TS
BantengMirc
Kisah-Kisah Abu nawas


Silahkan buat yang gemar baca2 aja ... kisah abu nawas dan sufisme lainnya , Tujuan shareng cerita ini karena menurut ane Abu nawas adalah sosok yg unik dan sering mengeluarkan menarik lelucon bijak dan berisi , buat yg senang dengan cerita abu nawas ane gak nolak
ikhlasnya hihihihi dan silahkan buka page per page karena gak semua gw indeks dipage one ... thanks all yg udah mampir yg udah kirim cendol dan udah semua2 nya Quote:
Thread ini ku persembah kan untuk wanita ke 2 yang paling ku cintai

Di harapkan Coment walau sebait dan rate
dan insya Allah update tiap hariini Buat indeks yah
bacaan nya ada di bawah
V
V
V

Abu Nawas Melahirkan
Abu nawas akan di sembelih
Abu Nawas dan Kisah Enam Ekor Lembu yang Pandai Bicara
Abu Nawas dan Pukulan yang Menjadi Dinar
Taruhan Yang Berbahaya
Asmara memang aneh
Biografi Abu nawas
Hadiah bagi tebakan Jitu
Botol ajaib
Abu Nawas dan Pengemis yang Kedinginan dalam Kolam
Abu Nawas dan Menteri Bertelur
Sekilas tentang Abu nawas
Lanjutan sekilas tentang Abu nawas
Tugas yang mustahil
Menasehati hartawan zalim
Khutbah Jumaat abu nawas
petugas pajak
memeras pemeras
Cara memilih jalan
Kaya tanpa Bekerja
Labu juga raja
Menteri dan pencuri
Abu nawas menjual Unta kesayangannya
Abu nawas mengecoh monyet
Mahkota dari surga
Abu nawas dan maling
Dongeng abu nawas
Kisah Abu Nawas Tetap Bisa Cari Solusi
Abu nawas menghitung kematian
Kisah Abu Nawas Mencakul Dalam Penjara
kubur menjadi istana
Ilmu pamungkas Abu Nawas
doa abu nawas
Abu nawas di usir dari kota
Membuat istana di awang2
Obat Untuk Pangeran yang Sakit
Membuat Rumah Menjadi Lebih Luas
asalusul ayam dan telur
baginda menjadi budak
Baginda Minta Mahkota dari Sorga
nipu gajah sirukus
Abu Nawas Menangkap Angin
Abu Nawas dan Kambing
Nebak dosa besar apa kecil


Quote:
Nb : lagi males ngindeks baca threadnya page per page aja yah
tata604 memberi reputasi
1
37.2K
291
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spiritual
6.4KThread•2.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
BantengMirc
#8
Taruhan Yang Berbahaya
Pada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh kawan-kawannya sudah berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.
Nah ini Abu Nawas datang. kata salah seorang dari mereka.
Ada apa? kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.
Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya. kawan-kawan Abu Nawas membuka percakapan.
Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali kepada Allah Swt. kata Abu Nawas menentang.
Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas? tanya kawan Abu Nawas.
Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung. kata Abu Nawas memberitahu.
Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?
Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah Swt. saja. Sekarang apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya? Abu Nawas ganti bertanya.
Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau pantati. kata mereka. Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu.
Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda Raja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harus berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.
Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda diundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawas hari-hari terasa amat panjang. Karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan yang amat mendebarkan itu.
Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang rajaraja dari negeri sahabat.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas. Kawan-kawan Abu Nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena Abu Nawas tidak hadir. Namun temyata mereka keliru. Abu Nawas bukannya tidak datang tetapi terlambat sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang paling
belakang.
Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya. Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian di tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya, Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?
Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kaslh atas perhatian Baginda. Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini. kata Abu Nawas.
Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk di atas tanah. Baginda Raja menyarankan.
Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet.
Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena Baginda melihat sendiri Abu Nawas duduk di atas lantai. Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas? tanya Baginda masih bingung.
Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa karpet ke manapun hamba pergi. Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpan misteri.
Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa. kata Baginda Raja bertambah bingung.
Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia. kata Abu Nawas sambil beringsut-ringsut ke depan. Setelah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya. Abu Nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat Abu Nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau terpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.
Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu kawan-kawan Abu Nawas merasa kagum.
Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas.
Nah ini Abu Nawas datang. kata salah seorang dari mereka.
Ada apa? kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.
Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya. kawan-kawan Abu Nawas membuka percakapan.
Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali kepada Allah Swt. kata Abu Nawas menentang.
Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas? tanya kawan Abu Nawas.
Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung. kata Abu Nawas memberitahu.
Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?
Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah Swt. saja. Sekarang apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya? Abu Nawas ganti bertanya.
Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau pantati. kata mereka. Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu.
Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda Raja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harus berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.
Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda diundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawas hari-hari terasa amat panjang. Karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan yang amat mendebarkan itu.
Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang rajaraja dari negeri sahabat.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas. Kawan-kawan Abu Nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena Abu Nawas tidak hadir. Namun temyata mereka keliru. Abu Nawas bukannya tidak datang tetapi terlambat sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang paling
belakang.
Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya. Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian di tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya, Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?
Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kaslh atas perhatian Baginda. Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini. kata Abu Nawas.
Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk di atas tanah. Baginda Raja menyarankan.
Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet.
Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena Baginda melihat sendiri Abu Nawas duduk di atas lantai. Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas? tanya Baginda masih bingung.
Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa karpet ke manapun hamba pergi. Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpan misteri.
Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa. kata Baginda Raja bertambah bingung.
Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia. kata Abu Nawas sambil beringsut-ringsut ke depan. Setelah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya. Abu Nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat Abu Nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau terpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.
Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu kawan-kawan Abu Nawas merasa kagum.
Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas.
0