TS
Gulley
Semua Cerita Bermakna (Semua Kepercayaan)
Berhubung banyaknya thread cerita bermakna dan juga yang sharing tentang kisah-kisah yang memiliki pesan tersirat dan tersurat. Maka sesuai saran dan juga ada persetujuan Momod, maka dengan ini dibuat Thread Khusus Cerita 
Aturannya
:
1. DILARANG Keras Posting yang berbau BB
2. DILARANG Posting bernuansa MENGHINA SARA
3. DILARANG Kejang-kejang
4. DILARANG Memancing Keributan
:
5. DILARANG Iklan bentuk apapun, baik tulisan atau pun gambar
6. Terlalu Melanggar = BATA
lalu dikasih Laporan buat Banned sementara....Lalu siap-siap Banned Permanen 
Stempel ajaib

Talmud Babilonia, Bava Mezia 84a
Uang dan Batu
Berjudi
gurun sahara
Meramal masa depan
Cinta sejati
Mewakili
Kelemahan Kita Adalah Kekuatan Kita
NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Sometimes Simple Life is more Beautiful than You Think...
Mengembangkan Kualitas Diri Menuju Masa Depan Bahagia
Nasehat Bunda Teresa
BATU BATA KEHIDUPAN
Tukang Tidur vs Tukang Main Game
Kisah Dua Tukang Sol
Kalbumu harus seluas danau
Nasehat Bijak Einstein tentang Hidup Sukses
Inipun Akan Berlalu
Iman Semut Vs Iman Manusia
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) part 1
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 4
Hanya 3 orang Majus
Niat Taubat Menukar Arak Menjadi Madu
Permohonan Si kaya dan Si miskin
Rela Dimasukan kedalam Neraka
Pahlawan Neraka
Riak Memusnahkan Pahala
Cara Berpikir - Simple & Kreatif
Kejutan yang Menyenangkan
Tebing Bunga Lily
Orang Samaria Yang Baik Hati
MBAH DULLAH
Lao Zi: Apa Beda Lidah dan Gigi?
Buddha dan Putri Magandiya
Batu besar
Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah
Petani
kasih sayang ibu
Langkah Dalam Kehidupan
Kesungguhan, Pasti Menghasilkan Jalan
Sikap
#1
Anathapindika (Seorang hartawan yang menjadi miskin
Cintai Dan Hargailah PasanganMu
Aku adalah Macan
NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Gara-gara Lubang di Jubah
Lima Alasan Kenapa Harus Tersenyum
Bekerja Sepenuh Hati
Lampu Merah dan Kesedihan
Pencarian Spiritual
Menghadapi Rasa Takut
Berdusta
Pilih Kebenaran atau Kecurangan?
Cermin diri
Mujizat nyanyian seorang kakak
Arti sebuah Nilai
Alasan Kita Diciptakan
Permen Lolipop
SEMANGAT Vs BUNUH DIRI
Letak Kekuatan
Kisah Motivasi Garam Dan Telaga
10 Kualitas Pribadi yang patut dikembangkan
I Love You
Motivated Stories
Dibaca Yah
Ren Sheng Shi Si Zui 14 Guidance of Human Life
Cerita Zen - 11 : DIALOG PERDAGANGAN UNTUK MENGINAP
Hiu kecil
INDEKS LANJUTAN DISINI

Aturannya
:1. DILARANG Keras Posting yang berbau BB

2. DILARANG Posting bernuansa MENGHINA SARA

3. DILARANG Kejang-kejang

4. DILARANG Memancing Keributan
:5. DILARANG Iklan bentuk apapun, baik tulisan atau pun gambar

6. Terlalu Melanggar = BATA
lalu dikasih Laporan buat Banned sementara....Lalu siap-siap Banned Permanen 
Silahkan berbagi dan gabungkan di sini 

Stempel ajaib


INDEKS CERITA
Quote:
Talmud Babilonia, Bava Mezia 84a
Uang dan Batu
Berjudi
gurun sahara
Meramal masa depan
Cinta sejati
Mewakili
Kelemahan Kita Adalah Kekuatan Kita
NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Sometimes Simple Life is more Beautiful than You Think...
Mengembangkan Kualitas Diri Menuju Masa Depan Bahagia
Nasehat Bunda Teresa
BATU BATA KEHIDUPAN
Tukang Tidur vs Tukang Main Game
Kisah Dua Tukang Sol
Kalbumu harus seluas danau
Nasehat Bijak Einstein tentang Hidup Sukses
Inipun Akan Berlalu
Iman Semut Vs Iman Manusia
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) part 1
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 4
Hanya 3 orang Majus
Niat Taubat Menukar Arak Menjadi Madu
Permohonan Si kaya dan Si miskin
Rela Dimasukan kedalam Neraka
Pahlawan Neraka
Riak Memusnahkan Pahala
Cara Berpikir - Simple & Kreatif
Kejutan yang Menyenangkan
Tebing Bunga Lily
Orang Samaria Yang Baik Hati
MBAH DULLAH
Lao Zi: Apa Beda Lidah dan Gigi?
Buddha dan Putri Magandiya
Batu besar
Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah
Petani
kasih sayang ibu
Langkah Dalam Kehidupan
Kesungguhan, Pasti Menghasilkan Jalan
Sikap
#1
Anathapindika (Seorang hartawan yang menjadi miskin
Cintai Dan Hargailah PasanganMu
Aku adalah Macan
NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Gara-gara Lubang di Jubah
Lima Alasan Kenapa Harus Tersenyum
Bekerja Sepenuh Hati
Lampu Merah dan Kesedihan
Pencarian Spiritual
Menghadapi Rasa Takut
Berdusta
Pilih Kebenaran atau Kecurangan?
Cermin diri
Mujizat nyanyian seorang kakak
Arti sebuah Nilai
Alasan Kita Diciptakan
Permen Lolipop
SEMANGAT Vs BUNUH DIRI
Letak Kekuatan
Kisah Motivasi Garam Dan Telaga
10 Kualitas Pribadi yang patut dikembangkan
I Love You
Motivated Stories
Dibaca Yah
Ren Sheng Shi Si Zui 14 Guidance of Human Life
Cerita Zen - 11 : DIALOG PERDAGANGAN UNTUK MENGINAP
Hiu kecil
INDEKS LANJUTAN DISINI
tata604 memberi reputasi
1
50.4K
Kutip
1.4K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spiritual
6.4KThread•2.9KAnggota
Tampilkan semua post
Zakarriaa
#52
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
Quote:
Tindakan Khidir as di mata Musa as adalah tindakan yang tercela. Kemudian bangkitlah emosi Musa as sebagai bentuk kecemburuannya kepada kebenaran. Ia terdorong untuk bertanya kepada gurunya dan ia lupa tentang syarat yang telah diajukannya, agar ia tidak bertanya apa pun yang terjadi. Musa as berkata: Apakah engkau melobanginya agar para penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang tercela.Mendengar pertanyaan lugas Musa as, hamba Allah SWT itu menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa as untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa as tidak mampu lagi bersabar. Musa as meminta maaf kepada Khidir as karena ia lupa dan mengharap kepadanya agar tidak menghukumnya.
Kemudian mereka berdua berjalan melewati suatu kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa as dibuat terkejut ketika melihat hamba Allah SWT ini membunuh anak kacil itu. Musa as dengan lantang bertanya kepadanya tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali mengingatkan Musa as bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa as meminta maaf kepadanya karena lagi-lagi ia lupa. Musa as berjanji tidak akan bertanya lagi. Musa as berkata ini adalah kesempatan terakhirku untuk menemanimu. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan.
Mereka memasuki suatu desa yang sangat bakhil. Musa as tidak mengetahui mengapa mereka berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di sana. Makanan yang mereka bawa habis, lalu mereka meminta makanan kepada penduduk desa itu, tetapi penduduk itu tidak mau memberi dan tidak mau menjamu mereka. Kemudian datanglah waktu sore. Kedua orang itu ingin beristirahat di sebelah dinding yang hampir roboh. Musa as dibuat terkejut ketika melihat hamba itu berusaha membangun dinding yang nyaris roboh itu. Bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu dan membangunnya seperti baru. Musa as sangat heran melihat tindakan gurunya. Bagi Musa as, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak untuk mendapatkan pekerjaan yang gratis ini. Musa as berkata: Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu. Mendengar perkataan Musa as itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku. Hamba Allah SWT itu mengingatkan Musa as tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari pertemuan.
Kemudian hamba Allah SWT itu menceritakan kepada Musa as dan membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa as. Setiap tindakan hamba yang saleh ituyang membuat Musa as bingungbukanlah hasil dari rekayasanya atau dari inisiatifnya sendiri, ia hanya sekadar menjadi jembatan yang digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tinggi di mana kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi. Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampak keras namun pada hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang. Demikianlah bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah. Hal inilah yang tidak diketahui oleh Musa as. Meskipun Musa as memiliki ilmu yang sangat luas tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba ini. Ilmu Musa as laksana setetes air dibandingkan dengan ilmu hamba itu, sedangkan hamba Allah SWT itu hanya memperoleh ilmu dari Allah SWT sedikit, sebesar air yang terdapat pada paruh burung yang mengambil dari lautan.
Allah SWT berfirman: Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir as melobanginya. Musa as berkata: Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya?Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidir as) berkata: Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali kali tidak akan sabar bersama dengan aku. Musa as berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir as membunuhnya. Musa as berkata: Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar. Khidir as berkata: Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku? Musa as berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir as menegakkan dinding itu. Musa as berkata: Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu. Khidir as berkata: Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (QS. al-Kahfi: 71-82)
Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa as: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa as sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar. Pemilik perahu itu akan menganggap bahwa usaha melobangi perahu mereka merupakan suatu bencana bagi mereka tetapi sebenarnya di balik itu terdapat kenikmatan, yaitu kenikmatan yang tidak dapat diketahui kecuali setelah terjadinya peperangan di mana raja akan memerintahkan untuk merampas perahu-perahu yang ada. Lalu raja itu akan membiarkan perahuperahu yang rusak. Dengan demikian, sumber rezeki keluarga-keluarga mereka akan tetap terjaga dan mereka tidak akan mati kelaparan. Demikian juga orang tua anak kecil yang terbunuh itu akan menganggap bahwa terbunuhnya anak kecil itu sebagai musibah, namun kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka karena Allah SWT akan memberi mereka sebagai ganti darinyaanak yang baik yang dapat menjaga mereka dan melindungi mereka pada saat mereka menginjak masa tua dan mereka tidak akan menampakkan kelaliman dan kekufuran seperti anak yang terbunuh. Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik ternyata justru di balik itu terdapat keburukan.
Mula-mula Nabi Allah SWT Musa as menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Kemudian mereka berdua berjalan melewati suatu kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa as dibuat terkejut ketika melihat hamba Allah SWT ini membunuh anak kacil itu. Musa as dengan lantang bertanya kepadanya tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali mengingatkan Musa as bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa as meminta maaf kepadanya karena lagi-lagi ia lupa. Musa as berjanji tidak akan bertanya lagi. Musa as berkata ini adalah kesempatan terakhirku untuk menemanimu. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan.
Mereka memasuki suatu desa yang sangat bakhil. Musa as tidak mengetahui mengapa mereka berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di sana. Makanan yang mereka bawa habis, lalu mereka meminta makanan kepada penduduk desa itu, tetapi penduduk itu tidak mau memberi dan tidak mau menjamu mereka. Kemudian datanglah waktu sore. Kedua orang itu ingin beristirahat di sebelah dinding yang hampir roboh. Musa as dibuat terkejut ketika melihat hamba itu berusaha membangun dinding yang nyaris roboh itu. Bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu dan membangunnya seperti baru. Musa as sangat heran melihat tindakan gurunya. Bagi Musa as, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak untuk mendapatkan pekerjaan yang gratis ini. Musa as berkata: Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu. Mendengar perkataan Musa as itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku. Hamba Allah SWT itu mengingatkan Musa as tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari pertemuan.
Kemudian hamba Allah SWT itu menceritakan kepada Musa as dan membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa as. Setiap tindakan hamba yang saleh ituyang membuat Musa as bingungbukanlah hasil dari rekayasanya atau dari inisiatifnya sendiri, ia hanya sekadar menjadi jembatan yang digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tinggi di mana kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi. Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampak keras namun pada hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang. Demikianlah bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah. Hal inilah yang tidak diketahui oleh Musa as. Meskipun Musa as memiliki ilmu yang sangat luas tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba ini. Ilmu Musa as laksana setetes air dibandingkan dengan ilmu hamba itu, sedangkan hamba Allah SWT itu hanya memperoleh ilmu dari Allah SWT sedikit, sebesar air yang terdapat pada paruh burung yang mengambil dari lautan.
Allah SWT berfirman: Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir as melobanginya. Musa as berkata: Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya?Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidir as) berkata: Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali kali tidak akan sabar bersama dengan aku. Musa as berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir as membunuhnya. Musa as berkata: Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar. Khidir as berkata: Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku? Musa as berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir as menegakkan dinding itu. Musa as berkata: Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu. Khidir as berkata: Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (QS. al-Kahfi: 71-82)
Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa as: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa as sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar. Pemilik perahu itu akan menganggap bahwa usaha melobangi perahu mereka merupakan suatu bencana bagi mereka tetapi sebenarnya di balik itu terdapat kenikmatan, yaitu kenikmatan yang tidak dapat diketahui kecuali setelah terjadinya peperangan di mana raja akan memerintahkan untuk merampas perahu-perahu yang ada. Lalu raja itu akan membiarkan perahuperahu yang rusak. Dengan demikian, sumber rezeki keluarga-keluarga mereka akan tetap terjaga dan mereka tidak akan mati kelaparan. Demikian juga orang tua anak kecil yang terbunuh itu akan menganggap bahwa terbunuhnya anak kecil itu sebagai musibah, namun kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka karena Allah SWT akan memberi mereka sebagai ganti darinyaanak yang baik yang dapat menjaga mereka dan melindungi mereka pada saat mereka menginjak masa tua dan mereka tidak akan menampakkan kelaliman dan kekufuran seperti anak yang terbunuh. Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik ternyata justru di balik itu terdapat keburukan.
Mula-mula Nabi Allah SWT Musa as menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Lanjut...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 4
Mundur...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 4
Mundur...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
0
Kutip
Balas