Kaskus

News

NikkentobiAvatar border
TS
Nikkentobi
SHARE Jangan Serakah, Bedakan antara Investasi dan Spekulasi
NOTE: Mengingat thread lama "Jangan Serakah" di-lock sejak kaskus kena hack kemarin, utk sementara, thread "Jangan Serakah" pindah ke sini dahulu. Buat teman-teman yg ingin membaca artikel-artikel di thread yg lama, bisa didownload dlm bentuk file pdf di sini. Jika linknya sudah kadaluarsa, harap info ke saya, agar bisa saya upload. Saya juga akan pelan-pelan memindahkan isi file pdfnya ke thread ini, tetapi akan memakan waktu karena formattingnya harus saya kerjakan lagi.

-----OOO-----

JANGAN SERAKAH, BEDAKAN ANTARA
INVESTASI DAN SPEKULASI


Terkadang sedih rasanya melihat banyak orang yang setiap kali terjebak "investasi" (dalam tanda kutip) yang nggak bener, karena belum mengerti investasi yang benar itu seperti apa. Investasi itu, menurut Benjamin Graham(gurunya Warren Buffet), adalah

"an operation which, upon thorough analysis, promises safety of principal and an adequate return. Operations not meeting these requirements are speculative".


Dalam bahasa Indonesianya kira kira :

"sebuah operasi, dimana melalui analisa yang mendalam, menjanjikan keamanan modal pokok dan tingkat keuntungan yang pantas/layak. Operasi yang tidak memenuhi persyaratan ini adalah spekulatif"

-------


Dalam definisi di atas ada 3 elemen yang penting buat sebuah investasi:
  1. Kita harus melakukan analisa yang mendalam

    Apa nih artinya? Artinya kita mesti pelajarin data data tentang investasi kita. Tidak cuma dengerin kata orang doang. Pelajari apakah model investasi itu benar feasible.

    Misalnya ada yg nawarin invest warnet, coba tanya teman teman yg punya warnet. Kalau nggak ada, luangin waktu liat gimana operasi warnet pada umumnya. Cari insider info dari karyawan warnet kalau perlu, tanya mereka per hari ada berapa jam, tapi minta data beneran jgn cuma omong "rame terus pak". Hitung estimasi pendapatan, hitung estimasi biaya (listrik mahal sekarang!), hitung biaya sewa, karyawan, penyusutan komputer dan lain lain.

    Repot? Tidak serepot kalau modal investasi kita hilang dan mesti ngumpulin modal lagi.


  2. Kita harus berusaha sebisa mungkin menjaga keamanan modal pokok kita

    Modal pokok kita adalah ibaratnya pohon di taman kita. Kalau cuma buah dicuri, tahun depan bisa berbuah lagi. Kalau misalnya dahan dipatahin orang, biarpun mengganggu, selama pohon masih hidup, masih bisa kita nikmatin buahnya tahun depan. Tapi kalau sampai pohon ini roboh?

    Harus diingat, SEMUA investasi itu ada resikonya. Bahkan anda beli Surat Utang Negara ataupun US Treasury Bonds pun masih ada resikonya, cuma resikonya sangat kecil saja.Jadi kalau ketemu orang nawarin investasi yang bilang NO RISK, langsung tinggalin saja, karena itu udah misleading, atau lebih parah lagi sedang mencoba buat scam kita.


  3. Kita harus berusaha mencapai tingkat pengembalian/keuntungan yang "PANTAS"/"LAYAK", bukannya "LUAR BIASA".

    Salah satu aturan utama yang kita harus selalu ingat, baik kita invest maupun spekulasi itu adalah "return proportionate to risk" atau "keuntungan itu berbanding dengan resiko". Risiko rendah memberikan tingkat Return/untung yang rendah. Resiko tinggi itu menawarkan tingkat Return yang tinggi.

    Tidak ada yang namanya "Resiko rendah-Return Tinggi". Lagi lagi kalau ada yang nawarin hal seperti ini, langsung aja tinggalin, karena kalau bukan misleading, ya berarti lebih parah lagi alias scam.

    Kalau baca koran sekarang, banyak yang nawarin "mimpi" main forex/options. Klaimnya "Over 1100% profit in 1 day!!!!!" Apakah itu bohong? Tidak juga, bisa saja kejadian seperti itu, karena saya juga pemain options and stocks. Tapi realita tidak seindah itu. Mereka tidak pernah nulis bahwa utk 1 orang yang profit 1100% in 1 day itu, sudah berapa orang yang modalnya ludes semua? Bahkan sebelum profit 1100% itu atau juga sesudahnya, orang itu sudah rugi berapa? Yang difokuskan dlm iklan adalah bahwa pada 1 hari itu, orang itu menang 1100%. Padahal dengan membeli lotere kita juga bisa "menang", beribu ribu % malahan.

    Jadi berapa sih tingkat keuntungan yang "Layak"/"Pantas"? Itu tergantung kepada banyak variabel, terlalu banyak buat dibahas semua. Tapi ada satu metode yang paling gampang. Kalau ada orang yang nawarin investasi dengan untung 10% perbulan misalnya, bahkan tanpa memperhitungkan faktor compounding (bunga berbunga) itu berarti udah 120% per tahun.

    Nah logikanya, kalau orang itu begitu yakin dgn proyeknya, kenapa dia tidak mengagunkan aja semua assetnya (rumah, mobil, dll), kalau perlu pinjam saudara. Bunga kredit dari bank di Indonesia itu sekarang tergantung tipenya paling 13-14%. Masih untung 100%++...

    Bahkan kalau orang itu narik duit pakai kartu kredit, yang bunganya gak kalah dengan rentenir, itu baru 48% setahun, masih untung 72% setahun!!! Tapi orang ini malah nawarin investasi ini ke anda, berarti anda udah harus mulai curiga ada udang di balik batu. Jadi analisanya harus lebih mendalam lagi. Lebih baik bertanya daripada sesat di jalan, itu kan kata orang tua kita.


-------


Nah permasalahnya, banyak orang yang tidak mengetahui hal hal diatas, lalu berpikir mereka invest, tapi gak sadar kalau mereka itu sebenarnya spekulasi, atau lebih parah lagi kena scam.

Ada satu catatan penting lagi yang mesti diingat, ini gak berarti spekulasi semuanya jelek. Seperti kata Benjamin Graham :

"Just as there is intelligent investing, there's also intelligent speculation. But there are many ways in which speculation may be unintelligent. Of these, the foremost are : (1)speculating when you think you are investing; (2) speculating seriously instead of as a pastime, when you lack the proper knowledge and skill for it"; and (3) risking more money in speculation than you can afford to lose"


Indonesianya kira-kira :

"Sama halnya bahwa ada Investasi dengan cerdik, ada juga Spekulasi dengan cerdik. Tetapi ada beberapa kondisi dimana spekulasi mungkin tidaklah cerdik, terutama : (1) Berspekulasi sambil menganggap bahwa anda itu berinvestasi (2) Berspekulasi secara serius (dan bukan utk bermain-main), padahal tidak mempunyai pengetahuan maupun keahlian utk itu; dan (3) Mempertaruhkan uang di spekulasi dalam jumlah yg terlalu besar".

Happy Investing!

------NOTE-----


Thread ini BUKAN tentang bagaimana "membuat Rp 1000 anda jadi Rp 1 juta". Kalau mau dibilang, thread ini lebih condong kepada "Bagaimana agar Rp 1 juta anda TIDAK menjadi Rp 1000."

Diskusi dalam thread ini mungkin akan saya arahkan kepada diskusi tentang :
  1. Investasi (investasi secara umum, bagaimana menyusun portofolio, instrumen investasi apa yg cocok bagi masing masing orang, dll)
  2. Spekulasi
  3. Financial Planning/Perencanaan Keuangan
  4. SCAM (bagaimana cara mengenali sesuatu tawaran sebagai SCAM, dll)


Fokus kepada topik di atas adalah karena saya lumayan akrab dengan topik-topik tersebut. Kalau mengenai bisnis/enterpreneurship, saya tidak berani banyak bicara, karena saya tahu banyak orang yg jiwa enterpreneurshipnya yang hebat. Selain itu pandangan tentang bisnis & cara menjalankan bisnis pun berbeda-beda antara tiap orang. Walaupun demikian, kalau sekedar bertukar cerita, tidak dilarang emoticon-Smilie.

----000----


Bagi yg tertarik buat ngikutin thread ini tetapi tidak sempat baca keseluruhan thread, di bawah ini adalah direct link ke beberapa posting dan juga diskusi saya dengan user lain di thread ini yang topiknya agak menarik.

Meskipun demikian, jika ada waktu, mungkin lebih baik untuk membaca thread dengan lengkap, karena banyak post yg bagus dari user lain yang tidak dibuatkan direct linknya (takut kepenuhan). Sayang kalau user-user sudah pada sharing tapi tidak kita manfaatkan.

Proyek Terjemahan/Rangkuman buku "The Intelligent Investor" :(MUST READ!!!)



Berkenalan dengan Reksadana
(link, tambahan)

Mengenal lebih dekat Obligasi
(part 1, part 2)

Investasi Emas di saat ini
(link)

Options : Investasi atau Spekulasi? (link)

Spekulasi, FM forbiz dan FM profesional
(link)
unik19Avatar border
unik19 memberi reputasi
1
274.4K
2.4K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Entrepreneur Corner
Entrepreneur Corner
KASKUS Official
22.1KThread5KAnggota
Tampilkan semua post
NikkentobiAvatar border
TS
Nikkentobi
#75
Mengenal lebih dekat Obligasi
NOTE : Ini restorasi dari artikel di thread "Jangan Serakah" yg lama. Artikel ini merupakan pengenalan singkat terhadap instrumen obligasi.

Teman-teman yg sebelumnya tidak mengikuti thread "Jangan Serakah" yg lama mungkin akan sedikit "shock" karena panjangnya posting ini emoticon-Smilie Jika dirasakan capek membacanya, lebih baik dibaca bertahap, tetapi benar benar dimengerti, daripada dibaca sekilas ttp tidak paham. Ini karena pemahaman tentang cara kerja obligasi sangat penting, mengingat Obligasi dan saham merupakan 2 komponen utama dalam penyusunan portofolio investasi.

Jika ada teman-teman yg kurang jelas ataupun ada yg ingin ditanyakan, silakan dipost saja ke thread ini. Jika memang saya tahu jawabannya, saya akan coba utk menjawab pertanyaan teman-teman.

-------

Mengenal lebih dekat Obligasi



Dalam dunia finansial, jika sebuah institusi membutuhkan dana, ada dua cara yang lazim dipakai untuk menghimpun dana dari masyarakat. Cara pertama adalah melalui penerbitan dan penjualan saham. Cara kedua adalah melalui penerbitan dan penjualan Obligasi (Bond).

Perbedaan di antara kedua cara ini adalah terutama pada sisi "kepemilikan". Pembeli saham akan menjadi "pemilik" dari perusahaan itu, sedangkan pembeli obligasi tidak.

Obligasi (Bond)itu merupakan sebuah instrumen hutang. Pada intinya Obligasi itu merupakan sebuah surat hutang yg diterbitkan oleh suatu institusi/lembaga, yang menyatakan bahwa institusi itu berhutang kepada orang yg membeli obligasi tersebut, di mana sebagai "imbalan" atas hutang tersebut, institusi tersebut akan memberikan sejumlah bunga setiap tahunnya kepada pembeli obligasi tersebut, dan pokok dari hutang itu akan dibayarkan setelah tempo waktu tertentu. Lamanya tempo waktu dari penerbitan obligasi hingga pembayaran pokok hutang itu umumnya disebut sebagai masa jatuh tempo/Maturity Period.

Dalam dunia finansial, obligasi ini diperdagangkan, sehingga seseorang yg berinvestasi dalam obligasi tidak perlu menunggu hingga obligasi itu jatuh tempo/mature utk mendapatkan kembali pokok hutangnya. Dia cukup menjual obligasi tersebut di pasar, dimana biasanya harga pasar obligasi biasanya relatif stabil dibandingkan dengan harga saham.

-------


Secara garis besar, institusi yang menerbitkan obligasi itu bisa dibagi 2:

  1. Pemerintah dan juga lembaga pemerintahan

    Biasanya dalam hal ini obligasi diterbitkan oleh pemerintah pusat. Tetapi di beberapa negara, pemerintah daerah (pemda) pun bisa menerbitkan obligasi. Obligasi yg diterbitkan oleh pemda biasanya dikenal dengan nama "Municipal Bond".

    Utk obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat, contohnya adalah ORI yg diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Utk USA, ada dikenal T-Bond, T-Note, dan T-Bills. Ketiga-tiganya adalah obligasi, hanya saja namanya dibedakan utk menandakan Maturity Periodnya. T-Bond (Treasury Bond) jatuh tempo/maturity periodnya panjang, hingga 30 thn. T-Note jatuh temponya dalam waktu menengah (di atas 2 thn hingga 10thn), sedangkan T-Bills jangka waktunya pendek, kurang dari 2 thn.

    Biasanya utk obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, resiko "gagal bayar" (default) dianggap relatif kecil, karena memang jarang sekali ada kasus Negara yg bangkrut sehingga tidak mampu membayar bunga maupun hutang pokok dari obligasi. Tetapi sebagai bukti bahwa memang di dunia ini tidak ada investasi tanpa resiko, beberapa negara pernah mengalami "gagal bayar", misalnya Argentina dan Rusia.


  2. Perusahaan (Corporate)

    Obligasi yg diterbitkan oleh perusahaan (dikenal jg sebagai Corporate Bonds) dianggap relatif lebih beresiko daripada obligasi pemerintah. Ini tentunya wajar mengingat kasus perusahaan yg "bangkrut" itu adalah sesuatu yg umum dalam dunia bisnis. Sebagai imbalan atas resiko yg lebih tinggi ini, tentu saja bunga dari obligasi perusahaan relatif lebih tinggi.

    Tergantung kepada keadaan keuangan perusahaan, obligasi perusahaan bisa dikategorikan dari "high grade bond/investment grade bond" (obligasi kualitas tinggi) hingga ke "junk bond" (obligasi "sampah"). Dalam hal ini "junk bond" bukan berarti obligasi itu "sampah", tetapi di sini "junk bond" menggambarkan obligasi yg resikonya termasuk tinggi (tentunya bunganya juga tinggi).

    Di Indonesia, jika kita ingin investasi secara langsung dalam obligasi perusahaan, biasanya kita membutuhkan modal yg relatif besar. Meskipun demikian, jika kita berinvestasi melalui reksadana obligasi, sebenarnya kita juga telah berinvestasi pada obligasi perusahaan. Ini karena biasanya reksadana obligasi selain berinvestasi dalam obligasi pemerintah, mereka juga beinvestasi dalam obligasi perusahaan.


-------


Obligasi sebagai instrumen investasi, mempunyai beberapa karakteristik :
  1. Obligasi itu bersifat pendapatan tetap/fixed-income
    Bunga dan pokok dari obligasi itu haruslah dibayarkan tepat sesuai pada waktunya, tanpa memperdulikan apakah perusahaan itu untung besar/kecil atau bahkan rugi. Ini tentu saja sangat berbeda dengan deviden dari saham yang biasanya hanya dibagikan jika perusahaan untung, dan pembagian deviden pun tergantung kepada kebijakan perusahaan.


  2. Likuid dan Relatif amannya modal pokok.
    Obligasi itu relatif likuid karena dapat diperjual-belikan dengan relatif mudah. Keamanan modal pokok pun relatif terjaga karena fluktuasi/perubahan harga obligasi relatif kecil dibandingkan dengan saham. Bahkan jika kita investasi secara langsung (tidak melalui reksadana obligasi), jika misalnya harga pasar obligasi kita jatuh, kita bisa memilih utk memegang obligasi tersebut hingga waktu jatuh temponya. Pada saat itu modal pokok sesuai dengan yg tertulis dalam obligasi akan dibayarkan secara penuh.


  3. Obligasi justru biasanya akan memberikan hasil yg baik di saat pasar saham jatuh (bear market).
    Seseorang yg berinvestasi dalam saham, biasanya mendapatkan keuntungan dari deviden dan juga kenaikan nilai harga saham. Dalam masa "Bear Market" (pasar saham jatuh), biasanya deviden kecil atau tidak ada, dan harga saham malahan jatuh. Pada saat ini, obligasi tetap memberikan bunga dalam jumlah yg sama. Oleh karena itu dalam "Bear Market" biasanya investor berburu obligasi. Pada saat itu, obligasi yg telah kita miliki harganya akan naik.


  4. Karena sifat bunganya yg tetap/fixed, obligasi "rentan" terhadap ancaman inflasi
    Di saat inflasi meningkat, perusahaan-perusahaan bisa menaikkan harga produknya. Nilai nominal dari keuntungan dan deviden pun bisa ikut naik, menyesuaikan dengan inflasi. Tetapi bunga obligasi jumlahnya akan tetap. Dalam keadaan inflasi tinggi, bisa terjadi seluruh bunga dari obligasi habis "dimakan" oleh inflasi. Oleh karena itu secara umum obligasi dianggap tidak memberikan perlindungan dari inflasi.

    Meskipun demikian, sebagai tambahan, di USA telah ada suatu produk obligasi yg disebut TIPS (Treasury Inflation Protected Securities). TIPS ini adalah obligasi yg nilai nominal / par valuenya akan berubah-ubah sesuai dengan tingkat inflasi. Oleh karena itu TIPS amat diminati oleh investor obligasi yg menginginkan perlindungan dari inflasi.


  5. Obligasi dengan Maturity Period yg panjang, umumnya akan lebih fluktuatif harganya dibandingkan dengan Obligasi jangka pendek.


----------------


Setelah kita mengenal apa itu obligasi dan bagaimana karakteristik, marilah kita melihat sebuah contoh agar mendapat gambaran yg lebih jelas.

ILUSTRASI 1:

PT. Kaskus membutuhkan dana utk investasi di server. Utk ini, PT. Kaskus memutuskan untuk menerbitkan obligasi yang kita akan sebut obligasi Kaskus seri 1. Nilai nominal (Par Value) dari obligasi ini Rp 100 juta. Maturity Period = 1 thn. Bunga (Interest/Coupon) dari obligasi ditetapkan 10% dari Par Value, dalam hal ini berarti 10%xRp 100jt = Rp 10 juta. (Ingat, jumlah bunga ini adalah tetap dan tidak akan berubah-ubah). Jumlah obligasi yg diterbitkan hanya 1 lembar, dan dibeli oleh kita.

Dalam obligasi, kita ada mengenal konsep "Yield" (Hasil), dimana "Yield" ini lebih penting daripada tingkat suku bunga yg tertulis dalam obligasi. Secara teori, seharusnya Yield adalah sebesar Bunga/Interest, dalam hal ini adalah 10% dari nilai nominal (par value), yaitu Rp 10jt.

Tetapi meskipun tingkat bunga itu tidak akan berubah, pada kenyataannya "Yield" (hasil) dari obligasi itu bisa berubah, lebih besar ataupun lebih kecil. Mengapa demikian? Hal ini karena meskipun bunga dari obligasi tidak berubah, harga pasar dari obligasi itu bisa naik dan turun dan tidak selalu sama dengan nilai nominal (par value).

Misalnya saja sewaktu kita membeli obligasi diatas, ternyata lumayan banyak peminatnya. Akibatnya kita tidak bisa membeli obligasi tersebut sebesar nilai nominal (par value)-nya. Misalnya saja kita terpaksa membeli obligasi tersebut dengan harga Rp 101 juta. Pada saat itu, Yield dari obligasi di atas sudah bukan 10% lagi, melainkan [(Rp110jt/Rp101jt)-1]*100%= 8,91%

--------


Nilai Yield suatu obligasi pun bisa berubah-ubah. Agar lebih jelas, kita akan melanjutkan ilustrasi di atas.

ILUSTRASI 2:

Misalnya saja 1 hari setelah PT. Kaskus menerbitkan obligasi seri 1 di atas, Gubernur Bank Indonesia menurunkan suku bunga sebesar 2%. Seandainya PT. Kaskus membutuhkan dana lagi dan memutuskan utk mencetak obligasi baru (seri 2), tentunya obligasi yg baru ini bunganya juga akan turun, dan tidak sebesar 10%, mungkin hanya sebesar 8%.

Seandainya pada saat itu ada seorang investor yang ingin membeli obligasi PT. Kaskus, dia ada dua pilihan. Pertama adalah dia membeli obligasi seri 2 yg bunganya 8%, atau dia bisa membeli obligasi seri 1 dari kita yg bunganya 10%. Secara logika obligasi seri 1 yg bunganya 10% lebih menarik, dan tentu saja kita tidak akan mau menjual obligasi seri 1 itu senilai Rp 100 juta lagi. Harga obligasi seri 1 itu pun naik. Berapa harga jual yg "pantas" untuk obligasi seri 1 milik kita?

Dalam kasus ini, biasanya harga akan kita naikkan hingga "Yield" (hasil) dari obligasi seri 1 kita akan mendekati "Yield" dari obligasi seri 2, yaitu 8%. Untuk itu harga obligasi seri 1 kita akan naik menjadi Rp 101,85 Juta (Didapat dari Rp 110 jt/108%). Pada harga ini, Yield dari obligasi seri 1 milik kita akan menjadi 8%, sama dengan "Yield" dari obligasi seri 2.

Jika kita berusaha menjual di atas harga itu, misalnya Rp 103 juta, maka yield obligasi seri 1 kita akan turun dibawah 8%. Pada saat itu, investor baru akan memilih obligasi seri 2 yg memberikan 8%. Sebaliknya jika kita menjual obligasi seri 1 milik kita dibawah Rp 101,85 juta, misalnya Rp 101 juta, berarti "Yield" obligasi seri 1 kita akan di atas 8%, sehingga investor baru itu akan cenderung untuk membeli obligasi kita.

Tambahan : Biasanya harga sebuah obligasi itu dinyatakan dalam nilai per 100, dimana 100 berarti harga pasar=nilai nominal (par value). Contoh lainnya : harga 102 berarti harga pasar=102% x nilai nominal (par value), kondisi ini disebut bahwa obligasi itu dijual dengan premium. Sebaliknya harga 95 misalnya berarti harga = 95%x Nilai nominal, dan dikatakan bahwa obligasi itu dijual dengan diskon

PENTING : Perlu kita perhatikan bahwa dalam hal ini, perubahan dalam harga pasar obligasi akan membuat Yield (tingkat hasil) dari obligasi berubah juga. Jika Harga dari sebuah obligasi naik, maka Yield akan turun. Sebaliknya jika harga obligasi itu turun, maka Yield akan naik.

----------------


Jika kita telah mengetahui bahwa harga pasar obligasi itu akan berpengaruh kepada yield obligasi, lalu hal-hal apa saja yang akan mempengaruhi harga pasar sebuah obligasi? Beberapa diantaranya :
  • Tingkat suku bunga.
    Suku bunga naik, harga obligasi akan turun. Suku bunga turun, harga obligasi akan naik.


  • Kualitas kredit
    Jika institusi yg menerbitkan obligasi itu keadaan keuangannya memburuk, peminat obligasi tersebut akan berkurang sehingga harga obligasinya akan turun. Demikian juga sebaliknya.


  • Kondisi pasar saham
    Dalam keadaan "Bear Market", dimana deviden kecil/tidak ada dan harga saham berjatuhan, banyak investor yg lari "berlindung" dalam obligasi. Pada saat ini harga obligasi cenderung meningkat. Sebaliknya jika pasar saham dalam keadaan "BULL", investor cenderung lebih memilih saham yg akan memberikan hasil yg lebih atraktif.


  • Inflasi
    Dalam keadaan inflasi tinggi, biasanya obligasi tidak diminati oleh investor, sehingga harganya akan jatuh.


-----oOo-----


Bagi investor obligasi, ada dua tingkat yield yg perlu diperhatikan:

  • Current Yield
    Current Yield adalah tingkat hasil yang didapat dari perbandingan antara kupon obligasi dan harga obligasi pada saat itu. Misalkan harga ORI 4 saat ini berada pada tingkat 90, dan kuponnya 9,5%, maka Current Yieldnya adalah sebesar 10,55%, yg didapat dari 9,5%emoticon-Frown90/100). Artinya, jika seseorang membeli investor membeli ORI4 pada saat itu, tingkat hasil yg didapatnya sebenarnya adalah 10,55% dan bukan 9,5%.


  • Yield to Maturity (YTM)
    YTM adalah tingkat hasil yg akan didapat oleh seorang investor obligasi jika ia membeli obligasi pada saat itu, DAN memegang obligasi itu hingga jatuh tempo, dengan asumsiseluruh kupon/bunga yg diterima dari obligasi itu akan diinvestasikan kembali dengan tingkat hasil yg sama.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.