Kaskus

Hobby

izroilblackarmyAvatar border
TS
izroilblackarmy
LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)
Kumpulan Cerita Wayang

LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)

Thread ini berisikan Kumpulan Cerita Wayang, pembahasana yg ada hanya sebatas pada yg terdapata pada cerita wayang. Untuk Tokoh-tokoh Wayang bisa kita diskusikan di Thread agan prabuanomhttp://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=1484156.
Untuk Cerita Wayang yg dipostkan dsini, tidak hanya berdasarkan pada Cerita Wayang yang berdasarkan pada Pakem Wayang dari daerah tertentu, seperti halnya di Indonesia dan India, tetapi semua bentuk cerita yang berdasarkan pada Pewayangan baik berupa Pagelaran Wayang, Cerpen, novel ataupun sandiwara.
Dalam Thread ini, sangat mungkin terdapat judul yang sama tetapi isi yg berbeda, hal ini bisa disebabkan cerita diambil dari sumber dan pengarang yg berbeda. Dan juga cerita wayang tidak hanya berlatar Wayang Kulit (Purwa), Wayang Kulit Menak, Sasak dan Wayang Golek saja, tapi bisa juga dari Wayang Krucil dan yg lain.
Ane harap partisipasi Agan semua supaya ikut memberikan koleksi cerita wayang disini. Dengan adanya koleksi Cerita Wayang diharapkan kita semua bisa lebih memahami Pewayangan dengan cara yg lebih enak.
Sayang sekali rasanya budaya kita yang sangat baik ini kalo kita tidak mengerti sama sekali, sedangkan banyak orang2 luar negri yg terlibat aktif dalam Pewayangan dan menginginkan untuk memilikinya.
Spoiler for Gambar:

Daftar ISI
Spoiler for Daftar isi:

Lanjutan DAFTAR ISI ada pada Halaman
rioaioliaAvatar border
jagogkritikalAvatar border
protradersignalAvatar border
protradersignal dan 4 lainnya memberi reputasi
5
357.1K
679
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Budaya
Budaya
KASKUS Official
2.5KThread1.6KAnggota
Tampilkan semua post
izroilblackarmyAvatar border
TS
izroilblackarmy
#43
Baratayuda: Hari-hari Menjelang Pecah Perang (2)

By MasPatikrajaDewaku

Ibu sang Duryudana; Gendari, juga menyetujui kehendak suaminya. Rasa sayangnya atas anak anaknya, dengan firasatnya akan ketidak mampuan anaknya dalam mengatasi kekuatan para Pandawa mendorongnya mengatakan: “ Benar apa yang dikatakan ayahmu ngger, terimalah tawaran yang diajukan saudaramu itu, rasa persaudaraan akan jauh lebih indah daripada kemukten yang kamu sandang selama ini!”.
Duryudana diam membisu. Dihadapan para raja, sesepuh dan keempat dewa, mau tidak mau Duryudana menandatangani pakta perjanjian atas perdamaian itu dengan perasaan masygul.
Demikianlah, ketika pakta telah ditandatangani dalam satu surat yang sudah disiapkan Sri Kresna, maka mohon pamitlah keempat dewa pulang kembali ke kahyangan.
Merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dirasai sungkan, diliriknya sang paman, Arya Sangkuni serta Adipati Karna, meminta pendapat. Keduanya memang sama sama menginginkan akan tetap mempertahankan negara dengan jalan perang. Sang paman mengerti sasmita dari keponakannya, gatuknya tetanda dari keduanya membuat Duryudana dengan tanpa suba sita menyambar surat perjanjian yang masih tergeletak diatas meja, disobeknya dan langsung meninggalkan sidang agung diiringi sang paman.
Tercenganglah para yang hadir atas sikap Duryudana, segera sang Gendari berlari berusaha menenangkan suasana batin anaknya yang kurang trapsila dihadapan para agung.
******
Diluar sidang agung. Arya Setyaki masih duduk diatas kereta Jaladara menunggu kembalinya sang kakak ipar yang sedang dalam tugas.
Burisrawa, putra sang Prabu Salya, yang selalu berada dilingkungan para Kurawa, oleh sebab kaulnya sendiri ketika gagal mempersunting Wara Subadra, tidak akan kembali ke Mandaraka bila tidak bisa mempersunting kekasih hatinya itu, atau setidak tidak nya wanita yang sejajar kecantikannya dengan Subadra.
Dengan rasa benci Burisrawa menyaksikan ulah Setyaki yang dipandangnya kurang tata, tetap duduk diatas kereta, duduk dengan seenaknya dan tidak mau turun.
“Hoi Setyaki . . . .!! Turun datang kesini. Mari kita minum tuak bersama!! panggil Burisrawa mencari masalah.
“Terimakasih kakang Burisrawa, aku tidak minum seperti kamu” Setyaki mencoba berlaku sopan.
“He, apakah perlu aku paksa kamu minum dengan cara kekerasan?” sambar Burisrawa yang sedari tadi memang bermaksud memanasi Setyaki
Pertengkaran sengit terjadi, dari saling tuding, saling colek terjadilah perkelahian antar keduanya.
Burisrawa yang berbadan tinggi besar dan kasar merasa yakin akan unggul berhadapan dengan Setyaki yang berperawakan kecil padat.
Saling serang antar keduanya berlangsung seru. Walaupun Setyaki lebih kecil tetapi sejatinya tersimpan kekuatan dari penjelmaan raja raksasa Singamulangjaya, yang pernah ditaklukkannya sewaktu Setyaki menjadi utusan dewa sewaktu masih kecil. Belum terlihat siapa yang diperkirakan unggul ketika para Kurawa yang datang kemudian mendengar keributan antara keduanya, seketika ikut larut dalam perkelahian.
Tentu membantu Burisrawa, mereka mencoba menangkap Setyaki.
Pertempuran tidak imbang terjadi. Ketika mulai terdesak, Setyaki yang marah dicurangi menghindar dan bersumpah nanti dalam perang yang sesungguhnya akan berhadapan dengan Burisrawa, satu lawan satu, menyambung perkelahian yang terjadi tadi.
Ia berlari dikejar para Kurawa naik ke balairung dan mengadukan atas kejadian yang dialaminya.
Kaget Sri Kresna ketika melihat Setyaki dalam kejaran para Kurawa dan turun menghadapi ulah penyerang yang sebenarnya sudah siap dengan segala senjata untuk menumpas para duta yang datang kali ini.
Marahlah Sang Kesawa ketika melihat dirinya sebagai objek kebrutalan Kurawa. Triwikrama adalah hal yang terpikir ketika melihat prajurit segelar sepapan hendak menghancurkannya. Seketika Sri Kresna berubah wujud menjadi raksasa dengan sepuluh anggauta badan, diliputi kobaran api yang menyambar nyambar .
Dengan langkah yang menimbulkan gempa dan suara sesumbar yang menggelegar bagai halilintar, seketika membuat nyali para Kurawa gentar :“Hayo amuklah aku Kurawa, apakah kamu sanggup mengatasi kesaktianku………..!!!”. Hawa panas yang ditimbulkan bahkan sampai ditepi samudra, airpun menggelegak, hingga mengambangkan satwa laut serta banyak kura kura sekalipun yang bercangkang keras.
Bubar mawut para Kurawa, jeri melihat amuk Sang Triwikrama, penjelmaan Sang Wisnu Batara, bagaikan hendak melebur seisi bumi.
Catatan
Dalam versi pedalangan Mataraman dan Banyumasan, kala terjadi Triwikrama, Prabu Drestarastra dan Dewi Gendari Tewas tertimpa tembok baluwarti.
Dalam tulisan ini, Prabu Drestarastra sekalian Dewi Gendari akan diceritakan setelah perang Baratayuda usai.
Batara Naradda yang ternyata masih mengawasi segala yang terjadi atas peristiwa di Astina waspada, segera mendekati Sang Triwikrama:“ Titah ulun Kresna…..!, dinginkan hatimu, bila dengan cara ini kamu menaklukkan Kurawa, maka kamu berdosa, membuat cerita Jitapsara yang sudah disepakati menjadi berantakan” Naradda berusaha menghentikan amukan sang Triwikrama.
Dengan segera Kresna meracut ajiannya, dan menghaturkan sembah kepada sang Naradda, Kanekaputra.
“Sudahlah, pulanglah kembali ke Wirata, bukankah kamu datang bukan sebagai orang yang diberi wasesa, tapi datang sebagai pengawak duta? dan sebenarnya kamu sudah tahu apakah yang bakal terjadi nanti. Bahwa perang Baratayuda harus terjadi?”.Batara Naradda menasihati Kresna.
“Aduh pukulun, seketika hamba tidak waspada, ketika para Kurawa datang bagai air bah mendekati kami dan Setyaki dengan senjata ditangan masing masing. Maafkan hamba pukulun, ijinkanlah sekarang kami kembali ke Wirata”.Jawab Sri Kresna membela diri.
******
Sebelum kembali ke Wirata, kembali Kresna teringat akan kesanggupannya menyampaikan sesuatu kepada Karna, putra Kunti dari kecelakaan dalam menerapkan ajian ajaran Resi Druwasa ketika itu, sehingga Kunti hamil karena ulah Sang Hyang Surya.
Bertemulah Kresna dengan Karna, disampaikan salam dari sang ibu yang dalam hatinya tetap menyayanginya.
Ketika Kresna dengan jujur mengatakan apa yang dilihatnya dengan mata hatinya, hati Karna merasa tersentuh. Akhirnya dia mengatakan hal yang menjadi rahasia hatinya selama ini.
“Kanda Kresna, mungkin hal ini tidak mengagetkan kanda. Tapi isi hati ini akan saya tumpahkan dihadapan kanda, sejujur jujurnya tanpa ada yang aku simpan lagi” Tutur Karna Basusena
“Sebenarnya kenapa adikmu berlaku seperti ini adalah, pertama, dinda bermaksud membalas budi kepada Prabu Duryudana atas kebaikan yang selama ini. Yang telah tertumpah kepadaku siang dan malam. Sepantasnyalah nyawaku aku pertaruhkan membelanya”. Mulailah Karna menjelaskan ikhwal atas apa yang terjadi sesungguhnya.
“Kedua, sewaktu dulu ketika saya bertempur memperebutkan senjata Kunta Wijayandanu, perang tanding kedua adikmu, antara saya dengan Arjuna telah disaksikan oleh Sang Hyang Naradda, bahwa bila nanti perang besar darah Barata terjadi, tanding itu akan dilanjutkan hingga satu diantaranya akan tewas, kanda. Dan hal itu sudah menjadi garis pepasti”.
“Ketiga, angkara murka harus segera lenyap dari muka bumi, sebab itu niat adikmu ini adalah segera menjadikannya Baratayuda menjadi ajang tumpasnya angkara murka yang disandang oleh kakang Duryudana dari atas bumi Astina, kanda”.
Karna melanjutkan : “Biarlah putra bibi Kunti ini tetap lima, seandainya nanti aku bertanding melawan Arjuna, dan salah satunya gugur dalam palagan nanti”.
Termangu Sri Kresna mendengar pengakuan jujur dari Adipati Karna, dirangkulnya saudara sepupunya, saudara dari orang tua kakak beradik antara ayahnya, Prabu Basudewa sebagai ayah sri Kresna dengan adiknya Kuntitalibrata sebagai ibu Karna itu.
Setelah berjanji untuk tetap merahasiakan semua yang terucap itu. Minta dirilah Sri Kresna untuk pulang kembali ke Wirata.
******
Tersiar kabar luas bahwa Perang Baratayuda akan segera berlangsung. Para negara sekutu dari kedua belah pihak mulai bersiap datang dari berbagai penjuru dunia.
Sementara itu sesaji tawur dihidangkan kepada para dewa junjungan dari kedua belah pihak. Sang Dursasana dipasrahi tugas untuk mencari manusia sebagai tawur bebanten sebagai syarat akan keunggulan dalam perang nanti.
Berangkatlah Arya Dursasana mencari manusia yang sanggup dijadikan tumbal. Tanpa pilih pilih lagi, ketika sampai di pinggir kali Cingcingguling, sepasang kakak adik kembar penambang (tukang menyeberangkan orang dengan perahu) Sarka dan Tarka, dirayu untuk dijadikan tumbal dengan janji anak istrinya bakal dimuliakan di negara Astina. Keduanya menolak, tapi Dursasana tetap memaksa. Dibunuhnya Sarka dan Tarka dengan keji.
Sukma dua penambang itu melayang dengan sumpah akan membalas kematiannya segera.
Dipersembahkannya tumbal itu keharibaan Batara Kala, yang dengan gembira menerima dan sanggup untuk menumpas Pandawa yang memang salah satu sukerta yang berhak dimakannya. Berangkatlah Batara Kala diiringi harapan besar para Kurawa.
Sampailah Batara Kala dikediaman para Pandawa. “ Heee. . . sudah lama aku mengidamkan makanan satria-satria trah Pandawa, sekaranglah saatnya tidak ada yang menghalangi. Kresna yang telah kehilangan kembang Wijayakesuma, tak akan mampu menghalangiku memakan darah daging Pandawa” Kegirangan Batara Kala setelah mengetahui Kresna tak lagi mampu menghalangi maksudnya.
Kresna yang ditakuti Kala bila hendak memangsa manusia-manusia sukerta, jenis manusia dengan ikatan kekeluargaan tertentu dan berbuat sesuatu yang ditentukan, yang dijanjikan ayahnya Batara Guru boleh dimakan, tak kuasa menaklukkan Kala dengan cepat. Seluruh kekuatan dan mantra Sri Kresna yang sekarang hanya memiliki satu dari sepasang pusaka sakti Cakrabaswara dan kembang Wijayakusuma, dapat ditandingi oleh Kala.
******
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.