Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang 3 cara deteksi dini kanker otak pada anak

.
Kesehatan anak merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang tua. Salah satu penyakit serius yang sering terlambat terdeteksi adalah kanker otak pada anak. Banyak kasus baru diketahui ketika gejalanya sudah cukup berat, misalnya anak mengalami kejang, gangguan keseimbangan, atau perubahan perilaku yang drastis.
Padahal sebenarnya, dalam banyak kasus, tubuh sudah memberikan tanda-tanda awal yang bisa dikenali lebih cepat. Jika orang tua peka terhadap perubahan tersebut, kemungkinan diagnosis dapat dilakukan lebih dini sehingga pengobatan bisa dimulai lebih cepat.
Secara global, tumor otak merupakan salah satu kanker yang paling sering terjadi pada anak setelah leukemia limfoblastik akut. Tumor pada sistem saraf pusat bahkan menjadi penyebab utama kematian pada beberapa jenis kanker anak (American Cancer Society, 2023).
Jenis tumor otak pada anak cukup beragam. Pada anak usia sekolah dasar hingga remaja, salah satu jenis yang cukup sering ditemukan adalah astrositoma derajat rendah (grade 1 dan grade 2). Tumor ini berasal dari sel astrosit, yaitu sel yang berfungsi sebagai penunjang jaringan saraf di otak. Sebagian astrositoma berkembang relatif lambat, tetapi tetap dapat menimbulkan gangguan neurologis jika ukurannya semakin besar (National Cancer Institute, 2024).
Sementara itu, meduloblastoma lebih sering ditemukan pada anak yang lebih kecil, bahkan pada usia balita. Tumor ini biasanya berkembang di bagian otak kecil atau serebelum, yaitu bagian otak yang berfungsi mengatur koordinasi gerakan dan keseimbangan tubuh (Packer et al., 2017).
Masalahnya, gejala awal kanker otak sering dianggap sebagai keluhan biasa. Anak mungkin terlihat ceroboh saat berjalan, mengalami gangguan penglihatan, atau bahkan mengalami kejang yang dianggap sebagai kejadian sesaat. Padahal, ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan.
Berikut ini adalah 3 cara sederhana yang dapat membantu orang tua mendeteksi kemungkinan kanker otak sejak dini pada anak dan remaja.
Selamat menyimak

.
Quote:
1. Jangan Sepelekan Mata Jereng Pada Anak
Salah satu tanda yang sering dianggap remeh adalah mata jereng atau strabismus.
Strabismus adalah kondisi ketika kedua mata tidak sejajar dan tidak fokus pada satu titik yang sama. Pada banyak kasus, kondisi ini memang disebabkan oleh gangguan pada otot mata. Namun dalam beberapa situasi tertentu, strabismus dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saraf otak.
Saraf yang mengatur gerakan mata berasal dari otak. Jika terdapat gangguan pada saraf tersebut, misalnya karena tekanan dari tumor otak, maka koordinasi gerakan mata dapat terganggu.
Akibatnya, anak dapat mengalami gejala seperti posisi mata yang tidak sejajar, penglihatan ganda, gerakan mata yang tidak normal, dan kesulitan fokus pada suatu objek.
Beberapa tumor otak yang berkembang di sekitar jalur saraf penglihatan atau batang otak dapat menyebabkan gangguan koordinasi gerakan mata. Gangguan visual bahkan merupakan salah satu gejala neurologis yang cukup sering ditemukan pada tumor otak anak (Louis et al., 2021).
Oleh karena itu, jika seorang anak tiba-tiba mengalami mata jereng, terutama jika sebelumnya tidak pernah terjadi, kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan oleh dokter mata atau dokter saraf dapat membantu menentukan, apakah masalah tersebut hanya gangguan mata biasa, atau berkaitan dengan sistem saraf pusat.
Perlu diingat juga bahwa tidak semua mata jereng berarti kanker otak. Namun, perubahan pada penglihatan tetap merupakan tanda yang perlu diperhatikan dengan serius.
Quote:
2. Hati-Hati Jika Anak Mengalami Kejang Tanpa Riwayat Kejang Sebelumnya
Kejang merupakan salah satu gejala neurologis yang penting. Jika seorang anak mengalami kejang untuk pertama kalinya tanpa riwayat epilepsi sebelumnya, kondisi tersebut perlu diperiksa secara medis.
Kejang terjadi ketika aktivitas listrik di otak menjadi tidak normal. Pada tumor otak, pertumbuhan jaringan abnormal dapat mengganggu fungsi neuron sehingga memicu aktivitas listrik yang tidak stabil.
Beberapa jenis tumor otak pada anak, termasuk astrositoma, dapat menimbulkan gejala seperti kejang, sakit kepala, mual dan muntah, gangguan konsentrasi, serta perubahan perilaku.
Dalam dunia medis, kejang pertama tanpa penyebab yang jelas selalu memerlukan evaluasi lebih lanjut. Dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan neurologis, elektroensefalografi (EEG), serta CT scan atau MRI otak.
Pemeriksaan pencitraan seperti MRI sangat penting karena dapat membantu dokter melihat struktur otak secara detail dan mendeteksi kemungkinan adanya massa tumor (National Cancer Institute, 2024).
Perlu dipahami bahwa kejang tidak selalu berarti tumor otak. Meningitis, demam tinggi, atau gangguan metabolik juga dapat menyebabkan kejang. Namun, tetap saja kondisi ini tidak boleh diabaikan.
Quote:
3. Hati-Hati Jika Anak Sering Terjatuh Saat Berjalan
Anak-anak memang sering terjatuh ketika bermain. Namun, jika seorang anak yang sebelumnya memiliki koordinasi baik tiba-tiba menjadi sering kehilangan keseimbangan, kondisi ini patut dicurigai.
Beberapa tumor otak, terutama yang berkembang di serebelum, dapat mengganggu fungsi keseimbangan tubuh. Serebelum memiliki peran penting dalam mengatur koordinasi gerakan, keseimbangan tubuh, kontrol otot, dan stabilitas saat berjalan.
Jika bagian serebelum ini terganggu oleh tumor seperti meduloblastoma, anak dapat menunjukkan gejala seperti berjalan sempoyongan, sering kehilangan keseimbangan, kesulitan mengontrol gerakan tangan, dan koordinasi motorik yang buruk.
Selain itu, anak juga mungkin mengalami gejala tambahan seperti sakit kepala yang sering muncul di pagi hari, muntah tanpa sebab yang jelas, gangguan penglihatan, dan perubahan perilaku.
Gejala tersebut dapat muncul karena meningkatnya tekanan di dalam tengkorak akibat pertumbuhan tumor (Packer et al., 2017).
Jika orang tua melihat perubahan pola berjalan yang signifikan pada anak, sebaiknya kondisi ini diperiksakan kepada dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Quote:
PENUTUP
Kanker otak pada anak memang merupakan penyakit yang serius dan mematikan, tetapi deteksi dini dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan secara signifikan.
Beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan, antara lain:
1) Mata jereng atau gangguan penglihatan yang muncul tiba-tiba
2) Kejang tanpa riwayat kejang sebelumnya
3) Anak sering terjatuh atau mengalami gangguan keseimbangan saat berjalan
Jika gejala tersebut muncul secara berulang atau semakin memburuk, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Kewaspadaan sejak dini bukan berarti khawatir berlebihan, melainkan bentuk perhatian terhadap kesehatan anak. Dengan mengenali tanda-tanda awal penyakit, orang tua dapat membantu memastikan bahwa setiap masalah kesehatan ditangani secepat mungkin.
Semoga thread ini bermanfaat dan bisa menambah wawasan para orang tua semua tentang pentingnya deteksi dini kanker otak pada anak.
Terima kasih sudah membaca threadnya sampai habis

.
Quote:
SUMBER
American Cancer Society. (2023).
Brain and spinal cord tumors in children. American Cancer Society.
Louis, D. N. et al. (2021). The 2021 WHO classification of tumors of the central nervous system: A summary.
Neuro-Oncology,
23(8), 1231–1251.
National Cancer Institute. (2024).
Childhood brain and spinal cord tumors treatment (PDQ®). National Institutes of Health.
Packer, R. J. et al. (2017). Phase III study of craniospinal radiation therapy followed by adjuvant chemotherapy for newly diagnosed average-risk medulloblastoma.
Journal of Clinical Oncology,
24(25), 4202–4208.
MSD Manual. (2024).
Astrocytoma in children. MSD Manuals.
@aldo12 @pabuaranwetan @essyaraz