- Beranda
- Supranatural
Ranah Minangkabau dalam Mistis dan Mitos
...
TS
putri.memes
Ranah Minangkabau dalam Mistis dan Mitos
Alow agan2 penghuni forsup ... 
ane coba membagi tentang mistis dan mitos yang ada di Ranah Minang...
semoga agan berkenan....
Ane akan coba up date terus...

ane coba membagi tentang mistis dan mitos yang ada di Ranah Minang...
semoga agan berkenan....
Quote:
INDEX
Mistis
Gasiang Tangkurak dan Sijundai
Palasik
Cirik Barandang bag 1
Cirik Barandang bag 2
Permainan 'Lukah Gilo' di Minangkabau
Santet biriang
Santet Tinggam
Santet si Galang- Galang
Cintaku Ditolak Santuang Palalai (Ilmu Teluh kah?)
Mantiko Karambia (Mustika Kelapa)
KARIH / KERIS pusaka minangkabau...
KERAMBIT: Senjata Genggam Khas Minang
RACUN IDUIK/ RACUN HIDUP (Tuba Mayat)
Badar Basi (Badar Besi)
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag 1
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag 2
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag 3
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag 4
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag penutup
Silat di Minang Kabau dan asal usulnya
lanjutan Silat Minang
lanjutan Silat Minang
lanjutan Silat Minang
Di baliak dulu + lanjutan Silat Minang
Tagua tagua nyo Om Oconk
Mitos
Urang Bunian
Ini daftar nama nama hantu dan setan di daerah Minang.
Cindaku manusia harimau dari Kerinci bag 1
Cindaku manusia harimau dari Kerinci bag 2
Nagari Mahat : Cerita Rang Bunian
Asal Usul Ikan Sakti-Sungai Janiah Baso
Ungku Saliah--Orang Keramat dari Pariaman
Makam Keramat Tanjung Lilin-Payakumbuh
Wisata Religi Makam Buya Lubuak Landau Pasaman Barat
Air Penyembuh dari Rumah Mande Rubiah di Lunang Silaut, Pesisir Selatan
Batu Angkek-angkek, Sang Peramal--Batu Sangkar
Makan Syech Burhanudin Pariaman
Cerita tentang Cindaku di Minang
Hantu Gempa Padang--Sebagai Renungan
LEGENDA LEMBAH HARAU
Mitos Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak
Inyiak Balang (Sebuah Cerita Misteri)
Batu Uji Ustano Rajo Alam
Mistis
Gasiang Tangkurak dan Sijundai
Palasik
Cirik Barandang bag 1
Cirik Barandang bag 2
Permainan 'Lukah Gilo' di Minangkabau
Santet biriang
Santet Tinggam
Santet si Galang- Galang
Cintaku Ditolak Santuang Palalai (Ilmu Teluh kah?)
Mantiko Karambia (Mustika Kelapa)
KARIH / KERIS pusaka minangkabau...
KERAMBIT: Senjata Genggam Khas Minang
RACUN IDUIK/ RACUN HIDUP (Tuba Mayat)
Badar Basi (Badar Besi)
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag 1
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag 2
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag 3
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag 4
Jampi-jampi Lagan (Selayang Pandang) bag penutup
Silat di Minang Kabau dan asal usulnya
lanjutan Silat Minang
lanjutan Silat Minang
lanjutan Silat Minang
Di baliak dulu + lanjutan Silat Minang
Tagua tagua nyo Om Oconk

Mitos
Urang Bunian
Ini daftar nama nama hantu dan setan di daerah Minang.
Cindaku manusia harimau dari Kerinci bag 1
Cindaku manusia harimau dari Kerinci bag 2
Nagari Mahat : Cerita Rang Bunian
Asal Usul Ikan Sakti-Sungai Janiah Baso
Ungku Saliah--Orang Keramat dari Pariaman
Makam Keramat Tanjung Lilin-Payakumbuh
Wisata Religi Makam Buya Lubuak Landau Pasaman Barat
Air Penyembuh dari Rumah Mande Rubiah di Lunang Silaut, Pesisir Selatan
Batu Angkek-angkek, Sang Peramal--Batu Sangkar
Makan Syech Burhanudin Pariaman
Cerita tentang Cindaku di Minang
Hantu Gempa Padang--Sebagai Renungan
LEGENDA LEMBAH HARAU
Mitos Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak
Inyiak Balang (Sebuah Cerita Misteri)
Batu Uji Ustano Rajo Alam
Quote:
Ane akan coba up date terus...
bukan.bomat dan Pilliang memberi reputasi
3
215.6K
419
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
15.9KThread•14.9KAnggota
Tampilkan semua post
klembakilwar
#22
Cirik Barandang bag 2
Hari sudah pukul sembilan pagi, tapi Bunga masih bermalas-malasan di tempat tidur. Udara dingin pegunungan membuatnya malas bangkit dari ranjang. Padahal, bagi warga kampung bangun di pagi hari merupakan suatu keharusan. Terlebih buat anak gadis seperti bunga. Masyarakat menganggap tabu anak gadis tidur hingga siang hari.
Sambil bermalas-malasan di tempat tidur, Bunga mendengar neneknya menceracau karna dia belum juga keluar dari dalam kamar. Suara Upik, saudara sepupunya, yang berusaha membangunkan dirinya tidak membuat Bunga beranjak dari atas ranjang.
Bunga yang bandel itu akhirnya bangun setelah sang nenek bersiap menyiram tubuhnya dengan segayung air. Sambil tertawa-tawa dan berteriak ampun, dia segera lari ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah.
Hari itu memang hari Minggu itu, hari pekan di kampung ayahnya. Upik bermaksud mengajak Bunga pergi ke pasar. Karena itulah Bunga mengenakan pakaian yang paling bagus. Dengan baju kebaya panjang khas Minang, penampilan Bunga terlihat sangat feminim. Berulang kali sang nenek memuji penampilan cucu kesayangannya ini.
Sementara itu, di rumah nenek Bunga ada Malin, anak angkat nenek Bunga. Dia anak yatim piatu. Usianya lima tahun lebih tua dari usia Bunga. Tanpa seorang pun tahu, rupanya sejak pandangan pertama diam-diam Malin jatuh hati pada Bunga.
Suatu hari, persisnya minggu kedua Bunga berada di kampung ayahnya, terjadilah suatu peristiwa. Harinya juga hari Minggu, dan seperti Minggu kemarin Upik juga berniat mengajak Bunga jalan-jalan ke pekan.
Karena hari sudah siang dan Bunga seperti biasa belum bangun, tanpa menaruk curiga nenek Bunga menyuruh Malin untuk membangunkan cucu kesayangannya itu. Tentu saja perasaan Malin sangat girang mendapat tugas ini.
"Bunga, bangun hari sudah siang!" Malin mengingatkan sambil menggedor pintu kamar tidur Bunga yang terkunci dari dalam.
Samar-samar Bunga mendengar suara Malin. Namun, dia hanya menggeliat. Hatinya kesal karena tidurnya yang pulas diusik oleh Malin.
"Bunga, Upik menunggumu di ruang tamu!" Kali ini suara Malin agak keras, dan gedoran di pintu kamar juga semakin keras.
"Iya, aku bangun!" Teriak bunga, kesal.
"Lekasan, Upik sudah sedari tadi menunggumu!" Suara Malin semakin meninggi.
"Binatang kamu! Dengar tidak sih, aku akan segera bangun?!" Emosi Bunga jadi meledak. Bergegas dia membuka pintu kamar tidurnya. "Lin, kalau bangunkan orang pakai otak, ya!" Bentaknya di hadapan Malin.
Pemuda dusun itu tertegun sejenak. Wajahnya merah padam. Hatinya terasa nyeleki sebab gadis yang diam-diam dikaguminya menyebut dirinya sebagai binatang dan tak punya otak. Dua kata-kata itu rasanya begitu menyakitkan. Malin menatap wajah Bunga dengan perasaan sakit hati.
"Apa lihat-lihat?!" Bentak Bunga lagi tidak senang dipelototi Malin seperti itu.
Malin terdiam, tapi tatapannya semakin nanar. Bunga rupanya semakin kesal, sehingga secara refleks tangan kanannya menampar wajah anak muda itu.
Malin terdongak menerima tamparan Bunga yang kebetulan adalah gadis pemilik Ban Hitam. Bukannya menyesal, Bunga yang tomboy malah merasa puas hatinya. Dia tak sadar, emosinya ini telah membuatnya lupa pada nasehat ibunya agar jangan berbuat kasar pada pemuda kampung ayahnya.
Tanpa dinyana, perasaan sakit hati Malin pada Bunga menjadi lengkap sudah. Seumur hidupnya baru pertama kali ini dia dihina dan dicaci maki seorang gadis cantik. Lebih menyakitkan lagi, hal itu dilakukan oleh gadis yang diam-diam sangat dia cintai dan kagumi.
Betapa hancur hati Malin, seperti diiris-iris sembilu, dan seperti kaca terempas di batu. Pecah berkeping-keping tanpa harapan untuk merangkainya kembali.
Kejadian pagi itu, sepanjang hari terus saja muncul dalam pikirannya. Malin benar-benar merasa sangat terhina karena disamakan dengan binatang yang tidak punya otak. Dan tamparan itu, sungguh begitu menyakitkan. Bukan wajahnya. Tapi hatinya yang terdalam. Ya, hati yang penuh cinta dan kekaguman itu berubah penuh dengan kebencian.
Tiba-tiba muncul dalam hati Malin niat untuk membalas perlakukan Bunga. ìAku akan membuatnya bertekuk lutut dan mengemis cinta padaku.î Bisik hati Malin.
Malam harinya, selesai shalat Isya di Masjid, Malin mendatangi rumah Datuk Maruhun. Sang Datuk adalah dukun kampung pemilik ilmu pelet Cirik Barandang. Usinya sudah mencapai 75 tahun. Kendati demikian, jangan heran jika dia masih mempunyai isteri yang sebaya dengan usia cucunya, yakni 25 tahun. Hal ini terjadi tentu saja berkat kehebatan ilmu pelet yang dimilikinya.
Di hadapan Datuk Maruhan, Malin berterus terang menceritakan perlakuan kasar Bunga pada dirinya. Sang Datuk merasa sangat kasihan pada Malin. Dia menyanggupi akan membantu Malin untuk membalaskan sakit hatinya.
"Ini ramuan Cirik Barandang. Ingat, bubuk ini harus kau taburkan dalam gelas minumannya," pesan Datuk Maruhun ketika memberikan bungkusan berupa kain putih kecil.
Di dalam bungkusan kain itu tentu saja terdapat serbuk yang telah dibacakan jampi-jampi ramuan Cirik Barandan.
"Terima kasih, Datuk. Ini untuk sekedar membeli gula!" Malin memberikan uang 30 ribu rupaih pada Datuk Maruhan. Laki-laki gaek itu menerimanya dengan senyum.
Singkat cerita, kesempatan menaburkan ramuan pelet Cirik Barandang diperoleh Malin pada hari ketiga setelah dia menerima ramuan sakti tersebut dari tangan Datuk Maruhan. Ketika itu Bunga sedang membuat jus alpukat dalam gelas, dan tanpa dinyana tiba-tiba sang nenek memanggilnya.
Tanpa rasa curiga. Bunga meninggalkan begitu saja jus buahnya di atas meja. Kesempatan ini segera digunakan oleh Malin. Setelah merasa aman, dia menaburkan serbuk Cirik Barandang dalam gelas minuman itu. Setelah selesai mengerjakannya, Malin pun segera pergi.
Setelah menaburkan ramuan Cirik Barandang, Malin sengaja tidak pulang ke rumah orang tua angkatnya. Keluarga nenek Bunga sibuk mencarinya, tapi tidak tahu dimana Malin berada.
Rupanya, reaksi pelet Cirik Berandang sangat cepat sekali. Hanya dalam tempo 6 jam Bunga menjadi tidak sadarkan diri. Aneh, dia menyebut-nyebut nama Malin, bahkan tanpa sadar menyatakan perasaan cintanya. Perasaan rindu ingin bertemu Malin tidak dapat ditahannya lagi.
Dengan merengek-rengek, Bunga meminta Sabirin, ayahnya, agar mencari Malin. Sabirin merasa agak bingung, sementara Bunga terus meminta agar ayahnya segera mencari Malin. Tapi di mana Malin harus dicari? Anak itu seperti hilang ditelan bumi.
Sementara itu, tidak malam tidak siang, Bunga terus bermimpi bersetebuh dengan Malin. Bunga benar-benar merasa sangat tersiksa oleh rindunya. Hampir sepanjang hari dia menyebut-nyebut nama Malin. Bahkan, saat matanya terpejam tak jarang dia merintih-rintih seperti orang yang tengah kenikmatan dalam olah seks. Sementara itu juga mulutnya tak henti menyebut-nyebut nama Malin dengan suara mendesah penuh gairah.
Sabirin, ibu Bunga dan neneknya akhirnya sadar sesuatu yang gaib telah terjadi pada diri Bunga. Atas saran nenek Bunga, Sabirin akhirnya mendatangi rumah Datuk Maruhan. Di hadapan sang Datuk, Sabirin menceritakan keadaan anak gadis yang rupanya telah menjadi korban pelet dari pemuda bernama Malin.
"Anak gadismu termakan ramuan Cirik Berandang!" Kata Datuk Maruhan memberikan penjelasan.
"Siapa yang memberikannya, Datuk?" Tanya Sabirin.
"Siapa lagi kalau bukan pemuda yang disebut-sebut namanya oleh anak gadismu itu."
"Jadi Malin yang melakukannya?"
Datuk Maruhan mengangguk. "Benar, dia datang padaku dan kuberikan ramuan itu. Dia sakit hati karena anak gadismu telah berbuat keterlaluan padanya," jelas Datuk Maruhan. Dia lalu menceritakan bagaimana perlakukan Bunga terhadap Malin.
Sabirin tercenung beberapa saat lamanya. Dia menyesali perbuatan Bunga yang telah melanggar adat kesopanan itu.
"Maafkan anak gadis saya, Datuk. Saya minta dengan sangat agar Datuk sudi menyembuhkannya!" Pinta Sabirin setengah menghiba.
"Baiklah, ini serbuk penawarnya!" Kata Datuk Maruhan. Setelah dibacakan mantera serbuk penawar itu diberikan pada Sabirin.
"Terima kasih Datuk. Ini untuk membeli tembakau," ujar Sarbini menyalami Datuk Maruhun dengan menyelipkan uang 100 ribu. Datuk Maruhan menerimanya dengan tersenyum gembira.
Beberapa saat setelah meminum serbuk penawar, Bunga kembali pada keadaan semula. Dia tidak lagi menyebut-nyebut nama Malin, bahkan dia sangat membencinya setengah mati.
Sabirin dan seluruh keluarga nenek Bunga berusaha mencari Malin, tapi Malin sudah pergi jauh. Malin bersumpah tidak akan menginjak rumah nenek Bunga lagi.
***
Demikianlah kisah mistis tentang kehebatan ramuan pelet Cirik Barandang. Keampuhan media pelet ini sangat sulit ditandangi. Sayangnya, tak mudah mencari informasi mengenai orang tua yang masih memiliki resep ramuan leluhur yang sangat langka ini. Sosok seperti Datuk Maruhan seperti pada kisah ini termasuk manusia yang sangat langka dan sulit ditemukan.
Tidak diperoleh informasi dari bahan apa sajakah sebenarnya ramuan Cirik Barandang ini dibuat. Namun, diperoleh sedikit petunjuk bahwa salah satu bahannya adalah (maaf) ujung kotoran manusia, dalam hal ini si pembuat Cirik Barandang tersebut.
Semoga, ulasan mengenai Cirik Barandang ini dapat menambah wawasan kita tentang ilmu-ilmu gaib yang bertebaran di sekitar kita. Terutama, hal ini penting diketahui oleh kaum Hawa, agar senantiasa berhati-hati dalam bersikap, terutama ketika mereka berada di suatu tempat atau wilayah yang masih kuat memegang tradisi nenek moyang. Ingat pepatah: "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."
sumber
Sambil bermalas-malasan di tempat tidur, Bunga mendengar neneknya menceracau karna dia belum juga keluar dari dalam kamar. Suara Upik, saudara sepupunya, yang berusaha membangunkan dirinya tidak membuat Bunga beranjak dari atas ranjang.
Bunga yang bandel itu akhirnya bangun setelah sang nenek bersiap menyiram tubuhnya dengan segayung air. Sambil tertawa-tawa dan berteriak ampun, dia segera lari ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah.
Hari itu memang hari Minggu itu, hari pekan di kampung ayahnya. Upik bermaksud mengajak Bunga pergi ke pasar. Karena itulah Bunga mengenakan pakaian yang paling bagus. Dengan baju kebaya panjang khas Minang, penampilan Bunga terlihat sangat feminim. Berulang kali sang nenek memuji penampilan cucu kesayangannya ini.
Sementara itu, di rumah nenek Bunga ada Malin, anak angkat nenek Bunga. Dia anak yatim piatu. Usianya lima tahun lebih tua dari usia Bunga. Tanpa seorang pun tahu, rupanya sejak pandangan pertama diam-diam Malin jatuh hati pada Bunga.
Suatu hari, persisnya minggu kedua Bunga berada di kampung ayahnya, terjadilah suatu peristiwa. Harinya juga hari Minggu, dan seperti Minggu kemarin Upik juga berniat mengajak Bunga jalan-jalan ke pekan.
Karena hari sudah siang dan Bunga seperti biasa belum bangun, tanpa menaruk curiga nenek Bunga menyuruh Malin untuk membangunkan cucu kesayangannya itu. Tentu saja perasaan Malin sangat girang mendapat tugas ini.
"Bunga, bangun hari sudah siang!" Malin mengingatkan sambil menggedor pintu kamar tidur Bunga yang terkunci dari dalam.
Samar-samar Bunga mendengar suara Malin. Namun, dia hanya menggeliat. Hatinya kesal karena tidurnya yang pulas diusik oleh Malin.
"Bunga, Upik menunggumu di ruang tamu!" Kali ini suara Malin agak keras, dan gedoran di pintu kamar juga semakin keras.
"Iya, aku bangun!" Teriak bunga, kesal.
"Lekasan, Upik sudah sedari tadi menunggumu!" Suara Malin semakin meninggi.
"Binatang kamu! Dengar tidak sih, aku akan segera bangun?!" Emosi Bunga jadi meledak. Bergegas dia membuka pintu kamar tidurnya. "Lin, kalau bangunkan orang pakai otak, ya!" Bentaknya di hadapan Malin.
Pemuda dusun itu tertegun sejenak. Wajahnya merah padam. Hatinya terasa nyeleki sebab gadis yang diam-diam dikaguminya menyebut dirinya sebagai binatang dan tak punya otak. Dua kata-kata itu rasanya begitu menyakitkan. Malin menatap wajah Bunga dengan perasaan sakit hati.
"Apa lihat-lihat?!" Bentak Bunga lagi tidak senang dipelototi Malin seperti itu.
Malin terdiam, tapi tatapannya semakin nanar. Bunga rupanya semakin kesal, sehingga secara refleks tangan kanannya menampar wajah anak muda itu.
Malin terdongak menerima tamparan Bunga yang kebetulan adalah gadis pemilik Ban Hitam. Bukannya menyesal, Bunga yang tomboy malah merasa puas hatinya. Dia tak sadar, emosinya ini telah membuatnya lupa pada nasehat ibunya agar jangan berbuat kasar pada pemuda kampung ayahnya.
Tanpa dinyana, perasaan sakit hati Malin pada Bunga menjadi lengkap sudah. Seumur hidupnya baru pertama kali ini dia dihina dan dicaci maki seorang gadis cantik. Lebih menyakitkan lagi, hal itu dilakukan oleh gadis yang diam-diam sangat dia cintai dan kagumi.
Betapa hancur hati Malin, seperti diiris-iris sembilu, dan seperti kaca terempas di batu. Pecah berkeping-keping tanpa harapan untuk merangkainya kembali.
Kejadian pagi itu, sepanjang hari terus saja muncul dalam pikirannya. Malin benar-benar merasa sangat terhina karena disamakan dengan binatang yang tidak punya otak. Dan tamparan itu, sungguh begitu menyakitkan. Bukan wajahnya. Tapi hatinya yang terdalam. Ya, hati yang penuh cinta dan kekaguman itu berubah penuh dengan kebencian.
Tiba-tiba muncul dalam hati Malin niat untuk membalas perlakukan Bunga. ìAku akan membuatnya bertekuk lutut dan mengemis cinta padaku.î Bisik hati Malin.
Malam harinya, selesai shalat Isya di Masjid, Malin mendatangi rumah Datuk Maruhun. Sang Datuk adalah dukun kampung pemilik ilmu pelet Cirik Barandang. Usinya sudah mencapai 75 tahun. Kendati demikian, jangan heran jika dia masih mempunyai isteri yang sebaya dengan usia cucunya, yakni 25 tahun. Hal ini terjadi tentu saja berkat kehebatan ilmu pelet yang dimilikinya.
Di hadapan Datuk Maruhan, Malin berterus terang menceritakan perlakuan kasar Bunga pada dirinya. Sang Datuk merasa sangat kasihan pada Malin. Dia menyanggupi akan membantu Malin untuk membalaskan sakit hatinya.
"Ini ramuan Cirik Barandang. Ingat, bubuk ini harus kau taburkan dalam gelas minumannya," pesan Datuk Maruhun ketika memberikan bungkusan berupa kain putih kecil.
Di dalam bungkusan kain itu tentu saja terdapat serbuk yang telah dibacakan jampi-jampi ramuan Cirik Barandan.
"Terima kasih, Datuk. Ini untuk sekedar membeli gula!" Malin memberikan uang 30 ribu rupaih pada Datuk Maruhan. Laki-laki gaek itu menerimanya dengan senyum.
Singkat cerita, kesempatan menaburkan ramuan pelet Cirik Barandang diperoleh Malin pada hari ketiga setelah dia menerima ramuan sakti tersebut dari tangan Datuk Maruhan. Ketika itu Bunga sedang membuat jus alpukat dalam gelas, dan tanpa dinyana tiba-tiba sang nenek memanggilnya.
Tanpa rasa curiga. Bunga meninggalkan begitu saja jus buahnya di atas meja. Kesempatan ini segera digunakan oleh Malin. Setelah merasa aman, dia menaburkan serbuk Cirik Barandang dalam gelas minuman itu. Setelah selesai mengerjakannya, Malin pun segera pergi.
Setelah menaburkan ramuan Cirik Barandang, Malin sengaja tidak pulang ke rumah orang tua angkatnya. Keluarga nenek Bunga sibuk mencarinya, tapi tidak tahu dimana Malin berada.
Rupanya, reaksi pelet Cirik Berandang sangat cepat sekali. Hanya dalam tempo 6 jam Bunga menjadi tidak sadarkan diri. Aneh, dia menyebut-nyebut nama Malin, bahkan tanpa sadar menyatakan perasaan cintanya. Perasaan rindu ingin bertemu Malin tidak dapat ditahannya lagi.
Dengan merengek-rengek, Bunga meminta Sabirin, ayahnya, agar mencari Malin. Sabirin merasa agak bingung, sementara Bunga terus meminta agar ayahnya segera mencari Malin. Tapi di mana Malin harus dicari? Anak itu seperti hilang ditelan bumi.
Sementara itu, tidak malam tidak siang, Bunga terus bermimpi bersetebuh dengan Malin. Bunga benar-benar merasa sangat tersiksa oleh rindunya. Hampir sepanjang hari dia menyebut-nyebut nama Malin. Bahkan, saat matanya terpejam tak jarang dia merintih-rintih seperti orang yang tengah kenikmatan dalam olah seks. Sementara itu juga mulutnya tak henti menyebut-nyebut nama Malin dengan suara mendesah penuh gairah.
Sabirin, ibu Bunga dan neneknya akhirnya sadar sesuatu yang gaib telah terjadi pada diri Bunga. Atas saran nenek Bunga, Sabirin akhirnya mendatangi rumah Datuk Maruhan. Di hadapan sang Datuk, Sabirin menceritakan keadaan anak gadis yang rupanya telah menjadi korban pelet dari pemuda bernama Malin.
"Anak gadismu termakan ramuan Cirik Berandang!" Kata Datuk Maruhan memberikan penjelasan.
"Siapa yang memberikannya, Datuk?" Tanya Sabirin.
"Siapa lagi kalau bukan pemuda yang disebut-sebut namanya oleh anak gadismu itu."
"Jadi Malin yang melakukannya?"
Datuk Maruhan mengangguk. "Benar, dia datang padaku dan kuberikan ramuan itu. Dia sakit hati karena anak gadismu telah berbuat keterlaluan padanya," jelas Datuk Maruhan. Dia lalu menceritakan bagaimana perlakukan Bunga terhadap Malin.
Sabirin tercenung beberapa saat lamanya. Dia menyesali perbuatan Bunga yang telah melanggar adat kesopanan itu.
"Maafkan anak gadis saya, Datuk. Saya minta dengan sangat agar Datuk sudi menyembuhkannya!" Pinta Sabirin setengah menghiba.
"Baiklah, ini serbuk penawarnya!" Kata Datuk Maruhan. Setelah dibacakan mantera serbuk penawar itu diberikan pada Sabirin.
"Terima kasih Datuk. Ini untuk membeli tembakau," ujar Sarbini menyalami Datuk Maruhun dengan menyelipkan uang 100 ribu. Datuk Maruhan menerimanya dengan tersenyum gembira.
Beberapa saat setelah meminum serbuk penawar, Bunga kembali pada keadaan semula. Dia tidak lagi menyebut-nyebut nama Malin, bahkan dia sangat membencinya setengah mati.
Sabirin dan seluruh keluarga nenek Bunga berusaha mencari Malin, tapi Malin sudah pergi jauh. Malin bersumpah tidak akan menginjak rumah nenek Bunga lagi.
***
Demikianlah kisah mistis tentang kehebatan ramuan pelet Cirik Barandang. Keampuhan media pelet ini sangat sulit ditandangi. Sayangnya, tak mudah mencari informasi mengenai orang tua yang masih memiliki resep ramuan leluhur yang sangat langka ini. Sosok seperti Datuk Maruhan seperti pada kisah ini termasuk manusia yang sangat langka dan sulit ditemukan.
Tidak diperoleh informasi dari bahan apa sajakah sebenarnya ramuan Cirik Barandang ini dibuat. Namun, diperoleh sedikit petunjuk bahwa salah satu bahannya adalah (maaf) ujung kotoran manusia, dalam hal ini si pembuat Cirik Barandang tersebut.
Semoga, ulasan mengenai Cirik Barandang ini dapat menambah wawasan kita tentang ilmu-ilmu gaib yang bertebaran di sekitar kita. Terutama, hal ini penting diketahui oleh kaum Hawa, agar senantiasa berhati-hati dalam bersikap, terutama ketika mereka berada di suatu tempat atau wilayah yang masih kuat memegang tradisi nenek moyang. Ingat pepatah: "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."
sumber
0