\tSial, bagaimana mereka bisa bergerak secepat itu?
\tMereka memukul kita dengan sangat keras. Tapi setidaknya kita masih memegang apa yang diinginkan sang Duke.
\tTampak beberapa belas serdadu duduk di sekeliling api unggun. Mereka semua lelah dan kehabisan napas setelah melarikan diri dari sebuah serangan mendadak. Kuda mereka tertambat dengan asal-asalan di pohon-pohon sekitar.
\tNgomong-ngomong, bagaimana keadaan bocah itu?
\tSalah satu tentara menengok ke arah seorang anak kecil yang berbaring dalam buntalan selimut.
\tSama seperti biasanya. jawab si tentara dengan malas.
\tBaguslah. Sang Duke berharap anak itu akan mempermudah dirinya membuat negosiasi dengan penguasa lokal.
\tSalah satu tentara menghela napas, Dasar sial. Ia membuat kita menyeberangi laut dan memerangi orang-orang biadab ini untuk kepentingan-
\tDiamlah! Kalau kita berada di tanah kita sendiri, kau sudah terbakar di tiang sekarang.
\tDan untungnya kita sedang tidak di rumah sekarang. Aku hanya menga-
\tSekali lagi ia menghentikan kata-katanya di tengah jalan. Sesuatu telah menyita perhatian mereka semua. Tanpa peringatan kuda-kuda mereka yang tertambat tiba-tiba menjadi liar. Binatang itu meringkik dan menendang-nendang udara.
\tSebelum para tentara sempat melakukan apapun, kuda-kuda tersebut sudah melepaskan diri dari ikatan mereka dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan.
\tSecara reflek beberap tentara langsung mengumpat kesal, Sial! Apa kita harus berjalan kaki sekarang!?
\tApa hal terburuk yang bisa terjadi sekarang? Setelah kita kehilangan tunggangan kita. keluh salah satu tentara.
\tPertanyaannya langsung terjawab dalam seketika.Tanpa ada peringatan sederet taring tajam mencabik lehernya. Seakan muncul langsung dari dalam kabut, sekelompok serigala menerjang tentara-tentara tersebut.
\tTerdengar makian penuh kepanikan dari mereka ketika mereka mencoba meraih senjata dan melindungi diri. Tapi ketika mereka semua sudah berdiri tegak dengan senjata di tangan hanya kesunyian yang menyambut. Serigala-serigala tersebut tidak dapat terlihat dimanapun, hanya jejak kehancurannya yang nampak. Orang-orang meronta kesakitan dengan tubuh yang penuh luka gigitan.
\tKeringat dingin mengalir perlahan di wajah mereka. Kesunyian yang mencekam masih menggantung di udara. Kesunyian yang menghancurkan jiwa kaum fana.
\tDeru suara yang menggelegar tanpa peringatan memecah keheningan tersebut. Sebelum sadar apa yang sebenarnya terjadi para tentara sudah menemukan tubuh mereka terhempas dengan keras. Puluhan rusa jantan muncul secara tiba-tiba dan berlari melewati mereka semua tanpak ada keraguan.
\tTersembunyi di balik suara kuku-kuku binatang yang menghantam tanah dengan keras merupakan suara derak tulang yang patah dan suara jiwa yang memohon pengampunan yang tidak akan pernah didapat.
Keseimbangan harus dijaga, hukuman harus dijatuhkan. Untuk setiap pelanggar hukum sebuah batu telah diletakkan di atas kepala mereka.
Perlahan-lahan sang juri menampakkan dirinya. Tanpa suara ia berjalan ke arah buntalan selimut yang sama sekali tidak tersentuh oleh kemarahan alam. Sosoknya bergerak dengan lembut tanpa terganggu mayat-mayat kriminal di sekitarnya. Ia mengangkat anak yatim piatu itu dengan hati-hati dan menempatkannya di dalam kehangatan pelukannya.
***
\tIa memandang sosok wanita yang membawanya dengan lemah. Rambutnya yang berwarna hitam legam terurai keluar dari balik tudung mantelnya. Wajahnya yang tertutupi oleh bayangan menyembunyikan wibawanya yang luar biasa besar.
Entah mengapa ia dapat mengetahui bahwa wanita ini sama sekali tidak mempunyai niat buruk padanya, malah ia dapat merasakan kelembutan yang melindungi dirinya dari sosok tersebut.
Ia dapat mengengar suara yang lembut dan agung pada saat bersamaan keluar dari mulut wanita tersebut.
\t. . . Rajaku. Kau akan tumbuh di lingkungan yang keras dan penuh tipu daya. Orang-orang akan berusaha menjatuhkanmu dan penjajah dari luar akan terus menyalak kepadamu. . . Tapi ketahuilah bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu.
\tSetelah mengucapkan hal tersebut wanita itu dengan penuh kasih mengecup kening sang Raja baru.
\tSekarang kembalilah ke kaummu. Katanya sambil menurunkan anak itu dari gendongannya.
\tSeperti kedatangannya yang misterius, wanita itu berjalan pergi dan hilang di antara pepohonan.
\tTunggu. . . Jangan tinggalkan aku sendiri. . . dengan lemah ia mencoba untuk mengejar sosok tersebut, tapi semuanya sia-sia saja. Ia tidak akan pernah bertemu dengan sosok wanita itu untuk sepanjang sisa hidupnya.
\tTepat ketika ia merasakan kesendirian, kaumnya menemukan dirinya. Mereka membawa dirinya dengan lega dan gembira karena telah berhasil menemukan Putera Mahkota yang hilang.
**fin**