TS
kissmybutt007
Tiga Kali Lipat Lebih Jauh dari AS, Rudal Misterius China PL-17 Bocor ke Publik
Tiga Kali Lipat Lebih Jauh dari AS, Rudal Misterius China PL-17 Bocor ke Publik
Danur Lambang Pristiandaru
8–10 minutes

Kemunculan foto jarak dekat yang diduga menampilkan rudal udara-ke-udara jarak sangat jauh milik China, PL-17, memicu perhatian luas di kalangan analis militer internasional. Gambar tersebut beredar di media sosial China dan disebut sebagai penampakan paling jelas sejauh ini dari salah satu senjata paling misterius di arsenal Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).(X via The Warzone)
BEIJING, KOMPAS.com - Kemunculan foto jarak dekat yang diduga menampilkan rudal udara-ke-udara jarak sangat jauh milik China, PL-17, memicu perhatian luas di kalangan analis militer internasional.
Gambar tersebut beredar di media sosial China dan disebut sebagai penampakan paling jelas sejauh ini dari salah satu senjata paling misterius di arsenal Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).
Tanggal dan lokasi pengambilan foto itu tidak diketahui secara pasti. South China Morning Post tidak dapat memverifikasi keaslian gambar tersebut secara independen.
Foto tersebut memperlihatkan sebuah rudal yang diyakini sebagai PL-17 atau model tiruannya, dipajang di atas dudukan dalam sebuah pameran di China.
Seorang pria terlihat berpose di depan rudal dengan wajah disamarkan secara digital, sementara di belakangnya terdapat papan display yang mempromosikan jet tempur siluman J-20.
Sebagian besar analis menilai objek dalam foto itu merupakan model PL-17 berukuran penuh.
Rudal terbaru
PL-17 merupakan bagian dari seri rudal udara-ke-udara PL yang dikembangkan untuk militer China, bersama PL-10 jarak pendek, PL-11 dan PL-12 jarak menengah, serta PL-15 untuk pertempuran di luar jangkauan visual.
Rudal PL-17, yang juga dikenal dengan nama Pili 17 atau Thunderbolt 17, disebut telah dikembangkan setidaknya selama satu dekade, meskipun hampir tidak ada informasi resmi yang dipublikasikan pemerintah China.
Keberadaan rudal ini tidak pernah ditampilkan dalam parade militer besar atau rekaman latihan tempur China, dan status operasionalnya juga belum dikonfirmasi secara resmi.
Namun, sejak 2016, beberapa gambar jarak jauh memperlihatkan PL-17 terpasang pada jet tempur J-16, meskipun hanya dari sudut yang terbatas.
Berdasarkan gambar-gambar tersebut, situs analisis militer Amerika Serikat (AS), The War Zone, berspekulasi bahwa panjang PL-17 melebihi enam meter.
The War Zone menyebut PL-17 sebagai rudal udara-ke-udara berpemandu radar aktif dengan jangkauan lebih dari 400 kilometer, menjadikannya kandidat rudal udara-ke-udara dengan jangkauan terpanjang di dunia.
Sebagai perbandingan, rudal udara-ke-udara jarak terjauh yang diketahui digunakan militer AS saat ini adalah AIM-120D, dengan jangkauan hingga 160 kilometer.
Laporan tahunan China Military Power yang dirilis Pentagon kepada Kongres AS pada Desember menyebutkan bahwa jet tempur J-16 yang membawa PL-17 memiliki jangkauan serangan lebih dari 1.400 kilometer.
Lebih unggul
Laporan International Institute for Strategic Studies (IISS) pada 2024 juga mencatat bahwa Angkatan Udara PLA terus mengakuisisi rudal udara-ke-udara canggih yang “setara atau bahkan lebih unggul” dibandingkan milik AS dan sekutunya di kawasan Asia-Pasifik.
Para analis menilai, jika PL-17 dikerahkan secara luas, rudal ini berpotensi melemahkan keunggulan udara AS di Pasifik barat.
Peneliti teknologi militer dari George Washington University, Shahryar Pasandideh, mengatakan PL-17 paling tepat dikategorikan sebagai rudal udara-ke-udara jarak sangat jauh dengan fungsi khusus.
"PL-17 paling tepat dikategorikan sebagai rudal udara-ke-udara jarak sangat jauh berbasis roket dengan fungsi khusus," kata Pasandideh.
Ia menjelaskan bahwa desain PL-17 mencerminkan kompromi besar, sehingga rudal ini terutama efektif pada jarak ekstrem untuk menyerang target besar, lambat, dan kurang lincah, seperti pesawat peringatan dini dan pesawat tanker.
Pasandideh menekankan bahwa AS sangat bergantung pada pesawat non-tempur tersebut untuk mendukung operasi jet tempurnya.
Menurutnya, PL-17 dapat memberikan dampak maksimal dalam operasi udara di kawasan Pasifik barat yang memiliki jarak antarpangkalan sangat luas.
"Jika Angkatan Udara PLA menggunakan PL-17 untuk menembak jatuh pesawat militer non-tempur Amerika dalam jumlah besar, atau bahkan berhasil mencegah operasi pesawat-pesawat itu dalam jarak (ratusan) kilometer dari garis pantai China,maka Angkatan Udara PLA akan berada beberapa langkah lebih maju dalam menyamakan kekuatan," ujar Pasandideh.
Pandangan berbeda disampaikan oleh Liselotte Odgaard, peneliti senior di Hudson Institute, Washington.
Odgaard menyebut bahwa jika foto tersebut terbukti asli dan benar-benar merepresentasikan PL-17, rudal itu dapat menjadi game changer yang memperkuat strategi anti-access/area-denial (A2/AD) China.
Namun, dia menegaskan bahwa PL-17 tidak otomatis menjamin superioritas udara di wilayah udara yang diperebutkan.
Dia menambahkan, ukuran PL-17 yang besar kemungkinan membuatnya dapat terdeteksi dari jarak jauh.
Sejumlah analis juga meyakini bahwa sistem pencari sasaran PL-17 menggunakan radar active electronically scanned array (AESA), mirip dengan yang digunakan pada PL-15, sehingga memiliki kemampuan penanggulangan elektronik yang kuat.
Serangan udara
PL-15 sendiri mulai digunakan pada 2015 dan mendukung serangan di luar jangkauan visual dengan jarak lebih dari 200 kilometer.
Douglas Barrie, peneliti senior IISS, pada 2024 menyebut bahwa PL-17 kemungkinan juga dilengkapi pencari sasaran pasif yang tahan radiasi untuk mendukung sistem utama.
Kemampuan tersebut diyakini memungkinkan PL-17 melawan pesawat peringatan dini dan pesawat pemantau target darat bergerak.
Penampakan publik pertama PL-17 terjadi pada 2016 melalui gambar jarak jauh saat uji coba pada jet tempur J-16, pesawat tempur multirole berat paling kuat milik China dan satu-satunya platform yang sejauh ini diketahui membawa rudal tersebut.
Sebagian pengamat militer berspekulasi bahwa ukuran PL-17 terlalu besar untuk dibawa oleh jet J-10 atau bahkan J-35, jet tempur siluman generasi kelima bermesin ganda yang kerap dibandingkan dengan F-35 milik AS.
Di sisi lain, militer AS juga tengah mengembangkan rudal udara-ke-udara jarak jauh, termasuk program AIM-260 yang sangat dirahasiakan sejak diluncurkan pada 2017.
Angkatan Laut AS bahkan telah memperkenalkan versi kecil dari rudal SM-6 yang diluncurkan dari udara, dengan jangkauan serangan yang diperkirakan melampaui AIM-120D.
Analis militer dan mantan instruktur PLA, Song Zhongping, menyoroti ukuran besar PL-17.
"PL-17 jauh lebih besar—dan lebih besar dibandingkan rudal udara-ke-udara lainnya—sehingga kemungkinan hanya dapat dibawa oleh jet tempur berat untuk misi serangan," ujar Song.
Ia menambahkan bahwa membawa PL-17 secara eksternal pada jet siluman seperti J-20 berpotensi mengorbankan kemampuan siluman pesawat tersebut.
"Membawa rudal sebesar ini secara eksternal pada pesawat siluman seperti J-20 kemungkinan akan mengorbankan kemampuan silumannya, sehingga menjadi kontraproduktif. Membawa rudal ini pada J-16 saat ini merupakan opsi yang lebih memungkinkan bagi PLA," katanya.
Media Korea Selatan, Military Watch Magazine, bahkan menyebut kombinasi J-16 dan PL-17 sebagai salah satu ancaman paling serius bagi pesawat pendukung udara Barat di Pasifik barat.
The War Zone menambahkan bahwa pemanfaatan penuh jangkauan PL-17 kemungkinan memerlukan koreksi lintasan di tengah penerbangan, menggunakan data target dari pesawat peringatan dini, radar darat dan laut, atau bahkan satelit.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi apakah Beijing telah memiliki kemampuan koreksi lintasan tersebut.
https://www.kompas.com/global/read/2...page=all#page2
PL-15 kemarin yg sengat Rafale India dari jarak jauh, PL-17 ini adek terbarunya
Danur Lambang Pristiandaru
8–10 minutes

Kemunculan foto jarak dekat yang diduga menampilkan rudal udara-ke-udara jarak sangat jauh milik China, PL-17, memicu perhatian luas di kalangan analis militer internasional. Gambar tersebut beredar di media sosial China dan disebut sebagai penampakan paling jelas sejauh ini dari salah satu senjata paling misterius di arsenal Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).(X via The Warzone)
BEIJING, KOMPAS.com - Kemunculan foto jarak dekat yang diduga menampilkan rudal udara-ke-udara jarak sangat jauh milik China, PL-17, memicu perhatian luas di kalangan analis militer internasional.
Gambar tersebut beredar di media sosial China dan disebut sebagai penampakan paling jelas sejauh ini dari salah satu senjata paling misterius di arsenal Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).
Tanggal dan lokasi pengambilan foto itu tidak diketahui secara pasti. South China Morning Post tidak dapat memverifikasi keaslian gambar tersebut secara independen.
Foto tersebut memperlihatkan sebuah rudal yang diyakini sebagai PL-17 atau model tiruannya, dipajang di atas dudukan dalam sebuah pameran di China.
Seorang pria terlihat berpose di depan rudal dengan wajah disamarkan secara digital, sementara di belakangnya terdapat papan display yang mempromosikan jet tempur siluman J-20.
Sebagian besar analis menilai objek dalam foto itu merupakan model PL-17 berukuran penuh.
Rudal terbaru
PL-17 merupakan bagian dari seri rudal udara-ke-udara PL yang dikembangkan untuk militer China, bersama PL-10 jarak pendek, PL-11 dan PL-12 jarak menengah, serta PL-15 untuk pertempuran di luar jangkauan visual.
Rudal PL-17, yang juga dikenal dengan nama Pili 17 atau Thunderbolt 17, disebut telah dikembangkan setidaknya selama satu dekade, meskipun hampir tidak ada informasi resmi yang dipublikasikan pemerintah China.
Keberadaan rudal ini tidak pernah ditampilkan dalam parade militer besar atau rekaman latihan tempur China, dan status operasionalnya juga belum dikonfirmasi secara resmi.
Namun, sejak 2016, beberapa gambar jarak jauh memperlihatkan PL-17 terpasang pada jet tempur J-16, meskipun hanya dari sudut yang terbatas.
Berdasarkan gambar-gambar tersebut, situs analisis militer Amerika Serikat (AS), The War Zone, berspekulasi bahwa panjang PL-17 melebihi enam meter.
The War Zone menyebut PL-17 sebagai rudal udara-ke-udara berpemandu radar aktif dengan jangkauan lebih dari 400 kilometer, menjadikannya kandidat rudal udara-ke-udara dengan jangkauan terpanjang di dunia.
Sebagai perbandingan, rudal udara-ke-udara jarak terjauh yang diketahui digunakan militer AS saat ini adalah AIM-120D, dengan jangkauan hingga 160 kilometer.
Laporan tahunan China Military Power yang dirilis Pentagon kepada Kongres AS pada Desember menyebutkan bahwa jet tempur J-16 yang membawa PL-17 memiliki jangkauan serangan lebih dari 1.400 kilometer.
Lebih unggul
Laporan International Institute for Strategic Studies (IISS) pada 2024 juga mencatat bahwa Angkatan Udara PLA terus mengakuisisi rudal udara-ke-udara canggih yang “setara atau bahkan lebih unggul” dibandingkan milik AS dan sekutunya di kawasan Asia-Pasifik.
Para analis menilai, jika PL-17 dikerahkan secara luas, rudal ini berpotensi melemahkan keunggulan udara AS di Pasifik barat.
Peneliti teknologi militer dari George Washington University, Shahryar Pasandideh, mengatakan PL-17 paling tepat dikategorikan sebagai rudal udara-ke-udara jarak sangat jauh dengan fungsi khusus.
"PL-17 paling tepat dikategorikan sebagai rudal udara-ke-udara jarak sangat jauh berbasis roket dengan fungsi khusus," kata Pasandideh.
Ia menjelaskan bahwa desain PL-17 mencerminkan kompromi besar, sehingga rudal ini terutama efektif pada jarak ekstrem untuk menyerang target besar, lambat, dan kurang lincah, seperti pesawat peringatan dini dan pesawat tanker.
Pasandideh menekankan bahwa AS sangat bergantung pada pesawat non-tempur tersebut untuk mendukung operasi jet tempurnya.
Menurutnya, PL-17 dapat memberikan dampak maksimal dalam operasi udara di kawasan Pasifik barat yang memiliki jarak antarpangkalan sangat luas.
"Jika Angkatan Udara PLA menggunakan PL-17 untuk menembak jatuh pesawat militer non-tempur Amerika dalam jumlah besar, atau bahkan berhasil mencegah operasi pesawat-pesawat itu dalam jarak (ratusan) kilometer dari garis pantai China,maka Angkatan Udara PLA akan berada beberapa langkah lebih maju dalam menyamakan kekuatan," ujar Pasandideh.
Pandangan berbeda disampaikan oleh Liselotte Odgaard, peneliti senior di Hudson Institute, Washington.
Odgaard menyebut bahwa jika foto tersebut terbukti asli dan benar-benar merepresentasikan PL-17, rudal itu dapat menjadi game changer yang memperkuat strategi anti-access/area-denial (A2/AD) China.
Namun, dia menegaskan bahwa PL-17 tidak otomatis menjamin superioritas udara di wilayah udara yang diperebutkan.
Dia menambahkan, ukuran PL-17 yang besar kemungkinan membuatnya dapat terdeteksi dari jarak jauh.
Sejumlah analis juga meyakini bahwa sistem pencari sasaran PL-17 menggunakan radar active electronically scanned array (AESA), mirip dengan yang digunakan pada PL-15, sehingga memiliki kemampuan penanggulangan elektronik yang kuat.
Serangan udara
PL-15 sendiri mulai digunakan pada 2015 dan mendukung serangan di luar jangkauan visual dengan jarak lebih dari 200 kilometer.
Douglas Barrie, peneliti senior IISS, pada 2024 menyebut bahwa PL-17 kemungkinan juga dilengkapi pencari sasaran pasif yang tahan radiasi untuk mendukung sistem utama.
Kemampuan tersebut diyakini memungkinkan PL-17 melawan pesawat peringatan dini dan pesawat pemantau target darat bergerak.
Penampakan publik pertama PL-17 terjadi pada 2016 melalui gambar jarak jauh saat uji coba pada jet tempur J-16, pesawat tempur multirole berat paling kuat milik China dan satu-satunya platform yang sejauh ini diketahui membawa rudal tersebut.
Sebagian pengamat militer berspekulasi bahwa ukuran PL-17 terlalu besar untuk dibawa oleh jet J-10 atau bahkan J-35, jet tempur siluman generasi kelima bermesin ganda yang kerap dibandingkan dengan F-35 milik AS.
Di sisi lain, militer AS juga tengah mengembangkan rudal udara-ke-udara jarak jauh, termasuk program AIM-260 yang sangat dirahasiakan sejak diluncurkan pada 2017.
Angkatan Laut AS bahkan telah memperkenalkan versi kecil dari rudal SM-6 yang diluncurkan dari udara, dengan jangkauan serangan yang diperkirakan melampaui AIM-120D.
Analis militer dan mantan instruktur PLA, Song Zhongping, menyoroti ukuran besar PL-17.
"PL-17 jauh lebih besar—dan lebih besar dibandingkan rudal udara-ke-udara lainnya—sehingga kemungkinan hanya dapat dibawa oleh jet tempur berat untuk misi serangan," ujar Song.
Ia menambahkan bahwa membawa PL-17 secara eksternal pada jet siluman seperti J-20 berpotensi mengorbankan kemampuan siluman pesawat tersebut.
"Membawa rudal sebesar ini secara eksternal pada pesawat siluman seperti J-20 kemungkinan akan mengorbankan kemampuan silumannya, sehingga menjadi kontraproduktif. Membawa rudal ini pada J-16 saat ini merupakan opsi yang lebih memungkinkan bagi PLA," katanya.
Media Korea Selatan, Military Watch Magazine, bahkan menyebut kombinasi J-16 dan PL-17 sebagai salah satu ancaman paling serius bagi pesawat pendukung udara Barat di Pasifik barat.
The War Zone menambahkan bahwa pemanfaatan penuh jangkauan PL-17 kemungkinan memerlukan koreksi lintasan di tengah penerbangan, menggunakan data target dari pesawat peringatan dini, radar darat dan laut, atau bahkan satelit.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi apakah Beijing telah memiliki kemampuan koreksi lintasan tersebut.
https://www.kompas.com/global/read/2...page=all#page2
PL-15 kemarin yg sengat Rafale India dari jarak jauh, PL-17 ini adek terbarunya

0
362
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Militer
20.4KThread•10.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya