- Beranda
- Cinta Indonesiaku
Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
...
TS
template
Handicraft/Kerajinan/Ukiran - Artikel
Contoh Post :


0
74.1K
Kutip
24
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cinta Indonesiaku
5.4KThread•2.7KAnggota
Tampilkan semua post
sejuta bintang
#34
Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Bentuk Karya : Artikel Tentang Kerajinan Perak
Sumber : http://www.sabili.co.id
Keterangan : Kerajinan Perak dari Koto Gadang, Sumatera Barat
Perajin perak Koto Gadang diambang kehancuran. Bahan baku yang melangit, minimnya kunjungan wisatawan asing dan kurangnya perhatian pemerintah menjadi problem utamanya.
Perjalanan menuju Kenagarian Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Bukittinggi. Dengan jalan pintas, melewati Ngarai Sianok, jarak 10 km ini terasa lebih cepat dibanding melalui kawasan Padang Luar.
Selain itu, ketika melintasi kawasan ini, pengunjung harus menyeberangi batang (sungai) dan mendaki ngarai berselimut belantara lebat. Jalur alternatif menuju tanah kelahiran Rohana Kudus, wartawati pertama Indonesia ini pun sudah mulus.
Memasuki Nagari Koto Gadang, Anda disambut oleh uniknya arsitektur rumah adat dan indahnya Gunung Singgalang, yang menjulang di belakangnya. Sawah terbentang berpetak-petak menyemarakkan panorama nagari tempat lahirnya sejumlah tokoh nasional seperti, H Agus Salim, Emil Salim dan St Sjahrir.
Selain indahnya alam, kawasan ini juga dikenal sebagai sentra Industri kerajinan perak, sulaman, renda, tenun dan songket. Meski bukan penghasil perak, tapi berbagai kerajinan perak menjadi sektor andalan di nagari ini selama berpuluh-puluh tahun, selain berpetani dan PNS. Tapi kini, para perajin menjerit karena menurunnya penjualan.
Saat gempa 6 Maret 2007, nagari ini juga porak poranda. Pasca gempa, perajin mencoba bangkit. Namun, penjualan tetap sepi, karena wisatawan asing sebagai pembeli utama tak lagi berkunjung ke kawasan ini.
Beberapa perajin perak yang ditemui Sabili wajahnya tampak lesu. Menurut mereka, selain sepi pembeli, bahan baku yang didatangkan dari Bengkulu, Bonjol Pasaman dan Pesisir Selatan harganya semakin hari semakin tinggi. Akibatnya, harga jual produk pun mengalami kenaikan drastis.
Zulkirwan, perajin perak yang akrab dipanggil Leo, sesuai nama tokonya Silver Work Leo mengaku, sejak maraknya gangguan keamanan di beberapa daerah, disusul bencana alam yang datang silih berganti, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, kedatangan turis asing menurun drastis.
Para perajin pun mengalami kesulitan. Saat ini Koto Gadang hanya disinggahi turis domestik dan dari Malaysia. Jumlahnya pun tidak seberapa. Mereka hanya sekadar melihat-lihat tanpa membeli, ujarnya.
Beberapa perajin berspekulasi dengan memasarkan kerajinan mereka ke luar daerah. Namun, hasilnya sama saja. Saat Sabili berada di tokonya ini, terlihat sejumlah kerajinan perak yang sarat ukiran unik. Ada miniatur rumah gadang, jam gadang, pedati, kereta, sepeda motor, hingga liontin dan cincin berukir perak yang unik dan menarik.
Harganya pun relatif terjangkau, antara Rp 10 ribu sampai Rp 3 jutaan, bahkan ada yang mencapai Rp 12 juta. Kini, omset penjualannya hanya Rp 45 juta per bulan. Karenanya, dibanding dengan proses pembuatan, sebenarnya tak sebanding lagi.
Sebab, untuk menyelesaikan satu produk kerajinan perak memerlukan waktu beberapa hari.
Biasanya, ia bersama lima karyawannya berkarya pada malam hari. Sebelum 1995, Leo bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp 20 juta per bulan.
Kondisi yang sama juga dialami oleh Siti Aisyah (40). Menurutnya, dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM menyebabkan daya beli masyarakat semakin menurun.
Ia mengaku, sebelum 1995 omset penjualannya mencapai Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan. Kini omset per bulan tinggal Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.
Ditampung Amai Setia
Koto Gadang sangat beruntung memiliki tokoh legendaris sekaliger Rohana Kudus. Wartawati pertama di Indonesia yang menerbitkan surat kabar Soenting Melajoe ini sukses mendidik para wanita di kawasan ini dengan berbagai keterampilan.
Satu satunya warisan Rohana Kudus adalah Yayasan Kerajinan Amai Setia. Yayasan ini berfungsi sebagai pusat kerajinan yang menampung dan memasarkan kerajinan masyarakat Koto Gadang.
Yayasan Amai Setia ini juga memiliki museum yang menyimpan sejumlah foto dan benda sejarah warisan Minangkabau masa saisuak (dulu kala). Menurut pengelola Amai Setia Siska (28) dan Wita (39), pusat kerajinan ini didirikan 11 Februari 1911.
Yayasan ini juga dikenal sebagai organisasi wanita pertama di Minangkabau sekaligus menjadi sekolah kerajinan putri.
Dulu, setiap ada pasar malam dan pameran, Amai Setia selalu buka stand. Tapi sekarang jarang mengingat kurangnya wisatawan, ujar Siska.
Meski begitu, hingga saat ini Amal Setia tetap dipercaya oleh para pengrajin untuk memasarkan produk-produknya. Apalagi, yayasan ini selalu melakukan pembayaran kontan terhadap produk yang dibelinya. Selain dipasarkan di Koto Gadang, barang-barang souvenir ini juga dipasarkan melalui cabang Amai Setia di Jakarta dan beberapa kota lain.
Menanggapi kondisi para perajin, Sekretaris Walinagari Koto Gadang Khaidir (36) menegaskan, pemerintahan nagari telah melakukan pembinaan terhadap perajin, tapi karena daya beli masyarakat menurun akibatanya daya serap konsumen pun menurun.
Pemerintahan akan tetap melakukan pembinaan dan mencarikan bapak angkat sehingga kerajinan perak masyarakat tetap bisa berjalan, ujarnya.
Para perajin tak hanya merindukan bapak angkat yang bisa mengangkat usaha mereka menembus pasar manca negara, tapi juga bimbingan menjadi wirausaha sejati, dukungan manajemen dan permodalan. (Muhammad Subhan)
Cerita yang lain :
Kerajinan Amai Setia Koto Gadang
Kategori : Handicraft/Kerajinan/Ukiran
Bentuk Karya : Artikel Tentang Kerajinan Perak
Sumber : http://www.sabili.co.id
Keterangan : Kerajinan Perak dari Koto Gadang, Sumatera Barat
Spoiler for kerajinan perak:
Duka Perajin Perak Koto Gadang
Perajin perak Koto Gadang diambang kehancuran. Bahan baku yang melangit, minimnya kunjungan wisatawan asing dan kurangnya perhatian pemerintah menjadi problem utamanya.
Perjalanan menuju Kenagarian Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Bukittinggi. Dengan jalan pintas, melewati Ngarai Sianok, jarak 10 km ini terasa lebih cepat dibanding melalui kawasan Padang Luar.
Selain itu, ketika melintasi kawasan ini, pengunjung harus menyeberangi batang (sungai) dan mendaki ngarai berselimut belantara lebat. Jalur alternatif menuju tanah kelahiran Rohana Kudus, wartawati pertama Indonesia ini pun sudah mulus.
Memasuki Nagari Koto Gadang, Anda disambut oleh uniknya arsitektur rumah adat dan indahnya Gunung Singgalang, yang menjulang di belakangnya. Sawah terbentang berpetak-petak menyemarakkan panorama nagari tempat lahirnya sejumlah tokoh nasional seperti, H Agus Salim, Emil Salim dan St Sjahrir.
Selain indahnya alam, kawasan ini juga dikenal sebagai sentra Industri kerajinan perak, sulaman, renda, tenun dan songket. Meski bukan penghasil perak, tapi berbagai kerajinan perak menjadi sektor andalan di nagari ini selama berpuluh-puluh tahun, selain berpetani dan PNS. Tapi kini, para perajin menjerit karena menurunnya penjualan.
Saat gempa 6 Maret 2007, nagari ini juga porak poranda. Pasca gempa, perajin mencoba bangkit. Namun, penjualan tetap sepi, karena wisatawan asing sebagai pembeli utama tak lagi berkunjung ke kawasan ini.
Beberapa perajin perak yang ditemui Sabili wajahnya tampak lesu. Menurut mereka, selain sepi pembeli, bahan baku yang didatangkan dari Bengkulu, Bonjol Pasaman dan Pesisir Selatan harganya semakin hari semakin tinggi. Akibatnya, harga jual produk pun mengalami kenaikan drastis.
Zulkirwan, perajin perak yang akrab dipanggil Leo, sesuai nama tokonya Silver Work Leo mengaku, sejak maraknya gangguan keamanan di beberapa daerah, disusul bencana alam yang datang silih berganti, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, kedatangan turis asing menurun drastis.
Para perajin pun mengalami kesulitan. Saat ini Koto Gadang hanya disinggahi turis domestik dan dari Malaysia. Jumlahnya pun tidak seberapa. Mereka hanya sekadar melihat-lihat tanpa membeli, ujarnya.
Beberapa perajin berspekulasi dengan memasarkan kerajinan mereka ke luar daerah. Namun, hasilnya sama saja. Saat Sabili berada di tokonya ini, terlihat sejumlah kerajinan perak yang sarat ukiran unik. Ada miniatur rumah gadang, jam gadang, pedati, kereta, sepeda motor, hingga liontin dan cincin berukir perak yang unik dan menarik.
Harganya pun relatif terjangkau, antara Rp 10 ribu sampai Rp 3 jutaan, bahkan ada yang mencapai Rp 12 juta. Kini, omset penjualannya hanya Rp 45 juta per bulan. Karenanya, dibanding dengan proses pembuatan, sebenarnya tak sebanding lagi.
Sebab, untuk menyelesaikan satu produk kerajinan perak memerlukan waktu beberapa hari.
Biasanya, ia bersama lima karyawannya berkarya pada malam hari. Sebelum 1995, Leo bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp 20 juta per bulan.
Kondisi yang sama juga dialami oleh Siti Aisyah (40). Menurutnya, dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM menyebabkan daya beli masyarakat semakin menurun.
Ia mengaku, sebelum 1995 omset penjualannya mencapai Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan. Kini omset per bulan tinggal Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.
Ditampung Amai Setia
Koto Gadang sangat beruntung memiliki tokoh legendaris sekaliger Rohana Kudus. Wartawati pertama di Indonesia yang menerbitkan surat kabar Soenting Melajoe ini sukses mendidik para wanita di kawasan ini dengan berbagai keterampilan.
Satu satunya warisan Rohana Kudus adalah Yayasan Kerajinan Amai Setia. Yayasan ini berfungsi sebagai pusat kerajinan yang menampung dan memasarkan kerajinan masyarakat Koto Gadang.
Yayasan Amai Setia ini juga memiliki museum yang menyimpan sejumlah foto dan benda sejarah warisan Minangkabau masa saisuak (dulu kala). Menurut pengelola Amai Setia Siska (28) dan Wita (39), pusat kerajinan ini didirikan 11 Februari 1911.
Yayasan ini juga dikenal sebagai organisasi wanita pertama di Minangkabau sekaligus menjadi sekolah kerajinan putri.
Dulu, setiap ada pasar malam dan pameran, Amai Setia selalu buka stand. Tapi sekarang jarang mengingat kurangnya wisatawan, ujar Siska.
Meski begitu, hingga saat ini Amal Setia tetap dipercaya oleh para pengrajin untuk memasarkan produk-produknya. Apalagi, yayasan ini selalu melakukan pembayaran kontan terhadap produk yang dibelinya. Selain dipasarkan di Koto Gadang, barang-barang souvenir ini juga dipasarkan melalui cabang Amai Setia di Jakarta dan beberapa kota lain.
Menanggapi kondisi para perajin, Sekretaris Walinagari Koto Gadang Khaidir (36) menegaskan, pemerintahan nagari telah melakukan pembinaan terhadap perajin, tapi karena daya beli masyarakat menurun akibatanya daya serap konsumen pun menurun.
Pemerintahan akan tetap melakukan pembinaan dan mencarikan bapak angkat sehingga kerajinan perak masyarakat tetap bisa berjalan, ujarnya.
Para perajin tak hanya merindukan bapak angkat yang bisa mengangkat usaha mereka menembus pasar manca negara, tapi juga bimbingan menjadi wirausaha sejati, dukungan manajemen dan permodalan. (Muhammad Subhan)
Cerita yang lain :
Kerajinan Amai Setia Koto Gadang
0
Kutip
Balas