Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang alasan mengapa orang yang ikut sedih saat melihat orang lain sedih (atau orang yang ikut bahagia saat melihat orang lain bahagia) sangat berpotensi untuk menjadi orang sukses (baik dalam pekerjaan maupun akademis)

.
Pernah nggak, Agan atau Sista sedang menonton berita dan melihat korban bencana alam kehilangan anggota keluarga, lalu dada ikut terasa sesak? Atau, saat Agan dan Sista melihat anak kecil di iklan TV plester luka jatuh dari sepeda lalu menangis, Agan atau Sista ingin langsung mendekati anak itu, padahal kejadiannya hanya di layar TV? Sebagian orang mungkin menganggap reaksi seperti ini sebagai tanda manusia yang terlalu berperasaan, terlalu sensitif, atau bahkan kurang tegas. Padahal, dari sudut pandang ilmiah, reaksi tersebut justru menunjukkan sesuatu yang sangat berharga, yaitu empati.
Dalam psikologi dan ilmu jiwa modern, empati bukan sekadar perasaan kasihan saat melihat orang lain menderita. Empati adalah kemampuan kognitif dan emosional yang mempunyai dampak nyata pada kesuksesan seseorang, baik di dunia kerja, akademis, maupun kehidupan sosial secara luas. Menariknya, semakin seseorang mampu ikut merasakan perasaan orang lain (baik sedih, bahagia, maupun sakit), semakin besar pula potensi orang untuk berkembang dan berhasil.
Thread ini akan mengajak Agan dan Sista memahami mengapa seseorang yang ikut sedih saat melihat orang lain sedih itu bukan kelemahan, tetapi justru menjadi modal besar untuk masa depan.
Quote:
Apa Itu Empati?
Secara ilmiah, empati didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan merasakan keadaan perasaan orang lain, sambil tetap menyadari bahwa perasaan tersebut berasal dari orang lain, bukan diri sendiri.
Dalam literatur psikologi, empati biasanya dibagi menjadi dua komponen utama, yaitu:
1) Empati afektif
Kemampuan untuk ikut merasakan emosi orang lain. Contohnya, merasa ikut sedih saat melihat orang lain sedih.
2) Empati kognitif
Kemampuan untuk memahami sudut pandang dan kondisi mental orang lain, tanpa harus ikut tenggelam secara emosional.
Penelitian oleh Decety dan Jackson (2004) menunjukkan bahwa empati melibatkan koneksi otak yang kompleks, termasuk area yang berhubungan dengan perasaan, perhatian, dan pengambilan keputusan. Artinya, empati bukanlah reaksi impulsif semata, melainkan proses di dalam otak yang tersusun rapih.
Quote:
Kenapa Kita Bisa Ikut Sedih atau Ikut Sakit?
Salah satu penjelasan paling kuat datang dari konsep
mirror neuron. Konsep ini pertama kali diidentifikasi oleh Rizzolatti dan koleganya pada tahun 1990-an.
Mirror neuron aktif bukan hanya saat kita melakukan suatu tindakan atau merasakan suatu perasaan, melainkan juga saat melihat orang lain mengalami hal yang sama.
Misalnya, saat kalian melihat seseorang terluka, area otak yang berkaitan dengan rasa sakit ikut aktif. Atau, saat kalian melihat orang lain bahagia, area otak yang berhubungan dengan
reward dan perasaan positif ikut aktif.
Penelitian
neuroimaging oleh Singer et al. (2004) menunjukkan bahwa ketika seseorang melihat pasangannya mengalami rasa sakit, area otak yang terkait dengan pengalaman nyeri emosional ikut teraktivasi, meskipun tubuhnya sendiri tidak terluka.
Ini menjelaskan kenapa melihat anak kecil yang lututnya terluka karena terjatuh bisa membuat lutut kita ikut terasa perih, melihat orang lain bersedih bisa membuat air mata kita ikut mengalir, dan melihat orang lain tertawa dengan tulus bisa membuat senyuman kita muncul tanpa disadari. Semuanya ini normal secara biologis.
Quote:
Empati dan Kesuksesan Akademis
Banyak orang mengira kesuksesan akademis hanya ditentukan oleh IQ. Padahal, penelitian modern menunjukkan bahwa kecerdasan sosial dan emosional berperanan besar dalam prestasi belajar.
Penelitian oleh Wentzel (1991) menemukan bahwa murid dengan tingkat empati dan kecerdasan sosial yang tinggi cenderung lebih suka bekerja sama dalam kerja kelompok, lebih mudah memahami sudut pandang dosen atau guru, serta lebih terdorong untuk memotivasi sesama teman untuk berprestasi dan belajar bersama.
Empati membantu seseorang membaca situasi kelas, memahami ekspektasi akademik, dan membangun relasi positif dengan lingkungan belajar. Dalam konteks pendidikan tinggi, empati juga berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan etika akademik. Mahasiswa yang mampu memahami dampak moral dari plagiarisme, misalnya, cenderung lebih menjaga kejujuran akademiknya.
Quote:
Empati dan Kesuksesan di Dunia Kerja
Di dunia kerja modern, empati justru menjadi salah satu
soft skill paling dicari. Laporan dari
World Economic Forum secara konsisten menempatkan kecerdasan sosial dan emosional sebagai keterampilan kunci di abad ke-21.
Penelitian oleh Goleman (1998) tentang
emotional intelligence menunjukkan bahwa orang dengan empati tinggi lebih efektif dalam kerja tim, lebih mampu memimpin tanpa otoriter, dan lebih peka terhadap kebutuhan klien dan rekan kerja.
Dalam dunia kepemimpinan, empati bahkan berkorelasi dengan kinerja organisasi. Studi oleh Boyatzis et al. (2012) menunjukkan bahwa pemimpin yang empatik mampu menciptakan iklim kerja yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Artinya, orang yang “ikut sedih” saat melihat orang lain tertekan justru lebih cepat membaca masalah sebelum masalah itu meledak.
Quote:
Ikut Bahagia Saat Orang Lain Bahagia Itu Penting
Empati bukan hanya tentang kesedihan dan rasa sakit. Kemampuan untuk ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain disebut juga
positive empathy.
Penelitian oleh Morelli et al. (2015) menunjukkan bahwa orang yang mampu merasakan kebahagiaan orang lain memiliki hubungan sosial yang lebih kuat, lebih rendah tingkat stres dan kecemburuannya, serta lebih puas terhadap hidup secara keseluruhan.
Dalam konteks profesional, ini berarti seseorang tidak mudah merasa terancam oleh kesuksesan rekan kerja. Sebaliknya, orang tersebut justru melihat keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, alih-alih ancaman.
Quote:
Apakah Empati Berlebihan Itu Buruk?
Pertanyaan ini penting. Empati yang sehat bukan berarti larut total dalam perasaan orang lain. Ada bentuk empati yang sehat, dan ada pula
empathic distress.
Empati sehat adalah memahami dan merasakan perasaan orang lain, lalu bertindak secara rasional. Berbeda dengan
empathic distress, di mana orang ikut tenggelam dalam perasaan orang lain hingga mengganggu fungsi diri sendiri.
Orang dengan empati tinggi yang sukses biasanya memiliki keseimbangan antara empati afektif dan empati kognitif. Orang dengan empati tinggi yang sehat bisa peduli, tetapi tetap mampu menjaga batas emosional. Dan kabar baiknya, keseimbangan ini bisa dilatih.
Quote:
KESIMPULAN
Ikut sedih saat melihat orang lain sedih, ikut bahagia saat melihat orang lain bahagia, atau refleks merasa perih saat melihat anak kecil jatuh itu bukan tanda kelemahan mental. Itu adalah sinyal bahwa sistem empati Agan atau Sista bekerja dengan baik.
Secara ilmiah, empati berakar pada mekanisme otak yang nyata, berkorelasi dengan prestasi akademis, serta menjadi faktor penting dalam kesuksesan kerja dan kepemimpinan.
Jadi, kalau selama ini Agan atau Sista merasa terlalu sensitif terhadap perasaan orang lain, mungkin yang perlu diubah bukan sifatnya, tetapi cara memanfaatkannya.
Selamat Gan/Sist, empati kalian itu anugerah yang harus kalian syukuri

.
Quote:
SUMBER
Boyatzis, R. E., Rochford, K., & Jack, A. I. (2014). Antagonistic neural networks underlying differentiated leadership roles.
Frontiers in Human Neuroscience,
8, 114.
Decety, J., & Jackson, P. L. (2004). The functional architecture of human empathy. Behavioral and Cognitive Neuroscience Reviews,
3(2), 71–100.
Goleman, D. (1998).
Working with emotional intelligence. New York, NY: Bantam Books.
Morelli, S. A., Lieberman, M. D., & Zaki, J. (2015). The emerging study of positive empathy.
Social and Personality Psychology Compass,
9(2), 57–68.
Rizzolatti, G., & Craighero, L. (2004). The mirror-neuron system.
Annual Review of Neuroscience,
27, 169–192.
Singer, T., Seymour, B., O'Doherty, J., Kaube, H., Dolan, R. J., & Frith, C. D. (2004). Empathy for pain involves the affective but not sensory components of pain.
Science,
303(5661), 1157–1162.
Wentzel, K. R. (1991). Social competence at school: Relation between social responsibility and academic achievement.
Review of Educational Research,
61(1), 1–24.
@itkgid @aldo12 @jonrender