\tLord Maximilian sudah berusaha sebisanya untuk tidak membuat kepanikkan dalam kubunya. Tapi tetap saja rumor menyebar dengan cepat. Rumor-rumor mengenai pekerja-pekerja distrik industri yang kerasukan setan. Hampir setiap detik suara tawa yang mengerikan dapat didengar dari dalam distrik pabrik.
\tTapi kabar burung tersebut memasuki tahap yang baru ketika salah satu dari tenaga ahli yang dibangkitkan Lady Phyliss menyerang pekerja pabrik lain.
\tBagaimana keadaannya? tanya sang Lord kepada salah satu tentara yang menjaga pabrik.
\tTentara itu hanya memberikan pandangan gugup, keringat dingin mengalir pelan diantara alis matanya. Hanya dari melihat penjaganya, ia tahu keadaan di dalam pasti cukup gila.
\tSang Lord menarik napas dalam-dalam. Dilihatnya sekali lagi tenda raksasa berwarna hijau tua tersebut. Beberapa cerobong asap tampak menyembul keluar dari tenda tersebut dan mengepulkan asap hitam pekat. Entah karena asap tersebut atau hanya perasaannya saja, tapi sang Lord merasa seakan pabrik tersebut dikelilingi oleh awan hitam. Sang Lord membuang napasnya dengan lemas dan melangkah masuk ke dalam distrik pabrik.
\tApa yang ada di dalam tenda tersebut sungguh mengejutkan dirinya. Ia sama sekali tidak dapat membedakan apakah tenda tersebut berisi distrik industri atau berisi rumah jagal. Bedanya dengan rumah jagal hanya kaum yang dijagal biasanya tidak bangkit lagi dan kembali bekerja.
\tPuluhan orang dengan seragam hijau tua tenaga industri bekerja tanpa kenal lelah dengan bersimbahkan darah. Suara tawa maniak pelan terdengar dari mulut mereka ketika mereka menghantamkan palu ke besi tempa. Beberapa berlari sempoyongan seperti orang gila sambil membawa mesin-mesin aneh yang belum pernah dilihat sang Lord sebelumnya.
\tA-apa yang. . . terjadi di sini? tanya Lord Maximilian ketika melihat pemandangan ini.
\tIni semua bermula ketika salah satu pekerja menggigit pekerja yang lainnya. Pekerja yang digigit langsung mengalami kejang-kejang dan muntah darah, kami kira dia mati. . . Tapi tiba-tiba dia bangkit lagi dan mulai bekerja kembali. Hal ini terjadi berulang-ulang, hingga seperti ini. balas seorang tentara penjaga dengan ragu-ragu.
\tDan apa yang mereka kerjakan? tanya sang Lord lagi.
\tEntahlah, mereka menempa besi-besi dengan bentuk yang aneh. Kami biasa melihat proses para pekerja membuat tank atau meriam, tapi yang mereka lakukan saat ini sangat berbeda. kata salah satu penjaga yang lainnya.
\t. . . Tadi kau bilang mereka menggigit dan apa yang terkena gigitan mereka langsung berubah seperti ini.
\tKira-kira begitu tuan.
\tMaximilian mengawasi para pekerja-pekerja tersebut. Untuk sesaat mereka tampak bekerja dengan tidak teratur, memukulkan palu mereka secara acak-acakan dan berlari dengan sempoyongan. Tapi kemudian Lord Maximilian sadar, bahwa mereka bekerja secara sinergis. Hubungan antar pekerja berjalan dengan ketepatan yang tidak masuk akal.
\tIa melihat bagaimana ketika satu selesai melakukan pekerjaannya yang lainnya juga selesai. Mereka bekerja dengan efisiensi tertinggi. Tapi apa yang mereka kerjakan.
\tApapun yang terjadi jangan biarkan mereka keluar dari sini. Bila perlu tembak mereka. perintah sang Lord dengan cepat.
\tMengerti, tuan.
\tDengan cepat Lord Maximilian berjalan meninggalkan pabrik tersebut. Berada terlalu lama di dalam tenda tersebut dapat membuat dirinya merasa mual. Lagipula ada hal yang perlu ia lakukan, sebuah tindakan untuk berjaga-jaga.
***
\tLetnan Csar berjalan dengan tergesa-gesa di antara barisan tenda-tenda tentara. Seharusnya ia tidak di perbolehkan meninggalkan klinik, tapi kabar yang ia dengar sungguh mengganggunya. Satu hari yang lalu, ia mendengarkan dengan ketakutan luar biasa begitu perintah untuk menyerang kota dikeluarkan.
\tMungkin para pemimpin belum mengetahui terror yang dapat diciptakan meriam Kekaisaran. Yang ia tahu hanyalah, ia perlu memperingatkan mereka. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang mereka lakukan.
\tIa berusaha masuk ke dalam tenda Lord Maximilian tapi dua orang tentara tampak menghadangnya.
\tMinggir, aku perlu bertemu dengan sang Lord. katanya memberi perintah.
\tSang Lord memerintahkan agar dirinya tidak diganggu oleh siapapun. balas salah satu tentara.
\tTiba-tiba pintu tirai tenda Lord Maximilian terbuka. Csar sangat berpikir dirinya beruntung karena datang tepat ketika sang Lord keluar dari tendanya. Sayangnya bukan sang Lord yang keluar. Seorang pria tua dengan jenggot putih lebat berjalan keluar, para tentara segera memberikan jalan bagi pria tua tersebut.
\tPerhatian Csar tertuju pada kalung yang tergantung di leher pria tua tersebut. Seorang pendeta? Apa yang dilakukannya di sini?Apakah sang Lord sedang ingin melakukan ibadah atau apa?
\tDi tengan pikirannya, terdengar suara pintu tirai terbuka lagi. Letnan Csar bangkit dari lamunannya dan melihat Lord Maximilian berada di depan pintu tendanya.
\tLord Maximilian!
\tLord Maximilian tampak menengok ke Csar dan ekspresinya mengatakan ia baru saja teringat sesuatu, Kau? Kau tentara yang selamat dari serangan meriam bukan?
\tYa benar tuan. My Lord, apakah benar kau akan menyerang kota Secratus hari ini?
\tWell, begitulah rencananya. jawab sang Lord acuh tak acuh.
\tTolong pertimbangkan lagi, akan banyak tentara yang gugur bila kau menyerang kota secara langsung!
\tLord Maximilian tampak termenung sebentar, Aku tahu kau sudah menyaksikan terror dari peralatan perang Kekaisaran. Tapi, maaf. Aku tidak bisa mengubah keputusan ini.
\tKenapa kita harus menyerang sekarang kalau begitu? tanya Csar lagi.
\tLord Maximilian hanya membalasnya dengan senyum lemah, Aku tidak tahu.
\tLetnan Csar hanya dapat menatap sang Lord dengan pandangan tidak percaya. Sementara itu sang Lord mengeluarkan sebuah jam kantong dari selipan jubahnya dan berkata, Ah, sekarang waktunya. Aku harus memberi perintah agar semua unit menyerang.
\tTunggu dulu! Pasti ada jalan keluar lain. teriak Letnan Scar berusaha mencegah sang Lord. Ia mencoba untuk mendekata Lord Maximilian tapi dihentikan oleh beberapa penjaganya. Csar berusaha memberontak, tapi sebuah suara dengung aneh menghentikan gerakannya.
\tTampaknya bukan hanya dia yang menyadari suara aneh tersebut. Para tentara bahkan Lord Maximilian sendiri juga tampak mencari-cari sumber suara tersebut.
\tLord Maximilian tiba-tiba mendecakkan lidahnya begitu ia menyadari dari mana asal suara dengung tersebut, Distrik pabrik.
***
\tSiang itu, kota Secratus menghadapi lawan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Awan hitam bergerak dengan cepat ke kota mereka. Sebuah suara dengung mekanik yang terdengar hampir seperti kibasan pisau terdengar membahana di langit.
\tPenduduk kota Secratus bahkan tidak tahu apa yang menghantam mereka. Awalnya mereka pikir itu adalah awan, tapi benda hitam tersebut bergerak terlalu cepat untuk awan. Kemudian mereka menduga itu adalah peluru meriam, tapi objek itu bergerak terlalu lambat untuk menjadi bola meriam. Mereka baru bisa melihat dengan jelas ketika objek tersebut sudah amat dekat.
\tBahkan ketika mereka dapat melihatnya dengan jelas, mereka tidak mempercayai mata mereka. Puluhan lalat mekanik sepanjang 2 meter terbang ke arah kota Secratus. Para tentara mencoba menembak jatuh mereka dengan senapan, tapi semuanya percuma. Peluru mereka hanya memantul pada kulit besi para lalat.
\tSementara para tentara melepaskan tembakan mereka yang sia-sia, lalat-lalat tersebut menjatuhkan bola-bola perunggu di sekeliling kota. Dengan cepat api menjalar di penjuru kota.
\tBeberapa bola perunggu lainnya meledak dan memuntahkan pecahan-pecahan tajam. Luka yang tercipta akibat ledakan tersebut secara aneh menarik perhatian lalat-lalat dan menyebabkan korbannya terjangkit suatu penyakit misterius.
\tWalaupun kota Secratus memiliki tentara-tentara yang terlatih. Di hadapan teknologi yang tidak alami ini, mereka hanya seperti sekelompok orang lumpuh.
\tDan didalam kekacauan inilah pasukan Merwaith datang menyerang. Tanpa ada kru yang mengendalikan Giant Karpov. Tanpa ada pasukan yang melindungi dinding kota. Tanpa ada seorang pun yang dapat memberi perlawanan.
\t
***