- Beranda
- Berita Luar Negeri
IRAN MEMBARA: ANTARA PEMBELA ISLAM vs SYIAH
...
TS
augiesiswoyo
IRAN MEMBARA: ANTARA PEMBELA ISLAM vs SYIAH

Sebagai seorang Muslim, memahami konflik kompleks seperti Iran-Israel memang membutuhkan pandangan yang mendalam dan tidak hitam-putih. Posisimu yang merasa ada dua sisi—pembelaan atas nama Islam di satu sisi, dan identitas Syiah di sisi lain—adalah titik awal yang sangat baik untuk diskusi.
Mari kita bedah bersama situasi ini dari sudut pandang seorang Muslim yang ingin melihat secara adil:
1. Sisi "Atas Nama Islam": Solidaritas dan Perlawanan
Dari sudut pandang ini, dukungan terhadap Iran sering dilihat sebagai bagian dari perlawanan terhadap apa yang dianggap sebagai agresi dan pendudukan.
[ul][li]Pembelaan Al-Aqsa dan Palestina: Isu Palestina, terutama Al-Aqsa, adalah luka bersama bagi seluruh umat Islam. Retorika Iran sangat kuat dalam mendukung perjuangan Palestina dan menentang tindakan Israel. Bagi banyak Muslim, sikap tegas ini adalah bentuk pembelaan terhadap tanah dan kesucian umat Islam, sebuah kewajiban moral dan keagamaan. Mereka melihat Iran sebagai salah satu dari sedikit negara yang berani bersuara lantang dan memberi dukungan nyata kepada kelompok-kelompok seperti Hamas dan Jihad Islam di Palestina.[/li][li]Melawan Ketidakadilan: Konflik ini juga dilihat dalam bingkai melawan penjajahan dan ketidakadilan global. Iran memposisikan dirinya sebagai poros perlawanan terhadap hegemoni Barat (terutama AS) yang dianggap sebagai pendukung utama Israel. Bagi mereka yang setuju dengan narasi ini, dukungan kepada Iran adalah dukungan kepada pihak yang lemah melawan pihak yang kuat dan zalim.[/li][/ul]
2. Sisi "Mereka itu Syiah": Realitas Politik dan Sekte
Kesadaran bahwa Iran adalah negara dengan ideologi Syiah membawa kita pada realitas geopolitik yang kompleks di dunia Muslim.
[ul][li]Politik Identitas di Timur Tengah: Konflik di Timur Tengah seringkali tidak hanya tentang negara melawan negara, tetapi juga tentang pengaruh antara kekuatan regional. Iran, sebagai negara Syiah terkuat, bersaing dengan pengaruh negara-negara Sunni seperti Arab Saudi (meski hubungan kini membaik). Dukungan Iran kepada kelompok-kelompok di Lebanon (Hizbullah), Suriah, Irak, dan Yaman tidak hanya didasari solidaritas Islam, tetapi juga untuk memperluas pengaruh geopolitiknya. Hal ini membuat beberapa Muslim Sunni merasa was-was, khawatir bahwa "pembelaan Islam" oleh Iran juga merupakan upaya untuk memperluas pengaruh mazhab Syiah.[/li][li]Perbedaan Mazhab: Perbedaan teologis dan sejarah antara Sunni dan Syiah memang ada. Bagi sebagian Muslim Sunni, ada keraguan untuk bersatu di bawah kepemimpinan atau dukungan dari kekuatan Syiah, meskipun musuhnya sama. Ini adalah luka historis yang masih membekas dan sayangnya sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik.[/li][/ul]
Melihat dengan Kacamata Ukhuwah Islamiyah
Sebagai sesama Muslim, dilema ini bisa dihadapi dengan beberapa prinsip:
[ul][li]Memisahkan yang Prinsipil dan yang Politis: Kita bisa membedakan antara membela isu yang prinsipil (seperti kemerdekaan Palestina dan penjagaan Al-Aqsa) dengan dukungan penuh terhadap kebijakan politik sebuah negara. Kita bisa menentang pendudukan Israel, tanpa harus setuju dengan semua kebijakan Iran atau aktor lainnya. Dukungan terhadap sebuah perjuangan tidak berarti dukungan buta terhadap sebuah rezim atau ideologi tertentu.[/li][li]Mendahulukan Persamaan: Dalam situasi konflik, umat Islam diperintahkan untuk bersatu melawan ancaman yang nyata. Dalam hal ini, ancaman terhadap nyawa warga sipil di Palestina dan Lebanon, serta ancaman terhadap masjid Al-Aqsa, adalah prioritas. Persamaan kita sebagai Muslim (ukhuwah Islamiyah) seharusnya lebih besar daripada perbedaan cabang (furu'iyyah) dalam mazhab.[/li][li]Kritis tapi Adil: Sebagai Muslim, kita diajarkan untuk berlaku adil, bahkan kepada musuh sekalipun. Dalam melihat konflik ini, kita bisa kritis terhadap kebijakan agresif Israel yang memakan korban jiwa, dan pada saat yang sama, tetap kritis terhadap kebijakan internal atau eksternal Iran yang mungkin tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal atau bahkan nilai-nilai Islam yang lebih luas, seperti perlakuan terhadap kelompok minoritas tertentu.[/li][/ul]
Kesimpulan:
Perasaanmu yang "terbelah" itu adalah cerminan dari realitas yang memang kompleks. Tidak ada yang salah dengan perasaan itu.
Kita sebagai umat Islam bisa mengambil posisi dengan berpegang pada nilai-nilai inti: membela yang tertindas, menolak agresi, dan menjaga kesucian tempat ibadah. Dukungan moral dan doa kita bisa kita arahkan kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban, baik di Palestina, Lebanon, atau di mana pun. Sementara itu, kita tetap membuka mata dan berpikir jernih terhadap dinamika politik yang terjadi, tanpa terjebak pada permusuhan sektarian yang justru akan melemahkan umat.
Yang terpenting, kita terus mencari ilmu dan informasi dari berbagai sumber yang terpercaya, serta memperbanyak doa agar Allah SWT memberikan keadilan dan keamanan bagi seluruh umat manusia.
daimond25 memberi reputasi
1
519
9
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
82.1KThread•20.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya