- Beranda
- Cinta Indonesiaku
Seni Peran - Artikel
...
TS
template
Seni Peran - Artikel
Contoh Post :


0
54.9K
Kutip
23
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cinta Indonesiaku
5.4KThread•2.6KAnggota
Tampilkan semua post
raphaelsherry
#25
Kaskus ID : raphaelsherry
Kategori : Seni Peran
bentuk karya : Artikel
sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/585
keterangan : teater rakyat Mamanda asal Suku Banjar, Kalimantan Selatan bag 3
Struktur atau urutan pementasannya biasanya dibuka dengan adanya bunyi-bunyian yang berfungsi sebagai pemberitahuan kepada penonton bahwa pertunjukan akan dimulai. Pertunjukan di awal biasanya berupa acara perkenalan dengan nyanyian dan tarian. Setelah itu lakon baru dipertunjukkan. Proses penyajian lakon dilakukan secara berurutan yang disesuaikan dengan jalan cerita. Penyajiannya tidak hanya berupa dialog dan laku, namun juga diringi dengan tarian dan nyanyian. Tidak jarang cara penyajiannya dibungkus dengan lawakan dan lelucon yang biasanya muncul secara spontan sebagai bentuk kreativitas para pemainnya sendiri.
2. 6. Sumber Cerita
Tipe cerita Mamanda biasanya berupa cerita sejarah, romantis, kritik, sosial, dan penerangan. Inspirasi dalam penulisan skenario cerita Mamanda biasanya disarikan melalui hikayat syair, kisah 1001 malam, buku-buku roman, buku-buku sejarah, cerita rakyat, dan berbagai problematika kehidupan masyarakat. Melalui sumber-sumber tersebut, cerita dikemas menjadi kisah hitam-putih, yang memberikan pesan kepada masyarakat atau penontonnya untuk dapat membedakan mana kebaikan dan mana kejahatan. Sehingga, masyarakat bisa mendapatkan pemahaman yang tuntas tentang isi ceritanya, termasuk pesan baik yang ada di dalamnya.
2. 7. Musik Pengiring
Pementasan teater Mamanda diringi dengan musik dan nyanyian. Musik pengiringnya bisa berupa pantun, syair, hikayat, dan dialog tertentu yang disampaikan dengan cara dilagukan. Lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam pementasan Mamanda adalah:
Lagu Dua Harapan
Lagu Dua Raja
Lagu Dua Gandut
Lagu Raja Sarik
Lagu Tarima Kasih (Sultan)
Lagu Baladun
Lagu Mambujuk
Lagu Danding
Lagu Nasib
Lagu Tirik
Lagu Japen
Lagu Mandung-mandungan
Lagu Stambul.
3. Nilai Budaya
Seni pertunjukan (teater) rakyat Mamanda tidak hanya semata-mata hiburan saja. Ada sejumlah nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana pada umumnya, teater ini mencerminkan dan menyoal kehidupan masyarakat. Menurut Hermansyah (2007), teater rakyat berfungsi bukan saja sebagai media ekspresi diri para seniman teater ataupun sebagai tempat hiburan bagi rakyat yang memerlukannya, melainkan juga sebagai alat pendidikan bagi masyarakat di lingkungan sekitar. Dengan demikian, Mamanda juga dapat berfungsi sebagai media pendidikan yang sangat berguna bagi masyarakat umum.
Cerita-cerita yang disajikan dalam pertunjukan Mamanda selalu berisi tentang masalah-masalah dalam hidup umat manusia. Dari cerita-cerita tersebut, kita dapat mengambil manfaat atau hikmah, yaitu bagaimana kita mengenal sejarah kehidupan ini dan bagaimana kita mengambil contoh kearifan hidup yang baik. Bahkan, cerita-cerita tersebut juga dapat mengungkapkan alam pikiran masyarakat dan adat-istiadat lingkungannya. Artinya, melalui pertunjukan kesenian ini, di samping dapat merasakan keindahan rasa seninya, para penontonnya juga diajak untuk memahami pengalaman-pengalaman dan sugesti-sugesti yang tersajikan bahwa segala bentuk perilaku yang jahat, tidak baik, dan tidak jujur, pasti akan dikalahkan oleh kebenaran. Apa yang tersajikan dalam teater Mamanda biasanya sering dijadikan sebagai panutan oleh masyarakat dalam kehidupannya.
Teater Mamanda juga berfungsi sebagai media kritik sosial. Pemain-pemain Mamanda sering melontarkan kritik dan sindiran perihal kepincangan yang terjadi di masyarakat. Tentunya, kesenian ini merupakan media yang sangat menarik untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Dengan kata lain, kesenian Mamanda bisa berfungsi sebagai media demokratisasi yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya masyarakat.
4. Mamanda di Tembilahan
Teater rakyat Mamanda juga terkenal di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Bagaimana kesenian pertunjukan Mamanda yang awalnya berasal dari Kalimantan Selatan itu akhirnya dapat memasyarakat di daerah Tembilahan? Hal itu terjadi karena pada akhir abad ke-19 ada sebagian masyarakat Suku Banjar dari Kalimantan Selatan yang menjadi pendatang baru di wilayah Tembilahan, Indragiri Hilir.
Kehadiran Suku Banjar di Tembilahan tidak terjadi begitu saja yang tanpa disebabkan adanya unsur manusia dan budayanya. Proses eksodus masyarakat Suku Banjar ke Tembilahan dilatarbelakangi oleh situasi dan masalah yang terjadi.
Suku Banjar yang menetap di Kabupaten Indragiri Hilir terdiri dari sebelas anak suku, yaitu: Banjar Keluak, Banjar Amuntai, Banjarnegara, Banjar Kandangan, Banjar Barabai, Banjar Kuala, Banjarmasin, Banjar Pamengkeh, Banjar Martapura, Banjar Alabio, dan Banjar Rantau. Anak suku Banjar Keluak, Banjar Amuntai, dan Banjar Kandangan merupakan anak suku mayoritas yang mendiami Indragiri Hilir. Perpindahan masyarakat Suku Banjar tersebut tentunya juga dibarengi dengan dibawanya kesenian Mamanda yang asalnya dari Kalimantan Selatan yang kemudian dikembangkan di Tembilahan.
Para perantau Suku Banjar yang pertama telah meninggalkan daerah asalnya (Kalimantan Selatan) sekitar tahun 1859. Perjalanan mereka hingga sampai di Tembilahan memakan waktu yang sangat panjang. Apa motivasi yang melatarbelakangi proses eksodus tersebut? Mereka ternyata sedang dalam tekanan dari kolonialisme Belanda. Apalagi, pada tahun 1859, Belanda telah menguasai Kerajaan Banjarmasin. Dampaknya, pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem kerja yang disebut irakan, yaitu kerja paksa yang tidak dapat diupahkan atau diwakilkan kepada orang lain. Karena tidak ingin ditindas oleh penjajah Belanda, banyak masyarakat di sana yang kemudian melakukan eksodus ke daerah lain, terutama ke Tembilahan.
Mengapa Tembilahan kemudian jadi pilihan tempat eksodus mereka? Pada awal mulanya, diperkirakan mereka mendarat terlebih dahulu di Malaysia dan Singapura. Berdasarkan Perjanjian London tahun 1824, kedua wilayah tersebut resmi berada dalam kekuasaan Inggris. Mereka berpandangan bahwa lebih baik hidup dalam kondisi penjajahan Inggris daripada penjajahan Belanda yang dikenal sangat tidak manusiawi. Politik penjajahan yang dilakukan Inggris lebih lunak dibandingkan dengan Belanda, sehingga mereka lebih dapat merasakan kebebasan. Namun, mereka justru merasakan kehidupan yang tidak enak di sana dan memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan ke daerah lain, yaitu ke Indragiri Hilir. Pada tahun 1885 M, mereka tiba di sana. Wilayah Perigi Raja merupakan tempat singgah pertama mereka.
Salah satu suku di Tembilahan, Arbain, sebelum tahun 1950 M (diprediksikan antara tahun 1947-1949) pernah mendirikan Perkumpulan Mamanda Parit Empat Belas. Pada tahun 1950 M, Encik Arbain menyerahkan kepemimpinan Mamanda Parit Empat Belas kepada Encik Usman Ancau. Pada masa Encik Usman Ancau, Mamanda di Tembilahan berkembang pesat. Pada masa itu, sumber cerita Mamanda masih berasal dari sastra lama, seperti dari hikayat dan syair. Pada tahun 1960-an, mulai dibuat cerita sendiri yang sumbernya didasarkan pada perkembangan kehidupan masyarakat ketika itu. Alat-alat musik tradisonal yang biasa digunakan digabungkan dengan alat-alat musik modern, seperti biola, gitar, dan akordion.
Ketika terjadi peristiwa 30 S/PKI/1965, aktivitas kesenian mereka terpaksa harus terhenti. Pada tahun 1967 M, aktivitas Mamanda Parit Empat Belas diaktifkan kembali oleh Encik Abdul Hamid. Sejak masa itu, di Tembilahan juga berdiri 12 perkumpulan Mamanda. Namun demikian, lambat-laun perkumpulan-perkumpulan tersebut menghilang. Hingga kini, perkumpulan yang masih bertahan adalah Perkumpulan Mamanda Parit Empat Belas pimpinan Encik Ardani dan Perkumpulan Mamanda Pulau Palas.
Kategori : Seni Peran
bentuk karya : Artikel
sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/585
keterangan : teater rakyat Mamanda asal Suku Banjar, Kalimantan Selatan bag 3
Spoiler for :
Struktur atau urutan pementasannya biasanya dibuka dengan adanya bunyi-bunyian yang berfungsi sebagai pemberitahuan kepada penonton bahwa pertunjukan akan dimulai. Pertunjukan di awal biasanya berupa acara perkenalan dengan nyanyian dan tarian. Setelah itu lakon baru dipertunjukkan. Proses penyajian lakon dilakukan secara berurutan yang disesuaikan dengan jalan cerita. Penyajiannya tidak hanya berupa dialog dan laku, namun juga diringi dengan tarian dan nyanyian. Tidak jarang cara penyajiannya dibungkus dengan lawakan dan lelucon yang biasanya muncul secara spontan sebagai bentuk kreativitas para pemainnya sendiri.
2. 6. Sumber Cerita
Tipe cerita Mamanda biasanya berupa cerita sejarah, romantis, kritik, sosial, dan penerangan. Inspirasi dalam penulisan skenario cerita Mamanda biasanya disarikan melalui hikayat syair, kisah 1001 malam, buku-buku roman, buku-buku sejarah, cerita rakyat, dan berbagai problematika kehidupan masyarakat. Melalui sumber-sumber tersebut, cerita dikemas menjadi kisah hitam-putih, yang memberikan pesan kepada masyarakat atau penontonnya untuk dapat membedakan mana kebaikan dan mana kejahatan. Sehingga, masyarakat bisa mendapatkan pemahaman yang tuntas tentang isi ceritanya, termasuk pesan baik yang ada di dalamnya.
2. 7. Musik Pengiring
Pementasan teater Mamanda diringi dengan musik dan nyanyian. Musik pengiringnya bisa berupa pantun, syair, hikayat, dan dialog tertentu yang disampaikan dengan cara dilagukan. Lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam pementasan Mamanda adalah:
Lagu Dua Harapan
Lagu Dua Raja
Lagu Dua Gandut
Lagu Raja Sarik
Lagu Tarima Kasih (Sultan)
Lagu Baladun
Lagu Mambujuk
Lagu Danding
Lagu Nasib
Lagu Tirik
Lagu Japen
Lagu Mandung-mandungan
Lagu Stambul.
3. Nilai Budaya
Seni pertunjukan (teater) rakyat Mamanda tidak hanya semata-mata hiburan saja. Ada sejumlah nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana pada umumnya, teater ini mencerminkan dan menyoal kehidupan masyarakat. Menurut Hermansyah (2007), teater rakyat berfungsi bukan saja sebagai media ekspresi diri para seniman teater ataupun sebagai tempat hiburan bagi rakyat yang memerlukannya, melainkan juga sebagai alat pendidikan bagi masyarakat di lingkungan sekitar. Dengan demikian, Mamanda juga dapat berfungsi sebagai media pendidikan yang sangat berguna bagi masyarakat umum.
Cerita-cerita yang disajikan dalam pertunjukan Mamanda selalu berisi tentang masalah-masalah dalam hidup umat manusia. Dari cerita-cerita tersebut, kita dapat mengambil manfaat atau hikmah, yaitu bagaimana kita mengenal sejarah kehidupan ini dan bagaimana kita mengambil contoh kearifan hidup yang baik. Bahkan, cerita-cerita tersebut juga dapat mengungkapkan alam pikiran masyarakat dan adat-istiadat lingkungannya. Artinya, melalui pertunjukan kesenian ini, di samping dapat merasakan keindahan rasa seninya, para penontonnya juga diajak untuk memahami pengalaman-pengalaman dan sugesti-sugesti yang tersajikan bahwa segala bentuk perilaku yang jahat, tidak baik, dan tidak jujur, pasti akan dikalahkan oleh kebenaran. Apa yang tersajikan dalam teater Mamanda biasanya sering dijadikan sebagai panutan oleh masyarakat dalam kehidupannya.
Teater Mamanda juga berfungsi sebagai media kritik sosial. Pemain-pemain Mamanda sering melontarkan kritik dan sindiran perihal kepincangan yang terjadi di masyarakat. Tentunya, kesenian ini merupakan media yang sangat menarik untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Dengan kata lain, kesenian Mamanda bisa berfungsi sebagai media demokratisasi yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya masyarakat.
4. Mamanda di Tembilahan
Teater rakyat Mamanda juga terkenal di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Bagaimana kesenian pertunjukan Mamanda yang awalnya berasal dari Kalimantan Selatan itu akhirnya dapat memasyarakat di daerah Tembilahan? Hal itu terjadi karena pada akhir abad ke-19 ada sebagian masyarakat Suku Banjar dari Kalimantan Selatan yang menjadi pendatang baru di wilayah Tembilahan, Indragiri Hilir.
Kehadiran Suku Banjar di Tembilahan tidak terjadi begitu saja yang tanpa disebabkan adanya unsur manusia dan budayanya. Proses eksodus masyarakat Suku Banjar ke Tembilahan dilatarbelakangi oleh situasi dan masalah yang terjadi.
Suku Banjar yang menetap di Kabupaten Indragiri Hilir terdiri dari sebelas anak suku, yaitu: Banjar Keluak, Banjar Amuntai, Banjarnegara, Banjar Kandangan, Banjar Barabai, Banjar Kuala, Banjarmasin, Banjar Pamengkeh, Banjar Martapura, Banjar Alabio, dan Banjar Rantau. Anak suku Banjar Keluak, Banjar Amuntai, dan Banjar Kandangan merupakan anak suku mayoritas yang mendiami Indragiri Hilir. Perpindahan masyarakat Suku Banjar tersebut tentunya juga dibarengi dengan dibawanya kesenian Mamanda yang asalnya dari Kalimantan Selatan yang kemudian dikembangkan di Tembilahan.
Para perantau Suku Banjar yang pertama telah meninggalkan daerah asalnya (Kalimantan Selatan) sekitar tahun 1859. Perjalanan mereka hingga sampai di Tembilahan memakan waktu yang sangat panjang. Apa motivasi yang melatarbelakangi proses eksodus tersebut? Mereka ternyata sedang dalam tekanan dari kolonialisme Belanda. Apalagi, pada tahun 1859, Belanda telah menguasai Kerajaan Banjarmasin. Dampaknya, pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem kerja yang disebut irakan, yaitu kerja paksa yang tidak dapat diupahkan atau diwakilkan kepada orang lain. Karena tidak ingin ditindas oleh penjajah Belanda, banyak masyarakat di sana yang kemudian melakukan eksodus ke daerah lain, terutama ke Tembilahan.
Mengapa Tembilahan kemudian jadi pilihan tempat eksodus mereka? Pada awal mulanya, diperkirakan mereka mendarat terlebih dahulu di Malaysia dan Singapura. Berdasarkan Perjanjian London tahun 1824, kedua wilayah tersebut resmi berada dalam kekuasaan Inggris. Mereka berpandangan bahwa lebih baik hidup dalam kondisi penjajahan Inggris daripada penjajahan Belanda yang dikenal sangat tidak manusiawi. Politik penjajahan yang dilakukan Inggris lebih lunak dibandingkan dengan Belanda, sehingga mereka lebih dapat merasakan kebebasan. Namun, mereka justru merasakan kehidupan yang tidak enak di sana dan memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan ke daerah lain, yaitu ke Indragiri Hilir. Pada tahun 1885 M, mereka tiba di sana. Wilayah Perigi Raja merupakan tempat singgah pertama mereka.
Salah satu suku di Tembilahan, Arbain, sebelum tahun 1950 M (diprediksikan antara tahun 1947-1949) pernah mendirikan Perkumpulan Mamanda Parit Empat Belas. Pada tahun 1950 M, Encik Arbain menyerahkan kepemimpinan Mamanda Parit Empat Belas kepada Encik Usman Ancau. Pada masa Encik Usman Ancau, Mamanda di Tembilahan berkembang pesat. Pada masa itu, sumber cerita Mamanda masih berasal dari sastra lama, seperti dari hikayat dan syair. Pada tahun 1960-an, mulai dibuat cerita sendiri yang sumbernya didasarkan pada perkembangan kehidupan masyarakat ketika itu. Alat-alat musik tradisonal yang biasa digunakan digabungkan dengan alat-alat musik modern, seperti biola, gitar, dan akordion.
Ketika terjadi peristiwa 30 S/PKI/1965, aktivitas kesenian mereka terpaksa harus terhenti. Pada tahun 1967 M, aktivitas Mamanda Parit Empat Belas diaktifkan kembali oleh Encik Abdul Hamid. Sejak masa itu, di Tembilahan juga berdiri 12 perkumpulan Mamanda. Namun demikian, lambat-laun perkumpulan-perkumpulan tersebut menghilang. Hingga kini, perkumpulan yang masih bertahan adalah Perkumpulan Mamanda Parit Empat Belas pimpinan Encik Ardani dan Perkumpulan Mamanda Pulau Palas.
0
Kutip
Balas