Thread ini merupakan wadah kumpulan-kumpulan Song Fic yang akan saya ciptakan. Mungkin kurang tepat bila dikatakan saya menciptakan fic ini, karena saya hanya sekedar menuangkan lagu-lagu ini ke dalam bentuk narasi.
Semua fic yang ditulis merupakan apa yang saya tangkap secara subjektif dari lagu yang melandasinya.
The Divine Suicide
Based on "Kezia" album by Protest The Hero
Album Kezia memang sudah bercerita. Jadi mungkin lebih layak dikatakan apa yang saya buat hanyalah sekedar menuangkan lirik musik ini ke dalam bentuk narasi dalam perspektif saya. Album Kezia dituangkan dalam 3 perspektif; sang pendeta, sang algojo, Kezia, dan sebuah epilog. Tapi dalam fic ini saya hanya akan menceritakan perspektif sang pendeta dan algojo beserta epilog sebagai kesimpulan. Besarnya kerumitan yang menyelimuti tokoh Kezia terlalu besar untuk dapat saya tuangkan. Jadi, nikmatilah perspektif sang pendeta dan algojo dalam fic ini. Selamat membaca.
I. The Priest
Spoiler for story I:
Ini seharusnya tidak terjadi. Itulah yang terus terulang di kepalaku. Bagaimana semuanya menjadi salah seperti ini. Sejak kapan semuanya menjadi seperti ini. Kapan semua ini bermulai.
\tApakah sejak ratusan tahun tahun yang lalu? Ketika kami terpaksa melindungi iman kami, memotong para pendosa dan membiarkan darah mereka membanjiri jalan-jalan kota? Atau ketika kami membiarkan locust timah mengikat lidah mereka yang berdusta.
\tOh Tuhan, dimana kasih yang engkau ajarkan? Kenapa semuanya menjadi hancur seperti ini? Sejak kapan iman kami berubah untuk memperkuat sebuah kejahatan besar.
\tDengan takut aku memandang wanita itu. Begitu kotor, tapi begitu suci layaknya seekor domba.
\tKezia, aku menyesal untuk mengatakan ini. Tapi kesalahan yang kaulakukan pada masyarakat dan Tuhan sangatlah besar. . . Ini semua adalah hukuman dari-Nya. Jalanilah dengan tabah.
\tKalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Apa yang baru saja kukatakan? Aku tahu apa yang kukatakan sebenarnya salah. Tapi aku harus melakukannya.
\tSeorang munafik. . . Ya aku tahu dengan sangat baik bahwa aku telah berubah menjadi salah satunya. Aku tahu bahwa sebenarnya aku jauh lebih bersalah dari wanita di hadapanku.
\tOh tolonglah, dimana diri-Mu sekarang? Aku memerlukanmu lebih dari kapanpun juga. Mereka menyebutku orang dengan jiwa Kristus. Aku membangun kuilku dengan Kristus sebagai pilar-pilarnya. Dan sekarang aku merasa kuilku jatuh ke dalam kegelapan dan hancur berkeping-keping. Bahkan setelah kuil itu hacur aku tetap memiliki kewajiban pada tugasku. Dua puluh tahun aku terus menyebarkan dosa ini. . . Sampai kapan aku harus memperkuat iman yang ternoda ini?
***
\tIa hanyalah seorang wanita biasa. Seorang wanita yang menyerukan keadilan. Tapi kenapa nasib tragis yang menjemputnya. Di masyarakat korup dan kotor ini, seorang wanita yang suci akan berjalan ke lembah kematian tanpa seorangpun mendampinginya.
\tAku melihatnya terisak di sel tahanannya. Aku dapat merasakan kesedihan mendalam dari dirinya. Seperti Yesus yang berdoa do taman Getsemani. . . Apa yang baru saja kupikirkan!?
\tPikiran itu langsung menghantuiku. Menghidupkan lagi ketakutan terdalam dari jiwaku. Membuatku sadar sekali lagi. Di hadapanku adalah seorang terpidana mati yang sangat hidup dan nyata. Diriku? Aku seorang hidup yang penuh dengan kematian di balik cangkang kebohongan ini.
\tMaafkan aku anakku, aku hanya bisa berharap untukmu. Karena sekarang aku hanya menemukan kekosongan dalam doaku. . . Ketika kesalahanmu tidak lagi absurd. Apa yang akan kau katakan, ketika aku menanyakan kata-kata terakhirmu, ketika kau menghembuskan napas terakhirmu?
Spoiler for No Stars Over Betlehem:
I'll burn all the lives of this angel illuminati
When St. Michael sized means find an end to justify
A belief to fortify this stained glass disgrace
Too beautiful to change or perhaps too scared
The truth behind our lives will be erased
A crusader begging for a crusade in which to die
Where lead locusts pierce the heart of men
And tie the tongues of those who lie
Cut the sinner, bleed redemption through the city streets
That resonate in prayers of this never should be
Someone plunged a dagger deep into God's chest and
When he groaned it laid our entire civilization to rest
When he pulled out the dagger and marveled at the pain he could create
We stuck another in his back to seal creation's fate
Now we turn from wealth in the height of all our poverty
A call that renders me ageless
Turning the pages of a belief that's greater than us all
Amen to the fools and the cossacks and the pulpits
Amen to the people who think there's still a way to help us\t
IMO, lagu ini menceritakan bagaimana sang pendeta merefleksikan imannya. Ia mengingat kembali bagaimana iman telah melenceng (dalam perang salib). Dalam lagu ini sang pendeta juga menyadari mengenai para penguasa yang telah berhasil 'membunuh' Tuhan dan menyadari betapa besar kekuatan yang mereka punya setelah 'menjadi' Tuhan.
Spoiler for Heretics & Killers:
They called me the man with the blood of Christ honesty
But tonight I drink with heathens and the finest of our blasphemies
In wine there's truth but in silence there's surrender
A screaming for the silence in stunned suspicious terror
I built a temple in my life and used God to seal the pillars
After twenty years of fighting young heretics and killers
I watch my temple fall to pieces at the first signs of oncoming weather
Fell to my knees just like Jesus in the cave, knew I would die
But my lips could only; I am not your son, so why have you forsaken me?
There's a hole in my heart but it just makes me unholy
Crucified that night and walked away with alter-egos
Like the prison priest who preached his dead and buried gospel
While my faith is in ruins my duty breathes strong
I'm a parrot in a cage saying prayers to belong to a textbook
Of my crying, lying, dying history; a time so full of life that I was anything but me\t
Dalam lagu ini, sang pendeta melihat iman yang ada di dalam dirinya. Ia merasa ditinggalkan Tuhan, tapi karena paksaan 'penguasa' dan masyarakat ia tetap harus menjalankan tugasnya. Oleh karena itu di dalam lirik ini sang pendeta menggambarkan dirinya sebagai burung beo yang terus bersabda.
Spoiler for Divinity Within:
This morning there are no rods or staffs to comfort you
Dressed as a target as you amble in your chains
Stumble through the corridors that lead to our makeshift valley of death
The prison's backyard where you'll give us your final breath
Last night I saw you dine with lovers and human tears
But glanced at me in ways that brought to life my sleeping fears
That today you'll bite my neck and peel away the aging skin
Expose the lifeless body and the void divinity within
So tell me when I've read you your rights
When the guns are in their place
When your crime no longer seems absurd
What will you say Kezia when we ask what are your final words?
Lirik dari lagu ini bercerita mengenai perasaan sang pendeta pada detik-detik eksekusi Kezia. Disini digambarkan bagaimana sang pendeta menganggap Kezia sebagai messias yang akan 'menyelamatkannya', membuka cangkang tua penuh kebohongannya dan mengeluarkan kesucian yang tersembunyi di dalamnya. Seperti gigitan vampir (undead, mengingat Kezia merupakan seorang terpidana mati) yang bisa membangkitkan.
'When your crime no longer absurd' Sang pendeta berpikir bahwa mungkin satu hari nanti kesalahan yang dianggap Kezia akan dihapuskan. Kesalahan itu tidak akan dianggap sebagai kejahatan ataupun dosa suatu hari nanti. Dan itu akan menjadikan kematian Kezia sebagai sebuah pengorbanan.
Lagu ini juga merujuk ke salah satu kitab;
Psalms 23: "Yea, though I walk through the Valley of the shadow of Death, I shall fear no evil: for Thou art with me; Thy rod and Thy staff they comfort me."