- Beranda
- Berita dan Politik
Ekonom Bloomberg: Inflasi Indonesia 7,5% Gara-gara Harga Minyak
...
TS
jaguarxj220
Ekonom Bloomberg: Inflasi Indonesia 7,5% Gara-gara Harga Minyak
Bloomberg Technoz, Jakarta - Dampak perang AS-Iran berpotensi menambah tekanan inflasi di Indonesia pada tahun ini, lantaran harga minyak mentah dunia yang terkerek naik hingga di atas US$100 per barel.
Ekonom Bloomberg Tamara Henderson menyebut jika kenaikan biaya energi terjadi sekitar 10% secara berkelanjutan, maka inflasi domestik diperkirakan bisa melampaui target Bank Indonesia pada pertengahan tahun mendatang.
"Dengan inflasi akhir tahun berpotensi mencapai sekitar 4,8%, apabila dampaknya sepenuhnya diteruskan ke harga barang dan jasa yang sensitif terhadap bahan bakar," ujar Tamara dalam catatannya, baru-baru ini.
Bahkan, dalam skenario yang lebih ekstrem, yaitu terjadinya kenaikan harga energi sekitar 20%, dapat membuat inflasi melampaui target lebih cepat, bahkan bisa terjadi pada April atau Mei.
Dalam kondisi lebih ekstrem tersebut, Henderson itu mencatat inflasi Indonesia bahkan berpotensi mendekati 7,5% pada akhir tahun, terutama jika tidak ada bantalan dari subsidi energi, penguatan rupiah, atau kebijakan penahan harga dari pemerintah.
Kenaikan harga energi global terjadi setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak. Terlebih, kemarin (8/3/2026) waktu setempat produsen minyak di Kuwait dan Uni Emirat Arab menyatakan akan menurunkan produksi minyak akibat perang ini.
Pengurangan produksi minyak Kuwait dimulai dengan sekitar 100.000 barel per hari pada Sabtu pagi dan diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada hari Minggu, dengan pengurangan bertahap lebih lanjut tergantung pada tingkat penyimpanan dan status Selat Hormuz.
Tekanan harga Brent kontrak satu bulan yang melonjak tajam ini memperbesar risiko bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Sikap Bank Sentral
Meski begitu, tekanan inflasi tersebut dianggap belum tentu langsung memicu pengetatan kenbijakan moneter. Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap berhati-hati dalam mengambil langkah kebijakan mengingat pertumbuhan ekonomi domestik masih relatif rapuh, sementara kenaikan harga energi berpotensi menggerus daya beli rumah tangga.
"Dalam kondisi seperti ini, BI kemungkinan akan lebih memfokuskan perhatian pada inflasi inti dibandingkan inflasi umum," ujar Tamara, masih dalam laporan yang sama.
Sebab, pendekatan ini pernah dilakukan BI sebelumyaa saat terjadi lonjakan harga pascapandemi Covid-19 yang memicu tekanan harga lantaran kenaikan harga komoditas.
Sebelum konflik AS-Iran meningkat, BI masih melihat kemungkinan adanya ruang pelonggaran kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selain kebijakan moneter, pemerintah juga masih memiliki instrumen fiskal untuk meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi domestik. Misalnya seperti subsidi energi dan pengaturan harga bahan bakar yang selama ini seringkali digunakan untuk menahan transmisi langsung dari lonjakan harga minyak global.
Di sisi lain, BI juga sepertinya tidak akan tergesa-gesa untuk melakukan pengetatan kebijakan, terutama jika kenaikan inflasi dinilai bersifat sementara dan apabila tidak memicu efek putaran kedua seperti adanya kenaikan upah atau lonjakan inflasi inti.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...-harga-minyak/
Simpan / tabung uang THR-mu...
Badai besar akan datang bulan depan...
Ekonom Bloomberg Tamara Henderson menyebut jika kenaikan biaya energi terjadi sekitar 10% secara berkelanjutan, maka inflasi domestik diperkirakan bisa melampaui target Bank Indonesia pada pertengahan tahun mendatang.
"Dengan inflasi akhir tahun berpotensi mencapai sekitar 4,8%, apabila dampaknya sepenuhnya diteruskan ke harga barang dan jasa yang sensitif terhadap bahan bakar," ujar Tamara dalam catatannya, baru-baru ini.
Bahkan, dalam skenario yang lebih ekstrem, yaitu terjadinya kenaikan harga energi sekitar 20%, dapat membuat inflasi melampaui target lebih cepat, bahkan bisa terjadi pada April atau Mei.
Dalam kondisi lebih ekstrem tersebut, Henderson itu mencatat inflasi Indonesia bahkan berpotensi mendekati 7,5% pada akhir tahun, terutama jika tidak ada bantalan dari subsidi energi, penguatan rupiah, atau kebijakan penahan harga dari pemerintah.
Kenaikan harga energi global terjadi setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak. Terlebih, kemarin (8/3/2026) waktu setempat produsen minyak di Kuwait dan Uni Emirat Arab menyatakan akan menurunkan produksi minyak akibat perang ini.
Pengurangan produksi minyak Kuwait dimulai dengan sekitar 100.000 barel per hari pada Sabtu pagi dan diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada hari Minggu, dengan pengurangan bertahap lebih lanjut tergantung pada tingkat penyimpanan dan status Selat Hormuz.
Tekanan harga Brent kontrak satu bulan yang melonjak tajam ini memperbesar risiko bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Sikap Bank Sentral
Meski begitu, tekanan inflasi tersebut dianggap belum tentu langsung memicu pengetatan kenbijakan moneter. Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap berhati-hati dalam mengambil langkah kebijakan mengingat pertumbuhan ekonomi domestik masih relatif rapuh, sementara kenaikan harga energi berpotensi menggerus daya beli rumah tangga.
"Dalam kondisi seperti ini, BI kemungkinan akan lebih memfokuskan perhatian pada inflasi inti dibandingkan inflasi umum," ujar Tamara, masih dalam laporan yang sama.
Sebab, pendekatan ini pernah dilakukan BI sebelumyaa saat terjadi lonjakan harga pascapandemi Covid-19 yang memicu tekanan harga lantaran kenaikan harga komoditas.
Sebelum konflik AS-Iran meningkat, BI masih melihat kemungkinan adanya ruang pelonggaran kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selain kebijakan moneter, pemerintah juga masih memiliki instrumen fiskal untuk meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi domestik. Misalnya seperti subsidi energi dan pengaturan harga bahan bakar yang selama ini seringkali digunakan untuk menahan transmisi langsung dari lonjakan harga minyak global.
Di sisi lain, BI juga sepertinya tidak akan tergesa-gesa untuk melakukan pengetatan kebijakan, terutama jika kenaikan inflasi dinilai bersifat sementara dan apabila tidak memicu efek putaran kedua seperti adanya kenaikan upah atau lonjakan inflasi inti.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...-harga-minyak/
Simpan / tabung uang THR-mu...
Badai besar akan datang bulan depan...
saya.palsu memberi reputasi
1
959
9
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
696.2KThread•1Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya