TS
BantengMirc
Kisah-Kisah Abu nawas


Silahkan buat yang gemar baca2 aja ... kisah abu nawas dan sufisme lainnya , Tujuan shareng cerita ini karena menurut ane Abu nawas adalah sosok yg unik dan sering mengeluarkan menarik lelucon bijak dan berisi , buat yg senang dengan cerita abu nawas ane gak nolak
ikhlasnya hihihihi dan silahkan buka page per page karena gak semua gw indeks dipage one ... thanks all yg udah mampir yg udah kirim cendol dan udah semua2 nya Quote:
Thread ini ku persembah kan untuk wanita ke 2 yang paling ku cintai

Di harapkan Coment walau sebait dan rate
dan insya Allah update tiap hariini Buat indeks yah
bacaan nya ada di bawah
V
V
V

Abu Nawas Melahirkan
Abu nawas akan di sembelih
Abu Nawas dan Kisah Enam Ekor Lembu yang Pandai Bicara
Abu Nawas dan Pukulan yang Menjadi Dinar
Taruhan Yang Berbahaya
Asmara memang aneh
Biografi Abu nawas
Hadiah bagi tebakan Jitu
Botol ajaib
Abu Nawas dan Pengemis yang Kedinginan dalam Kolam
Abu Nawas dan Menteri Bertelur
Sekilas tentang Abu nawas
Lanjutan sekilas tentang Abu nawas
Tugas yang mustahil
Menasehati hartawan zalim
Khutbah Jumaat abu nawas
petugas pajak
memeras pemeras
Cara memilih jalan
Kaya tanpa Bekerja
Labu juga raja
Menteri dan pencuri
Abu nawas menjual Unta kesayangannya
Abu nawas mengecoh monyet
Mahkota dari surga
Abu nawas dan maling
Dongeng abu nawas
Kisah Abu Nawas Tetap Bisa Cari Solusi
Abu nawas menghitung kematian
Kisah Abu Nawas Mencakul Dalam Penjara
kubur menjadi istana
Ilmu pamungkas Abu Nawas
doa abu nawas
Abu nawas di usir dari kota
Membuat istana di awang2
Obat Untuk Pangeran yang Sakit
Membuat Rumah Menjadi Lebih Luas
asalusul ayam dan telur
baginda menjadi budak
Baginda Minta Mahkota dari Sorga
nipu gajah sirukus
Abu Nawas Menangkap Angin
Abu Nawas dan Kambing
Nebak dosa besar apa kecil


Quote:
Nb : lagi males ngindeks baca threadnya page per page aja yah
tata604 memberi reputasi
1
37.1K
291
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spiritual
6.4KThread•2.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
BantengMirc
#9
Asmara Memang Aneh
Secara tak terduga Pangeran yang menjadi putra marikota jatuh sakit. Sudah banyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati tapi tak seorang pun mampu menyembuhkannya. Akhirnya Raja mengadakan sayembara. Sayembara boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan. Tidak terkecuali oleh para penduduk negeri tetangga.
Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapa hari berhasil menyerap ratusan peserta. Namun tak satu pun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Akhirnya sebagai sahabat dekat Abu Nawas, menawarkan jasa baik untuk menolong sang putra mahkota.
Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengan penuh harap. Abu Nawas sadar bahwa dirinya bukan tabib. Dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa. Para tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa peralatan yang mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang macam
Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup. Bahkan penyakitnya tidak terlacak. Abu Nawas merasa bahwa seluruh perhatian tertuju padanya. Namun Abu Nawas tidak begitu memperdulikannya.
Abu Nawas dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring. la menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya.
Setelah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, Abu Nawas berkata, Saya membutuhkan seorang tua yang di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri.
Orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan. Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan. perintah Abu Nawas kepada orang tua itu.
Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Kemudian Abu Nawas memerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur. Setelah semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara. Raja merasa heran.
Engkau kuundang ke sini bukan untuk bertamasya. Hamba tidak bermaksud berlibur Yang Mulia. kata Abu Nawas.
Tetapi aku belum paham. kata Raja.
Maafkan hamba, Paduka Yang Mulia. Kurang bijaksana rasanya bila hamba jelaskan sekarang. kata Abu Nawas. Abu Nawas pergi selama dua hari.
Sekembali dari desa itu Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Lalu Abu Nawas menghadap Raja. Apakah Yang Mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup? tanya Abu Nawas.
Apa maksudmu? Raja balas bertanya.
Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utara negeri ini. kata Abu Nawas menjelaskan.
Bagaimana kau tahu?
Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini. Dan sang pangeran tidak berani mengutarakannya kepada Baginda.
Lalu apa yang harus aku lakukan? tanya Raja.
Mengawinkan pangeran dengan gadis desa itu.
Kalau tidak? tawar Raja ragu-ragu.
Cinta itu buta. Bila kita tidak berusaha mengobati kebutaannya, maka ia akan mati. Rupanya saran Abu Nawas tidak bisa ditolak. Sang pangeran adalah putra satu-satunya yang merupakan pewaris tunggal kerajaan.
Abu Nawas benar. Begitu mendengar persetujuan sang Raja, sang pangeran berangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih Raja memberi Abu Nawas sebuah cincin permata yang amat indah.
Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapa hari berhasil menyerap ratusan peserta. Namun tak satu pun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Akhirnya sebagai sahabat dekat Abu Nawas, menawarkan jasa baik untuk menolong sang putra mahkota.
Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengan penuh harap. Abu Nawas sadar bahwa dirinya bukan tabib. Dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa. Para tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpa peralatan yang mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang macam
Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib terkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup. Bahkan penyakitnya tidak terlacak. Abu Nawas merasa bahwa seluruh perhatian tertuju padanya. Namun Abu Nawas tidak begitu memperdulikannya.
Abu Nawas dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring. la menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya.
Setelah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, Abu Nawas berkata, Saya membutuhkan seorang tua yang di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri.
Orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan. Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan. perintah Abu Nawas kepada orang tua itu.
Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Kemudian Abu Nawas memerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur. Setelah semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara. Raja merasa heran.
Engkau kuundang ke sini bukan untuk bertamasya. Hamba tidak bermaksud berlibur Yang Mulia. kata Abu Nawas.
Tetapi aku belum paham. kata Raja.
Maafkan hamba, Paduka Yang Mulia. Kurang bijaksana rasanya bila hamba jelaskan sekarang. kata Abu Nawas. Abu Nawas pergi selama dua hari.
Sekembali dari desa itu Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Lalu Abu Nawas menghadap Raja. Apakah Yang Mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup? tanya Abu Nawas.
Apa maksudmu? Raja balas bertanya.
Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utara negeri ini. kata Abu Nawas menjelaskan.
Bagaimana kau tahu?
Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini. Dan sang pangeran tidak berani mengutarakannya kepada Baginda.
Lalu apa yang harus aku lakukan? tanya Raja.
Mengawinkan pangeran dengan gadis desa itu.
Kalau tidak? tawar Raja ragu-ragu.
Cinta itu buta. Bila kita tidak berusaha mengobati kebutaannya, maka ia akan mati. Rupanya saran Abu Nawas tidak bisa ditolak. Sang pangeran adalah putra satu-satunya yang merupakan pewaris tunggal kerajaan.
Abu Nawas benar. Begitu mendengar persetujuan sang Raja, sang pangeran berangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih Raja memberi Abu Nawas sebuah cincin permata yang amat indah.
0