TS
MaxMarcel
Maximilians SongFic Collection
Thread ini merupakan wadah kumpulan-kumpulan Song Fic yang akan saya ciptakan. Mungkin kurang tepat bila dikatakan saya menciptakan fic ini, karena saya hanya sekedar menuangkan lagu-lagu ini ke dalam bentuk narasi.
Semua fic yang ditulis merupakan apa yang saya tangkap secara subjektif dari lagu yang melandasinya.
Index
The Divine Suicide (Inspired on "Kezia" Album) part 1 part 2 part 3 part 4
The Huntress (Inspired on "Limb From Limb") part 1 part 2 part 3 part 4
Dread Order (Inspired from "Forgotten Dead" by Warbringer)
Semua fic yang ditulis merupakan apa yang saya tangkap secara subjektif dari lagu yang melandasinya.
Index
The Divine Suicide (Inspired on "Kezia" Album) part 1 part 2 part 3 part 4
The Huntress (Inspired on "Limb From Limb") part 1 part 2 part 3 part 4
Dread Order (Inspired from "Forgotten Dead" by Warbringer)
0
2.8K
Kutip
19
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
MaxMarcel
#12
Spoiler for "part 2":
Hari ke tiga dari bulan pemburu
\tSemua senjata telah terasah, semua perisai telah terbentuk. Lima ratus pejuang paling berani telah terkumpul. Dalam tiga hari aku dan pasukanku akan sampai di County Meath.
\tMereka semua masih bingung tapi mereka akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Segera.
Tercatat oleh Faolan, sang serigala muda.
***
Hari ke lima dari bulan pemburu
\tMatahari telah berada tinggi di kepala kami. County Meath hanya tinggal satu hari perjalanan lagi. Bila semuanya berjalan lancar maka kami akan sampai besok ketika matahari tenggelam. Sayang sekali semuanya tidak berjalan lancar. . .
\tSementara para kaum aristokrat lainnya (mungkin) sibuk merundingkan perjanjian dengan para penjajah, aku memimpin orang-orang paling berani di Irlandia untuk menyelamatkan putra mahkota kerajaan. Pada awalnya kukira dewa-dewa telah menuntun jalanku dan memberkatiku. Tapi sekarang aku mulai ragu. Sepertinya aku telah melewatkan satu hal penting dalam rencana ini.
\tKami sama sekali tidak kehilangan arah. Persenjataan kami lengkap. Kuda kami cukup makan. Sayang sekali orang-orangnya tidak. Sebuah kesalahan fatal yang sama sekali luput dari pengamatanku. Sebuah bencana yang lebih buruk dari pertempuran berdarah.
\tOrang-orang mulai kehilangan semangatnya. Perkelahian untuk memperebutkan makanan yang tersisa mulai menyebar. Hanya masalah waktu sebelum kami semua musnah karena perebutan makanan ini.
\tKuharap para dewa yang membimbingku tidak melupakan diriku. . .
Tercatat oleh Faolan, sang serigala muda
***
Hari ke lima dari bulan pemburu
\tMatahari berada jauh di ufuk barat dan kematian sudah hendak mengecup kami semua. Ransum makanan terakhir telah dibagikan dan orang-orangku masih jauh dari puas.
\tSemua hal tampak tidak berjalan dengan lancar.
\tAku berpikir para dewa telah meninggalkanku. Aku seharusnya memilih untuk tinggal dan berpikir logis. Tapi para dewa tidak akan pernah dapat dijelaskan secara rasional.
\tTepat di saat aku berpikir semuanya akan berakhir para dewa mengirimkan keajaibannya. Seorang ajudanku datang dengan tergesa-gesa sambil berteriak. Butuh beberapa saat bagiku untuk menangkap bahwa ia mengatakan ada sekumpulan sapi yang berjalan ke arah kemah. Aku tertawa dan mengatakan ia sedang berhalusinasi. Ia hanya tersenyum dan menarikku keluar.
\tMengagumkan. Semua orang tampak tertegun. Aku dapat menghitung sepuluh ekor sapi yang sehat. Berjalan langsung ke tengah perkemahan dan berdiri diam disana, seakan seseorang telah mengirimkan mereka. Aku memandang kesekeliling tapi tidak dapat menemukan pemilik dari sapi-sapi ini.
\tKami terselamatkan dari sebuah musibah, tapi aku tidak bisa menghilangkan pikiran siapa sebenarnya pemiliknya?.
\t
Tercatat oleh Faolan, sang serigala muda
***
\tHari ke enam dari bulan pemburu. Tujuan kami sudah sangat dekat. Bulan bersinar redup diatas kami, kabut malam membentang luas dan menutupi pandangan kami. Pemandangan ini terasa sangat familiar.
\tTuan! Aku menemukan sesuatu!
\tTerdengar seruan dari salah satu pejuangku. Dengan cepat teriakan itu menarik perhatianku serta orang-orang yang lain. Aku dapat melihat orang-orang berkerumun, mengelilingi sesuatu.
\tMinggir! Beri jalan! teriak ajudanku.
\tTampak seorang wanita terkapar lemah dalam rangkulan salah satu orangku. Pakaiannya lusuh dan tubuhnya penuh luka-luka.
\tMereka datang. . . Tidak ada belas kasihan. . . Semuanya. . . Tidak ada yang selamat. . . dan itulah kata-kata terakhirnya.
\tTuan, apa artinya semua ini? tanya seorang pejuang pada diriku. Dengan segera mereka semua memandang diriku. Aku dapat melihat amarah dan kebingungan di mata mereka.
\tAku percaya. . . Saat ini County Meath sudah diduduki oleh musuh. Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi mereka sudah membunuh Raja Carbaill dan saat ini sedang menyekap Pangeran Caun. jawabku dengan pelan.
\tBila itu yang terjadi untuk apa kita berlama-lama disini? Kita harus mengusir mereka semua! Kita harus membalas mereka! seru salah satu pejuang tiba-tiba.
\tSekarang aku dapat melihat orang-orangku dipenuhi semangat. Mata mereka berkobar dengan amarah. Tangan mereka sudah gatal untuk menumpahkan darah musuh ini.
\tYa, kita akan membalas mereka. Dan lebih cepat, lebih baik. jawabku dengan penuh keyakinan.
\tSiapapun dewa yang memberkati kami, dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Kabut tebal yang menyelimuti kami telah menyembunyikan kedatangan kami. Orang-orang asing itu sama sekali tidak menyadari kedatangan kami.
\tGerbang kota terbuka lebar, penjaganya sama sekali tidak waspada. Dari balik kabut kami menyerbu masuk ke dalam County Meath. Mereka mencoba berteriak dalam bahasa asing mereka. Dengan cepat pedang kami membungkam mereka.
\tCounty Meath, pusat Kerajaan Irlandia, sebuah tempat yang teramat sakral. Tapi sepertinya hal itu tidak ada artinya di mata orang asing ini.
\tSejauh aku memandang, aku dapat melihat penodaan pada kota ini. Altar-altar dihancurkan, patung-patung dewi dirusak, para druid dibantai sepanjang jalan. Bahkan batu-batu rune penyembahan dihempaskan dan diganti oleh lambang-lambang silang yang tidak kukenali.
\tMereka yang telah menghina kekuasaan dewa harus dihukum. Para dewa tidak akan mengijinkan mereka yang bermain dengan kekuasaan surga keluar dari permainan yang mereka mulai sendiri.
\tTidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan kami. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Kali ini hanya tindakan yang menjadi jawaban kami.
\tMereka masih mabuk dari penjarahan dan kemenangan. Kepala kami sudah mendidih karena penjarahan dan pembunuhan mereka. Seperti sebuah wabah penyakit, kami menyapu seluruh kota dari penjajah asing ini. Tidak ada belas kasihan.
\tJumlah kami jauh lebih sedikit dari mereka, tapi seperti hukuman surga kami menyerang mereka. Sementara mereka terlelap dalam tidur mereka, kami memecahkan kepala mereka dengan pedang kami.
\tDan itu hanyalah permulaan. Amarah kami yang sebenarnya dimulai ketika kami sampai di kastil raja. Layaknya kriminal dan penjahat rendahan, mereka menggantung semua anggota kerajaan di depan kastil. Memperlakukan para raja yang diberi kekuasaan oleh dewa-dewa seperti itu. Penghinaan lainnya terhadap kepercayaan kami.
\tTapi pembalasan bukanlah tujuan utamaku. Para dewa mempercayaiku untuk sesuatu yang lebih penting.
\tTemukan Pangeran Caun! Ia pasti disekap di suatu tempat!
\tAku berteriak sambil memandang liar kesekeliling. Ruangan aula ini sudah penuh dengan mayat para penjajah, mereka memberikan perlawanan tapi tidak sesengit pejuangku.
\tTuan lihat! Disana!
\tAku melihat melalui jendela kastil. Para penjajah asing ini sepertinya sudah bangun dari tidur mereka. Sekitar seratus orang dari mereka terkumpul dengan senjata tehunus.
\tAku tertawa melihat musuhku yang sudah siap untuk bertempur, Kirim mereka kembali ke tempat mereka berasal! Buat ******** dan pencuri ini keluar dari tanah kita!
\tDengan cepat aku berlari keluar diikuti pejuang-pejuangku. Walaupun dalam keadaan bingung dan terkejut, musuh kami sudah siap. Tombak-tombak mereka teracung dalam formasi yang rapih.
\tTidak ada yang dapat mengalahkan amarah kami. Tana keraguan kami menghantam formasi tombak mereka. Tubuh-tubuh terhempas, darah tumpah, kejayaan. Tekat kami telah menggetarkan jiwa mereka.
\tDalam perkelahian singkat mereka sudah kehilangan semangat mereka. Sekarang mereka sudah membalikkan badan mereka dan berusaha melarikan diri. Beberapa merangkak di tanah dan memohon keselamatan dalam bahasa asing mereka. Apapun tindakan mereka, mereka berakhir di ujung pedang kami.
\tDi tengah-tengah kejayaan ini aku menyadari sesuatu. Aku bisa melihat segerombol orang asing ini meloloskan diri dengan kuda. Dan hal yang paling mengejutkan jiwaku adalah seorang dari mereka membawa sesuatu yang kucari-cari. Seorang anak kecil, seorang putera mahkota.
\tKejar mereka! Mereka menculik pangeran! teriakku.
\tJumlah mereka tidak ada apa-apanya. Tapi mereka berkuda sedangkan kaki kami masih menapak di tanah. Seperti dikejar kematian, mereka melarikan diri dengan cepat. Aku dan orang-orangku mengejar mereka hingga kehabisan napas, tapi kami hanya bisa melihat mereka menghilang dalam kabut di kejauhan. Mereka berhasil lolos, melarikan diri dari County Meath.
\tAku meraung kesal. Paru-paruku seperti terbakar. Dipikiranku hanya ada kekhawatiran, bagaimana menemukan mereka. Mereka sudah lari ke arah hutan, butuh waktu sangat lama untuk mencari mereka. . . Tiba-tiba sesuatu muncul di benakku.
\tAku melihat orang-orangku hendak berlari ke luar gerbang kota, mengejar lawan mereka. Dengan cepat aku mengangkat tanganku dan menghentikan mereka.
\tAda apa, tuan!? Kenapa menghentikan kami?
\tAku tersenyum, jawaban atas penglihatanku ada di depan mata.
\tMereka melarikan diri ke dalam hutan. Kita tidak boleh memasukinya karena itu adalah hukum kaum kita, sebuah larangan yang diberikan dewi Flidais pada leluhur kita. . . Sebaiknya kita memperbaiki altarnya dan menunggu tanda darinya.
***
0
Kutip
Balas