\tSepuluh mil dari dinding kota Secratus, pasukan city state Merwaith tengah menunggu. Dengan jumlah mencapai belasan ribu, mereka mendirikan kamp besar dan siap untuk berperang.
\tTampaknya Lord Maximilian sendiri mempertaruhkan semuanya untuk city state Secratus. Kota Merwaith ditinggalkan dengan penjagaan sangat minin. Ditambah lagi sejak kematian misterius Jendral Carfelis serta si penasihat militer Leon, Lord Maximilian selalu memimpin perang secara langsung.
\tLord Maximilian mempunyai sebuah tenda di atas gunungan tanah yang terletak di atas kamp. Dari dalam tendanya ia keluar untuk mengecek keadaan.
\tBagaimana keadaannya letnan? tanya sang Lord kepada seorang tentara yang langsung menghampirinya. Tentara itu menggunakan sebuah seragam hitam yang sangat lusuh dan tampak perban dengan noda darah yang mengitari kepalanya.
\tWell, my Lord. Antara Secratus dan pasukan kita hanya ada ladang terbuka sepanjang sepuluh mil. Sama sekali tidak ada ranjau ataupun jebakan. Jadi pasukan infantry dan tak dapat meluncur dengan mudah di sana.
\t. . . Kukira kau melupakan bagian yang pentingnya letnan.
\tYa, memang tidak ada apapun di ladang itu sepanjang delapan mil. Kecuali peluru meriam raksasa yang terus menembakkan tembakan akurat. Kami sama sekali tidak dapat maju. Meriam mereka dapat melibas seluruh company secepat ini. kata sang letnan sambil menjentikkan jarinya ketika mengucapkan kalimat terakhir.
***
\tKota Secratus tampak memendarkan cahaya putih di malam hari. Ini semua karena tembok kota mereka yang terbuat dari batu khusus dan dapat menyerap cahaya bulan. Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak keindahan kota Secratus.
\tBiasanya orang-orang berdatangan dari berbagai tempat untuk mengunjungi kota Imperial ini. Hanya saja keadaannya agak berbeda sekarang. Orang-orang dengan seragam militer biru tampak berjaga di sepanjang dinding kota. Mereka mengawasi keadaan di sekeliling dengan teropong mereka.
\tMenurutmu ini akan menahan mereka, Jendral? kata sebuah sosok berjubah putih yang tampak sedang menerawang dalam kejauhan.
\tYang Mulia, mereka tidak akan memiliki kesempatan ketika berhadapan dengan Giant Karpov. Bahkan tentara paling veteran sekalipun tidak dapat lari dari pelurunya. kata sang Jendral.
\tJendral! Pasukan musuh terlihat! Arah jam 11! tiba-tiba seorang tentara pengawas berteriak dari atas menara.
\tSang Jendral mengambil teropongnya dan dapat melihat sekelompok besar tentara denggan seragam hitam mencoba mengendap-endap dari kejauhan. Beberapa tank yang di cat hitam juga tampak mengikuti mereka dari belakang. Tank-tank tersebut berjalan dengan kecepatan rendah, berusaha tidak membuat banyak suara dan menerbangkan debu dalam jumlah besar.
\tKirim koordinat mereka ke kru Karpov. balas sang Jendral dengan tenang sambil menurunkan teropongnya.
\tSi tentara pengawas langsung berlari ke dalam menara dan menyambungkan radio dengan kru meriam. Beberapa detik kemudian terdengar suara mekanik raksasa. Di dekat pusat kota, tampak sebuah meriam raksasa menaikkan moncongnya ke udara. Di samping meriam raksasa itu terdapat crane yang tengah menurunkan sebuah selongsong peluru meriam sepanjang tiga meter.
\tSebuah palka tampak terbuka di sisi meriam. Dengan suara benturan logam yang keras, peluru tersebut dimasukkan ke dalam palka itu. Sekelompok tentara kekaisaran tampak menutupi telinga mereka dengan tangan begitu peluru meriam di masukkan.
\tPerlahan tapi pasti, para kru meriam tampak mengatur moncong meriam Giant Karpov yang pendek. Setelah beberapa saat, tampak tiang-tiang dengan sirene di sekitar meriam berdesing.
\tDengan suara menggelegak layaknya halilintar, peluru pertama di tembakkan.
\t
***
\tPerhatian mereka teralihkan oleh sebuah suara desingan kecil. Ratusan pasukan grenadier Merwaith menengadah, mencoba mencari sumber suara tersebut. Bahkan pasukan tank mulai menghentikan lajunya untuk mendengar suara desing tersebut.
\tBeberapa tentara tampak menunjuk-nunjuk ke langit. Sebuah bola hitam kecil tampak berada tinggi di angkasa, terbang perlahan ke arah mereka.
\tSeorang Letnan yang melihat benda tersebut langsung menjatuhkan rokok yang tadinya ia hisap, Oh, tidak lagi. BERLINDUNG!!
\tBanyak tentara yang tidak menangkap apa maksud sang letnan, tapi mereka yang mengerti langsung mencari lubang untuk berlindung. Detik selanjutnya, bola tersebut tampak pecah di udara dan menjatuhkan sebuah hujan.
\tBola-bola kecil seukuran kepalan tangan langsung menghujani seluruh areal tersebut. Begitu menyentuh tanah bola tersebut langsung melahap tanah dengan api yang sangat intens. Api neraka mungkin merupakan istilah yang paling tepat untuk menyebut keadaan saat itu.
\tRatusan teriakan penuh kesakitan dan penderitaan terdengar melengking dan menulikan telinga. Jiwa-jiwa yang terbakar habis oleh api.
\tBeberapa orang mengatakan kata-kata terakhir sebelum kematian memiliki kekuatan tersendiri dan terkadang menguak rahasia dari hidup dan mati seseorang. Tapi malam itu hanya terdengar teriakan seperti; Panas! Sialan! Tolong! ataupun hanya sekadir memanggil-manggil oran tua mereka. Sepertinya tidak ada yang dapat diungkapkan dari kata-kata terakhir tersebut.
\tLetnan Csar sendiri hanya dapat meringkuk di sebuah cekukan sambil memaki-maki. Ia bahkan berdoa dengan sembarangan mencoba meyakinkan Tuhan untuk menjauhkan jiwanya dari api pencucian.
\tSetelah satu menit berkomat kamit, tampaknya jiwanya telah di selamatkan. Tidak ada lagi suara hujan, yang ada hanyalah keheningan yang tidak menyenangkan.
\tLetnan Csar bangkit dari tempat ia meringkuk. Tampak abu-abu berjatuhan dari pakaiannya ketika ia bergerak. Ia hanya bisa berdiam diri dan membisu ketika melihat pemandangan yand ada di depannya. Sebuah pemandangan yang mengguncangkan jiwa.
\tRatusan tubuh terbakar hingga kering. Tubuh-tubuh dengan tulang terbungkus kulit yang sudah keriput tampak bertumpukkan di sana-sini.
\tTiba-tiba terdengar sebuah suara melengking penuh kesakitan. Letnan Csar langsung menoleh ke arah suara tersebut. Ia mengharapkan dirinya akan melihat orang-orang yang masih selamat. Dengan sempoyongan ia berlari di antara ladang kematian mencari sumber teriakan tersebut.
\tSuara tersebut datang dari dalam sebuah tank. Tank tersebut sendiri sudah hangus dan tampak tidak lebih dari rongsokan logam. Dengan jelas letnan Csar dapat mendengar suara lemah dari dalam tank tersebut.
\tBertahanlah aku akan mengeluarkanmu! teriaknya sambil berjalan mengitar tank, mencoba mencari pintu belakang tank.
\tBegitu letnan Csar mencoba membuka pintu besi tersebut ia langsung menyadari sarung tangannya melepuh dan panas yang luar biasa menyengat tangannya. Ia mengerang kecil sambil menarik tangannya. Bom yang di lepaskan pihak Kekaisaran pasti sangat dashyat hingga dapat membakar tank seperti ini.
\t Tapi yang pasti orang di dalamnya masih hidup dan ia harus mengeluarkan mereka. Suara rintihan masih terdengar dari dalam tank tersebut. Untungnya sang letnan mempunyai ide. Ia melihat sebuah senapan tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri, entah dimana pemiliknya sekarang.
\tDengan tangan kirinya yang masih sehat ia menyelipkan gagang senapan tersebut di tuas pembuka palka belakang. Dengan sekuat tenaga ia memutar senapan tersebut di sekeliling tuas palka. Sedikit saja tuas palka tersebut bergerak dan bunyi berdecit melengking mulai menyayat telinganya.
\tSetelah berusaha keras, pintu palka tersebut mengayun terbuka dengan perlahan. Uap panas tampak lari keluar dari dalam tank melalui celah tersebut.
\tKau baik-baik saja!? teriak Csar sambil melindungi wajahnya dari uap panas tersebut.
\tIa berharap untuk melihat awak tank yang masih selamat. Tapi setelah uap panas tersebut menipis ia sama sekali tidak menginginkannya.
\tYang tampak di matanya sebagai satu-satunya makhluk hidup di dalam tank itu jelas-jelas sudah sangat jauh dari kesan manusia. Apa yang ada di hadapannya lebih mirip seperti sapi yang melewati kombinasi dari proses penjagalan dan pemasakkan tidak sempurna.
\tButuh beberapa detik bagi Csar untuk menyadari gumpalan daging dan darah yang masih bergerak di depannya adalah manusia. Ia mengalami kesulitan untuk mengenali anggota tubuh si kru tank.
\tWajahnya di penuhi noda merah, rongga matanya tampak tidak lebih dari cekungan berisi genangan darah, tubuhnya tambak terbagi dua di bagian perut. Csar dapat melihat dengan jelas tulang punggungnya yang mencuat keluar. Dengan rahang bawah yang tampak sangat longgar, mulutnya menganga dan mengeluarkan suara kesakitan yang tidak jelas.
\tSebenarnya fakta bahwa tentara tersebut hidup adalah mengagumkan, mengingat ia baru saja selamat dari oven manusia. Tapi Csar sudah mengambil satu langkah mundur, ia merasa seperti seluruh kekuatan di tubuhnya telah lepas dan hilang. Tanpa ia sadari ia sudah menemukan dirinya berlari meninggalkan semua yang ia lihat. Ia sudah merasa cukup dengan perang ini.
\tSementara Letnan Csar melarikan diri dari medan tempur. Ia tidak menyadari sepasang mata mengawasinya dari kejauhan.
\tJendral ada seorang tentara yang berhasil selamat. Perintahmu? kata salah satu tentara pengawas yang berdiri di atas dinding kota Socratus.
\tBiarkan dia. Ia akan menyebarkan terror dan ketakuan untuk kita. Jendral tersebut membalas dengan tenang.