- Beranda
- Cinta Indonesiaku
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
...
TS
template
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Contoh Post :


0
105.6K
Kutip
106
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cinta Indonesiaku
5.4KThread•2.6KAnggota
Tampilkan semua post
sejuta bintang
#85
^^ sambungan dari atas
Industri Musik
Belakangan ini sudah banyak kita temui kaset-kaset Aceh yang direkam dengan berbagai jenis musik, namun sangat sedikit yang menyentuh khas Aceh. Tentu saja inilah yang disebut musik industri. Kalau musik sudah menyentuh industri, banyak hal bisa terjadi disana, seperti pertimbangan untuk memasukan lebih banyak unsur tradisi karena memerlukan biaya relatif mahal, sehingga garis yang ditempuh adalah efektifitas, yaitu murah dan laku.
Akibatnya, stamina pencarian untuk musik Aceh menjadi kecil lantaran arah yang dipilih ekonomis, seperti pemanfaatan keyboard yang dapat dengan mudah melahirkan aneka musik walau tidak menghasilkan musik maksimal. Keyboard merupakan alat musik yang dimainkan oleh satu orang saja. Sound-sound yang dilahirkan dari Keyboard terdengar kaku dan tidak sedikitpun menyentuh alat aslinya.
Industri rekaman sejenis ini diawali dengan lahirnya album Jen jen Jok pada era 80-an, dimana Penyanyi A Bakar menjadi penyanyi pertama yang berhasil mempopulerkan industri dalam musik Aceh. Setelah album itu beredar dan diterima di pasar Aceh, selanjutnya lahirlah musik-musik sejenis yang di industrikan.
Gara-gara musik Keyboard itu pula lantas di Aceh menjadi unik. Irama musik yang sempat bertahan hingga sekarang adalah remix yang di padu dengan bermacam-macam irama lainnya seperti Remix Dangdut, Disco Dut, Cha-cha Dut dan lain-lain. Hasilnya, musik Aceh tidak bergerak dan cuma berkutat di seputar yang itu-itu saja, gampang menyerap dan meniru.
Semasa Jen Jen Jok, masih ada toleransi lebih dalam muatannya seperti syair-syair Aceh yang terarah. Belum berbentuk syair-syair umum layaknya lagu-lagu Indonesia. Perdebatan soal syair Aceh muncul tatkala Nyawoung, sebuah kaset Aceh kotemporer, berhasil memuat syair-syair Aceh lama yang sesuai dengan rumusan penulisan lirik Aceh. Sejak saat itu, syair menjadi penting dalam lagu-lagu Aceh. Kaset yang terkenal di Aceh Hasan Husen merupakan bukti kalau syair menjadi penting. Lagu-lagu yang dinyanyikan Rafly itu, justru bukan lantaran musiknya, melainkan lirik yang digunakan jauh lebih akrab, dengan rumusan penulisan yang sesuai.
Masalah lirik ini memang menjadi kajian tersendiri setiap kali membicarakan musik Aceh, lantaran syair punya sejarah sendiri dalam perkembangan seni di Aceh, seperti halnya kekuatannya dalam menyalurkan pesan-pesan kepada masyarakat luas. Orang Aceh sejak dulu memang lebih dalam hal menghayati lirik, terbukti dengan berkembangnya seni syaer yang begitu besar.
Pengkajian lirik bisa dimulai dari perpuisian Aceh yang berkembang pada abad ke-19, dimana lirik itu penting dalam perang panjang melawan kompeni. Dalam perang Aceh itu, hidup seorang penyair dan penyanyi Aceh yang terkenal bernama Dolkarim. Dia membawakan puisi-puisi lagu ditengah pejuang untuk membakar semangat rakyat melawan kolonialisme.
Dengan memberikan contoh lirik yang ada hubungannya dengan semangat perjuangan, memang tak selamanya mulus dalam arti artistik, karena terbuka peluang untuk melihat lirik-lirik seperti itu dengan lebih nalar, dan darinya diperoleh semacam pegangan, bahwa puisi-puisi yang dinyanyikan untuk tujuan politis, atau berkaitan dengan pandangan politis seringkali tidak bebas sebagai seni, dan lebih banyak tertawan dalam ungkapan-ungkapan bahasa klise. Walau begitu peranan Dokarim dalam menyanyikan puisi-puisi perjuangan itu, sekurangnya memberikan jaminan akan berlakunya nilai kawirasa yang baik. Hal itu harus dilihat sebagai dorongan estetis sastra, karena adanya tradisi sastra yang bersinambung dengannya. Tradisi itu dalam sastra Aceh berlangsung sebagai ekstansi dari tradisi lirik-lirik Arab Zaman Islam.
Tradisi lirik itu kemudian dilanjutkan oleh penyair terpandang pada era 80-an abad ke-19, yaitu Teungku Cik Pante Kulu. Apa sebab dia berhasil mengembangkan tradisi lirik dikalangan masyarakat Aceh, sebab tema yang digarapnya berhubungan erat dengan agama Islam, yaitu hidup sesuai dengan jalan yang diridhoi Allah atau dalam kata-kata yang lazim disebut fi sabilillah.
Dari kajian tradisi Lirik diatas, barangkali itulah yang bisa dijadiakan acuan apabila masyarakat Aceh hanya loyal pada lirik-lirik yang menyentuh kehidupan sosial masyarakat dan agama. Hasan Husen menjadi perlu dilihat sebagai contoh tradisi lirik yang hidup di zaman sekarang, terbukti direspon oleh banyak kalangan, baik oleh agamawan maupun cendikiawan. Dalam tradisi liriknya, album Hasan Husen bukan cuma berkisah masalah agama, tetapi lebih jauh bercerita pada kehidupan sosial masyarakat yang berlangsung di Aceh.
Gambaran itupula kemudian yang menjadikan kita semakin yakin, bahwa pendekatan kemasyarakat adalah mutlak dalam melahirkan tradisi seni sebuah wilayah, tidak terkecuali Aceh. Jadi, kalau dicermati dengan teliti, tidak ada kebanggaan kita yang berlebihan pada musik Aceh yang adabahkan hingga perkembangannya sampai sekarang ini. Kalupun serius mau berkutat pada penggalian musik Aceh, yang mutlak dan harus dilakukan adalah pendekatan lagu dan irama Aceh, seperti vocal Aceh yang khas. Disamping tradisi lirik menjadi penting agar vocal menjadi kuat dan berirama. Kalau itu sudah dijangkau, maka berbicara musik Aceh bukan lagi biasa, tetapi sudah menjadi acuan penting dalam perkembangan tradisi musik dunia, mengekor pada India, Arab, dan Cina yang merupakan negara paling banyak memberi konstribusi kepada musik dunia, dan Aceh perlu mencobanya.!!!!
Oleh Jauhari Samalanga
Pemerhati sosial budaya dan Pekerja Musik Aceh, inisiator Lembaga Budaya Saman (nyawoung@yahoo.com)
Spoiler for sambungan aceh:
Industri Musik
Belakangan ini sudah banyak kita temui kaset-kaset Aceh yang direkam dengan berbagai jenis musik, namun sangat sedikit yang menyentuh khas Aceh. Tentu saja inilah yang disebut musik industri. Kalau musik sudah menyentuh industri, banyak hal bisa terjadi disana, seperti pertimbangan untuk memasukan lebih banyak unsur tradisi karena memerlukan biaya relatif mahal, sehingga garis yang ditempuh adalah efektifitas, yaitu murah dan laku.
Akibatnya, stamina pencarian untuk musik Aceh menjadi kecil lantaran arah yang dipilih ekonomis, seperti pemanfaatan keyboard yang dapat dengan mudah melahirkan aneka musik walau tidak menghasilkan musik maksimal. Keyboard merupakan alat musik yang dimainkan oleh satu orang saja. Sound-sound yang dilahirkan dari Keyboard terdengar kaku dan tidak sedikitpun menyentuh alat aslinya.
Industri rekaman sejenis ini diawali dengan lahirnya album Jen jen Jok pada era 80-an, dimana Penyanyi A Bakar menjadi penyanyi pertama yang berhasil mempopulerkan industri dalam musik Aceh. Setelah album itu beredar dan diterima di pasar Aceh, selanjutnya lahirlah musik-musik sejenis yang di industrikan.
Gara-gara musik Keyboard itu pula lantas di Aceh menjadi unik. Irama musik yang sempat bertahan hingga sekarang adalah remix yang di padu dengan bermacam-macam irama lainnya seperti Remix Dangdut, Disco Dut, Cha-cha Dut dan lain-lain. Hasilnya, musik Aceh tidak bergerak dan cuma berkutat di seputar yang itu-itu saja, gampang menyerap dan meniru.
Semasa Jen Jen Jok, masih ada toleransi lebih dalam muatannya seperti syair-syair Aceh yang terarah. Belum berbentuk syair-syair umum layaknya lagu-lagu Indonesia. Perdebatan soal syair Aceh muncul tatkala Nyawoung, sebuah kaset Aceh kotemporer, berhasil memuat syair-syair Aceh lama yang sesuai dengan rumusan penulisan lirik Aceh. Sejak saat itu, syair menjadi penting dalam lagu-lagu Aceh. Kaset yang terkenal di Aceh Hasan Husen merupakan bukti kalau syair menjadi penting. Lagu-lagu yang dinyanyikan Rafly itu, justru bukan lantaran musiknya, melainkan lirik yang digunakan jauh lebih akrab, dengan rumusan penulisan yang sesuai.
Masalah lirik ini memang menjadi kajian tersendiri setiap kali membicarakan musik Aceh, lantaran syair punya sejarah sendiri dalam perkembangan seni di Aceh, seperti halnya kekuatannya dalam menyalurkan pesan-pesan kepada masyarakat luas. Orang Aceh sejak dulu memang lebih dalam hal menghayati lirik, terbukti dengan berkembangnya seni syaer yang begitu besar.
Pengkajian lirik bisa dimulai dari perpuisian Aceh yang berkembang pada abad ke-19, dimana lirik itu penting dalam perang panjang melawan kompeni. Dalam perang Aceh itu, hidup seorang penyair dan penyanyi Aceh yang terkenal bernama Dolkarim. Dia membawakan puisi-puisi lagu ditengah pejuang untuk membakar semangat rakyat melawan kolonialisme.
Dengan memberikan contoh lirik yang ada hubungannya dengan semangat perjuangan, memang tak selamanya mulus dalam arti artistik, karena terbuka peluang untuk melihat lirik-lirik seperti itu dengan lebih nalar, dan darinya diperoleh semacam pegangan, bahwa puisi-puisi yang dinyanyikan untuk tujuan politis, atau berkaitan dengan pandangan politis seringkali tidak bebas sebagai seni, dan lebih banyak tertawan dalam ungkapan-ungkapan bahasa klise. Walau begitu peranan Dokarim dalam menyanyikan puisi-puisi perjuangan itu, sekurangnya memberikan jaminan akan berlakunya nilai kawirasa yang baik. Hal itu harus dilihat sebagai dorongan estetis sastra, karena adanya tradisi sastra yang bersinambung dengannya. Tradisi itu dalam sastra Aceh berlangsung sebagai ekstansi dari tradisi lirik-lirik Arab Zaman Islam.
Tradisi lirik itu kemudian dilanjutkan oleh penyair terpandang pada era 80-an abad ke-19, yaitu Teungku Cik Pante Kulu. Apa sebab dia berhasil mengembangkan tradisi lirik dikalangan masyarakat Aceh, sebab tema yang digarapnya berhubungan erat dengan agama Islam, yaitu hidup sesuai dengan jalan yang diridhoi Allah atau dalam kata-kata yang lazim disebut fi sabilillah.
Dari kajian tradisi Lirik diatas, barangkali itulah yang bisa dijadiakan acuan apabila masyarakat Aceh hanya loyal pada lirik-lirik yang menyentuh kehidupan sosial masyarakat dan agama. Hasan Husen menjadi perlu dilihat sebagai contoh tradisi lirik yang hidup di zaman sekarang, terbukti direspon oleh banyak kalangan, baik oleh agamawan maupun cendikiawan. Dalam tradisi liriknya, album Hasan Husen bukan cuma berkisah masalah agama, tetapi lebih jauh bercerita pada kehidupan sosial masyarakat yang berlangsung di Aceh.
Gambaran itupula kemudian yang menjadikan kita semakin yakin, bahwa pendekatan kemasyarakat adalah mutlak dalam melahirkan tradisi seni sebuah wilayah, tidak terkecuali Aceh. Jadi, kalau dicermati dengan teliti, tidak ada kebanggaan kita yang berlebihan pada musik Aceh yang adabahkan hingga perkembangannya sampai sekarang ini. Kalupun serius mau berkutat pada penggalian musik Aceh, yang mutlak dan harus dilakukan adalah pendekatan lagu dan irama Aceh, seperti vocal Aceh yang khas. Disamping tradisi lirik menjadi penting agar vocal menjadi kuat dan berirama. Kalau itu sudah dijangkau, maka berbicara musik Aceh bukan lagi biasa, tetapi sudah menjadi acuan penting dalam perkembangan tradisi musik dunia, mengekor pada India, Arab, dan Cina yang merupakan negara paling banyak memberi konstribusi kepada musik dunia, dan Aceh perlu mencobanya.!!!!
Oleh Jauhari Samalanga
Pemerhati sosial budaya dan Pekerja Musik Aceh, inisiator Lembaga Budaya Saman (nyawoung@yahoo.com)
0
Kutip
Balas