TS
kadalxburik
+++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)
Index
# Sate Kerbau
# Nasi Tiga Huruf
# Persekutuan Bumbu ala pesisir
# Nasi Rames Bali
# Warung Klangenan
# Pecel Mbah Wito
# Gudeg Yu Djum
# Tahu Kupat
# Kuliner Solo
# Bubur Bali
# Tepo Tahu
# Warung Makan Rosya Kebumen
# Udang Selingkuh
# Restoran Ria Rio
# Djendela Djinjer
# Rumah Makan Keluarga,Solok
# Mak Uneh
# Mie Bakso Akung
# Pecel Mbok Sadur
# Semanggi Suroboyo
# Warso Farm
# Sensasi Pinggir Kali Krasak
# Sate klathak
# Ikan Kuah Pala Banda
# Ikan,Kelapa,ubi Kayu
# Dendeng Batokok
# Sate Ambal
# Lontong Tuyuhan
# Kampung Keling
# Cakalang Asar
# Soto Ayam Pak No
# Kuliner Babel
# Megono Pekalongan
# Sate Buntel
# Bebek Basah Kuyup
# Lawar Klungkung
# Nasi Uduk Kuntilanak
# Sop Buntut Karamel
# Bakso Nuklir
# sate Kerbau
# Sate Kerbau
# Nasi Tiga Huruf
# Persekutuan Bumbu ala pesisir
# Nasi Rames Bali
# Warung Klangenan
# Pecel Mbah Wito
# Gudeg Yu Djum
# Tahu Kupat
# Kuliner Solo
# Bubur Bali
# Tepo Tahu
# Warung Makan Rosya Kebumen
# Udang Selingkuh
# Restoran Ria Rio
# Djendela Djinjer
# Rumah Makan Keluarga,Solok
# Mak Uneh
# Mie Bakso Akung
# Pecel Mbok Sadur
# Semanggi Suroboyo
# Warso Farm
# Sensasi Pinggir Kali Krasak
# Sate klathak
# Ikan Kuah Pala Banda
# Ikan,Kelapa,ubi Kayu
# Dendeng Batokok
# Sate Ambal
# Lontong Tuyuhan
# Kampung Keling
# Cakalang Asar
# Soto Ayam Pak No
# Kuliner Babel
# Megono Pekalongan
# Sate Buntel
# Bebek Basah Kuyup
# Lawar Klungkung
# Nasi Uduk Kuntilanak
# Sop Buntut Karamel
# Bakso Nuklir
# sate Kerbau
0
64.6K
289
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Domestik
10.2KThread•4.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kadalxburik
#35
Nikmatnya Cakalang Asar
Makanan tradisional di Kota Ambon konon kabarnya enak–enak. Pertama, karena ikan yang menjadi bahan baku utamanya selalu segar karena diambil dari laut di depan rumah. Kedua, gara–gara banyak tante–tante yang membeli bahan baku di pasar begitu cerewetnya. Jadi, daripada diomeli, para pedagang memilih untuk selektif menyediakan makanan jualannya. Impian akan makanan Ambon yang enak–enak itu terbentur kenyataan saat tiba di kota itu, Senin sore. "Wah, seng ada lae (tidak ada lagi) sore begini Nona.... Yang banyak cuma warung padang," kata David, tukang ojek dengan lagu kalimat meninggi.
Putar–putar Kota Ambon selama setengah jam, diantar David yang antusias mencarikan warung tradisional, masih tampak puing–puing sisa kerusuhan dan pos–pos keamanan. "Kita orang cuma mau cari hidup sekarang," kata David tanpa ditanya.
David, yang berharap banyak turis datang, tanpa diminta malamnya membawakan sebungkus bagea kenari—dodol sagu dicampur kenari—tanpa meminta bayaran. Keesokan harinya, pagi–pagi, sebuah pesan singkat ia kirimkan: warung yang menjual makanan tradisional Ambon buka pukul 10.00–16.00.
Malam itu, rombongan wartawan yang baru saja mencoba penerbangan perdana Batavia Air diundang Ketua Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Maluku Andre Sitanala untuk mencicipi lezatnya ikan laut Ambon di Restoran Aneka Sari, di daerah Urimesing. Di atas meja terhidang ikan kerapu, ikan bubara, ikan lema, ikan kakap, dan ikan baronang, yang semuanya dibakar.
Ikan laut segar yang terasa manis itu menjadi semakin lezat gara–gara sambal colo–colo yang diberikan sepiring kecil untuk setiap orang. Sambal yang terbuat dari air jeruk nipis dengan cabai, tomat, garam, bawang merah, dan daun kemangi ini membuat semua tamu makan dengan lahap. Cemplungkan saja potongan ikan yang kenyal saking segarnya ke dalam sambal itu, taruh di atas nasi hangat, semua pun diam, berkonsentrasi menikmati makan malam. Apalagi ditemani jus gandaria—buah setempat yang berbuah setahun sekali—yang rasanya manis–asam, malam itu semua asyik menikmati hidangan di hadapannya.
Dimasak sendiri
Keesokan harinya, seorang warga yang berulang tahun mengundang Kompas datang ke rumahnya. Rupanya, makanan tradisional kebanyakan masih dimasak sendiri oleh warga. Tidak heran, tidak banyak restoran yang menyediakannya. "Kalau mau makan makanan khas Ambon, adanya di rumah...," begitu tawaran Wellem.
Di atas meja telah terhidang sepiring kohu–kohu yang bentuknya mirip urap. Di sampingnya ada ketela dan singkong rebus, teman setia untuk dimakan dengan kohu–kohu. Kohu–kohu ini lagi–lagi berbahan dasar cabikan ikan tongkol yang dicampur dengan parutan kelapa mengkal yang disangrai hingga kering, serta taoge pendek, terung, kacang panjang mentah, serta perasan air jeruk nipis, bawang merah, cabai rawit, dan kemangi.
Hidangan ini menjadi lauk yang paling mantap dimakan pakai tangan dengan singkong rebus. Rasa ikan segarnya dipadukan dengan asamnya jeruk dan segarnya sayur–mayur yang tidak dimasak.
Di samping kohu–kohu ada ikan cakalang asar yang berwarna coklat–hitam mengilat. Konon, semakin mengilat, semakin baik kualitasnya. Ikan cakalang asar alias ikan tongkol yang diasap ini dimakan lagi–lagi dengan sambal colo–colo yang artinya celup–celup. Tanpa pakai nasi pun ikan asar dengan colo–colo ini sudah sangat lezat digado. Apalagi kalau daging ikan dicocolkan dan dimakan dengan irisan cabai dalam sambal, rasanya yang pedas–pedas asam membuat mulut berdecap–decap.
"Makan sambil duduk dengan keluarga, keringatan, sambil kepedasan... Wahhh... mantap," kata Yopie yang asyik menggado cakalang asar dengan colo–colo sambil duduk angkat kaki di sudut ruangan.
Silakan seruput
Pulang dari sana, di Hotel Mutiara yang asri telah tersedia semeja hidangan makanan Maluku. Pasangan Andre dan Reita yang menjadi tuan rumah memeragakan cara menyantap papeda yang khas itu. Kalau soal bentuknya, bubur sagu untuk papeda ini tidak lain tidak bukan ya... lem sagu. Biasanya diambil dari mangkok tidak dengan sendok, tetapi memakai garpu atau lidi untuk melilit–lilitkan "lem" ini dan memindahkan ke piring.
Malam itu papeda disajikan bercampur dengan kuah ikan kuning yang terbuat dari ikan tongkol berbumbu kunyit dan jeruk nipis. Kuah yang berasa asam itu membanjiri bubur sagu. Dari semuanya, paling unik cara makan papeda, yaitu diseruput langsung dari piring tanpa menggunakan sendok.
Papeda ini juga biasanya dimakan pagi–pagi saat sarapan dan paling enak dihidangkan panas–panas. Selain dengan kuah ikan kuning, papeda bisa dimakan dengan sayur bunga pepaya yang pahit–pahit pedas itu, atau dengan lauk lainnya.
Di warung–warung yang menjual makanan tradisional, harga makanan relatif murah. Seporsi papeda, misalnya, bisa diperoleh dengan harga Rp 500–Rp 1.000 per satu sendok besar. Setelah itu, mau dipadankan dengan menu apa, tinggal tunjuk ke panci–panci yang berderet di atas meja. Habis itu, tinggal makan pisang ambon yang kalau di Ambon namanya jadi pisang meja karena harus selalu ada di atas meja



Makanan tradisional di Kota Ambon konon kabarnya enak–enak. Pertama, karena ikan yang menjadi bahan baku utamanya selalu segar karena diambil dari laut di depan rumah. Kedua, gara–gara banyak tante–tante yang membeli bahan baku di pasar begitu cerewetnya. Jadi, daripada diomeli, para pedagang memilih untuk selektif menyediakan makanan jualannya. Impian akan makanan Ambon yang enak–enak itu terbentur kenyataan saat tiba di kota itu, Senin sore. "Wah, seng ada lae (tidak ada lagi) sore begini Nona.... Yang banyak cuma warung padang," kata David, tukang ojek dengan lagu kalimat meninggi.
Putar–putar Kota Ambon selama setengah jam, diantar David yang antusias mencarikan warung tradisional, masih tampak puing–puing sisa kerusuhan dan pos–pos keamanan. "Kita orang cuma mau cari hidup sekarang," kata David tanpa ditanya.
David, yang berharap banyak turis datang, tanpa diminta malamnya membawakan sebungkus bagea kenari—dodol sagu dicampur kenari—tanpa meminta bayaran. Keesokan harinya, pagi–pagi, sebuah pesan singkat ia kirimkan: warung yang menjual makanan tradisional Ambon buka pukul 10.00–16.00.
Malam itu, rombongan wartawan yang baru saja mencoba penerbangan perdana Batavia Air diundang Ketua Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Maluku Andre Sitanala untuk mencicipi lezatnya ikan laut Ambon di Restoran Aneka Sari, di daerah Urimesing. Di atas meja terhidang ikan kerapu, ikan bubara, ikan lema, ikan kakap, dan ikan baronang, yang semuanya dibakar.
Ikan laut segar yang terasa manis itu menjadi semakin lezat gara–gara sambal colo–colo yang diberikan sepiring kecil untuk setiap orang. Sambal yang terbuat dari air jeruk nipis dengan cabai, tomat, garam, bawang merah, dan daun kemangi ini membuat semua tamu makan dengan lahap. Cemplungkan saja potongan ikan yang kenyal saking segarnya ke dalam sambal itu, taruh di atas nasi hangat, semua pun diam, berkonsentrasi menikmati makan malam. Apalagi ditemani jus gandaria—buah setempat yang berbuah setahun sekali—yang rasanya manis–asam, malam itu semua asyik menikmati hidangan di hadapannya.
Dimasak sendiri
Keesokan harinya, seorang warga yang berulang tahun mengundang Kompas datang ke rumahnya. Rupanya, makanan tradisional kebanyakan masih dimasak sendiri oleh warga. Tidak heran, tidak banyak restoran yang menyediakannya. "Kalau mau makan makanan khas Ambon, adanya di rumah...," begitu tawaran Wellem.
Di atas meja telah terhidang sepiring kohu–kohu yang bentuknya mirip urap. Di sampingnya ada ketela dan singkong rebus, teman setia untuk dimakan dengan kohu–kohu. Kohu–kohu ini lagi–lagi berbahan dasar cabikan ikan tongkol yang dicampur dengan parutan kelapa mengkal yang disangrai hingga kering, serta taoge pendek, terung, kacang panjang mentah, serta perasan air jeruk nipis, bawang merah, cabai rawit, dan kemangi.
Hidangan ini menjadi lauk yang paling mantap dimakan pakai tangan dengan singkong rebus. Rasa ikan segarnya dipadukan dengan asamnya jeruk dan segarnya sayur–mayur yang tidak dimasak.
Di samping kohu–kohu ada ikan cakalang asar yang berwarna coklat–hitam mengilat. Konon, semakin mengilat, semakin baik kualitasnya. Ikan cakalang asar alias ikan tongkol yang diasap ini dimakan lagi–lagi dengan sambal colo–colo yang artinya celup–celup. Tanpa pakai nasi pun ikan asar dengan colo–colo ini sudah sangat lezat digado. Apalagi kalau daging ikan dicocolkan dan dimakan dengan irisan cabai dalam sambal, rasanya yang pedas–pedas asam membuat mulut berdecap–decap.
"Makan sambil duduk dengan keluarga, keringatan, sambil kepedasan... Wahhh... mantap," kata Yopie yang asyik menggado cakalang asar dengan colo–colo sambil duduk angkat kaki di sudut ruangan.
Silakan seruput
Pulang dari sana, di Hotel Mutiara yang asri telah tersedia semeja hidangan makanan Maluku. Pasangan Andre dan Reita yang menjadi tuan rumah memeragakan cara menyantap papeda yang khas itu. Kalau soal bentuknya, bubur sagu untuk papeda ini tidak lain tidak bukan ya... lem sagu. Biasanya diambil dari mangkok tidak dengan sendok, tetapi memakai garpu atau lidi untuk melilit–lilitkan "lem" ini dan memindahkan ke piring.
Malam itu papeda disajikan bercampur dengan kuah ikan kuning yang terbuat dari ikan tongkol berbumbu kunyit dan jeruk nipis. Kuah yang berasa asam itu membanjiri bubur sagu. Dari semuanya, paling unik cara makan papeda, yaitu diseruput langsung dari piring tanpa menggunakan sendok.
Papeda ini juga biasanya dimakan pagi–pagi saat sarapan dan paling enak dihidangkan panas–panas. Selain dengan kuah ikan kuning, papeda bisa dimakan dengan sayur bunga pepaya yang pahit–pahit pedas itu, atau dengan lauk lainnya.
Di warung–warung yang menjual makanan tradisional, harga makanan relatif murah. Seporsi papeda, misalnya, bisa diperoleh dengan harga Rp 500–Rp 1.000 per satu sendok besar. Setelah itu, mau dipadankan dengan menu apa, tinggal tunjuk ke panci–panci yang berderet di atas meja. Habis itu, tinggal makan pisang ambon yang kalau di Ambon namanya jadi pisang meja karena harus selalu ada di atas meja
Spoiler for cakalang asar:
Spoiler for cakalang asar:
Spoiler for cakalang asar:
Spoiler for cakalang asar:



0
[/IMG]
[/IMG]
[/IMG]
[/IMG]