Kaskus

Entertainment

  • Beranda
  • ...
  • The Lounge
  • Jarak Kita Lebih Dekat ke 2030, tapi Apakah Kita Berhasil Move On dari 2019?

arsip.paradisAvatar border
TS
arsip.paradis
Jarak Kita Lebih Dekat ke 2030, tapi Apakah Kita Berhasil Move On dari 2019?
Siapa sangka jarak kita kurang dari 5 tahun untuk sampai ke 2030, tapi ada yang ngerasa aneh nggak sih? secara fakta, teknologi makin canggih, AI terhubung pada nyaris setiap alat elekronik yang digunakan manusia, dan jaringan internet menyebar secepat gosip tetangga. tapi menurut pandangan ane, bertolak belakang dengan teknologinya, keadaan umat manusia sendiri setelah pandemi, bukannya pulih dan melangkah ke tahap yang lebih maju dan beradab, malah perasaan, kita nggak lebih maju dari 2019 (ane nggak beranggapan mundur ya, tapi berjalan ke arah yang nggak seharusnya aja). mengapa demikian? ada yang ngerasa gitu juga nggak? emoticon-Hammer

1. Ketergantungan hidup pada kestabilan geopolitik dan keamanan dunia yang makin rentan

Jarak Kita Lebih Dekat ke 2030, tapi Apakah Kita Berhasil Move On dari 2019?

para pemimpin negara dalam beberapa event sebelum pandemi


Gambar diatas merupakan gambar yang memicu ane buat nulis trit ini. Masih jelas di ingatan ane, 2014-2019 adalah eranya setiap negara bersaing mengembangkan perusahaan-perusahaan start up mereka agar menjadi Unicorn-Decacorn hingga bisa melakukan penetrasi ke negara-negara lain. Hari ini? perang dagang masih berlanjut, masalahnya bukannya makin seru tapi keamanan makin rentan karena perang konflik bersenjata SUDAH MULAI DIMANA MANA (statusnya bukan lagi SIAGA). Dalam 1-2 tahun kebelakang coba inget2 timeline sosial media yang isinya persiapan alutsista, footage ledakan2 dan konfrontasi bersenjata, serta doa-doa kepada korban perang, sudah sangat banyak bukan?

2. AI menyelamatkan siapa? membantu siapa?

Jarak Kita Lebih Dekat ke 2030, tapi Apakah Kita Berhasil Move On dari 2019?

AI nyatanya membuat industri kebutuhan tersier seperti industri kreatif dalam kekacauan. "Tapi kan editor, programmer, tetap bisa terbantu Ai gan? bla bla bla" secara teknis dan teknologi memang membantu, tapi secara upah profesi? Upah pekerjaan editor, programmer, desainer, arsitek yang memiliki jam terbang dan spesialisasi rentan disamakan dengan operator/prompter karena adanya AI. Dulu video editor dengan skill-nya dibayar layak dan sejahtera. Setelah hadirnya AI, banyak sekali perusahaan-perusahaan, merequest pekerjaan edit video kualitas tinggi tapi hanya menyanggupi membayar 1/4 dari penawaran yang diajukan editor, dengan alasan yang terkesan malas berpikir "Pakai AI kan bisa langsung jadi" emoticon-Gila. Jangan kaget kalau sebentar lagi industri kebutuhan sekunder seperti pendidikan dan keamanan kena senggol.

Ane bukan anti AI, bahkan trit ini ane roasting dan screening dulu pakai AI. Ane menyayangkan kampanye penggunaan AI, (yang saat ini masih ane anggap alat bantu) terasa dipaksakan dalam keadaan ekonomi yang masih setengah sadar. Setelah pandemi, manusia sedang berusaha untuk memulihkan optimisme-nya, ritme pekerjaannya, mungkin juga mulai melunasi hutang dan mengisi tabungannya, lalu AI datang dan public figure yang latah menyerukan kampanye manis dengan AI, menambah runyam keadaan. Mari ingat kembali sebelum masa pandemi, antusias orang orang untuk membangun usaha dan berpikir kreatif itu tinggi sekali dan peran AI menurut ane harusnya sangat dibutuhkan dimasa tersebut. Sayangnya pandemi datang, dan AI belum sempat kita adaptasi seperti saat ini. Lalu siapa sebenernya yang akan AI bantu di masa ini?

3. Bersosialisasi dengan prasangka buruk, sosmed yang penuh akun anonim dan amarah

Jarak Kita Lebih Dekat ke 2030, tapi Apakah Kita Berhasil Move On dari 2019?

Sosial media saat ini bukan lagi menjadi platform untuk mempermudah silaturahmi, dan berbagi kabar. Menurut pandangan pribadi ane, pihak pengembang sosial media berperan dalam kejatuhan hubungan sosial manusia, yang awalnya komunikasi itu dibangun hangat dan perlahan, kini kalimat "apa kabar? lagi sibuk apa?" seakan sarat prasangka, karena mudah sekali akses dan fitur untuk men-judge orang. Hal ini diperparah adanya akun-akun anonim yang menebar informasi dan komentar tendensius untuk memancing engagement/reaksi dari emosi audiens. Agan agan inget gak, sebelum pandemi, semangat berkolaborasi itu sangat menyala, sikap optimis dan antusias merupakan hal yang mudah ditularkan. Sekarang apa yang kita bayangkan saat mendapat ajakan kolaborasi? program afiliate atau jadi fake reviewer produk2 di ecommerce pasti terbesit di pikiran kita kan? emoticon-Big Grin

__________________________________________________________________________________

Sudah genap 5 tahun kita lewati sejak pandemi. Dari kejadian luar biasa ini, banyak duka, trauma dan kehilangan yang pasti dirasakan tiap manusia termasuk kita. Walaupun dengan kesedihan yang melekat, cara kita melanjutkan kehidupan seusai pandemi pun, sepertinya masih dipaksa beradaptasi dengan kebiasaan baru. Pertanyaan besar yang ada di kepala ane dari sebelum menulis thread ini adalah, "Sudah berlalu 5 tahun, tapi bisa nggak ya, dengan keadaan yang serba rentan ini, kita menumbuhkan optimisme yang pernah hidup sebelum pandemi?" gimana menurut agan agan?

Kalau kalian suka Thread ini, jangan lupa siram ane emoticon-Toast ya agan-agan!

0
159
2
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread•109.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.