- Beranda
- Berita dan Politik
Siswa SD di NTT Bunuh Diri, Buku dan Pena Jadi Permintaan Terakhir
...
TS
keramikkamar
Siswa SD di NTT Bunuh Diri, Buku dan Pena Jadi Permintaan Terakhir

Surat terakhir bocah SD yang bunuh diri untuk ibunya, karena masalah ekonomi. Foto: Dok. Istimewa
3 Februari 2026 13:37 WIB
YBS (10), siswa laki-laki kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas gantung diri, Kamis (29/1) siang.
Korban mengakhiri hidup di pohon cengkeh dekat pondok sederhana tempat dia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Dalam proses olah TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan oleh korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Begini bunyi surat korban dalam bahasa daerah Ngada:
Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)
Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)
Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)
Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)
Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)
Di akhir tulisan tangan ini ada gambar dengan emoji menangis.
Kasi Humas Polres Ngada lpda Benediktus E Pissort membenarkan bahwa surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya.
”Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan,” ujar Benediktus.
Menurut dia, sejumlah saksi sudah diperiksa, antara lain Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34). Mereka warga Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
Dalam pemeriksaan itu, saksi Kornelis menuturkan, sekitar pukul 11.00 Wita, ia hendak pergi mengikat kerbau di sekitar pondok milik nenek korban. Di pondok itu, korban dan neneknya tinggal.
Dari jauh, Kornelis melihat korban sudah dalam kondisi tergantung. Ia langsung berlari menuju ke arah jalan sambil berteriak meminta tolong. Warga berdatangan melihat kejadian tersebut dan menelepon polisi.
Sebelumnya, sekitar pukul 08.00 Wita, Gregorius dan Rofina mendapati korban duduk di bale-bale, tempat duduk yang terbuat dari bahan bambu, di luar pondok itu. Mereka sempat berbincang dengan korban. Mereka menanyakan keberadaan nenek korban. Juga alasan korban tidak ke sekolah.
"Saat ditanya, korban hanya menunduk dan sedih," ungkapnya.
Sementara MGT (47), ibu korban menuturkan, pada malam sebelumnya, korban sempat menginap di rumah bersama dia. Keesokan paginya, korban dititipkan ke tukang ojek dengan tujuan pondok neneknya, sekitar pukul 06.00 Wita.
Ibu korban sempat memberikan nasihat terakhir kepada korban agar rajin bersekolah. Ibunya menyampaikan bahwa kondisi ekonomi keluarga terbatas dan serba kekurangan. Saat ini memperoleh uang memang tidak mudah.
Buku dan Pena Jadi Permintaan Terakhir
Gregorius Kodo, saksi mata, menuturkan kondisi keluarga korban banyak tantangan. Itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu tengah berada di rumah tetangga.
Menurutnya, korban kurang kasih sayang orang tua. Ayah korban meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima anak, termasuk korban.
"Sebelum bunuh diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang.
Sumber
https://kumparan.com/kumparannews/si...l4OAtiHiB/full
Komen TS
kasihan sekali kamu nak, hanya untuk meminta buku dan pena saja orang tuamu tidak sanggup


lubizers dan ojol.jaya memberi reputasi
2
613
21
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.6KThread•59.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya