- Beranda
- B-Log Collections
Is This The Real Life?
...
TS
manusiahidup
Is This The Real Life?
Is This The Real Life?

0
15.4K
399
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
B-Log Collections
3.1KThread•6.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
manusiahidup
#21
Sementara IqhaCemot menunggu diluar, manusiahidup masuk kedalam dan disambut olah seorang ibu berusia paruh baya. Setelah berbincang sebentar dengannya (dengan pembicaraan basi yang ditanggapi dengan basi juga), manusiahidup pergi dengan sukses setelah menggondol sebuah brosur dan beberapa buah stiker. sebagian besar pengunjung pun pasti tidak tahu kalau disana ada stiker gratis (yang jelas, manusiahidup mempraktekkan prinsip hit and run, ambil lalu pergi
).
gambar lebih banyak berbicara
Setelah manusiahidup melapor pada Iqhacemot, perjalanan kami lanjutkan ke destinasi utama kami. Kota Gede. Awalnya kami ingin melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus kota, akan tetapi kami mengurungkan niat itu.
Menurut salah seorang warga sekitar yang tinggal di dekat sana, rute menuju kota gede sangat rumit (penjelasannya berbelit belit). Kami juga
mengurungkan niat untuk bertanya kepada becakers, karena khawatir di jerumuskan.
Keputusannya, kami berjalan kembali menuju halte trans jogja dimana kami turun di awal perjalanan. Untuk mencapai Kotagede dari Gembira Loka, trans jogja yang kami naiki adalah nomor 2B, lalu transit sebentar (lupa nama halte tempat transitnya ), lalu melanjutkannya dengan menaiki jurusan 3B. Setelah itu, turun di halte tegal gendu, Kota Gede.
rute trans jogja
Saat itu, cuaca sangat kering. kami pun bertanya kepada salah seorang pemilik toko di dekat halte. Menurutnya, hal hal yang luar biasa dari Kota Gede ada di dekat pasar Kota Gede yang jaraknya kurang lebih 700m. Sialnya, kami tidak menemukan angkutan umum yang memadai untuk mencapai tempat itu. Sebenarnya ada opsi untuk menaiki becak, ataupun andong. Tapi, dari segi biaya, kedua alat transportasi tersebut sangat tidak menusiawi, mengingat budget kami benar benar terbatas.
Iqhacemot dan manusiahidup pun menyutujui ide untuk berjalan kaki menuju TKP. Disepanjang jalan, view yang bisa diperoleh adalah beberapa bangunan tua eksotis yang terlihat terlantar ditinggalkan pengurusnya. Selain itu, juga terdapat banyak sekali toko silver yang menjajakan kerajinan silver handmade. Oleh kareana itu, Kota Gede juga biasa dikenal sebagai sentra kerajinan perak di DIY.
Setelah beberapa ratus meter berjalan dibawah terik mentari di siang hari yang kering, kami melihat sesosok bangunan yang atapnya aneh. Untuk mengobati rasa penasaran, kami menyebrangi jalan, dan memasuki gang yang menuju bangunan beratap aneh tersebut. Disini, kami bisa berjalan dibawah bayangan atap dari bangunan bangunan yang berjajar mengisi gang, dan melindungi sejenak dari kilatan sinar ultra violet yang merusak kulit.
Kamipun mencapai bangunan beratap aneh yang kami maksudkan tadi. Rupanya bangunan itu hanyalah sebuah bangunan biasa, rumah dari seorang warga. Nothing special, kecuali desainnya. Perjalanan di lanjutkan, dan karena suasana disana tidak sepanas jalan di luar, kami terus menyusuri gang gang yang ada dan memasuki kampung kampung yang bersahabat. Beberapa rumah disana masih menyimpan sisa sisa warisan budaya jawa, yakni joglo. Bahkan, ada rumah yang saat ini masih berbahan dasar kayu.
Ada satu hal yang membuat kami heran.
Tiang listrik!!
Ya, tiang listrik. Tiang listrik di kampung ini terbuat dari kayu, dengan tinggi mencapai 15 meter dan diameter 30 cm. Suatu fenomena yang jarang dapat dinikmati di kota besar. Tiang kayu tersebut terlihat kokoh, meski terlihat kalau usianya sudah tidak muda lagi.
).gambar lebih banyak berbicara
Quote:
Setelah manusiahidup melapor pada Iqhacemot, perjalanan kami lanjutkan ke destinasi utama kami. Kota Gede. Awalnya kami ingin melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus kota, akan tetapi kami mengurungkan niat itu.
Menurut salah seorang warga sekitar yang tinggal di dekat sana, rute menuju kota gede sangat rumit (penjelasannya berbelit belit). Kami juga
mengurungkan niat untuk bertanya kepada becakers, karena khawatir di jerumuskan.
Keputusannya, kami berjalan kembali menuju halte trans jogja dimana kami turun di awal perjalanan. Untuk mencapai Kotagede dari Gembira Loka, trans jogja yang kami naiki adalah nomor 2B, lalu transit sebentar (lupa nama halte tempat transitnya ), lalu melanjutkannya dengan menaiki jurusan 3B. Setelah itu, turun di halte tegal gendu, Kota Gede.
rute trans jogja
Quote:
Saat itu, cuaca sangat kering. kami pun bertanya kepada salah seorang pemilik toko di dekat halte. Menurutnya, hal hal yang luar biasa dari Kota Gede ada di dekat pasar Kota Gede yang jaraknya kurang lebih 700m. Sialnya, kami tidak menemukan angkutan umum yang memadai untuk mencapai tempat itu. Sebenarnya ada opsi untuk menaiki becak, ataupun andong. Tapi, dari segi biaya, kedua alat transportasi tersebut sangat tidak menusiawi, mengingat budget kami benar benar terbatas.
Quote:
Iqhacemot dan manusiahidup pun menyutujui ide untuk berjalan kaki menuju TKP. Disepanjang jalan, view yang bisa diperoleh adalah beberapa bangunan tua eksotis yang terlihat terlantar ditinggalkan pengurusnya. Selain itu, juga terdapat banyak sekali toko silver yang menjajakan kerajinan silver handmade. Oleh kareana itu, Kota Gede juga biasa dikenal sebagai sentra kerajinan perak di DIY.
Quote:
Setelah beberapa ratus meter berjalan dibawah terik mentari di siang hari yang kering, kami melihat sesosok bangunan yang atapnya aneh. Untuk mengobati rasa penasaran, kami menyebrangi jalan, dan memasuki gang yang menuju bangunan beratap aneh tersebut. Disini, kami bisa berjalan dibawah bayangan atap dari bangunan bangunan yang berjajar mengisi gang, dan melindungi sejenak dari kilatan sinar ultra violet yang merusak kulit.
Kamipun mencapai bangunan beratap aneh yang kami maksudkan tadi. Rupanya bangunan itu hanyalah sebuah bangunan biasa, rumah dari seorang warga. Nothing special, kecuali desainnya. Perjalanan di lanjutkan, dan karena suasana disana tidak sepanas jalan di luar, kami terus menyusuri gang gang yang ada dan memasuki kampung kampung yang bersahabat. Beberapa rumah disana masih menyimpan sisa sisa warisan budaya jawa, yakni joglo. Bahkan, ada rumah yang saat ini masih berbahan dasar kayu.
Quote:
Ada satu hal yang membuat kami heran.
Tiang listrik!!
Ya, tiang listrik. Tiang listrik di kampung ini terbuat dari kayu, dengan tinggi mencapai 15 meter dan diameter 30 cm. Suatu fenomena yang jarang dapat dinikmati di kota besar. Tiang kayu tersebut terlihat kokoh, meski terlihat kalau usianya sudah tidak muda lagi.
Quote:
0
















