Kaskus

Story

robotpintarAvatar border
TS
robotpintar
Solus Satis
Solus Satis


Spoiler for Sekapur Sirih:




Gue duduk sambil menggenggam cangkir berisi kopi instan yang kini dingin. Sesekali berusaha memutar atau memijat leher yang kaku. Rasanya kayak ada beton yang sengaja diletakkan di pundak, berat dan susah lepas.

Dulu, waktu kecil, gue pikir jadi dewasa itu soal kebebasan. Bebas beli es krim kapan aja atau bisa begadang tanpa ada yang ngomel. Nggak pernah ada yang ngasih tahu kalau paket jadi ‘dewasa’ itu dateng bareng satu kemampuan terkutuk: berpura-pura.

Pura-pura terlihat kuat, pura-pura kalau semua baik-baik saja.

Sekarang, gue justru rindu jadi anak kecil yang masalah paling beratnya cuma mikirin besok mau main sama siapa dan main apa. Bukan mikirin beban hidup, deadline pekerjaan, atau pusing menjaga perasaan orang lain.

Kadang, gue pengen banget ‘berhenti’ sebentar. Bukan, bukan buat kabur atau sembunyi. Tapi, cuma buat istirahat. Jeda sebentar hanya untuk duduk tanpa ada yang bertanya ‘kenapa?’, tanpa harus menjelaskan apa-apa. Tapi, kayaknya dunia nggak pernah ngasih kesempatan. Selalu ada notifikasi tagihan atau rentetan chat klien yang menagih balasan. Rasa khawatir kayak kipas angin rusak yang bilahnya patah satu; terus berusaha berputar tapi bikin berisik di kepala.

Anehnya, di tengah suara ‘berisik’ itu, entah kenapa gue tetap merasa kesepian.
Merasa sendirian.

Bukan, bukan karena nggak ada orang di sekitar gue. Ada, banyak malah. Tapi terasa berbeda. Mereka hadir secara fisik, tapi nggak pernah benar-benar membantu meringankan beban di pundak. Nggak pernah ada saat dada gue terasa benar-benar sesak.

Mungkin ini bukan sekadar fase transisi, tapi tanda kalau gue pelan-pelan mulai kehilangan diri yang dulu.

Gue nggak tahu.

Sekarang yang gue tahu cuma satu; gue lagi ada di masa di mana ‘diam’ terasa jauuuh lebih nyaman daripada menjelaskan semuanya dan bikin dada tambah sesak, beban lebih berat.

Mungkin ini harga yang harus dibayar karena sudah berani-beraninya jadi dewasa. Semakin banyak yang kita tahu, semakin kita ngerti banyak hal, semakin kita akhirnya sadar kalau hidup ternyata nggak sesederhana itu. Semakin ke sini, semakin banyak yang harus ditahan. Kata-kata yang nggak jadi diomongin atau perasaan yang terus dipendam karena takut dianggap berlebihan.

Lucunya, orang-orang selalu ngasih nasihat layaknya mereka paling bijak di dunia: “Nanti juga terbiasa kok.” Seolah-olah ‘terbiasa’ adalah sebuah solusi, padahal gue yakin kalau itu cuma cara halus untuk bilang kalau kita harus terus menelan rasa sakit sampai mati rasa. Dan gue nggak yakin gue mau mati rasa.

Gue nggak yakin kalau gue mau membiasakan diri. Gue nggak mau.

“Nad… udah siap? yuk…” Suara Sinta membuyarkan lamunan.

Gue berpaling, menatap ke arah wajahnya yang menyembul dari balik ruang pantri.
Bentar, 2 menit…” Jawab gue seraya berdiri dari kursi dan ke meja dapur. Gue membuang kopi instan yang tersisa dan meletakkan cangkirnya di sink.

Gue beralih ke cermin kecil yang tergantung di dinding area pantri, cermin yang sengaja gue request ke Sinta setelah beberapa minggu yang lalu gue meeting dengan sisa cabe yang nempel di gigi. Setelah mengecek gigi dan make-up, gue menyusul Sinta keluar dari pantri.

Cahaya menyilaukan dari lampu-lampu bertiang di dalam ruangan menyambut gue. Sementara, Jafar terlihat masih sibuk mengatur preset dari balik kamera. Gue duduk di sofa putih yang nyaman dan empuk, lalu duduk di lantai, ya ironis memang sofa empuk dan nyaman itu hanya dipakai untuk sandaran. Menurut Sinta, biar kelihatan lebih merakyat.

Sinta mulai menyiapkan beberapa menu makanan dari resto milik klien.

“Udah, Nad?” Tanya Jafar sambil melirik dari balik kamera, mengkonfirmasi kesiapan gue.

Gue mengangguk pelan, lalu berdehem sebentar dan pasang tampang ceria.

“Yak, action…” Jafar menambahkan, disusul indikator kecil di bagian atas kamera yang mulai berkedip cepat.

“Hi, guys! Balik lagi bareng gue…” Seru gue seraya melambaikan kedua tangan dan menampilkan wajah manis ke arah lensa kamera. Suara gue terdengar ringan, terlampau ringan untuk ukuran orang yang dadanya selalu terasa sesak.

Sementara, wajah manis yang gue suguhkan hanyalah sebuah sistem. Sistem yang otomatis bekerja saat kamera mulai menyala. Sudah terlatih.

Gue tahu angle terbaik wajah, gue tahu gimana cara agar nada bicara terdengar antusias tapi nggak lebay. Gue tahu kapan harus ketawa kecil, kapan harus mengernyit untuk berpura-pura takjub dan kapan harus bilang; “Gila! ini enak banget sih… Lo wajib coba!”

Padahal jauh di lubuk hati terdalam, gue nggak pernah benar-benar antusias dengan tempat yang gue datangi, nggak pernah benar-benar takjub dengan barang yang gue review, nggak pernah merasa puas dengan rasa makanan yang gue coba.

Tapi, ini semua bukan perkara selera. Bukan juga perkara enak atau nggak, bukan juga tentang suka atau tidak. Ini cuma soal engagement, soal conversion, soal insight yang nantinya bakal dicek Sinta sambil menggerutu pelan kalau hasilnya nggak memuaskan.

Kerjaan gue ini terdengar menyenangkan, kan? Iya, banyak yang bilang begitu. Bahkan nggak sedikit juga yang menjadikan pekerjaan ini sebagai mimpinya.
Duduk manis, makan enak, dapet bayaran. Datang ke event, nge-vlog atau sekedar selfie cantik, pulang bawa goodie bag, dapet bayaran. Setiap hari senyum di story atau di feed. Hidup terlihat estetik dan fun. Kolom komentar penuh pujian.

“Enak banget jadi lo” ”Pengen deh punya kerjaan kayak lo” ”Hidup enak yang sesungguhnya…”

Itu yang mereka tahu.

Banyak yang mereka nggak tahu.

Ada brief panjang dan kaku dari klien. Revisi script yang bolak-balik. Target views yang harus ditembus. Juga banyak hal teknis menyebalkan lainnya.

Dan yang paling penting; ada tekanan untuk selalu terlihat bahagia.

Kenapa?

Karena orang nggak bakal follow gue kalau gue-nya terlihat capek. Orang follow gue buat memberi hiburan, buat kabur sebentar dari hidup mereka yang ‘mungkin’ berat. Tapi, ironisnya siapa yang bakal menghibur gue.

“Cut, Nad!” Seru Jafar. Ia lalu bangkit dari balik kamera, mendekat ke arah gue lalu mulai membetulkan packaging makanan yang kurang dominan di kamera.
Ini adalah take yang kesekian. Sebelumnya, masalah teknis kayak cahaya lampu yang bocor, makanan yang terlihat nggak menggugah selera, gue yang salah menyebut nama brand, dan hal remeh lainnya. Sementara, rasa makanan makin lama makin pahit di lidah. Mungkin karena terlalu sering diulang.

“… Nad, kurang energi. Bisa lebih excited lagi nggak?” Tambah Jafar lalu kembali ke posisinya.

Gue mengangguk.

Take diulang.

Kali ini dengan senyum yang lebih lebar, dengan mata yang lebih berbinar dan intonasi yang lebih antusias.

Followers nggak butuh alasan.

Setiap hari gue membangun persona. Versi diri yang ceria, ramah, relatable. Jadi versi yang selalu punya rekomendasi tempat makan, tempat ngopi, skincare, outfit, tempat healing. Jadi versi yang seolah hidupnya penuh warna.

Padahal, gue sendiri nggak nyaman ada di tempat yang ramai. Gue malah lebih suka diem di dalam kamar sambil rebahan, doing nothing.

Kadang, pas gue scrolling akun sendiri, gue merasa aneh. Gue merasa asing.
Kayak bukan gue.

Foto-foto estetik dengan filter yang hangat. Caption manja yang sudah sesuai dengan kaidah algoritma. Story-story dengan backsound lagu-lagu trending ceria. Banyak likes, ribuan komentar, dan DM yang masuk tanpa henti. Ada yang minta rekomendasi, ada yang curhat, ada yang sekedar memberi pujian, bahkan ada yang bilang kalau gue adalah penyemangat hidup mereka.

Di saat gue merasa kesepian, dengan berbekal kepalsuan, banyak orang yang merasa ditemani.

Lagi-lagi, hal yang ironis kan?

Kayaknya hidup gue ini cuma bergantung dari angka. Dari atensi followers. Dari views, dari likes, share dan save. Semakin tinggi angka-angka itu, semakin mahal ‘harga’ gue di mata brand.

Kadang jam dua pagi gue masih mantengin insight.

“Kenapa reach-nya nge-drop?” ”Kenapa views-nya turun?” ”Kenapa post yang ini likes-nya sedikit?”

Seolah-olah nilai hidup gue ini cuma sebatas angka.

Nilai yang nggak boleh hilang, yang nggak boleh redup. Karena di industri ini kalau lo hilang orang bakal lupa. Hal ini yang bikin lelah gue semakin bertambah. Gue takut, takut tenggelam, takut nggak lagi relevan. Padahal, badan dan jiwa udah capek. Capek terus-terusan berpura-pura, capek terus ‘tampil’, capek harus selalu ‘On’.

Capek jadi produk dari diri sendiri.

Take terakhir akhirnya selesai. Gue buru-buru bangkit, berlari kecil ke sudut ruangan dan memuntahkan sedikit makanan yang memenuhi mulut ke tong sampah. Makanan yang sudah berkali-kali gue coba selama beberapa menit terakhir. Makanan yang berusaha gue telan, namun lambung terus menolak.
Jafar mengangkat ibu jarinya ke atas. Sementara Sinta yang sejak tadi berdiri di belakangnya ikut tersenyum puas.

“Cakep… Aman” Ucap Sinta.

Gue tersenyum.

“Udah yak, gue ke atas…” Balas gue, lalu keluar dari ruangan, menuju ke kamar.
Itu adalah pekerjaan panjang terakhir gue hari ini. Masih ada ‘hutang’ dua story dan satu post feed yang harus gue ‘lunasin’ malam ini. Tapi, untuk sekarang gue cuma mau berbaring sebentar.

Gue capek.

Gue masuk ke kamar, membanting pintu dan menjatuhkan diri di atas ranjang. Nggak mencoba memejamkan mata, hanya sekedar ingin berbaring dalam diam sambil menatap kosong ke arah lampu di langit-langit kamar yang berpendar.

10 menit berlalu.

Terdengar samar suara langkah kaki mendekat ke arah kamar, disusul pintu terbuka; Sinta. Ia masuk dan meletakkan lembaran kertas di atas meja rias.

“Nad, jangan lupa story sama feed buat brand x ya. Ini brief-nya” Ucapnya santai.

“Iya…” Jawab gue tanpa berpaling.

“Yaudah, gue sama Jafar balik ya. Itu masih ada makanan dari brand yang tadi di kulkas. Kalau mau makan diangetin dulu…” Tambahnya.

“Iya…” jawab gue lagi, masih tanpa menatapnya.

Sinta menutup pintu. Lalu, kembali terdengar teriakannya dari lorong di depan kamar; “Pager sama pintu depan jangan lupa dikunci!”

Kali ini gue nggak menjawab, hanya berdehem samar yang bahkan nggak yakin Sinta mampu mendengarnya.

Gue kembali melanjutkan ritual ‘diam’ selama hampir satu jam berikutnya. Kemudian bangkit dari ranjang, duduk di depan meja rias untuk membetulkan rambut yang berantakan.

Setelah semuanya beres, gue menyempatkan diri membaca brief pemberian Sinta sebentar. Lalu, mulai menyalakan ring light dan kamera ponsel. Tersenyum dan…

“Halo guys…”

Semua hutang konten selesai. Memastikan pagar dan pintu depan terkunci juga sudah. Kini gue kembali duduk menghadap ke cermin meja rias, baru saja selesai membersihkan make-up. Ponsel yang tergeletak di meja berbunyi, layarnya berkedip singkat, tanda sebuah chat masuk. Disusul sebuah notifikasi muncul di layar; chat dari Bunda.

‘Kak, transfer dong 5 juta buat Qila’ isi chat dari Bunda.

Gue menghela nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, lalu menghembuskannya perlahan.

Tangan gue bergetar, perut terasa mual. Kesulitan mengetik untuk membalas chat, gue menekan ikon telepon berwarna hijau; melakukan panggilan.

Nada sambung terdengar beberapa kali, lalu suara bunda menyambut.

“Halo, kak. Udah transfer belum?” Tanyanya, mengabaikan sapaan.

“Belum. Emang buat apa sih bun? kemarin kan baru aku transfer 5 juta…” Balas gue, penasaran.

“Ck.. ya buat keperluan lah kak. Kamu emang nggak tau sekarang apa-apa harganya naik. Sekarang si Qila butuh buat beli koper. Dia kan minggu depan mau liburan sama temen-temennya ke Bali…”

“Koper? koper kan ada. Aku juga punya di sini, tinggal ambil aja…” Balas gue dengan nada bicara yang mulai kesal. Ya gimana nggak kesal, kok bisa-bisanya minta duit segitu cuma buat beli koper. Beli barang yang nggak esensial.

“Ya kan udah jelek kak. Malu sama temen-temen yang lain…”

“Malu, ngapain malu…” Balas gue, masih dengan nada bicara yang sama.

“Ck.. kamu mau ngasih nggak sih kak? perhitungan banget sama adik sendiri…”

“Bukan gitu, bun…”

“Apa kamu nggak percaya sama Bunda? takut duitnya bunda pake buat yang lain? gitu?” Bunda menebak, atau mungkin lebih tepatnya memberi tuduhan.

“Percaya, bun. Yaudah tunggu, aku transfer…” Jawab gue, lalu mengakhiri panggilan. 
Secepat kilat gue membuka aplikasi bank di ponsel, mengetik nominal yang diminta bunda kemudian mengirimnya.

‘Udah ya, bun’ Isi chat gue ke bunda disertai dengan tangkapan layar bukti transfer. Disusul, reaksi sederhana dari bunda; sebuah emoji ibu jari.

Gue kembali menjatuhkan tubuh di ranjang, menatap ke lampu yang sama, memikirkan beban yang sama.

Kali ini, gue membiarkan rasa kantuk menyerang. Berusaha agar bisa terlelap dengan cepat, berharap saat bangun besok semua beban di pundak terasa lebih ringan.

Nyatanya hari esok gue masih disambut dengan rutinitas dan beban yang sama. Masih banyak brief panjang dan ribet dari klien. Revisi script yang bolak-balik. Target syuting yang harus dijalani juga tagihan-tagihan dari bunda dan Qila yang kayak nggak pernah ada habisnya.

Hingga akhirnya di hari yang awalnya terasa normal; gue meledak. Gue yang sudah nggak tahan dengan semua ini akhirnya memutuskan menyerah.

Berawal dari gue yang tanpa sengaja melakukan kesalahan. Kesalahan yang sangat manusiawi dan sebenarnya sepele.

Gue salah menyebut satu suku kata pada tagline brand saat syuting live stream. Buat gue mungkin sepele, tapi nyatanya bagi klien sebesar brand skincare ini, kesalahan gue layaknya bencana nasional. Kata mereka, itu merusak filosofi produk. Katanya, ini bikin angka penjualan mereka turun. Katanya, gue nggak profesional.

Hari ini, gue duduk di ruang meeting kantor milik brand yang terasa mewah. Ruang meeting yang entah kenapa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Di depan gue, dengan meja kaca besar memisahkan kami, duduk dua orang dari brand dan satu perwakilan agensi. Semuanya menatap tajam ke gue seolah gue baru saja kedapatan membakar kantor mereka.

“...kita bayar mahal bukan untuk denger kesalahan amatir kayak gitu, Nad. Kamu tahu kan audiens kita sensitif?” Suara pria dari pihak brand terdengar datar, tapi tajam.

Sementara, gue cuma menunduk, menatap meja kaca yang memantulkan bayangan lampu-lampu berpendar dan wajah gue yang pucat. Jari-jari gue tanpa perintah terus memijat tengkuk dan pelipis yang mulai berdenyut kencang. Kipas angin rusak di kepala mulai berputar lagi, kali ini lebih berisik.

“Mohon maaf sebelumnya, Pak. Nad sedang kurang fit saat itu, tapi dia tetap memaksakan profesionalitasnya untuk live,” Sinta mencoba masuk, menjelaskan. Suaranya tetap tenang meski gue tahu dia juga sedang tegang.
---





宇多田ヒカル - First Love



最後のキスはタバコの flavor がした

ニガくてせつない香り

明日の今頃には

あなたはどこにいるんだろう

誰を思ってるんだろう

You are always gonna be my love

いつか誰かとまた恋に落ちても

I'll remember to love

You taught me how

You are always gonna be the one

今はまだ悲しい love song

新しい歌 歌えるまで

立ち止まる時間が

動き出そうとしてる

忘れたくないことばかり

明日の今頃には

私はきっと泣いている

あなたを思ってるんだろう yeah-yeah-yeah

You will always be inside my heart

いつもあなただけの場所があるから

I hope that I have a place in your heart too

Now and forever you are still the one

今はまだ悲しい love song

新しい歌 歌えるまで oh, oh-oh

You are always gonna be my love

いつか誰かとまた恋に落ちても

I'll remember to love

You taught me how

You are always gonna be the one

まだ悲しい love song, yeah-yeah

Now and forever

Diubah oleh robotpintar Hari ini 14:42
four4birdsAvatar border
mazyudyudAvatar border
agamz1217Avatar border
agamz1217 dan 52 lainnya memberi reputasi
53
13K
224
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.