- Beranda
- Entrepreneur Corner
SHARE Jangan Serakah, Bedakan antara Investasi dan Spekulasi
...
TS
Nikkentobi
SHARE Jangan Serakah, Bedakan antara Investasi dan Spekulasi
NOTE: Mengingat thread lama "Jangan Serakah" di-lock sejak kaskus kena hack kemarin, utk sementara, thread "Jangan Serakah" pindah ke sini dahulu. Buat teman-teman yg ingin membaca artikel-artikel di thread yg lama, bisa didownload dlm bentuk file pdf di sini. Jika linknya sudah kadaluarsa, harap info ke saya, agar bisa saya upload. Saya juga akan pelan-pelan memindahkan isi file pdfnya ke thread ini, tetapi akan memakan waktu karena formattingnya harus saya kerjakan lagi.
-----OOO-----
JANGAN SERAKAH, BEDAKAN ANTARA
INVESTASI DAN SPEKULASI
Terkadang sedih rasanya melihat banyak orang yang setiap kali terjebak "investasi" (dalam tanda kutip) yang nggak bener, karena belum mengerti investasi yang benar itu seperti apa. Investasi itu, menurut Benjamin Graham(gurunya Warren Buffet), adalah
"an operation which, upon thorough analysis, promises safety of principal and an adequate return. Operations not meeting these requirements are speculative".
Dalam bahasa Indonesianya kira kira :
"sebuah operasi, dimana melalui analisa yang mendalam, menjanjikan keamanan modal pokok dan tingkat keuntungan yang pantas/layak. Operasi yang tidak memenuhi persyaratan ini adalah spekulatif"
Dalam definisi di atas ada 3 elemen yang penting buat sebuah investasi:
Nah permasalahnya, banyak orang yang tidak mengetahui hal hal diatas, lalu berpikir mereka invest, tapi gak sadar kalau mereka itu sebenarnya spekulasi, atau lebih parah lagi kena scam.
Ada satu catatan penting lagi yang mesti diingat, ini gak berarti spekulasi semuanya jelek. Seperti kata Benjamin Graham :
"Just as there is intelligent investing, there's also intelligent speculation. But there are many ways in which speculation may be unintelligent. Of these, the foremost are : (1)speculating when you think you are investing; (2) speculating seriously instead of as a pastime, when you lack the proper knowledge and skill for it"; and (3) risking more money in speculation than you can afford to lose"
Indonesianya kira-kira :
"Sama halnya bahwa ada Investasi dengan cerdik, ada juga Spekulasi dengan cerdik. Tetapi ada beberapa kondisi dimana spekulasi mungkin tidaklah cerdik, terutama : (1) Berspekulasi sambil menganggap bahwa anda itu berinvestasi (2) Berspekulasi secara serius (dan bukan utk bermain-main), padahal tidak mempunyai pengetahuan maupun keahlian utk itu; dan (3) Mempertaruhkan uang di spekulasi dalam jumlah yg terlalu besar".
Happy Investing!
Thread ini BUKAN tentang bagaimana "membuat Rp 1000 anda jadi Rp 1 juta". Kalau mau dibilang, thread ini lebih condong kepada "Bagaimana agar Rp 1 juta anda TIDAK menjadi Rp 1000."
Diskusi dalam thread ini mungkin akan saya arahkan kepada diskusi tentang :
Fokus kepada topik di atas adalah karena saya lumayan akrab dengan topik-topik tersebut. Kalau mengenai bisnis/enterpreneurship, saya tidak berani banyak bicara, karena saya tahu banyak orang yg jiwa enterpreneurshipnya yang hebat. Selain itu pandangan tentang bisnis & cara menjalankan bisnis pun berbeda-beda antara tiap orang. Walaupun demikian, kalau sekedar bertukar cerita, tidak dilarang
.
Bagi yg tertarik buat ngikutin thread ini tetapi tidak sempat baca keseluruhan thread, di bawah ini adalah direct link ke beberapa posting dan juga diskusi saya dengan user lain di thread ini yang topiknya agak menarik.
Meskipun demikian, jika ada waktu, mungkin lebih baik untuk membaca thread dengan lengkap, karena banyak post yg bagus dari user lain yang tidak dibuatkan direct linknya (takut kepenuhan). Sayang kalau user-user sudah pada sharing tapi tidak kita manfaatkan.
Proyek Terjemahan/Rangkuman buku "The Intelligent Investor" :(MUST READ!!!)
Berkenalan dengan Reksadana (link, tambahan)
Mengenal lebih dekat Obligasi (part 1, part 2)
Investasi Emas di saat ini (link)
Options : Investasi atau Spekulasi? (link)
Spekulasi, FM forbiz dan FM profesional (link)
-----OOO-----
JANGAN SERAKAH, BEDAKAN ANTARA
INVESTASI DAN SPEKULASI
Terkadang sedih rasanya melihat banyak orang yang setiap kali terjebak "investasi" (dalam tanda kutip) yang nggak bener, karena belum mengerti investasi yang benar itu seperti apa. Investasi itu, menurut Benjamin Graham(gurunya Warren Buffet), adalah
"an operation which, upon thorough analysis, promises safety of principal and an adequate return. Operations not meeting these requirements are speculative".
Dalam bahasa Indonesianya kira kira :
"sebuah operasi, dimana melalui analisa yang mendalam, menjanjikan keamanan modal pokok dan tingkat keuntungan yang pantas/layak. Operasi yang tidak memenuhi persyaratan ini adalah spekulatif"
-------
Dalam definisi di atas ada 3 elemen yang penting buat sebuah investasi:
- Kita harus melakukan analisa yang mendalam
Apa nih artinya? Artinya kita mesti pelajarin data data tentang investasi kita. Tidak cuma dengerin kata orang doang. Pelajari apakah model investasi itu benar feasible.
Misalnya ada yg nawarin invest warnet, coba tanya teman teman yg punya warnet. Kalau nggak ada, luangin waktu liat gimana operasi warnet pada umumnya. Cari insider info dari karyawan warnet kalau perlu, tanya mereka per hari ada berapa jam, tapi minta data beneran jgn cuma omong "rame terus pak". Hitung estimasi pendapatan, hitung estimasi biaya (listrik mahal sekarang!), hitung biaya sewa, karyawan, penyusutan komputer dan lain lain.
Repot? Tidak serepot kalau modal investasi kita hilang dan mesti ngumpulin modal lagi.
- Kita harus berusaha sebisa mungkin menjaga keamanan modal pokok kita
Modal pokok kita adalah ibaratnya pohon di taman kita. Kalau cuma buah dicuri, tahun depan bisa berbuah lagi. Kalau misalnya dahan dipatahin orang, biarpun mengganggu, selama pohon masih hidup, masih bisa kita nikmatin buahnya tahun depan. Tapi kalau sampai pohon ini roboh?
Harus diingat, SEMUA investasi itu ada resikonya. Bahkan anda beli Surat Utang Negara ataupun US Treasury Bonds pun masih ada resikonya, cuma resikonya sangat kecil saja.Jadi kalau ketemu orang nawarin investasi yang bilang NO RISK, langsung tinggalin saja, karena itu udah misleading, atau lebih parah lagi sedang mencoba buat scam kita.
- Kita harus berusaha mencapai tingkat pengembalian/keuntungan yang "PANTAS"/"LAYAK", bukannya "LUAR BIASA".
Salah satu aturan utama yang kita harus selalu ingat, baik kita invest maupun spekulasi itu adalah "return proportionate to risk" atau "keuntungan itu berbanding dengan resiko". Risiko rendah memberikan tingkat Return/untung yang rendah. Resiko tinggi itu menawarkan tingkat Return yang tinggi.
Tidak ada yang namanya "Resiko rendah-Return Tinggi". Lagi lagi kalau ada yang nawarin hal seperti ini, langsung aja tinggalin, karena kalau bukan misleading, ya berarti lebih parah lagi alias scam.
Kalau baca koran sekarang, banyak yang nawarin "mimpi" main forex/options. Klaimnya "Over 1100% profit in 1 day!!!!!" Apakah itu bohong? Tidak juga, bisa saja kejadian seperti itu, karena saya juga pemain options and stocks. Tapi realita tidak seindah itu. Mereka tidak pernah nulis bahwa utk 1 orang yang profit 1100% in 1 day itu, sudah berapa orang yang modalnya ludes semua? Bahkan sebelum profit 1100% itu atau juga sesudahnya, orang itu sudah rugi berapa? Yang difokuskan dlm iklan adalah bahwa pada 1 hari itu, orang itu menang 1100%. Padahal dengan membeli lotere kita juga bisa "menang", beribu ribu % malahan.
Jadi berapa sih tingkat keuntungan yang "Layak"/"Pantas"? Itu tergantung kepada banyak variabel, terlalu banyak buat dibahas semua. Tapi ada satu metode yang paling gampang. Kalau ada orang yang nawarin investasi dengan untung 10% perbulan misalnya, bahkan tanpa memperhitungkan faktor compounding (bunga berbunga) itu berarti udah 120% per tahun.
Nah logikanya, kalau orang itu begitu yakin dgn proyeknya, kenapa dia tidak mengagunkan aja semua assetnya (rumah, mobil, dll), kalau perlu pinjam saudara. Bunga kredit dari bank di Indonesia itu sekarang tergantung tipenya paling 13-14%. Masih untung 100%++...
Bahkan kalau orang itu narik duit pakai kartu kredit, yang bunganya gak kalah dengan rentenir, itu baru 48% setahun, masih untung 72% setahun!!! Tapi orang ini malah nawarin investasi ini ke anda, berarti anda udah harus mulai curiga ada udang di balik batu. Jadi analisanya harus lebih mendalam lagi. Lebih baik bertanya daripada sesat di jalan, itu kan kata orang tua kita.
-------
Nah permasalahnya, banyak orang yang tidak mengetahui hal hal diatas, lalu berpikir mereka invest, tapi gak sadar kalau mereka itu sebenarnya spekulasi, atau lebih parah lagi kena scam.
Ada satu catatan penting lagi yang mesti diingat, ini gak berarti spekulasi semuanya jelek. Seperti kata Benjamin Graham :
"Just as there is intelligent investing, there's also intelligent speculation. But there are many ways in which speculation may be unintelligent. Of these, the foremost are : (1)speculating when you think you are investing; (2) speculating seriously instead of as a pastime, when you lack the proper knowledge and skill for it"; and (3) risking more money in speculation than you can afford to lose"
Indonesianya kira-kira :
"Sama halnya bahwa ada Investasi dengan cerdik, ada juga Spekulasi dengan cerdik. Tetapi ada beberapa kondisi dimana spekulasi mungkin tidaklah cerdik, terutama : (1) Berspekulasi sambil menganggap bahwa anda itu berinvestasi (2) Berspekulasi secara serius (dan bukan utk bermain-main), padahal tidak mempunyai pengetahuan maupun keahlian utk itu; dan (3) Mempertaruhkan uang di spekulasi dalam jumlah yg terlalu besar".
Happy Investing!
------NOTE-----
Thread ini BUKAN tentang bagaimana "membuat Rp 1000 anda jadi Rp 1 juta". Kalau mau dibilang, thread ini lebih condong kepada "Bagaimana agar Rp 1 juta anda TIDAK menjadi Rp 1000."
Diskusi dalam thread ini mungkin akan saya arahkan kepada diskusi tentang :
- Investasi (investasi secara umum, bagaimana menyusun portofolio, instrumen investasi apa yg cocok bagi masing masing orang, dll)
- Spekulasi
- Financial Planning/Perencanaan Keuangan
- SCAM (bagaimana cara mengenali sesuatu tawaran sebagai SCAM, dll)
Fokus kepada topik di atas adalah karena saya lumayan akrab dengan topik-topik tersebut. Kalau mengenai bisnis/enterpreneurship, saya tidak berani banyak bicara, karena saya tahu banyak orang yg jiwa enterpreneurshipnya yang hebat. Selain itu pandangan tentang bisnis & cara menjalankan bisnis pun berbeda-beda antara tiap orang. Walaupun demikian, kalau sekedar bertukar cerita, tidak dilarang
.----000----
Bagi yg tertarik buat ngikutin thread ini tetapi tidak sempat baca keseluruhan thread, di bawah ini adalah direct link ke beberapa posting dan juga diskusi saya dengan user lain di thread ini yang topiknya agak menarik.
Meskipun demikian, jika ada waktu, mungkin lebih baik untuk membaca thread dengan lengkap, karena banyak post yg bagus dari user lain yang tidak dibuatkan direct linknya (takut kepenuhan). Sayang kalau user-user sudah pada sharing tapi tidak kita manfaatkan.
Proyek Terjemahan/Rangkuman buku "The Intelligent Investor" :(MUST READ!!!)
Berkenalan dengan Reksadana (link, tambahan)
Mengenal lebih dekat Obligasi (part 1, part 2)
Investasi Emas di saat ini (link)
Options : Investasi atau Spekulasi? (link)
Spekulasi, FM forbiz dan FM profesional (link)
unik19 memberi reputasi
1
274.4K
2.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Entrepreneur Corner
22.1KThread•5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Nikkentobi
#151
Bab 1 "The Intelligent Investor" PART I
NOTE: Ini adalah restorasi artikel thread lama. Post ini merupakan bagian dari "proyek" terjemahan/rangkuman buku "Intelligent Investor" Revised Edition (1972). Bagi yg membaca post ini, harap baca dulu terjemahan/rangkuman bab "Kata Pengantar" (direct linknya ada di hal1) . Bab 1 ini agak panjang sehingga akan saya bagi ke dalam beberapa part.
----WARNING----
Dalam terjemahan/rangkuman ini, saya akan selalu berusaha untuk memakai terjemahan langsung, tetapi jika saya merasa terjemahan langsung akan sulit dimengerti oleh banyak orang, saya akan menggunakan bahasa yg lebih sederhana. Saya juga akan membuang beberapa kalimat ataupun paragraph yg saya rasa agak repetitive ataupun tidak "esensial"
Investasi versus Spekulasi
Apa yg dimaksud dengan "investor"? Dalam buku ini, kata "investor" akan dipakai secara berlawanan dari kata "Spekulator". Dalam buku kami "Analisa Sekuritas" (1934), kami mencoba memformulasikan perbedaan keduanya sebagai berikut :
Investasi adalah sebuah operasi yang, melalui analisa yg mendalam, menjanjikan keamanan modal pokok dan juga tingkat pengembalian (return/hasil) yg LAYAK. Operasi yang tidak memenuhi persyaratan di atas adalah spekulasi.
Meskipun kami telah berpegang kepada definisi di atas selama masa 38 thn (1934-1972), selama periode ini ada suatu perubahan radikal yg terjadi dalam penggunaan kata "Investor". Setelah periode 1929-1932, (Nikken:Bursa saham USA rontok pada masa ini) masyarakat secara luas menganggap bahwa semua saham itu bersifat spekulasi.
Seorang pakar ekonomi pada saat itu bahkan menyatakan bahwa hanya obligasi yang pantas disebut sebagai investasi dan hanya pembeli obligasi yg pantas disebut "investor". Pada saat itu definisi investasi kami dianggap terlalu "longgar".
Pada saat ini (1972), keadaannya justru terbalik. Kami ingin melindungi para pembaca dari penyalah-gunaan kata "investor", dimana trend pada saat ini adalah semua orang yg "bermain" di pasar saham disebut "investor". Dalam edisi terdahulu buku ini, kami ada mengutip sebuah artikel dalam jurnal finansial terkemuka terbitan Juni 1962: "Investor kecil bearish, Mereka melakukan short-selling saham". Pada Oktober 1970, jurnal yang sama memuat sebuah artikel tentang "reckless investor/Investor gegabah yg mulai membeli saham".
Kedua artikel di atas melukiskan kekacauan dalam penggunaan kata "investasi" dan "spekulasi" selama ini. Bandingkan definisi "investasi" kami dengan perilaku masyarakat di atas. Bagaimana suatu operasi bisa dikatakan sebagai "investasi" bila dilakukan oleh orang yg tidak berpengalaman, yang bahkan tidak memiliki barang yg dia jual, dan hanya berdasarkan kepada keyakinan emosional (firasat) bahwa dia akan bisa membeli kembali barang yg dia jual dengan harga yg lebih murah? (Kami ingin mengingatkan kembali bahwa pada tahun 1962 itu, pasar telah jatuh sangat rendah dan justru akan kemudian naik dengan drastis. Masa itu adalah masa paling salah utk melakukan "short-sell")
Artikel kedua yg memakai kata "investor gegabah" itu juga bisa ditertawakan karena kontradiksi diantara kedua kata tersebut, sama halnya seperti jika kita berkata "orang hemat yang boros".
Media massa pada saat ini menggunakan kata "investor" dalam hal-hal ini, karena pada saat ini di Wall Street, setiap orang yg membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, tanpa memperdulikan apa yang dia beli, harga belinya, ataupun metodenya (cash atau margin). Bandingkan kondisi ini dengan kondisi pada tahun 1948, dimana dalam suatu survey, 90% orang mempunyai pandangan negatif tentang saham, dengan berbagai alasan spt "tidak aman", "spekulatif", "spt judi/gambling" dan "tidak paham tentang saham".
Sangat ironis (meskipun tidak mengherankan) bahwa saham justru dianggap "spekulatif" di saat mereka dijual dengan harga yg sangat murah dan "atraktif". Ironis juga bagaimana sebaliknya justru ketika saham naik ke tingkat harga yg tinggi (mahal) dan "berbahaya", saham justru dianggap sebagai "investasi" dan semua pembeli saham disebut sebagai "investor".
Pembedaan antara "investasi" dan "spekulasi" adalah sesuatu yg sangat penting, dan semakin menghilangnya pembedaan ini merupakan sesuatu yg sangat mengkhawatirkan. Kami sering berkata bahwa Wall Street sebagai suatu institusi seharusnya membedakan "investasi" dan "spekulasi" dan menginformasikan perbedaan keduanya kepada publik. Jika tidak, suatu hari, bursa saham bisa disalahkan atas kerugian spekulatif yang besar, yang diderita oleh orang-orang yang tidak diperingatkan tentang perbedaan antara investasi dan spekulasi.
Kami percaya bahwa pembaca buku ini akan mendapatkan sebuah gambaran yg cukup jelas tentang resiko-resiko yg terkait dalam investasi saham. Resiko ini merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari peluang Profit/Untung yang ditawarkan, dan harus menjadi bagian dari perhitungan kita.
Seorang investor harus mengenali bahwa di sebagian besar waktu, akan ada faktor spekulatif dalam investasi saham. Tugas seorang investor adalah menjaga agar komponen spekulatif ini di tingkat yg minimum, dan mempersiapkan diri secara finansial dan psikologis utk hasil yg buruk, yg mungkin saja hanya sementara, ataupun juga berlangsung agak lama.
Suatu catatan penting, yaitu kita harus membedakan antara spekulasi saham murni dengan faktor spekulatif yg terkandung dalam hampir setiap saham. Spekulasi murni bukanlah sesuatu yang illegal atau juga immoral, tetapi juga biasanya tidak membuat dompet anda lebih gemuk (bagi kebanyakan orang).
Seperti halnya di dunia ini ada "Intelligent Investing" (Investasi dengan cerdik), ada juga "Intelligent Speculation" (Spekulasi dengan cerdik). Tetapi ada banyak kondisi dimana spekulasi itu menjadi sesuatu yg "tidak cerdik" (BODOH). Kondisi-kondisi itu terutama :
Dalam pandangan kami, setiap non-profesional yang ber"main" saham dengan margin (Nikken: margin=membeli saham dengan meminjam uang dari broker), harus sadar bahwa sebenarnya dia itu berspekulasi (atau lebih parah lagi berjudi). Demikian juga dengan orang-orang yg membeli saham yang sedang "hot" tanpa analisa.
Spekulasi memang mengasyikkan, terutama jika kita sedang menang. Jika anda ingin mencoba keberuntungan anda, pisahkan sebagian uang anda -semakin sedikit semakin baik- sebagai dana utk spekulasi. Jangan pernah menambahkan uang ke dalam dana ini hanya karena anda sedang menang. Itu justru saatnya untuk menarik sebagian uang dari dana spekulasi tersebut. (Nikken: Terlebih lagi jika kita kalah....jangan kita justru menambah uang utk spekulasi ini).
Jangan pernah mencampurkan dana utk investasi dan dana utk spekulasi anda. Dan juga jangan pernah mencampurkan investasi dan spekulasi dalam otak anda.
<BERSAMBUNG KE PART 2>
----WARNING----
Dalam terjemahan/rangkuman ini, saya akan selalu berusaha untuk memakai terjemahan langsung, tetapi jika saya merasa terjemahan langsung akan sulit dimengerti oleh banyak orang, saya akan menggunakan bahasa yg lebih sederhana. Saya juga akan membuang beberapa kalimat ataupun paragraph yg saya rasa agak repetitive ataupun tidak "esensial"
-------
The Intelligent Investor
BAB I
Investasi vs Spekulasi:
Tingkat Hasil yg bisa diharapkan oleh Intelligent Investor
BAB I
Investasi vs Spekulasi:
Tingkat Hasil yg bisa diharapkan oleh Intelligent Investor
Investasi versus Spekulasi
Apa yg dimaksud dengan "investor"? Dalam buku ini, kata "investor" akan dipakai secara berlawanan dari kata "Spekulator". Dalam buku kami "Analisa Sekuritas" (1934), kami mencoba memformulasikan perbedaan keduanya sebagai berikut :
Investasi adalah sebuah operasi yang, melalui analisa yg mendalam, menjanjikan keamanan modal pokok dan juga tingkat pengembalian (return/hasil) yg LAYAK. Operasi yang tidak memenuhi persyaratan di atas adalah spekulasi.
Meskipun kami telah berpegang kepada definisi di atas selama masa 38 thn (1934-1972), selama periode ini ada suatu perubahan radikal yg terjadi dalam penggunaan kata "Investor". Setelah periode 1929-1932, (Nikken:Bursa saham USA rontok pada masa ini) masyarakat secara luas menganggap bahwa semua saham itu bersifat spekulasi.
Seorang pakar ekonomi pada saat itu bahkan menyatakan bahwa hanya obligasi yang pantas disebut sebagai investasi dan hanya pembeli obligasi yg pantas disebut "investor". Pada saat itu definisi investasi kami dianggap terlalu "longgar".
Pada saat ini (1972), keadaannya justru terbalik. Kami ingin melindungi para pembaca dari penyalah-gunaan kata "investor", dimana trend pada saat ini adalah semua orang yg "bermain" di pasar saham disebut "investor". Dalam edisi terdahulu buku ini, kami ada mengutip sebuah artikel dalam jurnal finansial terkemuka terbitan Juni 1962: "Investor kecil bearish, Mereka melakukan short-selling saham". Pada Oktober 1970, jurnal yang sama memuat sebuah artikel tentang "reckless investor/Investor gegabah yg mulai membeli saham".
Nikken's Note: "Bearish" dalam konteks pasar saham adalah kondisi dimana para pelaku dalam pasar saham itu pesimis dan berpendapat bahwa saham akan turun. Kebalikan dari ini adalah "Bullish". "Short-sell" adalah praktek dimana seseorang yg "bearish" itu meminjam saham dari orang lain (dgn membayar fee), lalu menjual saham itu dengan harapan harga saham itu di kemudian hari akan turun, sehingga dia bisa membeli kembali saham itu dengan harga lebih murah utk dikembalikan ke pemilik saham. Selisih antara harga jual (tinggi) dengan harga beli (murah) ini menjadi keuntungan bagi si short-seller itu.
Kedua artikel di atas melukiskan kekacauan dalam penggunaan kata "investasi" dan "spekulasi" selama ini. Bandingkan definisi "investasi" kami dengan perilaku masyarakat di atas. Bagaimana suatu operasi bisa dikatakan sebagai "investasi" bila dilakukan oleh orang yg tidak berpengalaman, yang bahkan tidak memiliki barang yg dia jual, dan hanya berdasarkan kepada keyakinan emosional (firasat) bahwa dia akan bisa membeli kembali barang yg dia jual dengan harga yg lebih murah? (Kami ingin mengingatkan kembali bahwa pada tahun 1962 itu, pasar telah jatuh sangat rendah dan justru akan kemudian naik dengan drastis. Masa itu adalah masa paling salah utk melakukan "short-sell")
Artikel kedua yg memakai kata "investor gegabah" itu juga bisa ditertawakan karena kontradiksi diantara kedua kata tersebut, sama halnya seperti jika kita berkata "orang hemat yang boros".
Media massa pada saat ini menggunakan kata "investor" dalam hal-hal ini, karena pada saat ini di Wall Street, setiap orang yg membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, tanpa memperdulikan apa yang dia beli, harga belinya, ataupun metodenya (cash atau margin). Bandingkan kondisi ini dengan kondisi pada tahun 1948, dimana dalam suatu survey, 90% orang mempunyai pandangan negatif tentang saham, dengan berbagai alasan spt "tidak aman", "spekulatif", "spt judi/gambling" dan "tidak paham tentang saham".
Sangat ironis (meskipun tidak mengherankan) bahwa saham justru dianggap "spekulatif" di saat mereka dijual dengan harga yg sangat murah dan "atraktif". Ironis juga bagaimana sebaliknya justru ketika saham naik ke tingkat harga yg tinggi (mahal) dan "berbahaya", saham justru dianggap sebagai "investasi" dan semua pembeli saham disebut sebagai "investor".
------------
Pembedaan antara "investasi" dan "spekulasi" adalah sesuatu yg sangat penting, dan semakin menghilangnya pembedaan ini merupakan sesuatu yg sangat mengkhawatirkan. Kami sering berkata bahwa Wall Street sebagai suatu institusi seharusnya membedakan "investasi" dan "spekulasi" dan menginformasikan perbedaan keduanya kepada publik. Jika tidak, suatu hari, bursa saham bisa disalahkan atas kerugian spekulatif yang besar, yang diderita oleh orang-orang yang tidak diperingatkan tentang perbedaan antara investasi dan spekulasi.
Kami percaya bahwa pembaca buku ini akan mendapatkan sebuah gambaran yg cukup jelas tentang resiko-resiko yg terkait dalam investasi saham. Resiko ini merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari peluang Profit/Untung yang ditawarkan, dan harus menjadi bagian dari perhitungan kita.
Seorang investor harus mengenali bahwa di sebagian besar waktu, akan ada faktor spekulatif dalam investasi saham. Tugas seorang investor adalah menjaga agar komponen spekulatif ini di tingkat yg minimum, dan mempersiapkan diri secara finansial dan psikologis utk hasil yg buruk, yg mungkin saja hanya sementara, ataupun juga berlangsung agak lama.
Suatu catatan penting, yaitu kita harus membedakan antara spekulasi saham murni dengan faktor spekulatif yg terkandung dalam hampir setiap saham. Spekulasi murni bukanlah sesuatu yang illegal atau juga immoral, tetapi juga biasanya tidak membuat dompet anda lebih gemuk (bagi kebanyakan orang).
Seperti halnya di dunia ini ada "Intelligent Investing" (Investasi dengan cerdik), ada juga "Intelligent Speculation" (Spekulasi dengan cerdik). Tetapi ada banyak kondisi dimana spekulasi itu menjadi sesuatu yg "tidak cerdik" (BODOH). Kondisi-kondisi itu terutama :
- Berspekulasi dengan berpikir bahwa anda sedang berinvestasi (Tidak sadar kalau sebenarnya sedang berspekulasi).
- Berspekulasi secara serius (bukan sbg "hiburan"), padahal ilmu, pengetahuan dan kemampuannya tidak mencukupi utk itu.
- Berspekulasi dalam jumlah yang terlalu besar, padahal sebenarnya kita tidak mampu utk kehilangan uang sejumlah itu.
Dalam pandangan kami, setiap non-profesional yang ber"main" saham dengan margin (Nikken: margin=membeli saham dengan meminjam uang dari broker), harus sadar bahwa sebenarnya dia itu berspekulasi (atau lebih parah lagi berjudi). Demikian juga dengan orang-orang yg membeli saham yang sedang "hot" tanpa analisa.
Spekulasi memang mengasyikkan, terutama jika kita sedang menang. Jika anda ingin mencoba keberuntungan anda, pisahkan sebagian uang anda -semakin sedikit semakin baik- sebagai dana utk spekulasi. Jangan pernah menambahkan uang ke dalam dana ini hanya karena anda sedang menang. Itu justru saatnya untuk menarik sebagian uang dari dana spekulasi tersebut. (Nikken: Terlebih lagi jika kita kalah....jangan kita justru menambah uang utk spekulasi ini).
Jangan pernah mencampurkan dana utk investasi dan dana utk spekulasi anda. Dan juga jangan pernah mencampurkan investasi dan spekulasi dalam otak anda.
<BERSAMBUNG KE PART 2>
0