Kaskus

Hobby

hateisworthlessAvatar border
TS
hateisworthless
[share] Sejarah & Budaya Banyuwangi - Blambangan
Ass.wr.wb
Ijinkan saya berbagi, mohon pencerahan dan maaf sebelumnya jika ada salah2 kata
:salim: kepada semua sesepuh FORSUP
Berikut share sejarah dari berbagai sumber, jika ada teman2 di forsup yg ingin menambahkan dengan menambahkan aspek2 diluar sejarah sangat diterima dengan tangan terbuka emoticon-rose

wassalamu'alaikum.wr.wb

SEJARAH SINGKAT KERAJAAN BLAMBANGAN

Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa.

Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah Kerajaan Bali. Usaha penaklukan kerajaan Mataram Islam terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah Blambangan.

SEJARAH SINGKAT BANYUWANGI

Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger ( putra Wong Agung Wilis ) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.

Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda ( Lekkerkerker, 1923 ).

Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan ( Ibid.1923 :1045 ).

Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur ( termasuk Blambangan ) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).

Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi ( yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 ( 5 tahun ) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.

Dengan demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi ( puncaknya ) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.

SITUS-SITUS BUMI BLAMBANGAN


- Makam-Makam Bupati Banyuwangi
Barat pengimaman masjid Baiturrohman terdapat makam-makam bupati Banyuwangi antara lain : Wiroguno II (1782-1818), Suronegoro (1818-1832), Wiryodono Adiningrat (1832-1867), Pringgokusumo (1867-1881), Astro Kusumo (1881-1889), sedangkan Bupati pertama Banyuwangi Mas Alit (1773-1781) gugur dan dimakamkan di Karang Asem Sedayu. Hanya bajunya saja yang dikebumikan di taman pemakaman tersebut.

- Masjid Jami’ Baiturrohman
Tanah wakaf dari masa (Wiroguno I) yang direhap pertama kali pada masa Raden Tumenggung Pringgokusumo. Dulu terdapat kaligrafi bertuliskan Allah Muhammad yang ditulis oleh Mas Muhammad Saleh dengan pengikutnya Mas Saelan. Mulai tahun 2005 sampai sekarang Masjid ini masih dalam tahap renovasi dan akan menjadi salah satu aikon Banyuwangi setelah selesai di renovasi.

- Sumur Sri Tanjung
Ditemukan pada masa Raden Tumenggung Notodiningrat (1912-1920). Terletak di timur Pendopo Kabupaten. Sri tanjung dan Sidopekso merupakan legenda turun-menurun yang merupakan kisah asmara dan kesetiaan yang merupakan cikal bakal Banyuwangi.
Konon jika sewaktu-waktu air sumur berubah bau menjadi wangi maka itu akan menjadi suatu pertanda baik / buruk yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini.


- Musium Blambangan
Berlokasi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Awalnya didirikan oleh Bupati Banyuwangi Djoko Supaat Selamet yang berkuasa pada tahun (1966-1978) di kompleks pendopo Kabupaten Banyuwangi namun pada tahun 2004 Musium direlokasikan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi hingga sekarang.
Koleksi yang dimiliki oleh museum antara lain: Berbagai macam kain batik, contoh rumah adat using Banyuwangi, kain-kain dari masa lampau, replica seni musik angklung, aneka macam senjata perang, alat-alat musik peninggalan Belanda, dan yang paling menarik perhatian pengunjung untuk melihat replica Barong dan penari Gandrong yang menjadi simbol Kota Banyuwangi

- Sonangkaryo
Sonangkaryo adalah umbul-umbul kerajinan Blambangan, menurut Mishadi hasil wawancara dengan Sayu Darmani (Tumenggungan) bahwa ibunya yang bernama Sayu Suwarsih telah lama menyimpan Sonangkaryo tersebut, namun ketika dirasa tidak kuat lagi mengemban amanah tersebut, maka dibuanglah satu kotak pusaka yang berisi umbul-umbul Sonangkaryo, Cemeti, dan Lebah penari musuh.

- Tugu TNI 0032
Taman Makam pahlawan yang terletak di bibir pantai Boom merupakan pertempuran tentara laut NKRI yang dipimpin oleh Letnan Laut Sulaiman melawan AL, AD, dan AU Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Tugu tersebut disahkan oleh Presiden RI yang pertama yaitu Bung Karno.

- Benteng Ultrech (Kodim)
Berada di batas selatan markas Kodim, dulu terdapat rumah nuansa Portugis yang dijadikan sebagai tempat pengintaian Balanda terhadap gerak-gerik orang Blambangan di pendopo pada masa pemerintahan Mas Alit.

- Inggrisan
Dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1766-1811, yang luasnya sekitar satu hektar, merupakan markas yang dulunya bernama Singodilaga, kemudian diganti dengan nama Loji (Inggris = Lodge, artinya penginapan / pintu penjagaan) yang disekitarnya dibangun lorong-lorong terhubung dengan Kali Lo (Selatan), dan Boom (Timur) akhirnya diserahkan kepada Inggris setelah Belanda kalah perang (Sumber Java’s Last Frontier, Margono. 2007),selatan berupa perkantoran yang disebut Bire (Sekarang Telkom) dan kantor pos, di daerah tersebut pernah terjadi peristiwa yang hamper mirip dengan peristiwa di hotel Yamato, Surabaya, yaitu orang-orang Blambangan dengan berani merobek bendera belanda yang berwarna merah putih biru menjadi merah putih saja.
Depan Inggrisan terdapat Tegal Loji, selatannya adalah perkampungan Belanda (Kulon dam), timurnya adalah Benteng Ultrech dan tempat penimbunan kayu gelondongan (sekarang Gedung Wanita) sebelah utara dulu sebagai kantor regent dan garasi kuda mayat (sekarang Bank Jatim) dan perumahan Kodim sekarang, dulu adalah markas polisi Jepang / kompetoi lalu jaman Belanda dijadikan perumahan svout.

- Makam Datuk Malik Ibrahim
Salah satu Waliyullah keturunan Arab Saudi yang banyak di kunjungi peziarah dari dalam dan luar Banyuwangi terletak di Desa Lateng Banyuwangi.

- Konco Hoo Tong Bio<
Terletak di Pecinan kecamatan kota Banyuwangi pada waktu terjadi pembantaian orang-orang Cina oleh VOC di Batavia, seorang yang bernama Tan Hu Cin Jin dari dratan Cina yang menaiki perahu bertiang satu.
Perahu tersebut kandas di sekitar pakem dan Tan Hu Cin Jin memutuskan menetap di wilayah Banyuwangi. Untuk mengenang peristiwa tersebut, didirikanlah klenteng Hoo Tong Bio.
Setiap tanggal 1 bulan Ciu Gwee (kalender cina), pada tengah malam sebelum tahun baru diadakan sembahyang bersama. Dalam acara tahun baru Imlek kesenian barong Said an Kong-kong ditampilkan, kemudian ada sebuah acara yang disebut Cap Go Mee dirayakan pada hari ke 15 sesudah tahun baru Imlek, dengan mengarak patung yang Maha Kong Co Tan Hu Cin Jin keliling disekitar kampung pecinan. Hal ini dimaksud kan untuk menolak bala’ dan mengharap berkah kepada Tuhan. Acara ini dimiriahkan dengan tarian barongsai dan berbagai kesenian daerah lainnya. Makanan khas yang disajikan adalah lontong Cap Go Mee.

Tak hanya itu, Hari ulang tahun tempat ibadah Tri Dharma “Hoo tong Bio” yang dibangun pada tahun 1781, ucapan itu bertujuan untuk memperingati kebesaran yang mulia Kong Co Tan Hu Cin Jin dan biasanya doadakan pd tanggal 27 Agustus.

- Watu Dodol
Sebuah batu besar terletak di daerah ketapang yang pernah ditarik oleh kapal Jepang, pernah dijadikan benteng pertahanan Jepang pada masa perang dunia II, dan pada maa setelah kemerdekaan dijadikan tempat pendaratan Belanda antara lain 14 April 1946 yang mendapatkan perlwanan orang Banyuwangi dibawah kepemimpinan Pak Musahra (orang tua dari Lurah Astroyu), 20 Juli 1946 Belanda mendapatkan perlawanan dari Yon Macan Putih yang dipimpin oleh Raden Abdul Rifa’I dan Letnan Ateng Yogasana, 21 Juli 1947, Yon Macan Putih yang berhasil menenggelamkan  kapal dan tengker milik Belanda.
Sejak dahulu kala tempat ini dijadikan tempat Upacara Agama Hindu yaitu Jala Dipuja / Melasti / Melayis yang di maksud untuk memohon anugerah dari penguasa laut, pelaksanaannya bertepatan pada saat mentari bergeser ke Utara khatulistiwa sebelum datangnya hari raya Nyepi.
Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang memberkati umatnya dengan cara mencipratkan “Tirta Suci” yaitu air suci yang diambil dari sumur pitu (tujuh sumber air). Beberapa sesaji diarak ke laut atau di mata air.

BONUS:

Nama :
Sunan Giri

Asal :
Kerajaan Blambangan

Kesaktian :
Sewaktu Bayi Terhanyut Dilautan didalam peti.


Bermula pada kerajaan Blambangan dengan sang raja bernama Prabu Minak Sembuyu. Pada saat itu kerajaan Blambangan sedang dilanda wabah penyakit dan putri sang raja Dewi Sekar Dadu turut menderita penyakit.

Raja Blambangan mengadakan sayembara, "Barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit Dewi Sekar Dadu, ia akan dikimpoikan dengan sang putrinya". Maka diundanglah Syekh Maulana Ishaq oleh raja Blambangan untuk menyembuhkan penyakit putrinya.

Syekh Maulana Ishaq berhasil menyembuhkan penyakit sang putri dengan syarat, kalau sang putri sembuh maka keluarga raja harus memeluk agama Islam. Raja setuju.

Usaha Syekh Maulana Ishaq dengan do'a nya berhasil menyembuhkan tuan putri sang raja, sesuai perjanjian maka dikimpoikannya. Tetapi raja Blambangan ingkar janji ia tidak mau memeluk agama Islam. Lalu Syekh Maulana pulang ke negeri asalnya yaitu Samudera Pasai di Aceh bagian Utara. Saat itu purti sedang hamil tujuh bulan. Suaminya berpesan bila anaknya laki-laki kelak diberi nama Raden Paku. Lalu Dewi Sekar Dadu melahirkan bayi laki-laki lalu diberi nama Raden Paku yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri.

Akan tetapi bayi tersebut singkirkan oleh raja Blambangan dimasukan ke peti dan di buang ke selat Bali. Didalam hanyutan lautan yang begitu luas peti tersebut terombang ambing terbawa arus dan ombak.

Ditengah lautan peti yang berisi bayi tersebut diangkut oleh Kapan yang melintas dan melihatnya, nahkoda kapal terheran bahwa peti yang diambilnya dari lautan didalamnya ada sosok bayi yang mungil.

Kapan tersebut batal berlayar dan kembali ke Gresik, disinilah bayi tersebut diberi nama Joko Samudera dan tumbuh menjadi dewasa.

Joko Samudera alias Sunan Giri ini dididik keagamaan oleh Sunan Ampel dan beberapa waktu berjalan Sunan Ampel mengetahui bahwa Joko Samudera adalah putera pamannya yang bernama Syekh Maulana Ishaq. Joko Samudera menyempatkan diri bertemu dengan ayahnya.

Dengan berkelana menimba ilmu keagamaan sampai ke Mekah, Sunan Giri kembali ke kerajaan Blambangan dan bertemu dengan raja Prabu Minak Sembuyu, raja terlihat senang bisa kembali betemu dengan cucunya, akhirnya agama Islam berkembang di kerajaan Blambangan.

================================
Untuk menambah semangat enaknya panas2 gini minum :

&#91;share&#93; Sejarah &amp; Budaya Banyuwangi - Blambangan

cendol ijo-ijo jika berkenan emoticon-Angkat Beer
klik timbangan dan thanks pun diterima dengan emoticon-Big Grin
0
95.4K
555
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Budaya
Budaya
KASKUS Official
2.5KThread1.6KAnggota
Tampilkan semua post
yudie278Avatar border
yudie278
#258
Sejarah Kuno Blambangan
Wah...kalo cerita mengenai blambangan, sedikit sekali sejarah atau mitos yang bercerita mengenai hal ini...yang paling terkenal ya cuma kedigdayaan Minak Jinggo dengan Damarwulan, saking populernya cerita damarwulan hingga dibuatlah kesenian JANGER oleh warga sana.

Kerajaan Blambangan kuno masih dibawah kekuasaan Bali dan tidak tersentuh oleh Kerajaan Mataram atau Majapahit, sehingga budaya blambangan tidak sama dengan budaya jawa lainnya, lebih kepada budaya bali atau hindu-india
hikayat blambangan dimulai dengan Raja yang berasal dari kediri yakni Siung Manoro dan melakukan hubungan dengan Dewi Rara Upas dari Alas Purwo, hubungan ini belum jelas apakah mereka memerintah bersama atau melalui pernikahan

Raja kedua, Kebo Marcuet, putra dari Klungkung, Bali.
Kebo Marcuet adalah anak raja klungkung yang mempunyai sepasang tanduk, hingga orangtuanya malu dan membuang ke alas Purwo, di alas purwo diambil anak oleh seorang resi sakti (pertapa) Ki Ajah Pamengger, yang merupakan kakek Joko Umbaran (Minak Jinggo). Kebo Marcuet lalu menjadi Raja di Blambangan, kesaktian kebo Marcuet meresahkan Majapahit karena terus merongrong kerajaan, diadakanlah sayembara siapa yang bia mengalahkan Kebo marcuet akan dipilih menjadi Raja di Blambangan dan dikimpoikan dengan Putri Majapahit Ratu Kencana Wungu,

Puluhan pemuda sakti tewas ditangan Kebo Marcuet, hingga datanglah Seorang Pemuda Gagah dan sakti asal brati pasuruan yang juga cucu dari Ki Ajah Pamengger guru sekaligus ayah angkat Kebo Marcuet Yakni Jaka Umbaran, kelemahan kebo Marcuet diketahui oleh Jaka Umbaran sehingga tewaslah Kebo Marcuet, Jaka Umbaran juga dibantu oleh seorang pemanjat kelapa sakti bernama Dayun. Naik Tahta lah Jaka Umbaran menjadi Raja Blambangan ketiga dengan gelar Minak Jinggo
dan Dayun penjadi sahabat sekaligus penasihat raja, dan disini tidak dikisahkan kenapa Jaka Umbaran yang gagah berubah menjadi wajah yang sangar, pincang dan agak bongkok. Sehingga pemenang sayembara yang seharusnya dinikahkan dengan Ratu kencana wungu, namun karena wajah Jaka umbaran jadi rusak dan pincang, ratu kencana wungu menolak untuk dinikahkan, hal inilah yang membuat Jaka Umbaran dendam, dan perangainya berubah menjadi ambisius, dan otoriter, dengan kesaktiannya dia meluaskan kerajaannya hingga mencaplok sebagain wilayah Majapahit sampai ke daerah Purbolinggo, puncaknya yakni dia menculik ratu Kencana Wungu dari Majapahit dan diboyong ke blambangan padahal saat itu Minak Jinggo sudah mempunyai 2 istri yang berasal dari Bali, yakni Wahito dan Puyengan. Minak Jinggo mempunyai sejata sakti dan tidak terkalahkan yakni sebuah Gada (pentungan) kuning, gada ini dikisahakan mirip dengan gada Bima (werkudoro) yakni berbentuk Rujak Polo seperti buah dewandaru, gada ini bernama Kyai Wesi Kuning.

KembaliMajapahit kelabakan, kali ini juga dimunculkan Sayembara serupa, yakni siapa yang dapat membunuh Minak Jinggo akan dinikahkan dengan ratu kencana wungu, kembali ratusan pemuda tewas mengikuti sayembara ini, hingga muncullah seorang pemuda yang juga masih pangeran Majapahit dari selir Parabu Barwijaya, yang bernama Damarwulan.

Peperangan anatara Damarwulan dan minak jinggo diceritakan sampai berhari2 karena sama-sama sakti, kisah perjuanagn dan peperangan ini sangatlah populer disana sehingga kesenian pun diberi nama JANGER, dan cerita peperangan ini juga dibuatkan sebuah pantun yang sering dinyanyikan oleh sinden2 dan para pelaku kesenian lainnya, inilah pantunnya

Anjasmara arimami
Masmirah kulaka warta
Aning kutha Prabalingga
Prang tandhing lan Urubisma
Karia mukti wong ayu
Pun kakang pamit palastra

kisah cerita damarwulan dapat mengalahkan Minak Jinggo hingga tewas, sehigga Ratu kencana wungu dapat diselamatkan dan diboyong ke majapahit, dan damarwulan dinikahkan dengan ratu kencana wungu dan menjadi raja, disni tidak dijelaskan menjadi raja majapahit atau bukan.

Kerajaan Blambangan yang kosong, diisi oleh Patih Siung Laut, yang asli Blambangan, dia mempunyai putri cantik bernama Dewi Sedah Merah yang akan dinikahkan dengan Patih Joto Suro, namun sang putri memilih kabur ke Mataram (Jawa Tengah) bersama kekasihnya Pangeran Julang.
Siung Laut bersama istrinya hijrah ke Bali menjadi raja bergelar Jaya Prana dan Layon Sari.

Lalu Jatu Suro menjadi Raja di Blambangan, dan menyerang Mataram untuk mengambil kembali dewi Sedah merah untuk dinikahi, namun Dewi sedah merah memilih bunuh diri. Jatu Suro kembali menginginkan seorang untuk dinikahi, kali ini istri patihnya Ario Bendung, untuk mengakalinya Ario Bendung disuruh menyerang Mataram, ketika Ario bendung menyerang mataram sang istri didekati Joto suro, sang putri inipun memilih bunuh diri, Cerita ini sampai ke Ario Bendung, Ario Bendung marah dan mengamuk dia lalu membunuh Joto Suro, setelah membunuh entah mengapa Sang Ario Bendungpun bunuh diri. Diceritakan setelah kisah Ario Bendung ini kerajaan blambangan kosong, dan masyarakatnya berboyong2 pindah ke mataram. Blambangan dilanda Lahar, sehingga seluruh kerajaan tertutup oleh lahar, dan lama kelamaan Blambangan menjadi hutan belantara bagian dari Alas Purwo...
Sampai disini habis cerita Kerajaan Blambangan.

Yang menarik dalam sejarah atau babad tanah Jawi tidak ada terdapat nama Damarwulan.
Yang ada adalah kisah Seorang Putri Brawijaya III yang bernama Dewi Kencanawulan yang menikah dengan Raja pengging bernama Prabu Pancadriya mempunyai putri bernama Asmayawati/Dewi Asamaya Sekar yang nikah dengan Raja Buaya Putih dan mempunyai Seorang Putra bernama Raden Jaka Sengara, disini disebutkan Putri Brawijaya IV yang bernama Retno Ayu pembayun diculik Raja Blambangan yang bernama Menak Dah Putih atau Minak Jinggo, Raden Jaka Sengara mengikuti sayembara Majapahit dan membunuh Minak Jinggo, Retno Ayu Pembayunpun diboyong oleh Raden Jaka Sengara yang merupakan bekas Kerajaan Pengging yang waktu itu dalam kekuasaan Kerajaan Demak.

Raden Jaka Sengara yang membela Demak gugur dalam Perang saudara antara Mapahit dan Demak. Dan meninggalkan dua orang Putra, yakni:
1.R. Kebo Karinasan ----> Pertapa gunung Merapi
2.R. Kebo Kenanga/ Ki ageng pengging-----> Ayah dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya murid Sunan Kalijaga yang merupakan Raja Pajang yang terkenal sakti mandraguna

gitu aja kali ya...seklumit kisah Kerajaan Blambangan Kuno...
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.