TS
Gulley
Semua Cerita Bermakna (Semua Kepercayaan)
Berhubung banyaknya thread cerita bermakna dan juga yang sharing tentang kisah-kisah yang memiliki pesan tersirat dan tersurat. Maka sesuai saran dan juga ada persetujuan Momod, maka dengan ini dibuat Thread Khusus Cerita 
Aturannya
:
1. DILARANG Keras Posting yang berbau BB
2. DILARANG Posting bernuansa MENGHINA SARA
3. DILARANG Kejang-kejang
4. DILARANG Memancing Keributan
:
5. DILARANG Iklan bentuk apapun, baik tulisan atau pun gambar
6. Terlalu Melanggar = BATA
lalu dikasih Laporan buat Banned sementara....Lalu siap-siap Banned Permanen 
Stempel ajaib

Talmud Babilonia, Bava Mezia 84a
Uang dan Batu
Berjudi
gurun sahara
Meramal masa depan
Cinta sejati
Mewakili
Kelemahan Kita Adalah Kekuatan Kita
NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Sometimes Simple Life is more Beautiful than You Think...
Mengembangkan Kualitas Diri Menuju Masa Depan Bahagia
Nasehat Bunda Teresa
BATU BATA KEHIDUPAN
Tukang Tidur vs Tukang Main Game
Kisah Dua Tukang Sol
Kalbumu harus seluas danau
Nasehat Bijak Einstein tentang Hidup Sukses
Inipun Akan Berlalu
Iman Semut Vs Iman Manusia
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) part 1
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 4
Hanya 3 orang Majus
Niat Taubat Menukar Arak Menjadi Madu
Permohonan Si kaya dan Si miskin
Rela Dimasukan kedalam Neraka
Pahlawan Neraka
Riak Memusnahkan Pahala
Cara Berpikir - Simple & Kreatif
Kejutan yang Menyenangkan
Tebing Bunga Lily
Orang Samaria Yang Baik Hati
MBAH DULLAH
Lao Zi: Apa Beda Lidah dan Gigi?
Buddha dan Putri Magandiya
Batu besar
Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah
Petani
kasih sayang ibu
Langkah Dalam Kehidupan
Kesungguhan, Pasti Menghasilkan Jalan
Sikap
#1
Anathapindika (Seorang hartawan yang menjadi miskin
Cintai Dan Hargailah PasanganMu
Aku adalah Macan
NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Gara-gara Lubang di Jubah
Lima Alasan Kenapa Harus Tersenyum
Bekerja Sepenuh Hati
Lampu Merah dan Kesedihan
Pencarian Spiritual
Menghadapi Rasa Takut
Berdusta
Pilih Kebenaran atau Kecurangan?
Cermin diri
Mujizat nyanyian seorang kakak
Arti sebuah Nilai
Alasan Kita Diciptakan
Permen Lolipop
SEMANGAT Vs BUNUH DIRI
Letak Kekuatan
Kisah Motivasi Garam Dan Telaga
10 Kualitas Pribadi yang patut dikembangkan
I Love You
Motivated Stories
Dibaca Yah
Ren Sheng Shi Si Zui 14 Guidance of Human Life
Cerita Zen - 11 : DIALOG PERDAGANGAN UNTUK MENGINAP
Hiu kecil
INDEKS LANJUTAN DISINI

Aturannya
:1. DILARANG Keras Posting yang berbau BB

2. DILARANG Posting bernuansa MENGHINA SARA

3. DILARANG Kejang-kejang

4. DILARANG Memancing Keributan
:5. DILARANG Iklan bentuk apapun, baik tulisan atau pun gambar

6. Terlalu Melanggar = BATA
lalu dikasih Laporan buat Banned sementara....Lalu siap-siap Banned Permanen 
Silahkan berbagi dan gabungkan di sini 

Stempel ajaib


INDEKS CERITA
Quote:
Talmud Babilonia, Bava Mezia 84a
Uang dan Batu
Berjudi
gurun sahara
Meramal masa depan
Cinta sejati
Mewakili
Kelemahan Kita Adalah Kekuatan Kita
NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Sometimes Simple Life is more Beautiful than You Think...
Mengembangkan Kualitas Diri Menuju Masa Depan Bahagia
Nasehat Bunda Teresa
BATU BATA KEHIDUPAN
Tukang Tidur vs Tukang Main Game
Kisah Dua Tukang Sol
Kalbumu harus seluas danau
Nasehat Bijak Einstein tentang Hidup Sukses
Inipun Akan Berlalu
Iman Semut Vs Iman Manusia
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) part 1
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 4
Hanya 3 orang Majus
Niat Taubat Menukar Arak Menjadi Madu
Permohonan Si kaya dan Si miskin
Rela Dimasukan kedalam Neraka
Pahlawan Neraka
Riak Memusnahkan Pahala
Cara Berpikir - Simple & Kreatif
Kejutan yang Menyenangkan
Tebing Bunga Lily
Orang Samaria Yang Baik Hati
MBAH DULLAH
Lao Zi: Apa Beda Lidah dan Gigi?
Buddha dan Putri Magandiya
Batu besar
Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah
Petani
kasih sayang ibu
Langkah Dalam Kehidupan
Kesungguhan, Pasti Menghasilkan Jalan
Sikap
#1
Anathapindika (Seorang hartawan yang menjadi miskin
Cintai Dan Hargailah PasanganMu
Aku adalah Macan
NASIHAT PENYEMBAH BERHALA
Gara-gara Lubang di Jubah
Lima Alasan Kenapa Harus Tersenyum
Bekerja Sepenuh Hati
Lampu Merah dan Kesedihan
Pencarian Spiritual
Menghadapi Rasa Takut
Berdusta
Pilih Kebenaran atau Kecurangan?
Cermin diri
Mujizat nyanyian seorang kakak
Arti sebuah Nilai
Alasan Kita Diciptakan
Permen Lolipop
SEMANGAT Vs BUNUH DIRI
Letak Kekuatan
Kisah Motivasi Garam Dan Telaga
10 Kualitas Pribadi yang patut dikembangkan
I Love You
Motivated Stories
Dibaca Yah
Ren Sheng Shi Si Zui 14 Guidance of Human Life
Cerita Zen - 11 : DIALOG PERDAGANGAN UNTUK MENGINAP
Hiu kecil
INDEKS LANJUTAN DISINI
tata604 memberi reputasi
1
50.6K
Kutip
1.4K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spiritual
6.4KThread•2.9KAnggota
Tampilkan semua post
Zakarriaa
#51
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
Quote:
Kedua orang itu sampai di suatu batu di sisi laut. Musa as tidak kuat lagi menahan rasa kantuk sedangkan pembantunya masih bergadang. Angin bergerak ke tepi lautan sehingga ikan itu bergerak dan hidup lalu melompat ke laut. Melompatnya ikan itu ke laut sebagai tanda yang diberitahukan Allah SWT kepada Musa as tentang tempat pertamuannya dengan seseorang yang bijaksana yang mana Musa as datang untuk belajar kepadanya. Musa as bangkit dari tidurnya dan tidak mengetahui bahwa ikan yang dibawanya telah melompat ke laut sedangkan pembantunya lupa untuk menceritakan peristiwa yang terjadi. Lalu Musa as bersama pemuda itu melanjutkan perjalanan dan mereka lupa terhadap ikan yang dibawanya.
Kemudian Musa as ingat pada makanannya dan ia telah merasakan keletihan. Ia berkata kepada pembantunya: Coba bawalah kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan keletihan akibat dari perjalanan ini.Pembantunya mulai ingat tentang apa yang terjadi. Ia pun mengingat bagaimana ikan itu melompat ke lautan. Ia segera menceritakan hal itu kepada Nabi Musa. Ia meminta maaf kepada Nabi Musa as karena lupa menceritakan hal itu. Setan telah melupakannya. Keanehan apa pun yang menyertai peristiwa itu, yang jelas ikan itu memang benar-benar berjalan dan bergerak di lautan dengan suatu cara yang mengagumkan. Nabi Musa as merasa gembira melihat ikan itu hidup kembali di lautan dan ia berkata: Demikianlah yang kita inginkan. Melompatnya ikan itu ke lautan adalah sebagai tanda bahwa di tempat itulah mereka akan bertemu dengan seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa as dan pembantunya kembali dan menelusuri tempat yang dilaluinya sampai ke tempat yang di situ ikan yang dibawanya bergerak dan menuju ke lautan.
Perhatikanlah permulaan kisah: bagaimana Anda berhadapan dengan suatu kesamaran dan tabir yang tebal di mana ketika Anda menjumpai suatu tabir di depan Anda terpampang maka sebelum tabir itu tersingkap Anda harus berhadapan dengan tabir-tabir yang lain. Akhirnya, Musa as sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Mereka berdua sampai di batu di mana keduanya tidur di dekat situ, lalu ikan yang mereka bawa keluar menuju laut. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki. Kami tidak mengetahui namanya, dan bagaimana bentuknya, dan bagaimana bajunya; kami pun tidak mengetahui usianya. Yang kita ketahui hanyalah gambaran dalam yang dijelaskan oleh Al-Quran: Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah.
Allah SWT berfirman: Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa as kepada muridnya: Bawalah ke rnari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini. Muridnya menjawab: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Musa as berkata: Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. alKahfi: 61-65)
Bukhari mengatakan bahwa Musa as dan pembantunya menemukan Khidir as di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan. Ketika Musa as melihatnya, ia menyampaikan salam kepadanya. Khidir as berkata: Apakah di bumimu ada salam? Siapa kamu? Musa as menjawab: Aku adalah Musa. Khidir as berkata: Bukankah engkau Musa as dari Bani Israil. Bagimu salam wahai Nabi dari Bani Israil. Musa as berkata: Dari mana kamu mengenal saya? Khidir as menjawab: Sesungguhnya yang mengenalkan kamu kepadaku adalah juga yang memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa? Musa as berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan: Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya. Khidir as berkata: Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.
Kita ingin memperhatikan sejenak perbedaan antara pertanyaan Musa as yang penuh dengan kesopanan dan kelembutan dan jawaban Khidir as yang tegas di mana ia memberitahu Musa as bahwa ilmunya tidak harus diketahui oleh Musa, sebagaimana ilmu Musa as tidak diketahui oleh Khidir as. Para ahli tafsir mengemukakan bahwa Khidir as berkata kepada Musa: Ilmuku tidak akan engkau ketahui dan engkau tidak akan mampu sabar untuk menanggung derita dalam memperoleh ilmu itu. Aspek-aspek lahiriah yang engkau kuasai tidak dapat menjadi landasan dan ukuran untuk menilai ilmuku. Barangklali engkau akan melihat dalam tindakan-tindakanku yang tidak engkau pahami sebab-sebabnya. Oleh karena itu, wahai Musa, engkau tidak akan mampu bersabar ketika ingin mendapatkan ilmuku. Musa as mendapatkan suatu pernyataan yang tegas dari Khidir as namun beliau kembali mengharapnya untuk mengizinkannya menyertainya untuk belajar darinya. Musa as berkata kepadanya bahwa insya Allah ia akan mendapatinya sebagai orang yang sabar dan tidak akan menentang sedikit pun. Perhatikanlah bagaimana Musa, seorang Nabi yang berdialog dengan Allah SWT, merendah di hadapan hamba ini dan ia menegaskan bahwa ia tidak akan menentang perintahnya.
Hamba Allah SWT yang namanya tidak disebutkan dalam AlQuran menyatakan bahwa di sana terdapat syarat yang harus dipenuhi Musa as jika ia bersikeras ingin menyertainya dan belajar darinya. Musa as bertanya tentang syarat ini, lalu hamba yang saleh ini menentukan agar Musa as tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau hamba yang saleh itu akan memberitahunya. Musa as sepakat atas syarat tersebut dan kemudian mereka pun pergi.
Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi: Musa as berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ? Dia menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? Musa as berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun. Dia berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu. (QS. alKahfi: 66-70)
Musa as pergi bersama Khidir as. Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau mengangkut mereka. Para pemilik perahu mengenal Khidir as. Lalu mereka pun membawanya beserta Musa as, tanpa meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Khidir as. Namun Musa as dibuat terkejut ketika perahu itu berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir as melobangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu itu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.
Musa as menyertai Khidir as dan melihat tindakannya dan kemudian ia berpikir. Musa as berkata kepada dirinya sendiri: Apa yang aku lakukan di sini, mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan Kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku? Sungguh Para pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa meminta upah. Mereka pun memuliakan kami tetapi guruku justru merusak perahu itu dan melobanginya.
Kemudian Musa as ingat pada makanannya dan ia telah merasakan keletihan. Ia berkata kepada pembantunya: Coba bawalah kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan keletihan akibat dari perjalanan ini.Pembantunya mulai ingat tentang apa yang terjadi. Ia pun mengingat bagaimana ikan itu melompat ke lautan. Ia segera menceritakan hal itu kepada Nabi Musa. Ia meminta maaf kepada Nabi Musa as karena lupa menceritakan hal itu. Setan telah melupakannya. Keanehan apa pun yang menyertai peristiwa itu, yang jelas ikan itu memang benar-benar berjalan dan bergerak di lautan dengan suatu cara yang mengagumkan. Nabi Musa as merasa gembira melihat ikan itu hidup kembali di lautan dan ia berkata: Demikianlah yang kita inginkan. Melompatnya ikan itu ke lautan adalah sebagai tanda bahwa di tempat itulah mereka akan bertemu dengan seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa as dan pembantunya kembali dan menelusuri tempat yang dilaluinya sampai ke tempat yang di situ ikan yang dibawanya bergerak dan menuju ke lautan.
Perhatikanlah permulaan kisah: bagaimana Anda berhadapan dengan suatu kesamaran dan tabir yang tebal di mana ketika Anda menjumpai suatu tabir di depan Anda terpampang maka sebelum tabir itu tersingkap Anda harus berhadapan dengan tabir-tabir yang lain. Akhirnya, Musa as sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Mereka berdua sampai di batu di mana keduanya tidur di dekat situ, lalu ikan yang mereka bawa keluar menuju laut. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki. Kami tidak mengetahui namanya, dan bagaimana bentuknya, dan bagaimana bajunya; kami pun tidak mengetahui usianya. Yang kita ketahui hanyalah gambaran dalam yang dijelaskan oleh Al-Quran: Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah.
Allah SWT berfirman: Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa as kepada muridnya: Bawalah ke rnari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini. Muridnya menjawab: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Musa as berkata: Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. alKahfi: 61-65)
Bukhari mengatakan bahwa Musa as dan pembantunya menemukan Khidir as di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan. Ketika Musa as melihatnya, ia menyampaikan salam kepadanya. Khidir as berkata: Apakah di bumimu ada salam? Siapa kamu? Musa as menjawab: Aku adalah Musa. Khidir as berkata: Bukankah engkau Musa as dari Bani Israil. Bagimu salam wahai Nabi dari Bani Israil. Musa as berkata: Dari mana kamu mengenal saya? Khidir as menjawab: Sesungguhnya yang mengenalkan kamu kepadaku adalah juga yang memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa? Musa as berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan: Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya. Khidir as berkata: Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.
Kita ingin memperhatikan sejenak perbedaan antara pertanyaan Musa as yang penuh dengan kesopanan dan kelembutan dan jawaban Khidir as yang tegas di mana ia memberitahu Musa as bahwa ilmunya tidak harus diketahui oleh Musa, sebagaimana ilmu Musa as tidak diketahui oleh Khidir as. Para ahli tafsir mengemukakan bahwa Khidir as berkata kepada Musa: Ilmuku tidak akan engkau ketahui dan engkau tidak akan mampu sabar untuk menanggung derita dalam memperoleh ilmu itu. Aspek-aspek lahiriah yang engkau kuasai tidak dapat menjadi landasan dan ukuran untuk menilai ilmuku. Barangklali engkau akan melihat dalam tindakan-tindakanku yang tidak engkau pahami sebab-sebabnya. Oleh karena itu, wahai Musa, engkau tidak akan mampu bersabar ketika ingin mendapatkan ilmuku. Musa as mendapatkan suatu pernyataan yang tegas dari Khidir as namun beliau kembali mengharapnya untuk mengizinkannya menyertainya untuk belajar darinya. Musa as berkata kepadanya bahwa insya Allah ia akan mendapatinya sebagai orang yang sabar dan tidak akan menentang sedikit pun. Perhatikanlah bagaimana Musa, seorang Nabi yang berdialog dengan Allah SWT, merendah di hadapan hamba ini dan ia menegaskan bahwa ia tidak akan menentang perintahnya.
Hamba Allah SWT yang namanya tidak disebutkan dalam AlQuran menyatakan bahwa di sana terdapat syarat yang harus dipenuhi Musa as jika ia bersikeras ingin menyertainya dan belajar darinya. Musa as bertanya tentang syarat ini, lalu hamba yang saleh ini menentukan agar Musa as tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau hamba yang saleh itu akan memberitahunya. Musa as sepakat atas syarat tersebut dan kemudian mereka pun pergi.
Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi: Musa as berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ? Dia menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? Musa as berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun. Dia berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu. (QS. alKahfi: 66-70)
Musa as pergi bersama Khidir as. Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau mengangkut mereka. Para pemilik perahu mengenal Khidir as. Lalu mereka pun membawanya beserta Musa as, tanpa meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Khidir as. Namun Musa as dibuat terkejut ketika perahu itu berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir as melobangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu itu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.
Musa as menyertai Khidir as dan melihat tindakannya dan kemudian ia berpikir. Musa as berkata kepada dirinya sendiri: Apa yang aku lakukan di sini, mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan Kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku? Sungguh Para pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa meminta upah. Mereka pun memuliakan kami tetapi guruku justru merusak perahu itu dan melobanginya.
Lanjut...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
Mundur...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) part 1
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
Mundur...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) part 1
0
Kutip
Balas