- Beranda
- Cinta Indonesiaku
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
...
TS
template
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Contoh Post :


0
105.8K
Kutip
106
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cinta Indonesiaku
5.4KThread•2.7KAnggota
Tampilkan semua post
sejuta bintang
#80
Kaskus ID : verditch
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Tarian Jawa
Sumber : http://heritageofjava.com/portal/art...90310005808996
Keterangan : Artikel mengenai Tarian Jawa
SERATUS tahun silam, negara kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk. Yang ada kelompok- kelompok etnis seperti Jawa, Bali, Minang, dan Melayu yang hidup terpisah-pisah di bawah kekuasaan penjajah Belanda. Sebelum penjajah hadir, penguasa pribumi-raja-raja, terutama Jawa dan Bali- melegitimasikan kekuasaan dan pengaruhnya dengan patronase dan penyelenggara berbagai pertunjukan sebagai bagian dari upacara negara, agama, atau kegiatan rekreasi dan hiburan semata.
Melalui upacara spektakuler seperti garebeg, sekaten, eka dasa rudra, dan galungan para raja menunjukkan kebesarannya. Melalui wacana konsep dewa-raja, ratu gung binathara, gelar kebesaran sayidin panata gama kalifatullah tanah Jawa, rakyat diyakinkan akan kekuasaan dan kebesaran penguasa. Masyarakat Jawa masa lalu terbagi dua kelompok para priyagung dan rakyat biasa (kawula alit). Posisi tak menguntungkan rakyat kecil ini secara tradisi harus diterima dengan patuh tanpa bertanya.
Masuknya penjajah Belanda memperburuk situasi hidup. Raja-raja, penguasa lokal yang didewakan rakyat, tak lagi berkuasa penuh tetapi harus tunduk dan melayani kepentingan penjajah Belanda. Awalnya, para penguasa pribumi secara sporadis melawan Belanda. Mereka berjuang sendiri-sendiri dengan kekuatan ekonomi, militer, teknologi, dan strategi yang tak memadai, karenanya banyak yang tergilas.
Tiga ratus tahun berjuang tanpa hasil, raja-raja Jawa dan Bali kemudian banyak yang pasrah dan memusatkan perhatiannya pada kegiatan gamelan, tari dan wayang, atau mistik. Wacana budaya pada saat ini adalah bertahan hidup. Kebesaran raja-raja Jawa sebenarnya tinggal nama, karena secara politik dan ekonomi mereka sangat bergantung kepada Pemerintah Hindia Belanda. Ada kalanya para raja justru membantu penjajah Belanda mengeksploitasi rakyatnya.
Patronase pertunjukan tari, wayang dan gamelan tetap, walau jumlahnya berkurang. Upacara-upacara besar yang diselenggarakan raja berubah fungsi dari sebuah ritual yang mengandung martabat menjadi hiburan atau klangenan yang lebih mementingkan gebyar wujud daripada esensi isi. Upacara garebeg misalnya, tak lagi diselenggarakan semata-mata untuk keselamatan dan kemakmuran Raja Jawa dan rakyatnya, tetapi juga (dan terutama) untuk Kanjeng Ratu Wilhelmina.
Memasuki abad ke-20, seiring dengan pergerakan nasional, terjadi demokratisasi dan komersialisasi. Seni pertunjukan yang semula dihayati sebagai ekpresi budaya perlahan-lahan berubah menjadi produk atau komoditas. Tontonan keraton yang semula merupakan klangenan kaum ningrat, diproduksi secara populer untuk rakyat biasa. Di Surakarta, Sunan Paku Buwono X membuka Taman Hiburan Sri Wedari dengan pertunjukan wayang orang yang main setiap malam. Masyarakat Surakarta dan sekitarnya (yang masih kuat berorientasi ke budaya istana), menyambut dengan gembira. Melalui pertunjukan wayang orang, mereka bisa mengidentifikasikan dirinya dengan kaum priyayi dan bisa mengagumi kebesaran masa silam. Raja dan rakyat memiliki perasaan yang sama dalam menghadapi penjajah Belanda.
Di Yogyakarta, dengan restu Sultan, perkumpulan tari Krida Beksa Wirama didirikan tahun 1918 dan sejak itu tarian keraton boleh diajarkan kepada rakyat banyak. Upaya meneguhkan legitimasi kekuasaan raja tetap dilakukan dengan patronase pertunjukan gamelan, tari, dan wayang. Selama memerintah (1921-39), Sultan Hamengku Buwono VIII mementaskan 11 lakon wayang orang. Beberapa di antaranya didukung oleh 300-400 seniman dan mengambil waktu 3-4 hari, dari jam 06:00 sampai 23:00.
Di Bali, hadirnya Belanda mendorong seniman tari dan gamelan untuk menciptakan karya-karya sekuler yang setiap saat dapat dimainkan untuk hiburan wisatawan. Gamelan kebyar yang spektakuler dan cemerlang muncul pada awal abad ke-20 dan dengan cepat menyebar dari Bali Utara ke seluruh wilayah Bali. Merespon gamelan kebyar yang tengah digemari, seniman tari desa dari Tabanan, I Mario, menciptakan karya-karya unggul yang sekarang dikenal sebagai tari Kebyar Terompong dan Jago Tarung. Sementara interaksi seniman tari Bali dengan pelukis Jerman Walter Spier, membuahkan tarian Kecak sekular yang kemudian dikenal dengan Monkey Dance.
Hadirnya Pemerintah Hindia Belanda di satu pihak menyengsarakan rakyat, di lain pihak memungkinkan seniman Jawa dan Bali memperkenalkan keseniannya kepada bangsa lain. Rombongan kesenian (gamelan) Jawa pertama ke luar negeri diberangkatkan tahun 1893, ketika pemerintah Hindia Belanda memromosikan hasil perkebunan (teh dan kopi) Jawa ke ekspo kolonial di Chicago, Amerika Serikat. Tak aneh, jika sampai sekarang masyarakat Amerika dan Eropa menyebut kopi dengan istilah "Java".
Dari Bali, rombongan ke luar negeri bersejarah dikirim ke Exposisi Paris pada tahun 1926, di antaranya menampilkan tari Barong-Rangda yang disaksikan oleh tokoh pembaharu teater Perancis kenamaan Antonin Artaud. Terpukau menyaksikan pertarungan Barong-Rangda, Artaud menulis kesan-kesan dan visinya tentang teater baru dalam buku Theatre and Its Double yang berpengaruh luas dalam perkembangan teater dunia.
Orieantalisme
Pertemuan dengan kelompok tari modern pertama dari Amerika Serikat terjadi tahun 1925 ketika rombongan Ruth St Denis (dengan Martha Graham sebagai salah seorang penari) mengadakan pertunjukan di Jakarta. Bisa dimengerti jika pada pertemuan pertama ini interaksi terjadi berat sebelah, seniman-seniman tradisi kita lebih banyak memasok. Sementara Ruth St Denis mendapat ilham menciptakan beberapa karya Orientalis seperti Batik Vendor, Javanese Dancer, dan Balinese Dancer.
Orientalisme (Edward Said, 1989) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh masyarakat terpelajar Eropa-Amerika sebagai alat untuk menginterpretasikan wilayah dan budaya non-Barat (Oriental) seperti Mesir, Timur Tengah, Asia Selatan/India, Cina, Jepang, Korea, Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam konsep Orientalisme, masyarakat dan budaya Timur dianggap tidak mampu bersuara mewakili dirinya sendiri. Bahasa budaya, adat kebiasaan, dan sejarahnya dianggap misterius dan tidak terorganisir, dan oleh karena itu terserah bagi Barat untuk melengkapi konteks guna menginterpretasi dan mengkodifikasikannya. Selama beratus tahun masa kolonialisme, hermeneutika, cara memandang dan menilai orang dan budaya Timur yang salah tersebut diterapkan.
Sekalipun demikian dari perempat pertama abad ke-20, pantas dicatat nama seorang seniman Jawa-Yogyakarta yang kemudian menetap di negeri Belanda, RM Jodjana, yang menciptakan karya-karya tari modern yang cukup dipuji di forum dunia. "(Jodjana) dapat membuat wajahnya seperti topeng, menyiratkan ketenangan jiwa yang menunjukkan kemampuannya dalam mengontrol segala bentuk emosi" (The Saturday Review). Dari komentar di atas, tampak sekali kualitas gerak dan ekspresi tari Jawa masih kuat mewarnai pertunjukkan RM Jodjana.
Di Jawa dan Bali pertunjukan tari erat terkait dengan gamelan dan wayang. Empat tahun sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1941, di Keraton Yogyakarta lahir tari baru, yaitu beksan golek Menak yang menurut tradisi diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, lebih tepatnya, barangkali, oleh seniman-seniman keraton Yogya di bawah petunjuk dan patronase Sri Sultan. Tampak bahwa orientasi nilai masyarakat Jawa tradisional kepada kelompok sangat kuat. Orientasi ini menuntut kepatuhan dan penghargaan kepada yang lebih tua dan berkuasa. Di dalam penciptaan seni, orientasi kolektif-daerah dan tuntutan perfeksi-teknik lebih menonjol dari pada kreativitas. Yang juga harus diingat bahwa penciptaan genre baru di dalam konteks tradisi, sering dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen seni pertunjukkan yang sudah ada, seperti tampak dalam wayang golek menak karya Sultan HB IX yang bertolak dari wayang (golek Menak), gamelan, dan tari klasik Jawa gaya Yogyakarta.
Menjelang kemerdekaan, semasa angkatan Pujangga Baru, intelektual dan seniman Indonesia menghadapi dilema, apakah akan mengembangkan budaya Indonesia mengikuti model Barat yang menekankan pentingnya individualisme dan kreativitas, atau model Timur yang memfokus wacana kepada kesadaran kelompok dan perfeksi teknik. Berbeda dengan modernisasi seni sastra, musik dan seni rupa yang mengacu pada model Barat, modernisasi tari dilakukan bertolak dari tradisi lokal. Balet, misalnya, di Indonesia tidak pernah diterima sebagai dasar pengembangan tari secara nasional.
Setelah Indonesia Merdeka
Wacana budaya pada awal kemerdekaan Indonesia adalah menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Kepribadian nasional menjadi isu penting untuk mempersatukan rakyat Indonesia yang berlatar budaya berbeda-beda. Kebudayaan dan kesenian nasional penting tetap konservasi warisan budaya dan identitas daerah juga perlu. Dilema ini selalu menyertai perkembangan tari Indonesia.
Lima tahun setelah proklamasi Kemerdekaan (1950), pemerintah mendirikan Konservatori Karawitan (Kokar yang kemudian menjadi SMKI) yang pertama di Surakarta, Jawa Tengah. Sekolah menengah kesenian serupa menyusul didirikan di Denpasar, Bandung, Padangpanjang, Makassar, dan Surabaya. Sekolah-sekolah ini mengajarkan berbagai bentuk seni tari, musik, pedalangan, dan teater daerah dari wilayah di mana sekolah-sekolah tersebut didirikan. Dari nama yang dipilih, "konservatori", menunjukkan bahwa perhatian pemerintah terfokus pada konservasi seni tradisi.
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Tarian Jawa
Sumber : http://heritageofjava.com/portal/art...90310005808996
Keterangan : Artikel mengenai Tarian Jawa
Spoiler for Tari Tradisional Jawa:
SERATUS tahun silam, negara kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk. Yang ada kelompok- kelompok etnis seperti Jawa, Bali, Minang, dan Melayu yang hidup terpisah-pisah di bawah kekuasaan penjajah Belanda. Sebelum penjajah hadir, penguasa pribumi-raja-raja, terutama Jawa dan Bali- melegitimasikan kekuasaan dan pengaruhnya dengan patronase dan penyelenggara berbagai pertunjukan sebagai bagian dari upacara negara, agama, atau kegiatan rekreasi dan hiburan semata.
Melalui upacara spektakuler seperti garebeg, sekaten, eka dasa rudra, dan galungan para raja menunjukkan kebesarannya. Melalui wacana konsep dewa-raja, ratu gung binathara, gelar kebesaran sayidin panata gama kalifatullah tanah Jawa, rakyat diyakinkan akan kekuasaan dan kebesaran penguasa. Masyarakat Jawa masa lalu terbagi dua kelompok para priyagung dan rakyat biasa (kawula alit). Posisi tak menguntungkan rakyat kecil ini secara tradisi harus diterima dengan patuh tanpa bertanya.
Masuknya penjajah Belanda memperburuk situasi hidup. Raja-raja, penguasa lokal yang didewakan rakyat, tak lagi berkuasa penuh tetapi harus tunduk dan melayani kepentingan penjajah Belanda. Awalnya, para penguasa pribumi secara sporadis melawan Belanda. Mereka berjuang sendiri-sendiri dengan kekuatan ekonomi, militer, teknologi, dan strategi yang tak memadai, karenanya banyak yang tergilas.
Tiga ratus tahun berjuang tanpa hasil, raja-raja Jawa dan Bali kemudian banyak yang pasrah dan memusatkan perhatiannya pada kegiatan gamelan, tari dan wayang, atau mistik. Wacana budaya pada saat ini adalah bertahan hidup. Kebesaran raja-raja Jawa sebenarnya tinggal nama, karena secara politik dan ekonomi mereka sangat bergantung kepada Pemerintah Hindia Belanda. Ada kalanya para raja justru membantu penjajah Belanda mengeksploitasi rakyatnya.
Patronase pertunjukan tari, wayang dan gamelan tetap, walau jumlahnya berkurang. Upacara-upacara besar yang diselenggarakan raja berubah fungsi dari sebuah ritual yang mengandung martabat menjadi hiburan atau klangenan yang lebih mementingkan gebyar wujud daripada esensi isi. Upacara garebeg misalnya, tak lagi diselenggarakan semata-mata untuk keselamatan dan kemakmuran Raja Jawa dan rakyatnya, tetapi juga (dan terutama) untuk Kanjeng Ratu Wilhelmina.
Memasuki abad ke-20, seiring dengan pergerakan nasional, terjadi demokratisasi dan komersialisasi. Seni pertunjukan yang semula dihayati sebagai ekpresi budaya perlahan-lahan berubah menjadi produk atau komoditas. Tontonan keraton yang semula merupakan klangenan kaum ningrat, diproduksi secara populer untuk rakyat biasa. Di Surakarta, Sunan Paku Buwono X membuka Taman Hiburan Sri Wedari dengan pertunjukan wayang orang yang main setiap malam. Masyarakat Surakarta dan sekitarnya (yang masih kuat berorientasi ke budaya istana), menyambut dengan gembira. Melalui pertunjukan wayang orang, mereka bisa mengidentifikasikan dirinya dengan kaum priyayi dan bisa mengagumi kebesaran masa silam. Raja dan rakyat memiliki perasaan yang sama dalam menghadapi penjajah Belanda.
Di Yogyakarta, dengan restu Sultan, perkumpulan tari Krida Beksa Wirama didirikan tahun 1918 dan sejak itu tarian keraton boleh diajarkan kepada rakyat banyak. Upaya meneguhkan legitimasi kekuasaan raja tetap dilakukan dengan patronase pertunjukan gamelan, tari, dan wayang. Selama memerintah (1921-39), Sultan Hamengku Buwono VIII mementaskan 11 lakon wayang orang. Beberapa di antaranya didukung oleh 300-400 seniman dan mengambil waktu 3-4 hari, dari jam 06:00 sampai 23:00.
Di Bali, hadirnya Belanda mendorong seniman tari dan gamelan untuk menciptakan karya-karya sekuler yang setiap saat dapat dimainkan untuk hiburan wisatawan. Gamelan kebyar yang spektakuler dan cemerlang muncul pada awal abad ke-20 dan dengan cepat menyebar dari Bali Utara ke seluruh wilayah Bali. Merespon gamelan kebyar yang tengah digemari, seniman tari desa dari Tabanan, I Mario, menciptakan karya-karya unggul yang sekarang dikenal sebagai tari Kebyar Terompong dan Jago Tarung. Sementara interaksi seniman tari Bali dengan pelukis Jerman Walter Spier, membuahkan tarian Kecak sekular yang kemudian dikenal dengan Monkey Dance.
Hadirnya Pemerintah Hindia Belanda di satu pihak menyengsarakan rakyat, di lain pihak memungkinkan seniman Jawa dan Bali memperkenalkan keseniannya kepada bangsa lain. Rombongan kesenian (gamelan) Jawa pertama ke luar negeri diberangkatkan tahun 1893, ketika pemerintah Hindia Belanda memromosikan hasil perkebunan (teh dan kopi) Jawa ke ekspo kolonial di Chicago, Amerika Serikat. Tak aneh, jika sampai sekarang masyarakat Amerika dan Eropa menyebut kopi dengan istilah "Java".
Dari Bali, rombongan ke luar negeri bersejarah dikirim ke Exposisi Paris pada tahun 1926, di antaranya menampilkan tari Barong-Rangda yang disaksikan oleh tokoh pembaharu teater Perancis kenamaan Antonin Artaud. Terpukau menyaksikan pertarungan Barong-Rangda, Artaud menulis kesan-kesan dan visinya tentang teater baru dalam buku Theatre and Its Double yang berpengaruh luas dalam perkembangan teater dunia.
Orieantalisme
Pertemuan dengan kelompok tari modern pertama dari Amerika Serikat terjadi tahun 1925 ketika rombongan Ruth St Denis (dengan Martha Graham sebagai salah seorang penari) mengadakan pertunjukan di Jakarta. Bisa dimengerti jika pada pertemuan pertama ini interaksi terjadi berat sebelah, seniman-seniman tradisi kita lebih banyak memasok. Sementara Ruth St Denis mendapat ilham menciptakan beberapa karya Orientalis seperti Batik Vendor, Javanese Dancer, dan Balinese Dancer.
Orientalisme (Edward Said, 1989) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh masyarakat terpelajar Eropa-Amerika sebagai alat untuk menginterpretasikan wilayah dan budaya non-Barat (Oriental) seperti Mesir, Timur Tengah, Asia Selatan/India, Cina, Jepang, Korea, Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam konsep Orientalisme, masyarakat dan budaya Timur dianggap tidak mampu bersuara mewakili dirinya sendiri. Bahasa budaya, adat kebiasaan, dan sejarahnya dianggap misterius dan tidak terorganisir, dan oleh karena itu terserah bagi Barat untuk melengkapi konteks guna menginterpretasi dan mengkodifikasikannya. Selama beratus tahun masa kolonialisme, hermeneutika, cara memandang dan menilai orang dan budaya Timur yang salah tersebut diterapkan.
Sekalipun demikian dari perempat pertama abad ke-20, pantas dicatat nama seorang seniman Jawa-Yogyakarta yang kemudian menetap di negeri Belanda, RM Jodjana, yang menciptakan karya-karya tari modern yang cukup dipuji di forum dunia. "(Jodjana) dapat membuat wajahnya seperti topeng, menyiratkan ketenangan jiwa yang menunjukkan kemampuannya dalam mengontrol segala bentuk emosi" (The Saturday Review). Dari komentar di atas, tampak sekali kualitas gerak dan ekspresi tari Jawa masih kuat mewarnai pertunjukkan RM Jodjana.
Di Jawa dan Bali pertunjukan tari erat terkait dengan gamelan dan wayang. Empat tahun sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1941, di Keraton Yogyakarta lahir tari baru, yaitu beksan golek Menak yang menurut tradisi diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, lebih tepatnya, barangkali, oleh seniman-seniman keraton Yogya di bawah petunjuk dan patronase Sri Sultan. Tampak bahwa orientasi nilai masyarakat Jawa tradisional kepada kelompok sangat kuat. Orientasi ini menuntut kepatuhan dan penghargaan kepada yang lebih tua dan berkuasa. Di dalam penciptaan seni, orientasi kolektif-daerah dan tuntutan perfeksi-teknik lebih menonjol dari pada kreativitas. Yang juga harus diingat bahwa penciptaan genre baru di dalam konteks tradisi, sering dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen seni pertunjukkan yang sudah ada, seperti tampak dalam wayang golek menak karya Sultan HB IX yang bertolak dari wayang (golek Menak), gamelan, dan tari klasik Jawa gaya Yogyakarta.
Menjelang kemerdekaan, semasa angkatan Pujangga Baru, intelektual dan seniman Indonesia menghadapi dilema, apakah akan mengembangkan budaya Indonesia mengikuti model Barat yang menekankan pentingnya individualisme dan kreativitas, atau model Timur yang memfokus wacana kepada kesadaran kelompok dan perfeksi teknik. Berbeda dengan modernisasi seni sastra, musik dan seni rupa yang mengacu pada model Barat, modernisasi tari dilakukan bertolak dari tradisi lokal. Balet, misalnya, di Indonesia tidak pernah diterima sebagai dasar pengembangan tari secara nasional.
Setelah Indonesia Merdeka
Wacana budaya pada awal kemerdekaan Indonesia adalah menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Kepribadian nasional menjadi isu penting untuk mempersatukan rakyat Indonesia yang berlatar budaya berbeda-beda. Kebudayaan dan kesenian nasional penting tetap konservasi warisan budaya dan identitas daerah juga perlu. Dilema ini selalu menyertai perkembangan tari Indonesia.
Lima tahun setelah proklamasi Kemerdekaan (1950), pemerintah mendirikan Konservatori Karawitan (Kokar yang kemudian menjadi SMKI) yang pertama di Surakarta, Jawa Tengah. Sekolah menengah kesenian serupa menyusul didirikan di Denpasar, Bandung, Padangpanjang, Makassar, dan Surabaya. Sekolah-sekolah ini mengajarkan berbagai bentuk seni tari, musik, pedalangan, dan teater daerah dari wilayah di mana sekolah-sekolah tersebut didirikan. Dari nama yang dipilih, "konservatori", menunjukkan bahwa perhatian pemerintah terfokus pada konservasi seni tradisi.
0
Kutip
Balas