Kaskus

Story

shabira.elnaflaAvatar border
TS
shabira.elnafla
Sinden yang Hilang
Sinden yang Hilang


Sinden yang Hilang


Prolog


Aku baru sadar ada yang salah saat suaraku tidak berhenti ketika aku menutup mulut.
Nada itu tetap mengalun, keluar dari tenggorokanku yang terkunci, seperti ada tangan lain di dalam dadaku yang memeras udara. Aku mencoba berdiri, tapi kakiku menempel di lantai pendopo. Dinginnya merambat sampai tulang.

Gong dipukul.
Bukan oleh siapa pun.

Ia berbunyi sendiri.

Aku ingin memanggil namaku sendiri—sekadar memastikan aku masih ada—tapi yang keluar justru bait tembang berikutnya. Liriknya tidak asing. Aku pernah mendengarnya dulu, dari sinden yang tak pernah terlihat itu.

Dan kini … aku menghapalnya.

Satu per satu, ingatan yang bukan milikku menyusup: malam ketika pintu pendopo dikunci dari luar, bau kemenyan yang terlalu pekat,
suara lelaki berbisik, “Nyanyikan saja. Setelah itu, kau akan abadi.”

Aku tersentak.

Itu bukan ingatanku.

Tapi tubuhku mengingatnya dengan sempurna.

Aku menoleh ke seperangkat gamelan. Permukaannya basah, berkilat seperti dilapisi keringat. Saat tembang mencapai nada rendah, kayunya berderak—pelan, seperti tulang yang diregangkan. Aku mendengar sesuatu bergerak di dalamnya. Sesuatu yang bernapas bersamaku.

Baru saat itulah aku mengerti kebenaran yang paling mengerikan: Sinden itu tidak pernah hilang.
Ia dipatahkan, dilipat, lalu disimpan— di dalam suara.

Dan sekarang, suaraku sedang dibongkar untuk memberi tempat baginya.

Aku mencoba melawan. Memaksa napasku berhenti. Tapi tembang itu justru semakin keras. Semakin cepat. Seolah marah karena aku menolak.
Di luar pendopo, orang-orang tertawa. Mereka menyangka latihan berjalan normal.

“Aneh ya,” kata seseorang, “sindennya kok malam ini suaranya mirip Kemuning?”

Aku ingin berteriak.
Aku ingin bilang itu memang aku.

Tapi pada bait terakhir, namaku terdengar- dinyanyikan bukan sebagai penyanyi, melainkan sebagai lirik perpisahan.
Saat gong berdentang terakhir kali, sesuatu di dalam diriku terlepas.

Aku masih duduk di sini.
Masih bernyanyi.

Tapi aku tidak lagi tahu siapa yang sedang bernapas.

Dan dari celah mataku, kulihat seorang penabuh baru duduk terlalu dekat. Terlalu lama. Tangannya gemetar, matanya kosong, bibirnya bergerak mengikuti tembangku.

Aku ingin memperingatkannya.

Namun suaraku hanya melakukan satu hal sejak malam itu: memanggil pengganti.





-SE, Jan'06-
Diubah oleh shabira.elnafla 18-01-2026 19:33
bukhoriganAvatar border
alifshorifAvatar border
tiokyapcingAvatar border
tiokyapcing dan 5 lainnya memberi reputasi
6
891
10
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.