TS
macan.mungil
*****Cerita Hikmah***** Semakin Dekat Dengan Allah
Assalamualaikum wr wb,
mohon maaf mimin, momod, semuanya.... saya buat thread baru, berhubung belum ada yg buat thread tentang cerita hikmah khusus Muslim, supaya kita bisa lebih dekat dengan Allah, kita bisa merenung, kita bisa merasakan indahnya Islam...
kalaupun sudah ada, silahkan digembok saja.....
Setiap harinya akan saya update satu cerita,,, bagi temen2 semua yg ingin menambahkan, silahkan saja...
Dan bagi temen2 yang ingin terus mengikuti thread ini, silahkan di bookmark yah...
[quote=]
Index cerita hikmah sampai saat ini..
1 - 80
81 - 160
[/quote]
[quote=]
Thread Islami Lainnya
Kisah 25 Nabi dan Rasul (islam)
[Islam]✿->...All About Wanita...<-✿[Islam]
[/quote]
mohon maaf mimin, momod, semuanya.... saya buat thread baru, berhubung belum ada yg buat thread tentang cerita hikmah khusus Muslim, supaya kita bisa lebih dekat dengan Allah, kita bisa merenung, kita bisa merasakan indahnya Islam...
kalaupun sudah ada, silahkan digembok saja.....
Setiap harinya akan saya update satu cerita,,, bagi temen2 semua yg ingin menambahkan, silahkan saja...

Dan bagi temen2 yang ingin terus mengikuti thread ini, silahkan di bookmark yah...

[quote=]
Index cerita hikmah sampai saat ini..
1 - 80
81 - 160
[/quote]
[quote=]
Thread Islami Lainnya
Kisah 25 Nabi dan Rasul (islam)
[Islam]✿->...All About Wanita...<-✿[Islam]
[/quote]
1
70.3K
610
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spiritual
6.4KThread•2.8KAnggota
Tampilkan semua post
raden.plenyet
#119
Repost dari email
AIRMATA RASULULLAH SAW
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang
berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah
tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam",kata
Fatimah yang membalikkan badan dan menutup
pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang
ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada
Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali
ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan
pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata
Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya. Malaikat maut datang
menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa
Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya
sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh
kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan
Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang amat
lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat
telah menanti ruhmu. "Semua syurga terbuka lebar
menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah
lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?",
tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana
nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah
berfirman kepadaku:
"Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali
umat Muhammad telah berada
didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail
melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh
tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam,
Ali yang
disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan
wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu
itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah
direnggut ajal," kata
Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit
yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja
semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya
sudah tidak bergerak
lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan
sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat
aimanuku" "peliharalah shalat dan peliharalah
orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan,
sahabat saling
berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali
kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii,ummatii,ummatiii?" - "Umatku, umatku,
umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang
memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa
salim 'alaihi Betapa
cintanya Rasulullah kepada kita.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang
berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah
tidak mengizinkannya masuk,
"Maafkanlah, ayahku sedang demam",kata
Fatimah yang membalikkan badan dan menutup
pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang
ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada
Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali
ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan
pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata
Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya. Malaikat maut datang
menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa
Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya
sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh
kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan
Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang amat
lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat
telah menanti ruhmu. "Semua syurga terbuka lebar
menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah
lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?",
tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana
nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah
berfirman kepadaku:
"Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali
umat Muhammad telah berada
didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail
melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh
tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam,
Ali yang
disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril
memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan
wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu
itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah
direnggut ajal," kata
Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit
yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja
semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya
sudah tidak bergerak
lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan
sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat
aimanuku" "peliharalah shalat dan peliharalah
orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan,
sahabat saling
berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali
kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii,ummatii,ummatiii?" - "Umatku, umatku,
umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang
memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa
salim 'alaihi Betapa
cintanya Rasulullah kepada kita.
0