\tSatu minggu setelah deklarasi perang Merwaith. Pasukan grenadier Merwaith dengan ajaib dapat terus mendesak pasukan dari city state Lensar yang memiliki jumlah jauh lebih banyak. Dan sekarang pasukan Merwaith utama Merwaith yang berjumlah tiga ribu personil sedang melakukan pengepungan terhadap kota Lensar.
\tSuara menggelegar dari mortar-mortar pertahanan memenuhi seluruh kota Lensar. Bola-bola perluru mortar tanpa hentinya meluncur melewati dinding kota dan menghantam parit-parit pasukan Merwaith.\t
Dari salah satu parit pertahanan seorang pria setengah baya berdiri dan memandang kota Lensar dengan mata penuh semangat. Beberapa tanda penghargaan dan sabuk kepemimpinan tampak di seragamnya. Ia menyingsingkan kaki celana bagian kanannya, sehingga orang-orang dapat melihat kakinya yang telah digantikan sebuah kaki buatan dari logam. Siapa pun yang melihat pria ini pasti langsung tahu bahwa ia seorang tentara veteran.
\tJendral Papa Leg, menunduklah! Kau dapat tertembak! teriak salah satu tentara melihat pria tersebut.
\tPria tersebut memandang sang tentara dengan ringan, Tenang saja anak-anak dombaku. Papa Leg tahu apa yang ia lakukan.
\tSebuah peluru mortar jatuh tidak jauh dari sang pria yang dipanggil Papa Leg. Peluru tersebut meledak dan membuat debu beserta proyektil lainnya bertebaran kemana-mana. Tapi Papa Leg tampak sama sekali tidak terganggu dengan ledakan tersebut, ia tetap berdiri dengan tegak setelah peluru tersebut meledak.
\tSekarang waktunya anak-anakku! Ayo buat pantat mereka berada di atas kepala untukku! LONG LIVE THE LORD! teriak Papa Leg dengan sebuah pedang rapier teracung sambil memanjat keluar.
\tLONG LIVE THE LORD!! raung tentara-tentara yang berdiri di belakang Papa Leg. Mereka semua mulai berhamburan keluar dari parit-parit pertahanan dan berlari menyerbu kota.
\tPara penembak yang berada di dalam bunker-bunker dinding kota mulai melepaskan tembakan mereka. Satu per satu tentara berseragam hitam mulai berjatuhan. Melihat hal ini para pasukan Merwaith mulai mencari tempat yang dapat di jadikan perlindungan.
\tJangan takut pada mereka anak-anak dombaku! Balas saja tembakan mereka, terus pertahankan posisi! seru Papa Leg yang tengah menembakkan pistolnya ke arah bunker.
\tPasukan-pasukan Merwaith mulai menembak balas dengan menggunakan rifle mereka dari balik tempat perlindungan seadanya yang dapat mereka temukan; batang kayu yang melintang, gundukan kecil tanah, ataupun lubang bekas ledakan mortar. Adu tembak yang sengit terjadi di antara kedua kubu, walaupun lebih banyak korban berjatuhan di pihak pasukan Merwaith.
\tSaat pasukan Merwaith mulai kehilangan moralnya, tiba-tiba terdengar suara deru mekanik dari balik punggung mereka. Sebagian tentara tampak menoleh dan mulai berteriak dengan bersemangat.
\tSebuah kendaraan lapis baja dengan roda caterpillar tampak melaju dengan lambat. Kendaraan tersebut berbentuk persegi panjang dengan sebuah lubang untuk mengintip pada bagian depannya. Asap-asap hitam tampak keluar dari cerobong asap di bagian samping kendaraan tersebut.
\tLindungi siege tank! Jangan sampai mereka menghancurkannya! teriak salah satu tentara.
\tBeberapa orang tentara langsung berlari keluar dari tempat mereka berlindung dan berjalan pada sisi-sisi siege tank sambil menembakkan rifle mereka ke arah bunker. Tapi sapuan senapan mesin dari dalam bunker langsung mencabik hampir semua tentara yang keluar dari perlindungan mereka (kecuali Papa Leg).
\tDengan perlahan tapi pasti siege tank tersebut berjalan menuju dinding kota. Peluru-peluru senapan mesin tampak memantul begitu mengenai kendaraan lapis baja tersebut.
\tBegitu mencapai dinding pertahanan kota Lensar. Sang pengemudi soege tank tersebut menabrakkan kendaraannya ke dinding kota dan berusaha melarikan diri melalui palka yang terletak pada bagian belakang tank. Sayang sekali ia tertembak ketika baru berjarak sepuluh langkah dari siege tanknya.
\tUntuk beberapa detik keadaan tampak agak hening. Pasukan Merwaith mulai berlindung dan tidak membalas tembakkan, seakan mereka menunggu sesuatu. Dengan segera penjaga kota Lensar mengetahui apa yang ditunggu pasukan Merwaith.
\tSebuah ledakkan besar keluar dari dalam siege tank yang menanamkan dirinya pada dinding kota tersebut. Suara menggelegar yang menyayat telinga terdengar diikuti cahaya silau dan serpihan-serpihan logam yang melayang tinggi.
\tSetelah keadaan menjadi sedikit lebih tenang, pasukan Merwaith dapat melihat sebuah lubang besar menganga di dinding kota Lensar. Dengan cepat pasukan Merwaith langsung berlari keluar dari tempat perlindungan mereka dan menyerbu masuk.
\tAyo menangkan pertarungan ini untukku anak-anak dombaku! kata Papa Leg sambil memimpin serangan.
\tWalaupun hanya memiliki satu kaki, Papa Leg tampak dengan mudah memanjat ke lubang yang menganga tersebut. Beberapa orang penjaga kota Lensar tampak menyambut dirinya dengan senapan siap di tangan.
\tPapa Leg menembakkan pistolnya, diiringi dengan tembakkan senapan pasukan yang berdiri di belakangnya. Sambil meneriakkan raungan perang para pasukan menyerbu masuk ke dalam kota.
\tPenjaga-penjaga kota Lensar yang menampakkan dirinya untuk menghalau para penyerbu, langsung menemukan dirinya dihantam oleh tembakkan senapan ataupun dicabik-cabik oleh barisan bayonet.
\tDengan jatuhnya tembok kota, maka pasukan Merwaith mengalir masuk layaknya air bah. Dan tidak mungkin untuk menutup kebocoran tersebut tepat waktu. Kejatuhan city state Lensar pun tidak terelakkan, semua terjadi sesuai apa yang di ramalkan.
\t
***
\tBerita kemenangan tentara Merwaith dengan cepat langsung di sampaikan pada Lord Maximilian di kediamannya.
\tMy Lord, city state Lensar telah dikuasai. Perintahmu? kata seorang tentara pada Lord Maximilian yang sedang duduk di balik meja kerjanya.
\tTetapkan pemerintahan baru pada kota Lensar. kata Lord Maximilian sambil tersenyum lebar.
\tTidak, kau tidak akan melakukan hal itu tiba-tiba seseorang memotong keputusan sang Lord.
\tLord Maximilian menoleh sambil mengkerutkan keningnya.
\tBerani sekali kau, mencoba untuk melawan keputusan Lord- seru si tentara dengan marah.
\tLord Maximilian hanya memberi isyarat dengan tangannya agar si tentara berhenti bicara.
\tKalau begitu apa saranmu, Lady Phyliss. tanya Lord Maximilian dengan suara lembut yang dipaksakan.
\tBerapa besar populasi kota Lensar? tanya Lady Phyliss.
\tSekitar dua ratus ribu jiwa kurasa. kata sang Lord sambil menggaruk kepalanya.
\tUntuk sepersekian detik Lord Maximilian dapat melihat Lady Phyliss mengeluarkan senyum kejamnya. Hal tersebut membuat dirinya bergidik.
\tMusnahkan semua populasinya.
\tApa!!?? seru si tentara dan Lord Maximilian pada saat bersamaan.
\tKau tidak mendengar perintahku? Bunuh semua populasi kota Lensar.
\tTa-tapi. . . Lord Maximilian tampak terkejut mendengar perintah Lady Phyliss.
\tLakukanlah. . . Sekarang. kata Lady Phyliss dengan nada yang tajam.
\tPerintahmu my Lord? tanya si tentara dengan ragu-ragu.
\tLord Maximilian tampak merosot di kursinya sendiri, Lakukan seperti apa yang dikatakan lady ini.
\tTentara itu tampak diam saja, seakan hendak memprotes tapi tidak dapat mengatakan apapun.
\tLakukan saja. Ini perintah. kata sang Lord dengan lemah.
\tBa-baiklah tuan!
\tSi tentara langsung berlari meninggalkan ruangan begitu mendengar perintah tersebut. Ketika Lord Maximilian mendengar suara pintu ruang kerjanya ditutup ia langsung memandang Lady Phyliss dengan lemah. Wanita ini tampak makin bangga dan berkuasa seiring dengan berjalannya waktu.
\tApa selanjutnya? tanya sang Lord dengan lemah.
\tOh Maxie, apa kau sangat bersemangat hingga ingin pergi lebih jauh lagi? kata Lady Phyliss sambil memeluk si Lord dengan perlahan-lahan dari belakang.
\tKau. . . kau sudah melakukan tindakan sejauh ini. Pasti ada sesuatu lagi bukan. kata Lord Maximilian tanpa gairah.
\tLady Phyliss hanya membalas pertanyaan tersebut dengan senyuman yang sangat tipis. Apapun itu, Lord Maximilian tahu itu bukan hal yang baik.