- Beranda
- Berita dan Politik
Ditutup Rp16.950/US$ Hari Ini, Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
...
TS
jaguarxj220
Ditutup Rp16.950/US$ Hari Ini, Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,05% di penutupan perdagangan spot hari ini, Selasa (20/1/2026), ke posisi Rp16.950/US$. Ini menjadi posisi penutupan terlemah rupiah di pasar spot dalam sejarah Indonesia merdeka.
Depresiasi nilai tukar rupiah di pasar spot kali ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar di tengah akumulasi tekanan global dan domestik yang semakin sulit dibendung. Dari sisi eksternal, eskalasi tensi geopolitik kembali mengencangkan sentimen risk-off.
Begitu juga di pasar offshore, kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) rupiah dihargai Rp16.995/US$, susut sebanyak 0,14%.
Perselisihan Greenland yang menyeret Amerika Serikat (AS) dengan Eropa membuka babak baru perang dagang, dengan mengemukanya ancaman tarif antar dua negara tersebut. AS mengancam akan memberlakukan tarif 10-25% tahun ini. Tidak terima, Eropa disebut-sebut tengah menyiapkan balasan.
Perselisihan Greenland sebenarnya membuat dolar AS melemah. Hari ini, indeks dolar AS terhadap mata uang Asia turun 0,53% ke posisi 98.870. Akan tetapi tekanan bagi rupiah tak cuma datang dari panggung global.
Dari dalam negeri, kepercayaan pasar sedang diuji lewat serangkaian kebijakan dan sikap yang diambil pemerintah. Defisit fiskal mencapai 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025, yang diprediksi akan melampaui ambang batasnya di 3% PDB tahun ini.
"Nilai tukar rupiah sedang berada di bawah tekanan akibat perkembangan domestik terbaru, termasuk risiko pelebaran defisit fiskal serta kembalinya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral," tulis Radhika Rao, ekonomi senior Bank DBS, seperti dikutip Bloomberg News, Selasa (20/1/2026).
Dampak pelemahan rupiah juga menjalar ke pasar surat utang yang mengalami tekanan jual. Melansir data Bloomberg, aksi jual melanda pasar obligasi yang terlihat dari naiknya nilai imbal hasil di hampir semua tenor.
Imbal hasil tenor 12Y naik 3,7 basis poin (bps) menjadi 6,47%, tenor 10Y naik 2,9 bps menjadi 6,32%, tenor 6Y naik 3,4 bps menjadi 6,1%, tenor 1Y naik 1,0 bps ke 4,63%.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...njang-sejarah/
Ga bisa ngibul pake alasan USD sedang kuat, karena nyatanya USD malah melemah.
Dan stop tipu2 pake narasi BI membiarkan Rupiah melemah buat membantu ekspor atau BI lagi stok valas dari pasar, karena tanggal 22 Januari besok BI akan jual SVBI dengan target USD 500juta.
Ada kemungkinan BI juga udah ngos2an nahan Rupiah.
Depresiasi nilai tukar rupiah di pasar spot kali ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar di tengah akumulasi tekanan global dan domestik yang semakin sulit dibendung. Dari sisi eksternal, eskalasi tensi geopolitik kembali mengencangkan sentimen risk-off.
Begitu juga di pasar offshore, kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) rupiah dihargai Rp16.995/US$, susut sebanyak 0,14%.
Perselisihan Greenland yang menyeret Amerika Serikat (AS) dengan Eropa membuka babak baru perang dagang, dengan mengemukanya ancaman tarif antar dua negara tersebut. AS mengancam akan memberlakukan tarif 10-25% tahun ini. Tidak terima, Eropa disebut-sebut tengah menyiapkan balasan.
Perselisihan Greenland sebenarnya membuat dolar AS melemah. Hari ini, indeks dolar AS terhadap mata uang Asia turun 0,53% ke posisi 98.870. Akan tetapi tekanan bagi rupiah tak cuma datang dari panggung global.
Dari dalam negeri, kepercayaan pasar sedang diuji lewat serangkaian kebijakan dan sikap yang diambil pemerintah. Defisit fiskal mencapai 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025, yang diprediksi akan melampaui ambang batasnya di 3% PDB tahun ini.
"Nilai tukar rupiah sedang berada di bawah tekanan akibat perkembangan domestik terbaru, termasuk risiko pelebaran defisit fiskal serta kembalinya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral," tulis Radhika Rao, ekonomi senior Bank DBS, seperti dikutip Bloomberg News, Selasa (20/1/2026).
Dampak pelemahan rupiah juga menjalar ke pasar surat utang yang mengalami tekanan jual. Melansir data Bloomberg, aksi jual melanda pasar obligasi yang terlihat dari naiknya nilai imbal hasil di hampir semua tenor.
Imbal hasil tenor 12Y naik 3,7 basis poin (bps) menjadi 6,47%, tenor 10Y naik 2,9 bps menjadi 6,32%, tenor 6Y naik 3,4 bps menjadi 6,1%, tenor 1Y naik 1,0 bps ke 4,63%.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...njang-sejarah/
Ga bisa ngibul pake alasan USD sedang kuat, karena nyatanya USD malah melemah.
Dan stop tipu2 pake narasi BI membiarkan Rupiah melemah buat membantu ekspor atau BI lagi stok valas dari pasar, karena tanggal 22 Januari besok BI akan jual SVBI dengan target USD 500juta.
Ada kemungkinan BI juga udah ngos2an nahan Rupiah.
MemoryExpress dan 2 lainnya memberi reputasi
3
439
21
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.1KThread•58.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya