- Beranda
- Martial Arts
Lo Ban Teng....Siauw Gok Bukoan Return
...
TS
so kon lon
Lo Ban Teng....Siauw Gok Bukoan Return
Setelah porak porandanya Kaskus akibat kejadian kemaren kaya nya udah saatnya Thread ini diidupin lagi dari mati surinya. Di sini kita bisa bahas mengenai Ngo Cho Kun atau Wu Zu Quan khususnya aliran Lo Ban Teng.
Tadi sore tiba2 hp gw bunyi dan ternyata gw dapet berita yang bikin gw seneng banget. Siauw Gok Bukoan akan buka cabang di Jakarta Timur di daerah Duren Sawit.
Jadi buat temen2 yang berdomisili di Jakarta Timur dan sekitarnya sebentar lagi kesempatan untuk berlatih Ngo Cho Kun akan terbuka lebar. Buat yang interes bisa kontak gw atau Bro Euwin yah. Makin cepet daftar makin cepet juga latihan bisa dimulai.
Gw pribadi sangat.....sangat....sangat....sangat ngarepin temen2 ikut latihan jadi latihan bisa dimulai secepatnya. Kenapa?????? Karena gw udah jatuh cinta sama aliran ini tapi berhubung jadwal kerjaan gw sangat gila jadi gw ga bisa dateng latihan ke Tangerang. Rumah gw daerah Dure Sawit juga jadi kabar Siauw Gok Bukoan mau buka deket rumah gw kedengeran lebih indah dari kabar naek gaji buat gw..........hahahaha....
Should you guys need more info please don't hesitate to call us.
Faisal
98978862
Info Tempat Latihan Siauw Gok Bukoan
Cengkareng n Tangerang Region:
1. Perumahan Batu Ceper Tengerang (sekretariat)
2. Modernland
3. Villa Melati Mas (BSD)
4. Gading Serpong
5. BSD
6. SETOS (Serpong Town Square)
West Jakarta:
1. Pengukiran III
2. Jembatan V
3. Kosambi Baru
South Jakarta
1. Kebayoran Baru, masih fresh nih...contact Bro Euwin for detail
Next!
East Jakarta (On Progress)
Untuke sementara ini Perguruan Siauw Gok Bukoan belum membuka cabang perguruan di luar negri
Best Regards
Tadi sore tiba2 hp gw bunyi dan ternyata gw dapet berita yang bikin gw seneng banget. Siauw Gok Bukoan akan buka cabang di Jakarta Timur di daerah Duren Sawit.
Jadi buat temen2 yang berdomisili di Jakarta Timur dan sekitarnya sebentar lagi kesempatan untuk berlatih Ngo Cho Kun akan terbuka lebar. Buat yang interes bisa kontak gw atau Bro Euwin yah. Makin cepet daftar makin cepet juga latihan bisa dimulai.
Gw pribadi sangat.....sangat....sangat....sangat ngarepin temen2 ikut latihan jadi latihan bisa dimulai secepatnya. Kenapa?????? Karena gw udah jatuh cinta sama aliran ini tapi berhubung jadwal kerjaan gw sangat gila jadi gw ga bisa dateng latihan ke Tangerang. Rumah gw daerah Dure Sawit juga jadi kabar Siauw Gok Bukoan mau buka deket rumah gw kedengeran lebih indah dari kabar naek gaji buat gw..........hahahaha....
Should you guys need more info please don't hesitate to call us.
Faisal
98978862
Info Tempat Latihan Siauw Gok Bukoan
Cengkareng n Tangerang Region:
1. Perumahan Batu Ceper Tengerang (sekretariat)
2. Modernland
3. Villa Melati Mas (BSD)
4. Gading Serpong
5. BSD
6. SETOS (Serpong Town Square)
West Jakarta:
1. Pengukiran III
2. Jembatan V
3. Kosambi Baru
South Jakarta
1. Kebayoran Baru, masih fresh nih...contact Bro Euwin for detail
Next!
East Jakarta (On Progress)
Untuke sementara ini Perguruan Siauw Gok Bukoan belum membuka cabang perguruan di luar negri
Best Regards
0
113.5K
1.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Martial Arts
645Thread•1.9KAnggota
Tampilkan semua post
euwin
#469
brief history of Sucho Lo Ban Teng
Lo Ban Teng
Pek Bin Kim Kong
(Malaikat Berwajah Putih)
tulisan ini kami sadur dari harian Star Weekly, tgl 7 - 02 - 1959
Disusun oleh : Tjoa Khek Kjong
(dengan perubahan dan penambahan seperlunya)
Sosok Shinshe yang berasal Tiongkok bagian selatan ini, telah menjadi legenda baik di daerah asalnya di kampung Tang Ua Bee Kee, Tjio Bee, Fu Jian, Tiongkok selatan, maupun di Indonesia. Lo Ban Teng lahir tahun 1886. Ayahnya adalah Lo Ka Liong yang juga pemilik sebuah toko arak Kim Oen Hap. Ka Liong merupakan seorang pendatang berasal dari daerah Eng Teng.
Sebagai seorang pendatang Ka Liong kerap kali menerima hinaan, pandangan curiga dan perilaku semena-mena dari penduduk di sekitarnya, apalagi melihat Ka Liong adalah seorang yang cukup mapan. Hal ini lazim terjadi di Tiongkok pada waktu itu.
Semasa sekolah, Ban Teng hanya menekuninya selama tiga tahun di sekolah rakyat, karena tidak betah belajar di sana. Ka Liong yang merasa putus asa membujuknya sekolah, akhirnya memutuskan untuk mengajarinya sendiri. Perlakuan anak-anak kampung terhadap Ban Teng kecil pada waktu itu semakin menjadi-jadi. Setiap hari tak ubah neraka baginya. Perkelahian yang selalu berujung kekalahan akibat dikeroyok sudah menjadi menu kesehariannya. Hal ini mengantarkannya berlatih bela diri di bawah bimbingan seorang guru bela diri di desanya. Saat itu umurnya 13 tahun.
Setelah dua tahun berlatih, ia pun mencoba ilmunya, hasilnya ia kalah telak. Bahkan terluka disana-sini. Hal ini membuat sang ayah khawatir, dan mengirimkannya ke rumah saudaranya di Kampung Selan, Semarang, Indonesia. Karena sering dianggap anak yang tidak berguna oleh saudara ayahnya itu, tujuh bulan kemudian Ban Teng akhirnya kembali ke Tiongkok.
Perlakuan masyarakat di sekitarnya terhadap keluarganya tidak berubah, malah semakin meresahkan. Ban Teng tidak mau tinggal diam. Beruntung Sang ayah turun tangan. Ia pun dinikahkan dengan seorang gadis asal Eng Teng bernama Lie Hong Lan. Ketika itu ia berusia 19 tahun. Dari hasil pernikahan ini, ia dikaruniai seorang putri yang nantinya juga merupakan seorang ahli Kun Tao yaitu Lo Lee Hwa. Pada usia 23 tahun berturut-turut ayah dan ibunya meninggal. Hal ini menyebabkan Ban Teng harus menanggung seluruh kehidupan keluarga. Namun niatnya belajar bela diri tidak pernah putus. Beban keluarga bahkan menyebabkan ia harus memungut anak untuk menyambung keturunannya yaitu Lo Siauw Eng.
Suatu hari, melalui seorang pelanggannya memberitahukan cara berlatih memakai sepatu batu untuk meringankan badan. Hal itu langsung membuatnya memesan sepatu tersebut kepada seorang pembuat batu nisan. Hal ini membuat orang tua si pembuat nisan heran dan mempertanyakannya. Setelah mendengar penjelasan Ban Teng, ia malah tertawa terpingkal-pingkal. Jelas tindakannya ini membuat bos muda itu tersinggung. Lalu si orang tua mengajak Ban Teng masuk ke rumahnya. Dan mempertunjukan teknik melempar Tjio So (gembok batu Tiongkok). Ban Teng yang sangat kagum dengan keahlian si orang tua lantas meminta dijadikan murid, namun si orang tua dengan sopan menampiknya.
Melalui sahabatnya Ban Teng akhirnya mengetahui bahwa si orang tua bernama Yoe Tjoen Gan, salah satu dari lima murid terbaik aliran Ho Yang Pay Wu Zu Quan pimpinan Choa Giok Beng, yang juga merupakan pembantu terdekatnya. Setelah melalui perjuangan tak kenal lelah, akhirnya Yoe bersedia tinggal di rumah Lo dan mengajar disana. Mula-mula Tjoen Gan tidak mau mengajar inti dari bela diri ini. Hal ini membuat istri Ban Teng menjadi tidak suka dengannya. Sempat terjadi keributan antara kedua pasangan itu, namun akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Hal lain yang merupakan ujian bagi Ban Teng, adalah saat beradu ilmu dengan pegawai tokonya yang menguasai ilmu beladiri dan berbadan besar. Ia kalah telak. Pegawainya menasehati agar tidak mempelajari lagi ilmu dari Yoe, apalagi posturnya tidak menunjukan ia seorang ahli. Ban Teng diam saja tidak menjawab.
Suatu hari saat Ban Teng keluar, murid-murid yang berlatih bersamanya mencoba menguji Yoe Tjoen Gan dengan mengadu tangan karena mereka yakin dengan postur tubuh yang begitu kurus, si tua Yoe pasti kalah. Pertama-tama beliau menolak, tapi karena terus didesak akhirnya ia bersedia. Hasilnya di luar dugaan. Tidak ada yang mampu menahan tangan Yoe. Peristiwa ini membuka mata semua orang akan kehebatan ilmu si orang tua.
Suatu hari untuk urusan bisnis, Ban Teng berangkat ke daerah Amoy. Si orang tua memintanya bertemu dengan Goei In Lam yang berjuluk Hoan Thian Pa (Macan tutul yang membalikkan langit), yang juga merupakan kakak seperguruan Yoe. Sesampainya di tempat Goei, Ban Teng diminta memperagakan hasil latihannya. Bukannya memuji, Goei malah menyuruh pemuda itu segera pulang dan berpesan agar guru Ban Teng lekas menemuinya.
Yoe yang mendengar penuturan Lo Ban Teng segera berangkat ke Amoy. Disana dia dimarahi habis-habisan oleh Goei, yang dianggap telah menyia-nyiakan bakat terpendam muridnya itu. Yoe yang telah terbuka pikirannya akhirnya mengajari seluruh teknik rahasia bela diri ini. Ban Teng menerima seluruh ilmu yang diajarkan Yoe bagaikan orang buta yang menerima mukjizat sehingga bisa melihat. Hatinya sangat senang.
Setelah tiga bulan, Yoe menyuruhnya bertanding lagi dengan pegawai yang pernah mengalahkannya. Hasilnya, hanya dalam dua gebrakan pegawainya sudah tidak mampu berdiri. Hal ini sangat menyenangkan hati Ban Teng. Ia kemudian mencari orang-orang yang dulu mengeroyoknya. Sekali ini pun, ia dikeroyok. Namun, berkat latihan yang matang, ia dapat menjatuhkan semua lawan-lawannya. Hal ini membuat nama Ban Teng menjadi terkenal di seluruh daerah Tjio Bee.
Ketika Yoe wafat, ia telah mewariskan seluruh ilmunya kepada Ban Teng. Pemuda itu sangat berduka atas kematian gurunya itu, dan mengurus upacara pemakamannya seperti layaknya ayah kandung sendiri, serta berkabung untuk gurunya itu. Hal ini membuat hati para paman gurunya terharu. Akhirnya para paman gurunya yang terdiri dari Lim Koei Djie (murid tertua Tjoa Giok Beng), Goei In Lam, dan Ong Tiauw Gan, menurunkan seluruh ilmu mereka baik ilmu Kuntao maupun ilmu pengobatan kepada Ban Teng, sehingga ilmunya pun kian sempurna. Suatu hari anak tertua Lim bertanya mengapa ia menurunkan semua ilmu rahasianya kepada Lo Ban Teng. Lim hanya menjawab : Kalau bukan kepada Lo Ban Teng, kepada siapa lagi.
Pada usia 29 tahun, Lo ban Teng mendapat ijin dari paman gurunya untuk membuka toko obat dan menjadi shinshe. Di Tiongkok, Ban Teng sempat beberapa kali mengadu ilmu dengan orang-orang yang suka menjelek-jelekan nama aliran Ho Yang Pay, maupun nama para paman gurunya. Sepak terjangnya yang hebat dan sikapnya yang ksatria membuatnya mendapat julukan Pek Bin Kim Kong (malaikat berwajah putih).
Tahun 1927, Pek Bin Kim Kong mendapat undangan dari sahabatnya yang bernama Jo Kian Ting untuk mengatasi petinju negro yang berbuat onar di Semarang. Ban Teng yang berjiwa setia kawan segera berangkat. Sebelum ke Indonesia, ia menjemput keponakannya yang bernama Lim Tjwee Kang yang sedang menuntut ilmu dari seorang tokoh Ho Yang Pay Wu Zu Quan yang juga temannya yaitu Sim Yang Tek di Singapura. Pertandingan itu batal diselenggarakan karena tidak mendapat ijin. Nama Ban Teng mulai mendapat sorotan dari kalangan penduduk Tionghoa Semarang saat mengadakan pertunjukkan barongsai hidung hijau.
Di Indonesia, shinshe ini menikah dengan seorang gadis bernama Go Bin Nio dan membuahkan putra pertama bernama Siauw Hong. Karena sumpahnya kepada mendiang gurunya bahwa putra pertama darah dagingnya akan diserahkan menjadi anak gurunya, maka Ban Teng merubah marga anaknya menjadi marga Yoe. Pada akhir tahun 1930, lahir Siauw Gok, yang nantinya merupakan ahli waris langsung dari shinshe Lo Ban Teng baik dalam ilmu kuntao, perguruan, maupun ilmu pengobatannya. Pada tahun 1933, keluarga Ban Teng pindah ke Batavia, tepatnya di daerah Kongsi Besar. Lalu berturut-turut, lahir Siauw Bok (1934), Siauw Tiauw (pemain tenis meja ternama di jamannya), Siauw Loan, Siauw Gim, tahun 1941, ketika Jepang masuk ke Indonesia, Ban Teng pindah ke Solo di rumah Lim Tjwee Kang, kemudian mempunyai rumah sendiri. Siauw Tjoen (1941), Siauw Ling (1943), Siauw Tjiok (1947), Siauw Tjioe (1949), Siauw Koan (1952), dan Siauw Njo (1955).
Shinshe Lo Ban Teng yang berumah di Jelakeng, akhirnya mewariskan seluruh ilmu Kun Tao dan ilmu pengobatannya kepada Lo Siauw Gok. Lo Ban Teng menjadi legenda selama hidupnya terutama di kawasan Glodok. Shinshe Lo Ban Teng menghembuskan napas terakhir tanggal 27 Juli 1958 dalam usia 72 tahun. Pada saat akan dikremasi, terjadi keanehan, dimana kayu yang digunakan untuk membakar sudah habis, tapi jenasah belum habis terbakar. Hal ini terkait oleh perkataan Ban Teng sesaat sebelum meninggal bahwa ia akan menunjukkan kehebatannya terakhir kali. Setelah Lo Siauw Gok berdoa dan mengakui bahwa ayahnya itu memang hebat, barulah jenazah itu terbakar. Percaya atau tidak, itulah fakta nyatanya.
Pek Bin Kim Kong
(Malaikat Berwajah Putih)
tulisan ini kami sadur dari harian Star Weekly, tgl 7 - 02 - 1959
Disusun oleh : Tjoa Khek Kjong
(dengan perubahan dan penambahan seperlunya)
Sosok Shinshe yang berasal Tiongkok bagian selatan ini, telah menjadi legenda baik di daerah asalnya di kampung Tang Ua Bee Kee, Tjio Bee, Fu Jian, Tiongkok selatan, maupun di Indonesia. Lo Ban Teng lahir tahun 1886. Ayahnya adalah Lo Ka Liong yang juga pemilik sebuah toko arak Kim Oen Hap. Ka Liong merupakan seorang pendatang berasal dari daerah Eng Teng.
Sebagai seorang pendatang Ka Liong kerap kali menerima hinaan, pandangan curiga dan perilaku semena-mena dari penduduk di sekitarnya, apalagi melihat Ka Liong adalah seorang yang cukup mapan. Hal ini lazim terjadi di Tiongkok pada waktu itu.
Semasa sekolah, Ban Teng hanya menekuninya selama tiga tahun di sekolah rakyat, karena tidak betah belajar di sana. Ka Liong yang merasa putus asa membujuknya sekolah, akhirnya memutuskan untuk mengajarinya sendiri. Perlakuan anak-anak kampung terhadap Ban Teng kecil pada waktu itu semakin menjadi-jadi. Setiap hari tak ubah neraka baginya. Perkelahian yang selalu berujung kekalahan akibat dikeroyok sudah menjadi menu kesehariannya. Hal ini mengantarkannya berlatih bela diri di bawah bimbingan seorang guru bela diri di desanya. Saat itu umurnya 13 tahun.
Setelah dua tahun berlatih, ia pun mencoba ilmunya, hasilnya ia kalah telak. Bahkan terluka disana-sini. Hal ini membuat sang ayah khawatir, dan mengirimkannya ke rumah saudaranya di Kampung Selan, Semarang, Indonesia. Karena sering dianggap anak yang tidak berguna oleh saudara ayahnya itu, tujuh bulan kemudian Ban Teng akhirnya kembali ke Tiongkok.
Perlakuan masyarakat di sekitarnya terhadap keluarganya tidak berubah, malah semakin meresahkan. Ban Teng tidak mau tinggal diam. Beruntung Sang ayah turun tangan. Ia pun dinikahkan dengan seorang gadis asal Eng Teng bernama Lie Hong Lan. Ketika itu ia berusia 19 tahun. Dari hasil pernikahan ini, ia dikaruniai seorang putri yang nantinya juga merupakan seorang ahli Kun Tao yaitu Lo Lee Hwa. Pada usia 23 tahun berturut-turut ayah dan ibunya meninggal. Hal ini menyebabkan Ban Teng harus menanggung seluruh kehidupan keluarga. Namun niatnya belajar bela diri tidak pernah putus. Beban keluarga bahkan menyebabkan ia harus memungut anak untuk menyambung keturunannya yaitu Lo Siauw Eng.
Suatu hari, melalui seorang pelanggannya memberitahukan cara berlatih memakai sepatu batu untuk meringankan badan. Hal itu langsung membuatnya memesan sepatu tersebut kepada seorang pembuat batu nisan. Hal ini membuat orang tua si pembuat nisan heran dan mempertanyakannya. Setelah mendengar penjelasan Ban Teng, ia malah tertawa terpingkal-pingkal. Jelas tindakannya ini membuat bos muda itu tersinggung. Lalu si orang tua mengajak Ban Teng masuk ke rumahnya. Dan mempertunjukan teknik melempar Tjio So (gembok batu Tiongkok). Ban Teng yang sangat kagum dengan keahlian si orang tua lantas meminta dijadikan murid, namun si orang tua dengan sopan menampiknya.
Melalui sahabatnya Ban Teng akhirnya mengetahui bahwa si orang tua bernama Yoe Tjoen Gan, salah satu dari lima murid terbaik aliran Ho Yang Pay Wu Zu Quan pimpinan Choa Giok Beng, yang juga merupakan pembantu terdekatnya. Setelah melalui perjuangan tak kenal lelah, akhirnya Yoe bersedia tinggal di rumah Lo dan mengajar disana. Mula-mula Tjoen Gan tidak mau mengajar inti dari bela diri ini. Hal ini membuat istri Ban Teng menjadi tidak suka dengannya. Sempat terjadi keributan antara kedua pasangan itu, namun akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Hal lain yang merupakan ujian bagi Ban Teng, adalah saat beradu ilmu dengan pegawai tokonya yang menguasai ilmu beladiri dan berbadan besar. Ia kalah telak. Pegawainya menasehati agar tidak mempelajari lagi ilmu dari Yoe, apalagi posturnya tidak menunjukan ia seorang ahli. Ban Teng diam saja tidak menjawab.
Suatu hari saat Ban Teng keluar, murid-murid yang berlatih bersamanya mencoba menguji Yoe Tjoen Gan dengan mengadu tangan karena mereka yakin dengan postur tubuh yang begitu kurus, si tua Yoe pasti kalah. Pertama-tama beliau menolak, tapi karena terus didesak akhirnya ia bersedia. Hasilnya di luar dugaan. Tidak ada yang mampu menahan tangan Yoe. Peristiwa ini membuka mata semua orang akan kehebatan ilmu si orang tua.
Suatu hari untuk urusan bisnis, Ban Teng berangkat ke daerah Amoy. Si orang tua memintanya bertemu dengan Goei In Lam yang berjuluk Hoan Thian Pa (Macan tutul yang membalikkan langit), yang juga merupakan kakak seperguruan Yoe. Sesampainya di tempat Goei, Ban Teng diminta memperagakan hasil latihannya. Bukannya memuji, Goei malah menyuruh pemuda itu segera pulang dan berpesan agar guru Ban Teng lekas menemuinya.
Yoe yang mendengar penuturan Lo Ban Teng segera berangkat ke Amoy. Disana dia dimarahi habis-habisan oleh Goei, yang dianggap telah menyia-nyiakan bakat terpendam muridnya itu. Yoe yang telah terbuka pikirannya akhirnya mengajari seluruh teknik rahasia bela diri ini. Ban Teng menerima seluruh ilmu yang diajarkan Yoe bagaikan orang buta yang menerima mukjizat sehingga bisa melihat. Hatinya sangat senang.
Setelah tiga bulan, Yoe menyuruhnya bertanding lagi dengan pegawai yang pernah mengalahkannya. Hasilnya, hanya dalam dua gebrakan pegawainya sudah tidak mampu berdiri. Hal ini sangat menyenangkan hati Ban Teng. Ia kemudian mencari orang-orang yang dulu mengeroyoknya. Sekali ini pun, ia dikeroyok. Namun, berkat latihan yang matang, ia dapat menjatuhkan semua lawan-lawannya. Hal ini membuat nama Ban Teng menjadi terkenal di seluruh daerah Tjio Bee.
Ketika Yoe wafat, ia telah mewariskan seluruh ilmunya kepada Ban Teng. Pemuda itu sangat berduka atas kematian gurunya itu, dan mengurus upacara pemakamannya seperti layaknya ayah kandung sendiri, serta berkabung untuk gurunya itu. Hal ini membuat hati para paman gurunya terharu. Akhirnya para paman gurunya yang terdiri dari Lim Koei Djie (murid tertua Tjoa Giok Beng), Goei In Lam, dan Ong Tiauw Gan, menurunkan seluruh ilmu mereka baik ilmu Kuntao maupun ilmu pengobatan kepada Ban Teng, sehingga ilmunya pun kian sempurna. Suatu hari anak tertua Lim bertanya mengapa ia menurunkan semua ilmu rahasianya kepada Lo Ban Teng. Lim hanya menjawab : Kalau bukan kepada Lo Ban Teng, kepada siapa lagi.
Pada usia 29 tahun, Lo ban Teng mendapat ijin dari paman gurunya untuk membuka toko obat dan menjadi shinshe. Di Tiongkok, Ban Teng sempat beberapa kali mengadu ilmu dengan orang-orang yang suka menjelek-jelekan nama aliran Ho Yang Pay, maupun nama para paman gurunya. Sepak terjangnya yang hebat dan sikapnya yang ksatria membuatnya mendapat julukan Pek Bin Kim Kong (malaikat berwajah putih).
Tahun 1927, Pek Bin Kim Kong mendapat undangan dari sahabatnya yang bernama Jo Kian Ting untuk mengatasi petinju negro yang berbuat onar di Semarang. Ban Teng yang berjiwa setia kawan segera berangkat. Sebelum ke Indonesia, ia menjemput keponakannya yang bernama Lim Tjwee Kang yang sedang menuntut ilmu dari seorang tokoh Ho Yang Pay Wu Zu Quan yang juga temannya yaitu Sim Yang Tek di Singapura. Pertandingan itu batal diselenggarakan karena tidak mendapat ijin. Nama Ban Teng mulai mendapat sorotan dari kalangan penduduk Tionghoa Semarang saat mengadakan pertunjukkan barongsai hidung hijau.
Di Indonesia, shinshe ini menikah dengan seorang gadis bernama Go Bin Nio dan membuahkan putra pertama bernama Siauw Hong. Karena sumpahnya kepada mendiang gurunya bahwa putra pertama darah dagingnya akan diserahkan menjadi anak gurunya, maka Ban Teng merubah marga anaknya menjadi marga Yoe. Pada akhir tahun 1930, lahir Siauw Gok, yang nantinya merupakan ahli waris langsung dari shinshe Lo Ban Teng baik dalam ilmu kuntao, perguruan, maupun ilmu pengobatannya. Pada tahun 1933, keluarga Ban Teng pindah ke Batavia, tepatnya di daerah Kongsi Besar. Lalu berturut-turut, lahir Siauw Bok (1934), Siauw Tiauw (pemain tenis meja ternama di jamannya), Siauw Loan, Siauw Gim, tahun 1941, ketika Jepang masuk ke Indonesia, Ban Teng pindah ke Solo di rumah Lim Tjwee Kang, kemudian mempunyai rumah sendiri. Siauw Tjoen (1941), Siauw Ling (1943), Siauw Tjiok (1947), Siauw Tjioe (1949), Siauw Koan (1952), dan Siauw Njo (1955).
Shinshe Lo Ban Teng yang berumah di Jelakeng, akhirnya mewariskan seluruh ilmu Kun Tao dan ilmu pengobatannya kepada Lo Siauw Gok. Lo Ban Teng menjadi legenda selama hidupnya terutama di kawasan Glodok. Shinshe Lo Ban Teng menghembuskan napas terakhir tanggal 27 Juli 1958 dalam usia 72 tahun. Pada saat akan dikremasi, terjadi keanehan, dimana kayu yang digunakan untuk membakar sudah habis, tapi jenasah belum habis terbakar. Hal ini terkait oleh perkataan Ban Teng sesaat sebelum meninggal bahwa ia akan menunjukkan kehebatannya terakhir kali. Setelah Lo Siauw Gok berdoa dan mengakui bahwa ayahnya itu memang hebat, barulah jenazah itu terbakar. Percaya atau tidak, itulah fakta nyatanya.
0