\tMerwaith, sebuah kota industry besar pada benua Efesa. Bangunan-bangunan tingkat bergaya klasik, pabrik-pabrik besi, dinding pertahan yang membentang, serta sawah yang membentang di luar dinding kota. Merwaith tidak jauh berbeda dari city state lainnya di benua Efesa. Hanya saja banyak orang berkata api industri kota Merwaith membara jauh lebih panas dari city state lainnya.
\tDibawah pimpinan salah satu orang terkaya di benua Efesa, Lord Maximilian. Kota ini hampir tidak memiliki kesempatan untuk tidur. Pria ini membuat api industri selalu membara dua puluh empat jam setiap harinya. Kereta-kereta api selalu singgah di kota ini untuk membawa berbagai barang-barang besi untuk di eksport dan berbagai kemewahan luar sebagai import.
\tSemua berjalan damai di kota ini, sampai tiba-tiba seorang Lady yang tidak jelas asal-usulnya menampakkan diri dan mulai masuk ke dalam lingkaran kaum bangsawan Merwaith. Dengan nama Phyliss, sang Lady misterius ini mendapat reputasi dengan cepat di antara kaum aristokrat.
\tDalam waktu singkat Lady Phyliss mulai terlihat bersama Lord Maximilian. Entah karena kebetulan ataupun karena sang Lady, kota Merwaith menjalani sebuah perubahan drastis. Semua kereta api dihentikan, kota Merwaith mulai menutup diri dari city state lainnya. Pabrik-pabriknya mulai menciptakan mesin perang tanpa henti. Orang-orang diculik dari jalan-jalan untuk di masukkan ke dalam militer. Dalam segera kedamaian akan hilang.
\tSemua orang tahu, bahwa sesuatu yang besar, cepat atau lambat akan meletus di Merwaith.
\tDari atas mobil jeepnya Lord Maximilian memperhatikan keadaan kota Secratus yang menyedihkan. Tubuh bergelimpangan di mana-mana, bangunan-bangunan putih klasik yang saat ini sedang dilalap api, bau kematian tercium dari setiap sudut kota.
\tApakah ini kemenangan? tanya sang Lord pelan.
\tIni adalah pembantaian, tuan. Letnan Csar yang duduk di samping sang Lord membalas dengan suara serak.
\tKonvoi militer pasukan Merwaith berhenti ketika mereka mencapai balai kota. Berbagai truck yang mengangkut tentara menghentikan ban mereka di atas plaza luas yang penuh dengan bau busuk. Tampak mayat-mayat dengan nanah-nanah berdarah tergeletak di sepanjang plaza, baik tentara maupun warga sipil.
\tSementara itu Lord Maximilian turun dari jeepnya sambil menengadah ke langit. Ia masih bisa mendengar sekelompok suara dengung di langit. Tampak seperti awan hitam yang bergerak cepat, lalat-lalat mekanik tersebut terbang menjauh dari kota Secratus dalam kelompok besar.
\tKe mana mereka pergi? tanya letnan Csar.
\tEntahlah, aku tidak tahu. jawab sang Lord.
\tMereka semua pergi mencari kota terdekat. walaupun ia sudah sangat familiar dengan suara ini, sang Lord tidak pernah merasa nyaman mendengarnya.
\tIa melihat wanita itu berjalan di antara mayat-mayat korban perang dengan tenang. Gaun hitamnya tampak menyapu lantai plaza yang penuh darah tapi sama sekali tampak tidak ternodai.
\tLady Phyliss. desis Lord Maximilian, Kau mengikutiku? Aku sama sekali tidak menyadarinya.
\tApa maksudmu mereka mencari kota terdekat? Untuk apa? tanya letnan Csar. Ia merasakan perasaan buruk ketika melihat lalat-lalat mekanik tersebut.
\tUntuk apa? Tentu saja untuk menyebarkan lebih banyak kehancuran. jawab Lady Phyliss dengan lembut.
\tAPA KATAMU!? teriak letnan Csar dengan kaget. Ia kemudian memandang Lord Maximilian yang juga tampak melongo mendengar pernyataan sang Lady.
\tLady Phyliss. Apa maksud semua ini!? tanya Lord Maximilian cepat-cepat.
\tOh, apakah kau lupa? Kukira kau ingin jadi penguasa seluruh Efesa. kata Lady Phyliss dengan seakan-akan dia tengah mengingatkan seorang anak kecil yang lupa mencuci tangan.
\tTapi bukan dengan cara seperti ini! teriak Lord Maximilian panik, Ini tidak seperti yang kau janjikan.
\tJadi apa yang kau harapkan, Maxie? balas Lady Phyliss dengan lembut.
\tLord Maximilian mencoba membuka mulutnya, tapi dengan cepat Lady Phyliss memotongnya.
\tKau mengharapkan ketika pertarungan ini selesai maka kekerasan juga selesai, bukan begitu? Kau ingin melanjutkan penguasaanmu dengan cara damai setelah ini? Dimana mesin perang dan terror tidak diperlukan lagi? Kau sungguh naïf, Maxie. Itu tidak dapat terjadi.
\tSambil mengepalkan tangannya Lord Maximilian membalas dengan keras, Jadi kau menyuruhku untuk menguasai sebuah benua yang mati!? Kuperintahkan kau untuk menghentikan kegilaan ini!
\tLady Phyliss hanya membalas perintah dang Lord dengan tertawa, seakan-akan sang Lord baru saja mengeluarkan sebuah lelucon, Kau pikir aku akan menuruti perintah itu?
\tLord Maximilian hanya bisa menggeram pelan.
\tOh Maxie, kau tidak perlu menghiraukan orang-orang yang akan menjadi korban. Lagi pula sebentar lagi kau akan menjadi seorang Lord yang sesungguhnya. Anggap saja mereka sebagai pengorbanan yang di perlukan.
\tKau wanita gila. Apa yang sebenarnya kau inginkan? tanya sang Lord dengan waspada.
\tYang kuinginkan? Lady Phyliss tampak merenung sebentar kemudian kembali menatap Lord Maximilian dengan tatapannya yang anggun dan kejam. Katakan saja aku menyukai keadaan seperti ini.
\t. . . Kau memang gila. Seharusnya aku tidak pernah membiarkan kau berkuasa. desis Lord Maximilian penuh tekat.
\tApa ini hanya perasaanku saja atau kau hendak melakukan sesuatu yang lucu? tanya Lady Phyliss sambil menatap sang Lord dengan jengkel.
\tAku akan memperbaiki semuanya. Tentara! Bunuh Lady Phyiliss sekarang! Ini adalah perintah. teriak Lord Maximilian memberi perintah.
\tDengan cepat sekitar selusin tentara yang berada di sekitar mereka langsung mengarahkan senapan mereka ke arah sang Lady.
\tKau mengecewakanku, Maxie kata Lady Phyliss pelan. Dengan cepat suara Lady Phyliss tertutupi oleh suara tembakan yang dilepaskan oleh para tentara. Tapi anehnya Lady Phyliss masih berdiri dengan tegak setelah para tentara melepaskan tembakan. Seakan peluru-peluru yang dilepaskan mengalir begitu saja d tubuhnya.
\tPara tentara tampak bergidik melihat Lady Phyliss yang sama sekali tidak terluka. Tapi sepertinya Lady Phyliss bukan lagi satu-satunya hal yang perlu mereka takuti.
\tPerlahan-lahan suara erangan kosong terdengar di sekeliling mereka. Satu per satu mayat dari korban pengeboman bangkit berdiri.
\tMereka hidup lagi!
\tHiii! Jangan biarkan mereka mendekat.
\tPara tentara segera mengalihkan tembakan mereka pada mayat-mayat yang berjalan dengan pelan ke arah mereka.
\tDi tengah kekacauan ini, tidak ada yang memperhatikan Lady Phyliss. Lady Phyliss tengah mencabut sebilah belati sambil berlari ke arah sang Lord.
\tLetnan Csar yang tampaknya merupakan satu-satunya orang yang menyadari hal tersebut langsung bertindak. Ia berteriak memperingati sang Lord. Di saat bersamaan ia juga mencabut rapiernya dan mencoba menghadang Lady Phyliss.
\tCsar mengayunkan pedangnya secara horizontal ke arah Lady Phyliss yang sedang berlari. Dengan gerakan yang sempurna Lady Phyliss menunduk sehingga rapier Csar sama sekali tidak mengenainya.
\tTanpa diduga Lady Phyliss mengayunkan kakinya dan menendang letnan Csar tepat di selangkangannya. Csar mengerang keras dan jatuh ambruk.
\tWalaupun letnan Csar berhasil memperingati sang Lord. Tampaknya peringatan tersebut agak terlambat. Lord Maximilian menyelipkan tangannya ke dalam jubah, mencoba untuk mengambil pistol yang selalu tersimpan dengan rapih di kantongnya. Tapi di saat bersamaan Lady Phylis sudah berada di depan matanya.
\tDengan sebuah tusukan yang menyayat, Lady Phyliss membuat sebuah luka mengaga dari perut hingga ke dada Lord Maximilian. Sang Lord berteriak kesakitan. Darah segar menyembur keluar dari lukanya.
\tKau memang bodoh, memilih untuk berakhir seperti ini. ejek Lady Phyliss dengan nada yang dingin.
\tD-dan sekarang akhirmu juga pramuria. balas sang Lord.
\tLord Maximilian menahan rasa sakit yang menyelimutinya dan mencabut sebuah pistol dari balik jubahnya. Tanpa ragu-ragu ia menembakkan sebuah peluru yang ada di dalam barrel pistol tersebut kepada Lady Phyliss.
\tTampak cairan berwarna merah kehitaman mengalir keluar dari tubuh Lady Phyliss.
\tApa. . . Tidak mungkin. Bagaimana mungkin kau bisa. . . tampak Lady Phyliss keheranan.
\tA-aku tahu rahasiamu. Perak suci dapat menembus tubuhmu sementara timah tidak. D-dan Aku tahu kau yang sebenarnya membunuh Carfelis dan Leon, sebuah tembakan lainnya dilepaskan.
\t Persetan denganmu pramuria, kau boleh terbakar di neraka hingga habis. ia mengosongkan seluruh barrel revolvernya kepada Lady Phyliss. Sang Lord mencoba mengakhiri kalimatnya dengan tawa, tapi hanya darah yang keluar dari mulutnya.
\tSementara itu Lady Phyliss tampak terkejut, ia mundur perlahan dengan tubuh yang gemetar. Matanya menunjukkan perasaan benci yang luar biasa. Dan untuk pertama kalinya, Lady Phyliss tampak kalah, tubuhnya terkulai di tengah plaza.
\tBersamaan dengan itu, tampak mayat-mayat yang tadinya menyerang pada tentara kembali terjatuh. Terkulai layaknya boneka yang dipotong tali-talinya.
\tPara tentara dengan heran menyaksikan lawan-lawan tidak alami mereka yang berjatuhan. Dan dengan diam-diam, sang Lord juga jatuh berlutut. Perlahan-lahan ia jatuh dalam keadaan telentang, memandang ke langit luas. Waktunya mulai habis.
\tMy Lord! teriak letnan Csar sambil berlari menghampiri tuannya setelah ia berhasil bangkit dari rasa sakit.
\tLord Maximilian tampak tidak akan bertahan, lukanya terlalu parah untuk dirawat. Dengan ngeri letnan Csar menyaksikan sedikit demi sedikit kehidupan mulai kabur dari tubuh pria tersebut. Tapi entah kenapa dirinya merasa lebih tenang begitu ia melihat wajah sang Lord. Wajah yang menunjukkan ketenangan dan damai serta kepasrahan.
\tMy Lord, bertahanlah bantuan akan segera tiba.
\tLord Maximilian tampak bergumam pelan. Ia sepertinya sama sekali tidak mendengarkan perkataan letnan Csar.
\t. . . Apakah itu untukku? Ahaha, maaf aku membuatmu menunggu lama. . . Aku hanya ingin membuat sedikit perubahan saja. . . Tapi sepertinya aku pergi terlalu jauh. . .
\tSang Lord tampak berbicara dengan seseorang yang tidak dapat dilihat Csar. Dengan takut-takut letnan Csar kembali memanggil tuannya.
\tM-My Lord?
\tLord Maximilian tampak mengalihkan pandangannya ke Csar dengan sangat perlahan.
\tLetnan. . . Maaf sudah membuatmu terlibat dalam perang ini. . . Aku bertindak terlalu ceroboh. . . Tolonglah. Siapapun yang memimpin nanti. . . Jangan biarkan mereka menjadi sepertiku. . . Lord Maximilian berbicara dengan terpatah-patah.
\tBicara apa kau. Tuan, dalam waktu cepat anda akan dirawat dan anda akan kembali memerintah- Csar menghentilan kalimatnya. Lord Maximilian tampaknya sudah tidak mendengarkan dirinya lagi. Matanya memandang jauh ke langit. Entah apa yang dilihatnya.
\tSungguh kebun mawar yang indah. . . Rumah. . .
\tItu adalah hal terakhir yang dibisikkan Lord Maximilian sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.
\tLetnan Csar bangkit dengan sedih. Tapi setidaknya sang Lord telah mati memperjuangkan apa yang benar pada akhirnya. Letnan Csar membungkuk dan mengambil pedangnya yang terjatuh. Tiba-tiba pandangannya jatuh pada genangan darah berwarna merah kehitaman di tengah plaza.
\tBulu kuduknya langsung merinding dan ia dapat merasakan hawa dingin menusuk tulang-tulangnya. Tubuh Lady Phyliss tidak ada di situ.