
Bagian interior rumah itu juga tidak kalah menakjubkan. Bukan hanya bagian luarnya yang mirip kastil, tapi bagian dalamnya juga. Rumah itu didesain agar mirip dengan sebuah kastil, atau mansion bangsawan eropa. Di beberapa sudut ruangan terlihat pajangan berupa baju zirah, lengkap dengan persenjataannya. Sementara di langit-langit lobi utama, tergantung sebuah lampu kristal besar. Dan di kedua sisi ruangan, terdapat sebuah tangga yang mengarah ke lantai 2, dan beberapa koridor yang mengarah ke bagian lain dari rumah besar itu. Untung saja Yudha menggunakan lampu listrik untuk menerangi rumahnya, bukan obor atau lampu minyak. Kalau tidak, bagian dalam rumah itu akan sangat mengerikan sekali.
Rumah yang lebih pas disebut kastil itu, memiliki 4 lantai dan sebuah ruang bawah tanah. Karena begitu luas, Indra masih belum menjelajah ke semua tempat di dalam rumah itu. Dan dia belum pernah turun sampai ke ruang bawah tanah.
Yudha memang membiarkan dia berkeliling rumah dan tidak mengatakan apapun ketika Indra memasuki hampir semua ruangan di dalam rumah itu. Dan walaupun ruang bawah tanah bukan ruangan terlarang, tapi insting Indra mengatakan sebaiknya dia tidak masuk ke ruang bawah tanah. Dan itu dia lakukan. Selama ini dia selalu menghindari ruang bawah tanah.
Sekarang Indra, Maya, dan Yudha sudah duduk dengan nyaman di sebuah ruangan besar dengan perapian di lantai 2. Ruangan ini biasa dipakai Yudha untuk menerima tamu-tamunya. Walaupun dia sering juga menerima tamunya di ruangan lain, untuk ganti suasanya. Ruangan itu cukup luas dan terdapat satu set sofa empuk berwarna merah, dan sebuah meja di tengah ruangan. Di sisi-sisi ruangan terdapat lemari-lemari tua yang dipenuhi oleh berbagai macam buku. Beberapa buku itu ditulis dengan tulisan yang sama sekali asing bagi Indra.
Maya baru saja menceritakan semua pengalaman miserius yang dia alami. Begitu mendengar cerita Maya, Yudha langsung tersenyum Dia sudah memahami masalah apa yang dialami gadis itu.
Hoo Begitu..? Kau memang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan, ujar Yudha santai sambil mengambil sebatang rokok dari kantung kemejanya.
Eh? tanya Maya bingung Dewa Keberuntungan?
Yudha mengangguk sambil menyalakan rokoknya.
Kau tidak keberatan kalau aku merokok kan? tanya Yudha pada Maya. Gadis itu sebenarnya tidak suka kalau ada orang merokok di depannya, tapi kali ini dia dia tidak terlalu peduli. Maya lalu menggelengkan kepalanya.
Oke. Dewa Keberuntungan. Orang cina menggambarkan mereka seperti kucing gemuk berbulu emas, merah, atau putih, yang membawa kepingan koin emas besar. Di Barat, mereka kadang disebut sebagai Luck Eater. Di Jepang, mereka memiliki wujud seperti anak kecil berkimono yang disebut sebagai Zashikiwarashi, ujar Yudha sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Wujud mereka tidak penting. Yang penting adalah kemampuannya. Mereka bisa memberikan keberuntungan pada manusia.
Kalau memang yang merasuki diriku adalah Dewa Keberuntungan, kenapa aku malah membawa kesialan bagi orang lain?! seru Maya jengkel.
Gadis itu masih belum memahami ucapan Yudha. Jangankan Maya yang belum pernah berhubungan dengan dunia gaib sebelumnya, Indra saja masih bingung dengan ucapan Yudha.
Benar. Itu tidak masuk akal Yudha. Kenapa dia membawa kesialan bagi orang lain kalau yang merasukinya adalah Dewa Keberuntungan? tanya Indra.
Begitulah kenyataannya, nona, Indra, balas Yudha. Indra, apa kau masih ingat bagaimana keberuntungan dan kesialan itu bekerja?
Yudha malah balik bertanya pada Indra. Maya tambah bingung. Gadis itu lalu menoleh ke arah Indra. Indra sendiri langsung berusaha mengingat-ingat ucapan Yudha mengenai keberuntungan dan kesialan. Kemudian, dia mengingatnya.
Aku ingat. Kesialan dan keberuntungan itu mirip seperti timbangan, jawab Indra sambil menepukkan tangannya, kebiasaan yang dia lakukan kalau dia berhasil menjawab suatu pertanyaan. Singkatnya, kalau seseorang mengalami keberuntungan, maka timbangannya akan bergerak menuju kesialan. Dan sebaliknya, kalau seseorang mengalami kesialan, maka timbangannya akan bergerak menuju keberuntungan. Oleh karena itu tidak pernah ada orang yang selalu sial, dan orang yang selalu beruntung.
Yudha menjentikkan jarinya.
Tepat sekali! ujarnya sambil tersenyum lebar.
Tapi sayangnya penjelasan Indra masih membuat Maya kebingungan.
Keberuntungan dan kesialan bisa digambarkan seperti itu. Walaupun ada yang menganggap kerjanya seperti sebuah roda, jelas Yudha. Yang pasti nona Maya, kemampuan dari Dewa Keberuntungan adalah mengarahkan timbangan itu ke arah keberuntungan. Dan apa kau tahu bagaimana cara mereka melakukannya?
Maya terdiam. Sepertinya perlahan-lahan dia mulai menangkap maksud dari penjelasan Yudha. Indra juga terdiam. Sepertinya dia juga memikirkan hal yang sama dengan Maya.
Dewa Keberuntungan menghisap keberuntungan dari orang-orang di dekatnya, dan memberikannya pada orang yang mereka inginkan. Oleh karena itu, mereka punya sebutan sebagai Luck Eater di Barat, ujar Yudha sambil menghisap rokoknya. Apa kau paham maksudku?
Dia....membuat....orang lain.....mengalami kesialan? ujar Maya pelan-pelan.
Bingo! balas Yudha sambil menjentikkan jarinya.
Mendengar balasan Yudha, Maya langsung gemetaran.
Jadi.....semua kesialan yang dialami orang-orang di dekatku...semuanya karena Dewa Keberuntungan ini? tanya Maya dengan suara bergetar. Kenapa dia merasukiku?! Kenapa dia tidak memilih orang lain saja?!
Kenapa? Jawabannya mudah saja. Dia ingin balas budi, jawab Yudha dengan nada santai seperti biasanya. Kau sudah membersihkan patung tempatnya bersemayam. Jadi wajar saja kalau dia merasukimu untuk membalas kebaikanmu.
Ucapan Yudha membuat emosi Maya meledak seketika. Gadis itu langsung menggebrak meja dan berdiri dengan marah.
Balas budi?! bentak Maya. Membuat orang-orang didekatku mengalami kesialan!? Itu namanya balas budi?!
Yudha masih diam saja.
Kemarahan Maya beralasan. Memang sulit dipercaya kalau makhluk gaib seperti Dewa Keberuntungan membalas budi baik Maya dengan memberi kesialan pada orang-orang di dekatnya.
Ada yang aneh....gumam Indra dalam hati.
Tapi tiba-tiba, dia teringat dengan cerita Maya.
Jangan-jangan....yang dimaksud balas budi itu....
Yudha. Maksudmu dengan balas budi....jangan-jangan itu adalah selamatnya Maya dari kecelakan hebat yang dia alami setahun yang lalu? tanya Indra. Itukah wujud balas budi dari Dewa Keberuntungan?
Mendengar ucapan Indra. Yudha langsung menjentikkan jarinya lagi. Dia tampak senang karena asistennya bisa menebak apa maksudnya.
Bingo! ujarnya, dia lalu memandang ke arah Maya yang masih berdiri dengan ekspresi marah di wajahnya. Dewa Keberuntungan itu telah menyelamatkan nyawamu waktu itu, nona Maya.
Maya langsung terdiam. Tapi dia masih belum bisa menerima penjelasan dari Yudha.
Kalau memang begitu, bukankah budi baikku sudah terbalas? Kenapa dia memperburuk keadaan dengan kutukan kesialannya?!
Maya masih membentak Yudha, tapi nada bicaranya sudah melunak. Kali ini Yudha langsung berdiri. Maya tersentak karena mengira dia sudah membuat paranormal itu marah. Tapi tatapan lembut dari Yudha membuatnya merasa lebih tenang, entah kenapa.
Dewa Keberuntungan hanya punya satu kemampuan. Yaitu memanipulasi keberuntungan. Saat kau mengalami kecelakaan itu, dia memanipulasi keberuntunganmu habis-habisan, sehingga kau bisa selamat hanya dengan luka-luka kecil, ujar Yudha sambil memandang ke arah Maya dengan lembut. Dengan kata lain. Timbanganmu dipaksa menuju ke arah keberuntungan saat itu. Tapi timbangan itu akan selalu berusaha menyeimbangkan diri. Apa kau mengerti ucapanku ?
Maya terdiam. Tapi spertinya dia memahami maksud ucapan Yudha. Begitu pula dengan Indra. Dia langsung menangkap maksud dari bos-nya itu.
Aku paham. Dewa Keberuntungan yang merasuki Maya, sudah memaksa timbangan gadis itu untuk menuju ke keberuntungan besar. Tapi timbangan itu selalu adil. Setelah mendapatkan keberuntungan besar....maka yang selanjutnya akan terjadi adalah......kesialan besar ujar Indra dalam hati.
Sepertinya kau paham. Jadi begitulah. Saat inipun, Dewa Keberuntungan itu sedang menyerap keberuntunganku dan Indra, ujar Yudha sambil memandang ke belakang Maya. Kenapa dia lakukan itu? Itu karena dia berusaha menyeimbangkan kembali timbanganmu. Dengan menambahkan keberuntungan yang dia hisap dari orang-orang, ke dalam timbangan keberuntunganmu.
Maya terdiam sejenak. Kemudian dia kembali berbicara dengan suara bergetar.
Ka..kalau begitu. Seandainya dia meninggalkanku setelah membalas budinya dalam kecelakaan itu....
Benar. Berikutnya, kau mungkin akan tewas dalam kecelakaan lain.
Spoiler for "Part 4.1":
[Yogyakarta, 14 Maret 2010]
Rumah Yudha memang tidak seperti rumah-rumah biasanya. Rumah itu didesain sedemikian rupa sehingga lebih mirip seperti sebuah kastil eropa di abad pertengahan. Dinding-dinding rumahnya terbuat dari balok-balok bata besar berwarna gelap, sementara pintu-pintu dan jendela-jendelanya terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Kesan angker dan menakutkan langsung terasa begitu melihat rumah besar itu. Ditambah lagi adanya beberapa tanaman rambat yang menutupi dinding-dinding rumah itu, serta kenyataan bahwa rumah itu terletak di tengah sebuah hutan kecil. Sekilas, rumah Yudha lebih mirip seperti kastil para iblis, atau kastil milik count drakula.
Bagian interior rumah itu juga tidak kalah menakjubkan. Bukan hanya bagian luarnya yang mirip kastil, tapi bagian dalamnya juga. Rumah itu didesain agar mirip dengan sebuah kastil, atau mansion bangsawan eropa. Di beberapa sudut ruangan terlihat pajangan berupa baju zirah, lengkap dengan persenjataannya. Sementara di langit-langit lobi utama, tergantung sebuah lampu kristal besar. Dan di kedua sisi ruangan, terdapat sebuah tangga yang mengarah ke lantai 2, dan beberapa koridor yang mengarah ke bagian lain dari rumah besar itu. Untung saja Yudha menggunakan lampu listrik untuk menerangi rumahnya, bukan obor atau lampu minyak. Kalau tidak, bagian dalam rumah itu akan sangat mengerikan sekali.
Rumah yang lebih pas disebut kastil itu, memiliki 4 lantai dan sebuah ruang bawah tanah. Karena begitu luas, Indra masih belum menjelajah ke semua tempat di dalam rumah itu. Dan dia belum pernah turun sampai ke ruang bawah tanah.
Yudha memang membiarkan dia berkeliling rumah dan tidak mengatakan apapun ketika Indra memasuki hampir semua ruangan di dalam rumah itu. Dan walaupun ruang bawah tanah bukan ruangan terlarang, tapi insting Indra mengatakan sebaiknya dia tidak masuk ke ruang bawah tanah. Dan itu dia lakukan. Selama ini dia selalu menghindari ruang bawah tanah.
Sekarang Indra, Maya, dan Yudha sudah duduk dengan nyaman di sebuah ruangan besar dengan perapian di lantai 2. Ruangan ini biasa dipakai Yudha untuk menerima tamu-tamunya. Walaupun dia sering juga menerima tamunya di ruangan lain, untuk ganti suasanya. Ruangan itu cukup luas dan terdapat satu set sofa empuk berwarna merah, dan sebuah meja di tengah ruangan. Di sisi-sisi ruangan terdapat lemari-lemari tua yang dipenuhi oleh berbagai macam buku. Beberapa buku itu ditulis dengan tulisan yang sama sekali asing bagi Indra.
Maya baru saja menceritakan semua pengalaman miserius yang dia alami. Begitu mendengar cerita Maya, Yudha langsung tersenyum Dia sudah memahami masalah apa yang dialami gadis itu.
Hoo Begitu..? Kau memang dirasuki oleh Dewa Keberuntungan, ujar Yudha santai sambil mengambil sebatang rokok dari kantung kemejanya.
Eh? tanya Maya bingung Dewa Keberuntungan?
Yudha mengangguk sambil menyalakan rokoknya.
Kau tidak keberatan kalau aku merokok kan? tanya Yudha pada Maya. Gadis itu sebenarnya tidak suka kalau ada orang merokok di depannya, tapi kali ini dia dia tidak terlalu peduli. Maya lalu menggelengkan kepalanya.
Oke. Dewa Keberuntungan. Orang cina menggambarkan mereka seperti kucing gemuk berbulu emas, merah, atau putih, yang membawa kepingan koin emas besar. Di Barat, mereka kadang disebut sebagai Luck Eater. Di Jepang, mereka memiliki wujud seperti anak kecil berkimono yang disebut sebagai Zashikiwarashi, ujar Yudha sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Wujud mereka tidak penting. Yang penting adalah kemampuannya. Mereka bisa memberikan keberuntungan pada manusia.
Kalau memang yang merasuki diriku adalah Dewa Keberuntungan, kenapa aku malah membawa kesialan bagi orang lain?! seru Maya jengkel.
Gadis itu masih belum memahami ucapan Yudha. Jangankan Maya yang belum pernah berhubungan dengan dunia gaib sebelumnya, Indra saja masih bingung dengan ucapan Yudha.
Benar. Itu tidak masuk akal Yudha. Kenapa dia membawa kesialan bagi orang lain kalau yang merasukinya adalah Dewa Keberuntungan? tanya Indra.
Begitulah kenyataannya, nona, Indra, balas Yudha. Indra, apa kau masih ingat bagaimana keberuntungan dan kesialan itu bekerja?
Yudha malah balik bertanya pada Indra. Maya tambah bingung. Gadis itu lalu menoleh ke arah Indra. Indra sendiri langsung berusaha mengingat-ingat ucapan Yudha mengenai keberuntungan dan kesialan. Kemudian, dia mengingatnya.
Aku ingat. Kesialan dan keberuntungan itu mirip seperti timbangan, jawab Indra sambil menepukkan tangannya, kebiasaan yang dia lakukan kalau dia berhasil menjawab suatu pertanyaan. Singkatnya, kalau seseorang mengalami keberuntungan, maka timbangannya akan bergerak menuju kesialan. Dan sebaliknya, kalau seseorang mengalami kesialan, maka timbangannya akan bergerak menuju keberuntungan. Oleh karena itu tidak pernah ada orang yang selalu sial, dan orang yang selalu beruntung.
Yudha menjentikkan jarinya.
Tepat sekali! ujarnya sambil tersenyum lebar.
Tapi sayangnya penjelasan Indra masih membuat Maya kebingungan.
Keberuntungan dan kesialan bisa digambarkan seperti itu. Walaupun ada yang menganggap kerjanya seperti sebuah roda, jelas Yudha. Yang pasti nona Maya, kemampuan dari Dewa Keberuntungan adalah mengarahkan timbangan itu ke arah keberuntungan. Dan apa kau tahu bagaimana cara mereka melakukannya?
Maya terdiam. Sepertinya perlahan-lahan dia mulai menangkap maksud dari penjelasan Yudha. Indra juga terdiam. Sepertinya dia juga memikirkan hal yang sama dengan Maya.
Dewa Keberuntungan menghisap keberuntungan dari orang-orang di dekatnya, dan memberikannya pada orang yang mereka inginkan. Oleh karena itu, mereka punya sebutan sebagai Luck Eater di Barat, ujar Yudha sambil menghisap rokoknya. Apa kau paham maksudku?
Dia....membuat....orang lain.....mengalami kesialan? ujar Maya pelan-pelan.
Bingo! balas Yudha sambil menjentikkan jarinya.
Mendengar balasan Yudha, Maya langsung gemetaran.
Jadi.....semua kesialan yang dialami orang-orang di dekatku...semuanya karena Dewa Keberuntungan ini? tanya Maya dengan suara bergetar. Kenapa dia merasukiku?! Kenapa dia tidak memilih orang lain saja?!
Kenapa? Jawabannya mudah saja. Dia ingin balas budi, jawab Yudha dengan nada santai seperti biasanya. Kau sudah membersihkan patung tempatnya bersemayam. Jadi wajar saja kalau dia merasukimu untuk membalas kebaikanmu.
Ucapan Yudha membuat emosi Maya meledak seketika. Gadis itu langsung menggebrak meja dan berdiri dengan marah.
Balas budi?! bentak Maya. Membuat orang-orang didekatku mengalami kesialan!? Itu namanya balas budi?!
Yudha masih diam saja.
Kemarahan Maya beralasan. Memang sulit dipercaya kalau makhluk gaib seperti Dewa Keberuntungan membalas budi baik Maya dengan memberi kesialan pada orang-orang di dekatnya.
Ada yang aneh....gumam Indra dalam hati.
Tapi tiba-tiba, dia teringat dengan cerita Maya.
Jangan-jangan....yang dimaksud balas budi itu....
Yudha. Maksudmu dengan balas budi....jangan-jangan itu adalah selamatnya Maya dari kecelakan hebat yang dia alami setahun yang lalu? tanya Indra. Itukah wujud balas budi dari Dewa Keberuntungan?
Mendengar ucapan Indra. Yudha langsung menjentikkan jarinya lagi. Dia tampak senang karena asistennya bisa menebak apa maksudnya.
Bingo! ujarnya, dia lalu memandang ke arah Maya yang masih berdiri dengan ekspresi marah di wajahnya. Dewa Keberuntungan itu telah menyelamatkan nyawamu waktu itu, nona Maya.
Maya langsung terdiam. Tapi dia masih belum bisa menerima penjelasan dari Yudha.
Kalau memang begitu, bukankah budi baikku sudah terbalas? Kenapa dia memperburuk keadaan dengan kutukan kesialannya?!
Maya masih membentak Yudha, tapi nada bicaranya sudah melunak. Kali ini Yudha langsung berdiri. Maya tersentak karena mengira dia sudah membuat paranormal itu marah. Tapi tatapan lembut dari Yudha membuatnya merasa lebih tenang, entah kenapa.
Dewa Keberuntungan hanya punya satu kemampuan. Yaitu memanipulasi keberuntungan. Saat kau mengalami kecelakaan itu, dia memanipulasi keberuntunganmu habis-habisan, sehingga kau bisa selamat hanya dengan luka-luka kecil, ujar Yudha sambil memandang ke arah Maya dengan lembut. Dengan kata lain. Timbanganmu dipaksa menuju ke arah keberuntungan saat itu. Tapi timbangan itu akan selalu berusaha menyeimbangkan diri. Apa kau mengerti ucapanku ?
Maya terdiam. Tapi spertinya dia memahami maksud ucapan Yudha. Begitu pula dengan Indra. Dia langsung menangkap maksud dari bos-nya itu.
Aku paham. Dewa Keberuntungan yang merasuki Maya, sudah memaksa timbangan gadis itu untuk menuju ke keberuntungan besar. Tapi timbangan itu selalu adil. Setelah mendapatkan keberuntungan besar....maka yang selanjutnya akan terjadi adalah......kesialan besar ujar Indra dalam hati.
Sepertinya kau paham. Jadi begitulah. Saat inipun, Dewa Keberuntungan itu sedang menyerap keberuntunganku dan Indra, ujar Yudha sambil memandang ke belakang Maya. Kenapa dia lakukan itu? Itu karena dia berusaha menyeimbangkan kembali timbanganmu. Dengan menambahkan keberuntungan yang dia hisap dari orang-orang, ke dalam timbangan keberuntunganmu.
Maya terdiam sejenak. Kemudian dia kembali berbicara dengan suara bergetar.
Ka..kalau begitu. Seandainya dia meninggalkanku setelah membalas budinya dalam kecelakaan itu....
Benar. Berikutnya, kau mungkin akan tewas dalam kecelakaan lain.
0
Kutip
Balas