Warna merah darah dan lidah api masih menghantui pemandangannya. Suara teriakan anggota keluarganya yang baru saja meninggal masih menghantui pikirannya.
\tAnak itu meringkuk tanpa mengatakan sepatah katapun. Sorot matanya tampak kosong dan tidak ada sedikitpun kehidupan yang tampak dari dalamnya. Apa yang baru saja dialaminya terlalu berat untuk anak seumurnya. Dalam satu hari, semua orang yang dikenalnya menghilang begitu saja.
\tKau yakin anak kecil ini dapat membuat kita kaya? Dia tidak kelihatan berharga bagiku.
\tDasar bodoh. Setelah kita membunuh hampir seluruh anggota kerajaan, dialah pewaris takhta terakhir yang masih hidup. Para bangsawan akan menebusnya untuk harga yang sangat mahal.
\tAnak kecil itu sama sekali tidak peduli dengan perkataan-perkataan para penculiknya. Mungkin lebih tepat bahwa pikirannya begitu kacau hingga ia tidak dapat lagi menangkap perkataan orang lain.
\tKejadian yang baru saja dialaminya seakan telah menghisap seluruh jiwanya. Ia baru saja menyaksikan seluruh keluarganya dibunuh dengan kejam di depan mata kepalanya sendiri. Ayahnya, Ibunya, saudara-saudaranya, mereka semua sekarang telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi tempat untuk berlindung, tidak ada lagi orang yang akan memberinya kehangatan. Kesadarannya akan fakta bahwa ia sendirian sekarang telah mengguncang jiwanya.
\t
***
\tDari balik selimut kabut tipis aku dapat melihat sesosok wanita berdiri di antara pepohonan. Sebuah perasaan kuat mendorongku untuk berjalan mendekati sosok wanita itu, seakan hanya itulah yang dapat kulakukan.
\tWalaupun kabut saat itu sama sekali tidak mengganggu, tapi aku tetap tidak dapat melihat dengan jelas sosok wanita itu. Ia mengenakan mantel dan tudung yang menutupi wajahnya. Aku hendak bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi wanita itu mengangkat tangannya sebelum aku sempat membuka mulut.
\tAku melihat ke arah yang ditunjukkannya. Pemandangan itu langsung membuatku terhentak. Tentara-tentara yang asing di mataku tengah menjarah sebuah kota. Dengan cepat darahku terasa mendidih. Aku hanya dapat memandangi bagaimana orang-orang asing itu merusak dan menodai altar-altar sakral, bagaimana mereka mencuri dan membunuh orang-orang yang tidak berdaya, bagaimana mereka melakukan penghinaan terhadap kaumku.
\tDengan tangan terkepal aku hendak menanyakan siapa penjahat-penjahat ini pada sosok wanita di sampingku. Tapi aku tersadar, butir-butir air tampak menetes dari balik tudung wanita itu. Aku tahu wanita itu sedang menangis.
\tPerlahan-lahan sebuah suara lembut yang berduka keluar dari balik tudungnya, Sekarang setelah kau tahu apa yang terjadi. Kau harus bangun dari mimpi ini serigala kecilku. Keturunan terakhir Barrfin membutuhkanmu.
\tTiba-tiba aku merasa seperti tersedot, seakan bumi runtuh dan langit mengangkatku. Detik berikutnya aku sudah berada di atas ranjangku.
\tNamaku adalah Faolan, seorang anggota kaum aristokrat Irlandia dan aku baru saja mendapat penglihatan. Visi yang baru saja kudapatkan masih terpatri dengan jelas di benakku. Para dewa di atas telah memberikanku sebuah petunjuk dan aku tahu apa yang harus kulakukan.
\tTuan, kau sudah bangun?
\tKulihat seorang ajudanku masuk ke dalam ruangan. Dengan visi yang masih memenuhi kepalaku aku berkata padanya, Cepat perintahkan semua pandai besi untuk memperbaiki baju perang dan senjata yang rusak! Aku ingin semua orang yang mampu untuk mengangkat senjata dikumpulkan sekarang juga!
\t
\tAjudanku tampak terkejut dengan perintahku yang tiba-tiba, tapi ia menjalankan perintahku dengan baik. Dari tempatku berdiri aku dapat melihat asap-asap dari rumah pandai besi membumbung tinggi ke udara.
\tMereka mungkin belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi bila penglihatanku tepat, County Meath sudah jatuh dan Raja Cerbaill telah tewas. Dan ketika mereka mengetahuinya, mereka sudah siap untuk mengantarkan amarah mereka dan membalas dendam.
***