Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang 3 tanda perkembangan fisik yang tampak normal pada anak, tetapi ternyata justru menjadi tanda bahaya
Perkembangan dan pertumbuhan anak kecil sering kali diwarnai dengan berbagai perubahan fisik anak yang membuat orang tua, terutama yang baru saja memiliki anak, merasa khawatir. Ketika ada darah yang keluar dari hidung anak, muncul tanda-tanda menstruasi pertama, atau gigi anak mulai goyang, sebagian orang tua langsung khawatir, sebagian orang tua lainnya mungkin justru menganggapnya sebagai hal normal yang sudah menjadi bagian dari kodrat anak-anak. Padahal, beberapa kondisi medis yang terlihat sangat normal pada rentang usia tertentu, dapat menjadi tanda berbahaya yang tidak normal jika muncul terlalu dini.
Dalam dunia kesehatan anak, terdapat 3 kondisi medis utama yang sering disalahpahami sebagai hal normal, yaitu mimisan pada anak di bawah usia dua tahun, pubertas yang terlalu dini pada anak perempuan, serta gigi yang goyang di usia terlalu dini. Masing-masing terlihat normal dan bukan tanda-tanda penyakit, tetapi konteks usia yang terlalu dini membuat ketiganya cukup penting untuk diperiksakan ke dokter.
Thread ini akan membahas ketiganya dengan gaya bahasa yang mudah dipahami tanpa kehilangan bukti-bukti ilmiah, supaya para orang tua tidak salah mengambil sikap.
.
3 Tanda “Normal” Pada Anak Yang Justru Menjadi Tanda Penyakit
1. Mimisan pada Batita di Bawah 2 Tahun
Mimisan atau hidung berdarah sering dianggap sebagai kondisi yang sangat normal pada anak usia TK atau SD. Anak usia 4-10 tahun, terutama anak laki-laki, memang lebih rentan mimisan, karena anyaman pembuluh darah di bagian depan hidung (pleksus Kiesselbach) masih terlalu tipis, ditambah bentuk hidung mereka cenderung pendek dan melebar. Namun, apabila mimisan terjadi pada anak di bawah usia 2 tahun, itu adalah kondisi yang tidak normal.
Mengapa mimisan pada bayi dan batita berbahaya?
Pada usia batita, selain karena tingkat kerapatan pembuluh darah di hidung anak batita yang masih relatif jarang, pembuluh darah di hidung batita yang belum terlalu bertumbuh sebanyak anak usia sekolah (walau pada batita laki-laki sekali pun), rongga hidung batita juga masih kurang rentan terhadap cedera spontan. Artinya, kalau sampai mimisan benar-benar terjadi, biasanya ada penyebab yang lebih serius dibandingkan sekadar udara kering atau mengorek hidung terlalu keras.
Faktor-faktor yang sering menjadi pertimbangan tenaga medis, meliputi:
1. Infeksi saluran napas atas yang menyebabkan peradangan, dan membuat pembuluh darah hidung mudah pecah.
2. Cedera rongga hidung akibat pukulan atau kecelakaan yang tidak disadari oleh orang tua.
3. Gangguan pembekuan darah (koagulopati), misalnya pada penyakit hemofilia atau trombastenia Glanzmann.
4. Adanya benda asing di dalam hidung, karena anak batita bisa saja memasukkan biji-bijian ke hidung tanpa ketahuan.
5. Kelainan pembuluh darah struktural atau bawaan, meski penyebab ini lebih jarang.
American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa mimisan pada usia batita atau bayi memerlukan evaluasi medis untuk menyingkirkan gangguan pembekuan darah atau cedera berat yang tidak terdeteksi. Tidak jarang, dokter akan memeriksa riwayat keluarga, pola perdarahan lain, atau bahkan menyarankan pemeriksaan laboratorium.
Apa yang harus dilakukan oleh orang tua?
Jika mimisan pada anak (baik usia batita maupun anak usia sekolah) terjadi lebih dari sekali, berlangsung lama dan sulit dihentikan, atau disertai gejala lain, seperti mudah memar atau perdarahan dari gusi, orang tua sangat dianjurkan untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan. Meski sebagian kasus berakhir ringan, dokter perlu memastikan tidak ada penyakit sistemik yang berbahaya.
Intinya, mimisan pada anak di bawah 2 tahun bukanlah gejala yang normal, sehingga lebih aman untuk diperiksakan ke dokter.
2. Pubertas pada Anak Perempuan di Bawah 9 Tahun
Kalau di masa lalu masa pubertas anak dianggap dimulai di usia SMP, kini batasannya jauh lebih jelas secara medis. Pubertas normal pada anak perempuan di masa modern pada umumnya terjadi antara usia 9 hingga 13 tahun. Jadi, kalau tanda-tanda pubertas anak perempuan muncul sebelum usia 8 tahun, kita menyebutnya sebagai pubertas dini. Bahkan, jika gejalanya baru terlihat saat mendekati usia 9 tahun tetapi progresnya berjalan dengan cepat, dokter anak biasanya tetap mempertimbangkan untuk pemeriksaan.
Tanda-tanda pubertas dini anak perempuan yang perlu diperhatikan
Beberapa tanda yang sering menjadi keluhan awal, antara lain:
1. Pertumbuhan payudara anak sebelum usia 8 tahun.
2. Pertumbuhan rambut kemaluan atau ketiak yang lebih dini.
3. Bau badan lebih mirip seperti remaja.
4. Percepatan tinggi badan secara cepat.
5. Menstruasi pertama sebelum usia 9 atau 10 tahun.
Kondisi ini bukan sekadar perubahan fisik biasa. Pubertas dini bisa menyebabkan cakram epifisis tulang anak menutup lebih cepat, sehingga tinggi akhir saat dewasa bisa lebih pendek dari tinggi badan yang seharusnya. Selain itu, perubahan fisik yang terlalu dini sering berdampak pada psikologis anak, mulai dari rasa malu hingga kesulitan bersosialisasi. Yang paling berbahaya, usia menstruasi pertama yang terlalu dini juga bisa meningkatkan risiko kanker payudara di usia dewasa (
Sumber dari jurnal Wiley).
Penyebab pubertas dini
Sebagian besar kasus pubertas dini pada anak perempuan bersifat idiopatik, artinya tidak ditemukan penyebab yang spesifik. Namun, sebagian lain dapat disebabkan oleh:
1. Kelainan otak, seperti tumor atau gangguan pada hipotalamus dan kelenjar hipofisis.
2. Gangguan kelenjar adrenal atau ovarium.
3. Paparan hormon dari luar (misalnya, krim steroid milik orang dewasa).
American Academy of Pediatrics dan Mayo Clinic menjelaskan, bahwa mendeteksi pubertas dini sejak awal memberi ruang bagi dokter anak untuk menilai apakah terapi perlu dilakukan. Salah satu terapi yang paling umum adalah pemberian agonis GnRH, untuk menghentikan sementara proses pubertas sampai usia yang seharusnya.
Apa yang harus dilakukan oleh orang tua?
Jika anak perempuan menunjukkan tanda pubertas sebelum usia 9 tahun, segera lakukan konsultasi ke dokter anak atau dokter hormon anak. Pemeriksaan biasanya meliputi evaluasi tahap pubertas, foto rontgen tulang tangan untuk melihat cakram epifisis tulang, serta pemeriksaan kadar hormon jika diperlukan.
3. Gigi Goyang Sebelum Usia 5 Tahun
Pergantian gigi juga sering dianggap sebagai sesuatu yang sangat kodrati bagi anak-anak di seluruh dunia dan tidak perlu dikhawatirkan. Memang benar, bahwa gigi susu semua anak kecil (baik anak laki-laki maupun anak perempuan) pasti goyang pada usia sekitar 6 tahun, kemudian lepas dan berganti gigi permanen secara bertahap hingga usia 12 tahun. Namun, jika gigi anak mulai goyang sebelum usia 5 tahun, dokter gigi anak biasanya menyarankan untuk evaluasi.
Mengapa gigi goyang terlalu dini itu tidak normal?
Ada beberapa penyebab gigi goyang di usia dini yang mungkin mendasari:
1. Trauma karena benturan pada mulut, misalnya saat terjatuh, dapat merusak jaringan penyangga gigi.
2. Karies parah (gigi berlubang) yang menyebar ke akar gigi dapat membuat gigi goyang, dan akhirnya gigi bisa tanggal lebih dini.
3. Kelainan perkembangan tertentu, di mana akar gigi susu anak resorpsi dengan lebih dini dari usia yang seharusnya.
4. Penyakit periodontium, tetapi ini jarang terjadi pada anak kecil.
American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) menekankan tentang pentingnya pemeriksaan dini ketika gigi anak goyang terlalu dini, untuk memastikan tidak ada infeksi atau masalah tumbuh kembang rahang. Jika dibiarkan, gigi yang tanggal terlalu dini bisa menyebabkan pergeseran posisi gigi lain, sehingga mempengaruhi pertumbuhan rahang dan susunan gigi permanen nantinya.
Apa yang harus dilakukan oleh orang tua?
Jika orang tua menemukan gigi anak goyang sebelum usia 5 tahun, sebaiknya segera bawa anak ke dokter gigi anak. Dokter akan mengevaluasi, apakah gigi itu goyang karena trauma, karies, atau karena gangguan perkembangan. Dalam beberapa kasus, diperlukan foto rontgen gigi untuk melihat struktur akar gigi anak dan perkembangannya.