TS
MaxMarcel
Maximilians SongFic Collection
Thread ini merupakan wadah kumpulan-kumpulan Song Fic yang akan saya ciptakan. Mungkin kurang tepat bila dikatakan saya menciptakan fic ini, karena saya hanya sekedar menuangkan lagu-lagu ini ke dalam bentuk narasi.
Semua fic yang ditulis merupakan apa yang saya tangkap secara subjektif dari lagu yang melandasinya.
Index
The Divine Suicide (Inspired on "Kezia" Album) part 1 part 2 part 3 part 4
The Huntress (Inspired on "Limb From Limb") part 1 part 2 part 3 part 4
Dread Order (Inspired from "Forgotten Dead" by Warbringer)
Semua fic yang ditulis merupakan apa yang saya tangkap secara subjektif dari lagu yang melandasinya.
Index
The Divine Suicide (Inspired on "Kezia" Album) part 1 part 2 part 3 part 4
The Huntress (Inspired on "Limb From Limb") part 1 part 2 part 3 part 4
Dread Order (Inspired from "Forgotten Dead" by Warbringer)
0
2.8K
Kutip
19
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
MaxMarcel
#2
II. The Prison Guard/ The Gunmen
Letakkanlah keadilan di cek gajiku dan aku akan mengubah keadilanmu menjadi timah panas. Seorang wanita akan dieksekusi karena sebuah kesalahan yang tidak jelas? Bukan urusanku, tanda tangani cek gajiku dan waktu yang kuhabiskan di sini telah dibenarkan.
\tAku sudah menghabiskan banyak waktu sebagai seorang penjaga penjara dan pengeksekusi mati. Tapi ceritakanlah padaku mengenai moralitas, keadilan, dan keteraturan. Karena aku sama sekali tidak mengerti hal-hal tersebut. Aku hanya mengerti bagaimana caranya untuk membuat rokokku terus terbakar.
\tBeberapa orang berbisik mengenai seorang suci yang dipenjarakan atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Persetan dengan itu, aku hanya mencium daging segar. Kau tahu, setiap tempat punya budayanya sendiri. Dan di sini kita punya budaya untuk menandai mayat.
\tDengan tiba-tiba aku memukulkan tongkat penjagaku pada teralis selnya. Sebuah pertanda bagi wanita itu dan sinyal bagi penjaga penjara yang lainnya.
\tWanita itu tampak tidak terkejut. Ia hanya memandangku dengan matanya yang sayu ketika aku membuka kunci pintu selnya.
\tDengan wajah bengis aku masuk ke dalam selnya bersama beberapa penjaga penjara lainnya. Ia kelihatan tidak panik, malah lebih ke arah pasran dan menyerahkan dirinya pada kami. Hal yang bagus, tidak setiap hari ada orang seperti wanita ini.
\t
\tDan disanalah wanita itu, berdarah dan terkulai lemah di lantai yang dingin. Tidak ada perlawanan, tidak ada teriakan minta tolong, tidak ada tangisan. Hanya ada penyerahan.
\tMenghajar seseorang dengan keadilan hingga setiap tulang-tulangnya remuk sebelum sebuah timah panas mengambil jiwanya. Menandai orang-orang mati dengan mengukirkan simbol tersendiri di tubuhnya. Aku sudah melakukannya berulang dan berulang kali.
\tTapi tetap aku tidak pernah melihat yang seperti ini. Suatu hal yang membuatku bertanya. Apakah keberadaanku dibenarkan di sini? Selama ini aku terus melakukan tugasku, sepenuhnya sadar bahwa itu hanyalah permainan pemerintah yang korup. Sepenuhnya sadar bahwa pola pikir bukan tanggung jawab siapapun hanyalah sebuah kedok.
\tUntuk pertama kalinya aku mengalami sebuah dilemma. Seakan aku mengerti apa itu moralitas dan kebenaran secara tiba-tiba. Aku tahu ini sebenarnya dosa, tapi ini adalah dosa yang harus kulakukan. Ini dosa yang membayar hutang-hutangku, dosa yang memberi makan anak-anakku, dosa yang membakar senyum dan rokokku.
\tKeagungan nasional memang penuh kejayaan. Penuh kebohongan. Penuh korupsi. Aku masih mengingat dengan baik bagaimana pemerintah menjatuhkan bom pada hal baik begitu melihat hal itu tidak sempurna.
\tDan selalu orang-orang sepertiku yang pada akhirnya menyapu sisa-sisa dari keputusan mereka. Kami selalu bangun sebagai manusia dan tidur sebagai pembunuh. Pagi ini hanyalah pagi lainnya. Sebuah doa dan peluru akan memecahkan pagi ini. Yang pasti doa bukanlah bagianku.
\tDengan jantung yang berdegup lebih keras dari kesunyian, aku menggiring wanita itu. . . Wanita yang mereka panggil Kezia. Entah karena apa tiba-tiba aku berpikir, bahwa wanita ini sebenarnya tidak pernah melakukan kesalahan. Dalam masyarakat ini dia harus berkorban.
\tSuara langkah kakinya ketika melangkah menuju kematiannya seakan merusak topeng kebohongan yang selalu aku kenakan, sedikit demi sedikit. Aku bisa merasakan tanganku basah oleh keringat ketika aku melihat jam rantai. Waktu eksekusi.
\tDiberatkan oleh rasa takut aku mengangkat senapanku. Dengan jelas aku melihat wajahnya yang tenang dari balik senapanku. Haruskah aku menarik pelatukku dan melihatnya berdarah hingga napas terakhirnya? Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa hidup lebih dari sekedar uang dan barang. Dan tidak pernah ada orang yang menyuruhku untuk menarik pelatuknya.
\tSekarang aku hanya berharap. . . Aku adalah sebuah rokok yang selalu terbakar. Membakar jiwa-jiwa yang mengecupnya. Pada detik ini aku meminta agar aku dibiarkan terbakar begitu saja dalam kesunyian.
Place your justice in my palm and then I'll make fist
And punch your grimaced face until every last knuckle breaks
And bleeds in resistance to my sidewalk painting
A mangled body twitching and regaining consciousness and closure
Attempting composure before a bullet in the mouth answers the questions of exposure and God of Sunday School facades
And paycheques to validate the time I served abroad
It all means nothing if I forget why I'm here
To serve and protect my fist over fist mind under matter career
That's why a man sounds kind of funny when he falls to his knees
With his hand on his throat while he begs you to please spare his life
While I explain the hardest of bodies dulls the softest of knives
Then I hold up his chin and carve X's in his eyes
I swear I have compassion I've just been trained to disregard the prisoner's life
Because I am the prison guard\t
Lirik ini secara jelas mengatakan bagaimana sang penjaga penjara merupakan orang yang keras, hard to the nail. Ia mengutamakan pekerjaannya dan mengabaikan belas kasihan, ia bukan orang yang baik, ia telah menjual kemanusiaannya untuk bertahan hidup.
Bagian "I carve X's in his eyes" menyatakan bahwa ia menandai orang yang akan mati. Mungkin ini menunjuk ke film2 kartun Amerika dimana tokoh mati biasanya memiliki tanda X di matanya.
The day that civil glory dismembered my civility
I could have parted ribs and flesh like a different kind of Red Sea
Drowned the ancient east in western progress
Custom and the least of all our pride and sentiments
Which turned out to be the closest thing to a fashion trend
That's ever been bulletproof
Which turned out to be the closest thing to a fashion trend
That's ever been put on trial
The rest was cast off as denial of statehood and mastery;
The ultimate form of treason is the treacherous use of reason
Employed by the bastard sons of American fore-fathers who keep this fire burning
With the flesh of their would-be American daughters, daughters, daughters, daughters!!
What will happen to our children when the least of us pass on?
Us who fought the monsters of our country's crowded closet
Us who dropped the bombs on goodness when we saw it wasn't flawless
Us whose youthful life was hostage to what harm did
Us who fought the hardest to be swept under the carpet
And I'm still a cigarette softly smoking on the edge of a metal ashtray
I begged this place to let me burn, and it whispered, "burn away"
Secara sederhana, sang penjaga penjara mulai merasa dilema dalam moralnya. Ia merefleksikan kebijakan negaranya yang semena-mena.
Di lirik ini juga ia menggambarkan dirinya sebagai sebuah rokok. Rokok selalu membunuh penghisapnya, tapi sebuah rokok yang hanya tergeletak di asbak dan terbakar tidak akan membunuh siapa-siapa.
We woke up as men but tonight we'll sleep as killers
As we break the cryptic morning with a bullet and a prayer
The steel never seemed more cold and agile than now
And life never seems less vital and fragile
With a heart that's beating louder than my own
I watch a woman they call Kezia
I watch a woman that I know
I watch my hopes and my own future blindfolded
To atone for a sin I didn't care for, but a sin that paid my debts
A sin that fed my children and burned my smiles and cigarettes
And no one ever said that hope would be so beautiful
And no one ever said I'd have to pull the trigger on her
I can't even still her trembling hands that were locked up by the dutiful and obligated;
Five soldiers forever sedated with the,
"No one's responsible" psychological drama of our social justice dribble
Her tiny steps tell lies about the choice I have to make;
Resurrect a static lifetime starve to death my own mistakes
Pull the screaming trigger and watch your carcass bleed me dry
Or drop the gun and try to shake away the blindfold from your eyes?
Drop the gun Drop the gun
Drop the gun Drop the gun
A sin I didn't care for, but a sin that paid my debts
A sin that fed my children and burned my smiles and cigarettes
Lagu ini merupakan bagian dimana sang penjaga penjara/eksekutor harus mengeksekusi Kezia. Saya rasa liriknya langsung menjelaskan bagaimana si penjaga penjara itu sebenarnya.
Spoiler for story II:
Letakkanlah keadilan di cek gajiku dan aku akan mengubah keadilanmu menjadi timah panas. Seorang wanita akan dieksekusi karena sebuah kesalahan yang tidak jelas? Bukan urusanku, tanda tangani cek gajiku dan waktu yang kuhabiskan di sini telah dibenarkan.
\tAku sudah menghabiskan banyak waktu sebagai seorang penjaga penjara dan pengeksekusi mati. Tapi ceritakanlah padaku mengenai moralitas, keadilan, dan keteraturan. Karena aku sama sekali tidak mengerti hal-hal tersebut. Aku hanya mengerti bagaimana caranya untuk membuat rokokku terus terbakar.
\tBeberapa orang berbisik mengenai seorang suci yang dipenjarakan atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Persetan dengan itu, aku hanya mencium daging segar. Kau tahu, setiap tempat punya budayanya sendiri. Dan di sini kita punya budaya untuk menandai mayat.
\tDengan tiba-tiba aku memukulkan tongkat penjagaku pada teralis selnya. Sebuah pertanda bagi wanita itu dan sinyal bagi penjaga penjara yang lainnya.
\tWanita itu tampak tidak terkejut. Ia hanya memandangku dengan matanya yang sayu ketika aku membuka kunci pintu selnya.
\tDengan wajah bengis aku masuk ke dalam selnya bersama beberapa penjaga penjara lainnya. Ia kelihatan tidak panik, malah lebih ke arah pasran dan menyerahkan dirinya pada kami. Hal yang bagus, tidak setiap hari ada orang seperti wanita ini.
\t
\tDan disanalah wanita itu, berdarah dan terkulai lemah di lantai yang dingin. Tidak ada perlawanan, tidak ada teriakan minta tolong, tidak ada tangisan. Hanya ada penyerahan.
\tMenghajar seseorang dengan keadilan hingga setiap tulang-tulangnya remuk sebelum sebuah timah panas mengambil jiwanya. Menandai orang-orang mati dengan mengukirkan simbol tersendiri di tubuhnya. Aku sudah melakukannya berulang dan berulang kali.
\tTapi tetap aku tidak pernah melihat yang seperti ini. Suatu hal yang membuatku bertanya. Apakah keberadaanku dibenarkan di sini? Selama ini aku terus melakukan tugasku, sepenuhnya sadar bahwa itu hanyalah permainan pemerintah yang korup. Sepenuhnya sadar bahwa pola pikir bukan tanggung jawab siapapun hanyalah sebuah kedok.
\tUntuk pertama kalinya aku mengalami sebuah dilemma. Seakan aku mengerti apa itu moralitas dan kebenaran secara tiba-tiba. Aku tahu ini sebenarnya dosa, tapi ini adalah dosa yang harus kulakukan. Ini dosa yang membayar hutang-hutangku, dosa yang memberi makan anak-anakku, dosa yang membakar senyum dan rokokku.
***
\tKeagungan nasional memang penuh kejayaan. Penuh kebohongan. Penuh korupsi. Aku masih mengingat dengan baik bagaimana pemerintah menjatuhkan bom pada hal baik begitu melihat hal itu tidak sempurna.
\tDan selalu orang-orang sepertiku yang pada akhirnya menyapu sisa-sisa dari keputusan mereka. Kami selalu bangun sebagai manusia dan tidur sebagai pembunuh. Pagi ini hanyalah pagi lainnya. Sebuah doa dan peluru akan memecahkan pagi ini. Yang pasti doa bukanlah bagianku.
\tDengan jantung yang berdegup lebih keras dari kesunyian, aku menggiring wanita itu. . . Wanita yang mereka panggil Kezia. Entah karena apa tiba-tiba aku berpikir, bahwa wanita ini sebenarnya tidak pernah melakukan kesalahan. Dalam masyarakat ini dia harus berkorban.
\tSuara langkah kakinya ketika melangkah menuju kematiannya seakan merusak topeng kebohongan yang selalu aku kenakan, sedikit demi sedikit. Aku bisa merasakan tanganku basah oleh keringat ketika aku melihat jam rantai. Waktu eksekusi.
\tDiberatkan oleh rasa takut aku mengangkat senapanku. Dengan jelas aku melihat wajahnya yang tenang dari balik senapanku. Haruskah aku menarik pelatukku dan melihatnya berdarah hingga napas terakhirnya? Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa hidup lebih dari sekedar uang dan barang. Dan tidak pernah ada orang yang menyuruhku untuk menarik pelatuknya.
\tSekarang aku hanya berharap. . . Aku adalah sebuah rokok yang selalu terbakar. Membakar jiwa-jiwa yang mengecupnya. Pada detik ini aku meminta agar aku dibiarkan terbakar begitu saja dalam kesunyian.
Spoiler for Bury The Hatchet:
Place your justice in my palm and then I'll make fist
And punch your grimaced face until every last knuckle breaks
And bleeds in resistance to my sidewalk painting
A mangled body twitching and regaining consciousness and closure
Attempting composure before a bullet in the mouth answers the questions of exposure and God of Sunday School facades
And paycheques to validate the time I served abroad
It all means nothing if I forget why I'm here
To serve and protect my fist over fist mind under matter career
That's why a man sounds kind of funny when he falls to his knees
With his hand on his throat while he begs you to please spare his life
While I explain the hardest of bodies dulls the softest of knives
Then I hold up his chin and carve X's in his eyes
I swear I have compassion I've just been trained to disregard the prisoner's life
Because I am the prison guard\t
Lirik ini secara jelas mengatakan bagaimana sang penjaga penjara merupakan orang yang keras, hard to the nail. Ia mengutamakan pekerjaannya dan mengabaikan belas kasihan, ia bukan orang yang baik, ia telah menjual kemanusiaannya untuk bertahan hidup.
Bagian "I carve X's in his eyes" menyatakan bahwa ia menandai orang yang akan mati. Mungkin ini menunjuk ke film2 kartun Amerika dimana tokoh mati biasanya memiliki tanda X di matanya.
Spoiler for Nautical:
The day that civil glory dismembered my civility
I could have parted ribs and flesh like a different kind of Red Sea
Drowned the ancient east in western progress
Custom and the least of all our pride and sentiments
Which turned out to be the closest thing to a fashion trend
That's ever been bulletproof
Which turned out to be the closest thing to a fashion trend
That's ever been put on trial
The rest was cast off as denial of statehood and mastery;
The ultimate form of treason is the treacherous use of reason
Employed by the bastard sons of American fore-fathers who keep this fire burning
With the flesh of their would-be American daughters, daughters, daughters, daughters!!
What will happen to our children when the least of us pass on?
Us who fought the monsters of our country's crowded closet
Us who dropped the bombs on goodness when we saw it wasn't flawless
Us whose youthful life was hostage to what harm did
Us who fought the hardest to be swept under the carpet
And I'm still a cigarette softly smoking on the edge of a metal ashtray
I begged this place to let me burn, and it whispered, "burn away"
Secara sederhana, sang penjaga penjara mulai merasa dilema dalam moralnya. Ia merefleksikan kebijakan negaranya yang semena-mena.
Di lirik ini juga ia menggambarkan dirinya sebagai sebuah rokok. Rokok selalu membunuh penghisapnya, tapi sebuah rokok yang hanya tergeletak di asbak dan terbakar tidak akan membunuh siapa-siapa.
Spoiler for Blindfolds Away:
We woke up as men but tonight we'll sleep as killers
As we break the cryptic morning with a bullet and a prayer
The steel never seemed more cold and agile than now
And life never seems less vital and fragile
With a heart that's beating louder than my own
I watch a woman they call Kezia
I watch a woman that I know
I watch my hopes and my own future blindfolded
To atone for a sin I didn't care for, but a sin that paid my debts
A sin that fed my children and burned my smiles and cigarettes
And no one ever said that hope would be so beautiful
And no one ever said I'd have to pull the trigger on her
I can't even still her trembling hands that were locked up by the dutiful and obligated;
Five soldiers forever sedated with the,
"No one's responsible" psychological drama of our social justice dribble
Her tiny steps tell lies about the choice I have to make;
Resurrect a static lifetime starve to death my own mistakes
Pull the screaming trigger and watch your carcass bleed me dry
Or drop the gun and try to shake away the blindfold from your eyes?
Drop the gun Drop the gun
Drop the gun Drop the gun
A sin I didn't care for, but a sin that paid my debts
A sin that fed my children and burned my smiles and cigarettes
Lagu ini merupakan bagian dimana sang penjaga penjara/eksekutor harus mengeksekusi Kezia. Saya rasa liriknya langsung menjelaskan bagaimana si penjaga penjara itu sebenarnya.
0
Kutip
Balas