- Beranda
- Cinta Indonesiaku
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
...
TS
template
Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Contoh Post :


0
105.6K
Kutip
106
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cinta Indonesiaku
5.4KThread•2.6KAnggota
Tampilkan semua post
morajapalu
#11
LALOVE
Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/bud...hp?id=573&uid=
Keterangan : Alat kesenian lalove, sebagai alat pengiring tari tradisional [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]
SANTU
Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/bud...hp?id=665&uid=
Keterangan : Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]
Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/bud...hp?id=573&uid=
Keterangan : Alat kesenian lalove, sebagai alat pengiring tari tradisional [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]
Spoiler for Lalove:
Alat kesenian lalove berfungsi sebagai alat pengiring tari tradisional disamping alat lain seperti gendang. Tari tradisional ini dalam bahasa daerahnya di sebut balia, yang terdiri dari beberapa jenis. Pada mulanya lalove ini tidak sembarang ditiup, sebab bagi orang-orang yang biasa kerasukan roh mendengarnya maka dengan spontanitas orang tersebut akan kerasukan. Itulah sebabnya lalove tersebut tidak sembarang orang yang meniupnya, rebatas pada orang-orang tertentu dan di sebut bule. Lalove ini sangat penting kedudukannya dalam mengiringi tarian upacara penyembuhan, sebab apabila salah irama para penari yang udah kerasukan roh, akan marah dan mengamuk. Upacara penyembuhan dilaksanakan pada malam hari, lamanya upacara berdasarkan lamanya pasien yang kerasukan kadang-kadang sampai siang. Tetapi akhir-akhir ini alat tersebut telah banyak dipakai untuk mengikuti/ mengiringi tarian tradisional yang telah dikreasikan. Namun demikian anak-anak/ remaja masih belum mampu menggunakannya, sehingga hanya orang-orang yang telah berumur yang mampu meniupnya secara sempurna.
Bahan: Buluh dan Rotan.
Bentuk: Bulat Panjang, seperti suling. Warna: Kuning kecoklat-coklatan.
Cara pembuatannya:
1. Memilih bahan dengan cara mencari buluh yang sudah tua dan lurus. Buluh untuk lalove ini, dicari dan pilih buluh yang tumbuh digunung atau di bukit-bukit, dan rumpun yang terletak paling tinggi.
2. Sebelum menebang atau mengambil buluh tersebut, terlebih dahulu dibuatkan upacara untuk minta izin kepada penghuni/ penguasa di bukit tersebut. Upacara ini menguguhkan sesajen berupa ayam putih yang diambil darahnya sedikit lalu dilepas. Disamping itu adapula makanan, sambil membacakan mantera-mentera.
3. Selesai upacara, lalu memilih bulu yang paling tinggi, lurus dan sudah tua, dan ditebang sambil mengucapkan tebe (permisi), sebanyak 3 (tiga) batang.
4. Buluh-buluh tadi dibawa ke sungai, setelah dikeluarkan ranting-ranting, dan kemudian di sungai yang diikuti oleh pembuatnya.
5. Oleh pembuat memilih buluh yang terlebih dahulu hanytut dari buluh lainnya, dan buluh tersebut merupakan pilihan utama.
6. Buluh pilihan tersebut dipotong seruas-ruas, lalu dialirkan lagi kesungai untuk mendapatkan ruas yang utama sebagai pilihan untuk dibuat lalove.
7. Bulu yang dipotong tadi dianginkan sampai kering. Salah satu ruas buku tidak dikeluarkan. Pada bagian buku ini disayat sedikit, kemudian dililit dengan rotan yang telah diraut, sehingga antara sayatan dan lilitan rotan ada lubang untuk masuknya udara dari dalam mulut. Pada bagian yang bertolak belakang dengan bagian yang disayat tadi buat lubang sejumlah enam (6) dengan jarak yang sama tiap tiga lubang dan antara tiap tiga lubang ± 5 cm, sedangkan jarak tiap lubang ± 2 cm.
8. Untuk memperbesar suara lalove tadi pada ujungnya ditambah dengan buluh yang lebih besar, sehingga ujung lalove tadi dapat masuk dalam buluh tadi. Buluh untuk menambah besar suara lalove disebut solonga.
9. Keadaan pengrajin lalove akhir-akhir ini bila dibandingkan pada masa lalu kelihannya agak kurang, namun pada sisi lain nampaknya masih ada usaha untuk melestarikannya.
Usaha ini dikaitkan dengan dikembangkannya usaha melestarikan musik tradisional, tetapi tidak ada lagi upacara-upacara pemilihan buluh, tetapi cukup dengan memilih bulu yang berkualitas baik.
Cara memainkan
1. Dimainkan dalam posisi duduk, pada waktu malam.
2. Pada ujung yang dilit pada rotan diletakkan pada bibir dan ujung yang satunya dijepit oleh jari kaki.
3. Jari-jari tanga kiri (3 jari), telunjuk, jari tengah, dan jari manis menutup tiga lubang bagian atas, begitu pula pada 3 (tiga) lubang pada bagian bawah. Kadang-kadang ibu jari tangan kanan digunakan, apabila Lalove tersebut agak panjang sehingga posisi kaki agak terjulur ke depan.
4. Pada lubang sayatan yang dililit dengan rotan, napas dihembuskan, dan jari-jari tangan dapat bergerak tutup buka pada lubang-lubangnya.
5. Apabila suaranya kurang merdu, dapat diatur dengan cara mengatur rotan pelilit tadi.
Persebaran
Karena alat ini pada mulanya digunakan untuk mengiringi tari tradisional Balia, maka perebarannya terbatas pada orang atau kelompok yang mengadakan upacara balia sebagai upacara penyembuhan orang sakit. Namun demikian akhir-akhir ini dimana orang atau kelompok balia sudah mulai berkurang, tetapi dipihak lain ada usaha menggunakan lalove ini sebagai pengiring tari tradisional yang telah dikreasi. Nampaknya masih didominasi oleh pengikut balia, akan tetapi kaum remaja sudah mulai mencintainya, walau masih perlu belajar banyak.
Bahan: Buluh dan Rotan.
Bentuk: Bulat Panjang, seperti suling. Warna: Kuning kecoklat-coklatan.
Cara pembuatannya:
1. Memilih bahan dengan cara mencari buluh yang sudah tua dan lurus. Buluh untuk lalove ini, dicari dan pilih buluh yang tumbuh digunung atau di bukit-bukit, dan rumpun yang terletak paling tinggi.
2. Sebelum menebang atau mengambil buluh tersebut, terlebih dahulu dibuatkan upacara untuk minta izin kepada penghuni/ penguasa di bukit tersebut. Upacara ini menguguhkan sesajen berupa ayam putih yang diambil darahnya sedikit lalu dilepas. Disamping itu adapula makanan, sambil membacakan mantera-mentera.
3. Selesai upacara, lalu memilih bulu yang paling tinggi, lurus dan sudah tua, dan ditebang sambil mengucapkan tebe (permisi), sebanyak 3 (tiga) batang.
4. Buluh-buluh tadi dibawa ke sungai, setelah dikeluarkan ranting-ranting, dan kemudian di sungai yang diikuti oleh pembuatnya.
5. Oleh pembuat memilih buluh yang terlebih dahulu hanytut dari buluh lainnya, dan buluh tersebut merupakan pilihan utama.
6. Buluh pilihan tersebut dipotong seruas-ruas, lalu dialirkan lagi kesungai untuk mendapatkan ruas yang utama sebagai pilihan untuk dibuat lalove.
7. Bulu yang dipotong tadi dianginkan sampai kering. Salah satu ruas buku tidak dikeluarkan. Pada bagian buku ini disayat sedikit, kemudian dililit dengan rotan yang telah diraut, sehingga antara sayatan dan lilitan rotan ada lubang untuk masuknya udara dari dalam mulut. Pada bagian yang bertolak belakang dengan bagian yang disayat tadi buat lubang sejumlah enam (6) dengan jarak yang sama tiap tiga lubang dan antara tiap tiga lubang ± 5 cm, sedangkan jarak tiap lubang ± 2 cm.
8. Untuk memperbesar suara lalove tadi pada ujungnya ditambah dengan buluh yang lebih besar, sehingga ujung lalove tadi dapat masuk dalam buluh tadi. Buluh untuk menambah besar suara lalove disebut solonga.
9. Keadaan pengrajin lalove akhir-akhir ini bila dibandingkan pada masa lalu kelihannya agak kurang, namun pada sisi lain nampaknya masih ada usaha untuk melestarikannya.
Usaha ini dikaitkan dengan dikembangkannya usaha melestarikan musik tradisional, tetapi tidak ada lagi upacara-upacara pemilihan buluh, tetapi cukup dengan memilih bulu yang berkualitas baik.
Cara memainkan
1. Dimainkan dalam posisi duduk, pada waktu malam.
2. Pada ujung yang dilit pada rotan diletakkan pada bibir dan ujung yang satunya dijepit oleh jari kaki.
3. Jari-jari tanga kiri (3 jari), telunjuk, jari tengah, dan jari manis menutup tiga lubang bagian atas, begitu pula pada 3 (tiga) lubang pada bagian bawah. Kadang-kadang ibu jari tangan kanan digunakan, apabila Lalove tersebut agak panjang sehingga posisi kaki agak terjulur ke depan.
4. Pada lubang sayatan yang dililit dengan rotan, napas dihembuskan, dan jari-jari tangan dapat bergerak tutup buka pada lubang-lubangnya.
5. Apabila suaranya kurang merdu, dapat diatur dengan cara mengatur rotan pelilit tadi.
Persebaran
Karena alat ini pada mulanya digunakan untuk mengiringi tari tradisional Balia, maka perebarannya terbatas pada orang atau kelompok yang mengadakan upacara balia sebagai upacara penyembuhan orang sakit. Namun demikian akhir-akhir ini dimana orang atau kelompok balia sudah mulai berkurang, tetapi dipihak lain ada usaha menggunakan lalove ini sebagai pengiring tari tradisional yang telah dikreasi. Nampaknya masih didominasi oleh pengikut balia, akan tetapi kaum remaja sudah mulai mencintainya, walau masih perlu belajar banyak.
SANTU
Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/bud...hp?id=665&uid=
Keterangan : Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]
Spoiler for Santu:
Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang, atau pengisi waktu ambil bersenandung. Disamping itu alat ini juga sebagai alat komunikasi diantara para anggota kelompok sosial, sehingga ada kontak jiwa bagi para pemainnya, sehingga menambah eratnya hubungan dan perkenalan. Apabila seseorang berada ditempat lain dan ia ingin memainkan santu, maka ia dapat berhubungan dengan orang ditempat dan dipinjamkanlah alat itu kepadanya, karena ada rasa kebersamaan.
Pada masa sebelum masuknya alat-alat kesenian modern dipedesaan alat kesenian tradisional ini tersebar kepelosok-pelosok khususnya didaerah pertanian. Setelah masuknya alat kesenian yang mutakhir, maka alat ini dengan sendirinya terdesak, dan juga karena kurang digemari oleh remaja sekarang.
Cara memainkan
Alat kesenian santu ini dimainkan dalam posisi duduk bersila dengan cara dipetik atau dipukul. Tangan kiri memegang alat pada bagian tengah dengan posisi miring atau ditidurkan diatas kaki (paha) dan tangan kanan memetiknya, atau dipukul-pukul dengan kayu bulat yang kecil. Dengan demikian atau memukul-mukulkan kayu pada tali ( kulit bambu itu sendiri), dapat menimbulkan bunyi. Alat kesenian ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan. Dimainkan pada sore hari, malam hari, atau diwaktu senggang di rumah atau pondok-pondok disawah, dan dimainkan tidak dengan alat lain, kecuali bila kehendak untuk memainkannyadengan alat kesenian lain, seperti paree, tadilo, mbasi-mbasi dan lain-lain.
Cara pembuatannya.
Bahan: Bambu kayu dan rotan.
Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering.
Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas baik (Volo lau bahasa Kaili), dan batang yang tua lagi tebal. Bambu pilihan itu dipotong seruas-seruas dengan panjang ± 45 cm garis menengahnya ± 8 cm, dan buku-buku ruasnya pada kedua ujung tidak dikeluarkan sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang masih mentah, pada salah satu sisinya, bagian kulit luar dicungkil dengan parang atau pisau selebar ± 1/3 cm sampai 1/2 cm., sebanyak 4 (empat) yang merupakan tali. Kulit bambu yang dicungkil sebagai tali, pada kedua bagian ujungnya ditongkat/ dipotong dengan kayu setebal + 1 cm, sampai 1 1/2 cm. Sebelum ditongkat/ dipotong dengan kayu, terlebih dahulu pada kedua ujung bambu dililit dengan rotan (poale, Kaili) ± 5 cm, dari tiap ujung. Rotan pelilit (poale) ini dibuat agar kulit bambu yang berbentuk tali tidak terangkat ke ujung. Pada bagian tengah tepat dibawah tali dibuat 2 (dua) lubang yang bergari tengah ± 2 cm, dan diantara 2 (dua) lubang dipasang kayu penompang setinggi ± 2 cm - 3 cm agar talinya menjadi tegang.
Pada masa sebelum masuknya alat-alat kesenian modern dipedesaan alat kesenian tradisional ini tersebar kepelosok-pelosok khususnya didaerah pertanian. Setelah masuknya alat kesenian yang mutakhir, maka alat ini dengan sendirinya terdesak, dan juga karena kurang digemari oleh remaja sekarang.
Cara memainkan
Alat kesenian santu ini dimainkan dalam posisi duduk bersila dengan cara dipetik atau dipukul. Tangan kiri memegang alat pada bagian tengah dengan posisi miring atau ditidurkan diatas kaki (paha) dan tangan kanan memetiknya, atau dipukul-pukul dengan kayu bulat yang kecil. Dengan demikian atau memukul-mukulkan kayu pada tali ( kulit bambu itu sendiri), dapat menimbulkan bunyi. Alat kesenian ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan. Dimainkan pada sore hari, malam hari, atau diwaktu senggang di rumah atau pondok-pondok disawah, dan dimainkan tidak dengan alat lain, kecuali bila kehendak untuk memainkannyadengan alat kesenian lain, seperti paree, tadilo, mbasi-mbasi dan lain-lain.
Cara pembuatannya.
Bahan: Bambu kayu dan rotan.
Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering.
Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas baik (Volo lau bahasa Kaili), dan batang yang tua lagi tebal. Bambu pilihan itu dipotong seruas-seruas dengan panjang ± 45 cm garis menengahnya ± 8 cm, dan buku-buku ruasnya pada kedua ujung tidak dikeluarkan sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang masih mentah, pada salah satu sisinya, bagian kulit luar dicungkil dengan parang atau pisau selebar ± 1/3 cm sampai 1/2 cm., sebanyak 4 (empat) yang merupakan tali. Kulit bambu yang dicungkil sebagai tali, pada kedua bagian ujungnya ditongkat/ dipotong dengan kayu setebal + 1 cm, sampai 1 1/2 cm. Sebelum ditongkat/ dipotong dengan kayu, terlebih dahulu pada kedua ujung bambu dililit dengan rotan (poale, Kaili) ± 5 cm, dari tiap ujung. Rotan pelilit (poale) ini dibuat agar kulit bambu yang berbentuk tali tidak terangkat ke ujung. Pada bagian tengah tepat dibawah tali dibuat 2 (dua) lubang yang bergari tengah ± 2 cm, dan diantara 2 (dua) lubang dipasang kayu penompang setinggi ± 2 cm - 3 cm agar talinya menjadi tegang.
0
Kutip
Balas